otakatikawas!

otakatikawas!
Showing posts with label Mugi Bentang. Show all posts
Showing posts with label Mugi Bentang. Show all posts

Cerita Rakyat Bengali, di Tanah Bangladesh

|



Bangladesh


Siang terlihat berkeringat. Rumah-rumah beratapkan asbes berjajarkan seperti pemandangan di Kali Ciliwung, Jakarta. Berjajarkan pola semeliwet, berlatarkan gedung-gedung berlapiskan beton industri kualitas negara jalan maju berkembang. Pinggiran kali penuh dengan plastik dan limbah hasil konsumsi manusia penghuni daerah itu. Sampai yang ramai akan plastik atau ramai karena air berwarna hijau yang mengendok di bantaran kali akibat sampah-sampah berceceran. Musim hujan adalah keahlian mereka yang tidak dimiliki oleh penduduk negara lain. Mereka tahu dan punya nalar tersendiri saat musim hujan dangang. Kalau musim hujan datang, sebagian dari mereka ada yang meloncat beberapa kilometer dan tinggal sementara dengan gotong royong rakyat dan pemerintah. Atau bahkan ada yang menetap di tempat asal mereka, dengan eceng gondok sebagai tanah mereka. Menanam labu, bendi, sampai tanaman lain di atas tanah yang bernama eceng gondok, yang mengapung di air. Walau kadang keadaan memburuk dan timpah ruah seperti ombak, tapi inilah negara Next Eleven. Negara yang menyimpan potensi lebih yang diramalkan akan berkembang maju melangkah jauh ke depan. Ini bukan negara Ciliwung, itu bukan negara. Apalagi negara Jakarta, kalau itu negara Indonesia. Inilah Bangladesh, negara “Bangsa Bengali”.





Republik Rakyat Bangladesh (bahasa Bengali: গণপ্রজাতন্ত্রী বাংলাদেশ) adalah sebuah negara di Asia Selatan yang berbatasan dengan India di barat, utara, dan timur, Myanmar di tenggara, serta Teluk Benggala di selatan. Bangladesh, bersama dengan Benggala Barat di India, membentuk kawasan etno-linguistik Benggala. Bangladesh (বাংলাদেশ) secara harfiah bermakna "Negara Bangla". Ibu kota dan kota terbesar Bangladesh ialah Dhaka.
Perbatasan Bangladesh ditetapkan melalui pemisahan India pada tahun 1947. Negara ini merupakan sayap timur Pakistan (Pakistan Timur) yang terpisah dari sayap barat sejauh 1.600 kilometer. Perbedaan politik, bahasa, dan ekonomi menimbulkan perpecahan antara kedua sayap, yang berujung pada meletusnya perang kemerdekaan tahun 1971 dan pendirian negara Bangladesh. Tahun-tahun setelah kemerdekaan ditandai dengan kelaparan, bencana alam, kemiskinan, huru-hara politik, korupsi, dan kudeta militer.
Bangladesh memiliki jumlah penduduk terbesar kedelapan di dunia dan merupakan salah satu negara terpadat di dunia dengan tingkat kemiskinan yang tinggi, namun pendapatan per kapita Bangladesh telah meningkat dua kali lipat sejak tahun 1975 dan tingkat kemiskinan turun 20% sejak awal tahun 1990-an. Negara ini dimasukan sebagai salah satu bagian dari "Next Eleven". Ibu kota Dhaka dan wilayah urban lainnya menjadi penggerak utama dibalik pertumbuhan ini.[5]
Secara geografis, negara ini berada di Delta Gangga-Brahmaputra yang subur. Bangladesh mengalami banjir muson dan siklon tahunan.


Sejarah

Somapura Mahavihara di Paharpur, Bangladesh, merupakan vihara Buddha terbesar di Asia Selatan. Vihara ini didirikan oleh Dharmapala dari Benggala


Sisa peradaban di Benggala Raya dapat ditilik kembali ke masa empat ribu tahun yang lalu, ketika wilayah tersebut dimukimi oleh orang Dravida, Tibeto-Burma, dan Austro-Asiatik. Asal kata "Bangla" atau "Benggala" tidak diketahui, tetapi kata tersebut diduga berasal dari kata Bang, suku berbahasa Dravidia yang tinggal di wilayah tersebut sekitar tahun 1000 SM.
Kerajaan Gangaridai dibentuk sekitar abad ke-7 SM, yang selanjutnya disatukan dengan Bihar di bawah Kekaisaran Magadha, Nanda, Maurya, dan Sunga. Benggala kemudian menjadi bagian dari Kekaisaran Gupta dan Harsha dari abad ke-3 hingga abad ke-6. Setelah kejatuhannya, Shashanka mendirikan sebuah kerajaan, dan ia dianggap sebagai raja independen pertama dalam sejarah Bangladesh.
Setelah mengalami periode anarkisme, Dinasti Pala yang beragama Buddha menguasai wilayah ini selama empat ratus tahun sebelum selanjutnya digantikan oleh Dinasti Sena yang beragama Hindu. Islam masuk ke Benggala pada abad ke-12 melalui pedagang Arab. Misionaris Sufi dan penaklukan Muslim membantu penyebaran agama Islam di wilayah ini.
Bakhtiyar Khilji, seorang jenderal Bangsa Turkik, mengalahkan Lakshman Sen dari Dinasti Sena dan menaklukan sebagian besar wilayah Benggala pada tahun 1204. Wilayah ini dikuasai oleh dinasti-dinasti Sultan dan tuan-tuan tanah Bhuiyan selama beberapa ratus tahun kemudian. Pada abad ke-16, Kemaharajaan Mughal menguasai Benggala dan Dhaka menjadi pusat provinsial penting dalam pemerintahan Mughal.
Pedagang Eropa datang pada abad ke-15, dan pengaruh mereka berkembang hingga Perusahaan Hindia Timur Britania menguasai Benggala setelah Pertempuran Plassey tahun 1757. Pemberontakan berdarah tahun 1857 – dikenal sebagai Pemberontakan Sepoy – menyebabkan penyerahan kekuasaan kepada mahkota kerajaan dengan viceroy sebagai pelaksana pemerintahan. Selama masa penjajahan, kelaparan melanda anak benua India berkali-kali, seperti kelaparan di Benggala pada tahun 1943 yang menewaskan 3 juta orang.
Jatiyo Smriti Soudho, didirikan untuk mengenang korban Perang Kemerdekaan Bangladesh.

Pidato bersejarah Sheikh Mujibur Rahman pada 7 Maret 1971.
Antara tahun 1905 hingga 1911, dilakukan usaha untuk memisahkan provinsi Benggala menjadi dua zona, dengan Dhaka sebagai ibu kota zona timur. Ketika India dibagi pada tahun 1947, Benggala dibagi berdasarkan garis religius. Bagian barat Benggala masuk ke wilayah India, dan bagian timur bergabung dengan Pakistan sebagai provinsi yang disebut Benggala Timur (nantinya menjadi Pakistan Timur).
Pada tahun 1950, reformasi tanah dilakukan di Benggala Timur dengan dihapuskannya sistem zamindar feudal. Pemerintahan Pakistan saat itu didominasi oleh Pakistan Barat. Gerakan Bahasa Bengali pada tahun 1951 merupakan tanda awal perpecahan antara Pakistan Barat dan Timur.
Ketidakpuasan terhadap pemerintah pusat terus meningkat pada dekade-dekade berikutnya dan Liga Awami muncul sebagai suara politik penduduk berbahasa Bengali. Mereka meminta otonomi pada tahun 1960-an dan pada tahun 1966, pemimpin pergerakan Sheikh Mujibur Rahman dipenjara. Ia dilepaskan pada tahun 1969 setelah meletusnya pemberontakan rakyat.


Pidato bersejarah Sheikh Mujibur Rahman pada 7 Maret 1971.


Pada tahun 1970, Siklon Bhola menyerang pantai Pakistan Timur. Siklon ini menewaskan hingga setengah juta jiwa, namun pemerintah pusat tidak serius menangani bencana ini. Pada tahun 1970, Liga Awami memenangi suara terbanyak dalam pemilihan parlemen, namun Sheikh Mujibur Rahman dilarang berkuasa, sehingga kemarahan rakyat berbahasa Bengali semakin meningkat.
Setelah pembicaraan dengan Mujib, Presiden Yahya Khan menangkapnya pada 26 Maret 1971, dan melancarkan Operasi Searchlight. Target utama operasi tersebut adalah kaum intelektual dan orang Hindu. Operasi ini menewaskan banyak orang.
Sebelum ditangkap, Sheikh Mujibur Rahman secara resmi menyatakan kemerdekaan Bangladesh dan mengarahkan semua orang untuk bertempur hingga semua tentara Pakistan berhasil diusir. Pemimpin Liga Awami mendirikan pemerintahan dalam pembuangan di Kolkata, India. Pemerintahan dalam pembuangan secara resmi diambil sumpahnya di Mujib Nagar, distrik Kustia, Pakistan Timur, pada 17 April 1971 dengan Tajuddin Ahmad sebagai perdana menteri pertamanya.
Perang Kemerdekaan Bangladesh berlangsung selama sembilan bulan. Mukti Bahini (Tentara Pembebasan) melancarkan perang gerilya besar-besaran terhadap tentara Pakistan. Pejuang kemerdekaan Bangladesh mendapatkan bantuan penuh dari India. Mukti Bahini dan India berhasil mencapai kemenangan terhadap Pakistan pada 16 Desember 1971, dengan 90.000 orang ditawan oleh India.
Setelah merdeka, Bangladesh menjadi negar demokrasi parlementer, dengan Mujib sebagai perdana menteri. Pada pemilihan parlemen tahun 1973, Liga Awami mendapatkan suara terbanyak.
Kelaparan menimpa seluruh negeri antara tahun 1973 hingga 1974. Pada awal tahun 1975, Mujib berusaha menerapkan kekuasaan sosialis satu partai melalui BAKSAL yang baru dibentuk. Pada 15 Agustus 1975, Mujib dengan sebagian besar anggota keluarganya dibunuh.
Kudeta-kudeta berdarah terus berlangsung hingga Jenderal Ziaur Rahman berkuasa. Ia mengembalikan sistem multipartai dan mendirikan Partai Nasionalis Bangladesh (PNB). Kekuasaan Zia berakhir setelah ia dibunuh pada tahun 1981. Penguasa utama Bangladesh selanjutnya adalah Jenderal Hussain Muhammad Ershad, yang memperoleh kekuasaan melalui kudeta tak berdarah tahun 1982. Ia terpaksa mengundurkan diri pada tahun 1990 setelah meletusnya revolusi besar-besaran.
Sejak saat itu, sistem pemerintahan Bangladesh kembali menjadi demokrasi parlementer. Istri Zia, Khaleda Zia, memimpin Partai Nasionalis Bangladesh menuju kemenangan pada pemilihan umum tahun 1991 dan menjadi perdana menteri perempuan pertama dalam sejarah Bangladesh. Liga Awami yang dikepalai oleh Sheikh Hasina Wajed (putri Mujib) memenangi pemilu 1996, namun kalah kepada Partai Nasionalis Bangladesh pada tahun 2001.
Pada 11 Januari 2007, setelah terjadinya kekacauan politik, pemerintahan sementara (caretaker) ditunjuk untuk mengatur pemilihan umum selanjutnya. Perilaku korupsi merajalela di Bangladesh. Pemerintah sementara baru menjadikan pemberantasan korupsi sebagai prioritas utama. Akibatnya, banyak politikus, pejabat penting, pejabat kecil, dan anggota partai yang ditangkap atas tuduhan korupsi. Pemerintah pemelihara mengadakan pemilu yang adil dan bersih pada 29 Desember 2008. Sheikh Hasina Wajed memenangi pemilu dan diambil sumpahnya sebagai Perdana Menteri pada 6 Januari 2009.

Administratif Bangladesh



Bangladesh terbagi menjadi tujuh divisi (bibhag) yang dinamai menurut ibu kota masing-masing: Barisāl (বরিশাল), Chittagong (চট্টগ্রাম), Dhaka (ঢাকা), Khulna (খুলনা), Rajshahi (রাজশাহী), Sylhet (সিলেট), dan Rangpur (রংপুর).
Divisi terbagi menjadi distrik (zila). Terdapat 64 distrik di Bangladesh. Masing-masing distrik terbagi menjadi upazila (sub distrik) atau thana (stasiun polisi). Setiap stasiun polisi, kecuali yang terdapat di daerah metropolitan, dibagi lagi menjadi beberapa kesatuan. Kesatuan-kesatuan ini terdiri dari banyak desa-desa. Di wilayah metropolitan, stasiun polisi terbagi menjadi ward, yang dibagi lagi menjadi mahallas. Tidak ada pejabat terpilih pada tingkat divisi, distrik atau upazila, dan pemerintahan hanya terdiri dari pejabat pemerintahan. Pemilihan langsung yang memilih seorang ketua dan beberapa anggota diadakan di setiap kesatuan (ward).
Dhaka adalah ibu kota dan kota terbesar di Bangladesh. Kota utama lainnya adalah Chittagong, Khulna, Rajshahi, Sylhet, Barisal, Bogra, Comilla, Mymensingh, dan Rangpur. Di kota-kota tersebut diadakan pemilihan wali kota, sementara munisipalitas lainnya memilih seorang ketua. Wali kota dan ketua memiliki masa jabatan selama lima tahun.

Geografi dan Iklim sang Negara Bangsa Bengali



Bangladesh terletak di Delta Sungai Gangga-Brahmaputra. Delta ini terbentuk oleh pertemuan Sungai Gangga (nama setempat Padma atau Pôdda), Brahmaputra (Jamuna atau Jomuna), Meghna, dan anak-anak sungai yang berhubungan dari Himalaya. Tanah aluvial yang diendapkan oleh sungai-sungai itu telah menciptakan daratan yang amat subur.
Sebagian besar Bangladesh berada 12 meter di bawah permukaan laut, dan dipercaya sekitar 50% tanah akan banjir jika permukaan laut naik hingga 1 m. Titik tertinggi di Bangladesh berada di pegunungan Mowdok pada ketinggian sekitar 1.052 m (3.451 kaki).

Bangladesh dari Satelit


Iklim Bangladesh bersifat tropis, dengan musim dingin yang sejuk dari Oktober hingga Maret serta musim panas yang panas dan kering dari Maret hingga Juni. Musim hujan yang hangat dan lembab berlangsung dari Juni ke Oktober dan memasok sebagian besar curah hujan negeri itu. Bencana alam, seperti banjir, siklon tropis, dan badai tornado terjadi hampir tiap tahun, ditambah dengan pengaruh deforestasi, degradasi tanah, dan erosi.
Cox's Bazar, sebelah selatan kota Chittagong, memiliki garis pantai yang tak terputus sepanjang 120 kilometer (75 mil).
Pada September 1998, Bangladesh mengalami banjir terparah dalam sejarah dunia modern. 300.000 rumah dan 9.700 kilometer (6.027 mi) jalan terendam. Lebih dari 1.000 jiwa tewas dan 30 juta menjadi tunawisma. Dua per tiga Bangladesh terendam banjir. Penyebab dari banjir ini adalah curah hujan yang tinggi, mencairnya salju di Pegunungan Himalaya, dan penebangan hutan.
Bangladesh kini dianggap sebagai salah satu negara yang paling rentan terhadap perubahan iklim. Dipercaya pada dekade berikutnya, peningkatan permukaan air laut akan menimbulkan 20 juta pengungsi akibat perubahan iklim.
Air di Bangladesh sering terkontaminasi dengan arsenik karena kandungan arsenik yang tinggi pada tanah. Lebih dari 77 juta orang terekspos terhadap racun arsenik.
Flora dan fauna
Sebagian besar garis pantainya terdiri dari hutanberawa yang dinamakan Sundarbans (Bengali: সুন্দরবন Shundorbôn), yaitu sebuah hutan bakau terbesar di dunia dan merupakan rumah bagi beragam flora dan fauna, di antaranya termasuk Harimau Benggala. Pada 1997, kawasan ini dinyatakan terancam.[48] Kucica kampung adalah burung nasional Bangladesh dan dikenal sebagai Doyel atau Doel (bahasa Bengali: দোয়েল). Bunga nasional negara ini adalah lili air, yang dikenal sebagai Shapla. Buah nasional Bangladesh adalah cempedak, yang dalam bahasa Bengali dikenal sebagai Kathal.

Budaya




Bangladesh memiliki budaya yang mencakup unsur kuno dan modern, yang melambangkan sejarah panjang. Teks tertulis awal dalam bahasa Bengali adalah Charyapada dari abad ke-8. Sastra Bengali di abad pertengahan merupakan sastra keagamaan (seperti Chandidas), atau adaptasi dari bahasa lain (misalnya Alaol). Sastra Bengali mencapai ekspresi penuhnya pada abad ke-19. Lambang terbesarnya adalah penyair Rabindranath Tagore dan Kazi Nazrul Islam. Bangladesh juga memiliki tradisi panjang dalam sastra rakyat, contohnya Maimansingha Gitika, Thakurmar Jhuli, atau cerita-cerita yang berkaitan dengan Gopal Bhar.
Tradisi musik Bangladesh berdasarkan pada lirik (Baniprodhan) dengan sedikit diiringi alat musik. Tradisi Baul ialah peninggalan musik rakyat Bangla yang unik. Tradisi musik Bangladesh lainnya bermacam-macam menurut wilayah. Gombhira, Bhatiali, dan Bhawaiya adalah beberapa bentuk musik yang banyak dikenal. Musik rakyat Bengal sering diiringi dengan ektara, instrumen dengan satu dawai. Instrumen lainnya adalah dotara, dhol, suling, dan tabla. Bentuk tarian Bangladesh berasal dari tradisi rakyat, khususnya dari kelompok suku asli, dan juga tradisi tari India.

Perayaan Pohela Baishakh di Dhaka.



Setiap tahunnya, Bangladesh membuat sekitar 80 film. Film Hindi juga cukup terkenal. Sekitar 200 koran dan 1.800 majalah diterbitkan di Bangladesh, namun jumlah pembaca reguler rendah dan hanya mencakup kurang dari 15% penduduk. Penduduk Bangladesh mendengarkan berbagai program radio dari Bangladesh Betar, stasiun radio ilik negara, atau stasiun radio swasta seperti Radio Foorti, ABC Radio, Radio Today, dan Radio Amar. Selain itu, terdapat layanan radio dari BBC dan Voice of America. Saluran televisi yang dominan di Bangladesh adalah Bangladesh Television, namun dalam tahun-tahun terakhir saluran swasta terus berkembang.
Tradisi kuliner Bangladesh berhubungan erat dengan masakan India dan Timur Tengah, namun masakan Bangladesh juga memiliki ciri khas tersendiri. Nasi dan kari adalah kegemaran tradisional. Penduduk Bangladesh membuat daging manis dari produk susu, contohnya Rôshogolla, Chômchôm, dan Kalojam.
Sari (shaŗi) merupakan pakaian yang biasa dikenakan perempuan Bangladesh. Salwar kameez (shaloar kamiz) juga cukup populer. Di daerah urban, beberapa perempuan mengenakan pakaian Barat. Di antara para lelaki, pakaian Eropa banyak disukai. Mereka juga mengenakan kurta-paejama (seringkali pada acara religius) dan lungi.
Kedua Id, Idul Fitri dan Idul Adha, adalah hari raya besar dalam kalender Islam. Hari-hari sebelum Idul Fitri disebut Chãd Rat (malam bulan), dan sering dirayakan dengan petasan. Hari libur Muslim lainnya juga dirayakan. Festival utama Hindu ialah Durga Puja, Kali Puja, dan Saraswati Puja. Buddha Purnima, yang memperingati Siddhartha Gautama, ialah salah satu festival Buddha terpenting. Sedangkan Natal, disebut Bôŗodin (hari besar) dalam bahasa Bengali, diperingati penduduk beragama Kristen. Festival sekuler terpenting ialah Pohela Boishakh atau Tahun Baru Bengali. Perayaan-perayaan penting lainnya adalah Nobanno, Poush parbon (festival Poush), dan hari raya nasional seperti Shohid Dibosh.

Olahraga


Tim Kriket Bangladesh


Kabaddi adalah olahraga nasional Bangladesh, namun kriket dan sepak bola lebih populer. Pada tahun 1997, tim nasional kriket Bangladesh memenangi ICC Trophy yang membuat mereka dapat berpartisipasi dalam Piala Dunia Kriket 1999. Dalam penampilan pertama mereka di Piala Dunia, Bangladesh mengalahkan Pakistan dan Skotlandia pada babak pertama. Pada tahun 2000, tim kriket Bangladesh mendapatkan status Test cricket.
Olahraga lain yang populer adalah hoki lapangan, tenis, bulu tangkis, bola tangan, voli, catur, menembak, dan karambol. Dewan Pengawas Olahraga Bangladesh mengatur dua puluh sembilan federasi olahraga yang berbeda. Pada tahun 2011, Bangladesh akan menjadi tuan rumah Piala Dunia Kriket, bersama dengan India dan Sri Lanka.

sumber :
- http://my.opera.com/Seasonnahian/albums/showpic.dml?album=898570&picture=12296166
- http://www.wallpapergate.com/wallpaper32585.html
- http://www.travelfreehi.com/tag/dhaka/
- http://www.panoramabangladesh.com/index.php?action=PhotoDetails&pn=1&pc_id=8&psc_id=44&pd_id=317
- http://id.wikipedia.org/Bangladesh

Refrensi :
^ "Statistics Bangladesh 2006" (PDF). Bangladesh Bureau of Statistics. Diakses pada 26 Mei 2008.
^ "The Rising Tide of Islamism in Bangladesh". Hudson Institute. Diakses pada 26 Mei 2007.
^ Hasan, Laila (2003). "Dance". di dalam Islam, Sirajul. Banglapedia: National encyclopedia of Bangladesh. Dhaka: Asiatic Society of Bangladesh. ISBN 9843205766. OCLC 52727562
^ Reuters. "Cinemas in Bangladesh, Pakistan squeezed by Bollywood", NewIndPress.Com, 25 September 2006. Diakses pada 2 Mei 2008.
^ Ali, A (1996). "Vulnerability of Bangladesh to climate change and sea level rise through tropical cyclones and storm surges". Water, Air, & Soil Pollution 92 (1-2): 171-179.
^ dan beberapa lainnya

by: Mugi Bentang F.


[+/-]Baca Lebih Lanjut? Klik Judul Artikel

Akulah si Karat Pejuang!

|



Sekarang aku pensiun di sebuah museum. Di depan etalase putih, berantaikan pembatas untuk pengunjung. Inilah aku, benda peninggalan sejarah yang sekarang dilihat oleh generasi muda. Aku tersimpan utuh di Museum Polri , Blok M ini. Betempatkan di atas meja putih, dengan kertas terplastikkan sebagai identitasku, persis seperti kartu tanda pengenal para sopir taksi. Besiku sudah agak berkarat, bekas darah mungkin aku lupa. Magasinku kosong, tak berpeluru, tak berselongsong, hanya kosong. Persis juga setiap harinya, pengunjung memandangiku. Melotot sampai membaca, mungkin kiraku mereka kagum akan lika-liku hidup karatku ini, atau hanya kagum dengan desainku semata. Yah aku tidak tahu tapi yang jelas inilah aku, sedikit cerita singkat tentang hidupku yang sekarang berkarat ini, sang Bren MK 2.






Kala itu suasana mencekam, malam menyelimuti siang, siang tak punya selimut. Jangankan untuk tampil dengan warna kuning terang benderangnya, sang siang hari terselimuti oleh malam hari. Si Siang hari terlihat bingung , ada apa gerangan yang terjadi di tanah Jawa. Waktu itu ia terlihat murung. Aku juga murung. Tak lihat gerangan senyum lebar 5 sentimeter dari para manusia tanah Jawa itu. Jangankan untuk tersenyum, aku lihat mereka ketar-ketir,kaki di kepala , kepala di kaki. Semua terlihat terbalik waktu itu. Yang kaya terbunuh, yang bunuh yang berbakti pada yang kaya. Yang kaya susah makan, apalagi yang miskin, kelaparan ala ladang ranjau politik ombak jenis komunis campur . Iya, ini adalah ceritaku kala pemberontakan PKI 1948, akulah sang Bren MK 2, senapan asal Inggris pembakti polisi Indonesia.

Aku lahir di Inggris. Saat itu tahun 1930, mereka Tentara Inggris mengembangkan ZB Cekoslowakia vz.26 di Brno, kampung halamanku. ZB Cekoslowakia vz.26 adalah pendahuluku, yah mirip-mirip seperti bapak dan anak. Namaku ini berasal dari Br No, di Cekoslovakia kota mana VZ Zb. 26 pada awalnya dirancang, dan Lapangan EN , situs dari British Royal Small Arms Factory . Tanggal lahirku adalah tahun 1937. Aku hidup dengan munta dan selongsong-selongsong metal. Aku hidup seperti pendahuluku dari Ceko itu, aku dioperasikan dengan gas. Moncong larasku berukuran 20 inci, seperti berjarak 3 langkah jari dan jempol. Ketika aku memuntahkan peluru, bisa kumuntahkan peluru itu hingga 400 meter jauhnya di depanku. Semenit bisa 500 peluru kumuntahkan, panas membara di badanku dari para selongsong metal itu.


Aku ini senjata yang dioperasikan gas, yang menggunakan amunisi 0,303 sama dengan standar senapan Inggris, Lee-Enfield . Propelan gas dikeluarkan dari muzzle ujung moncong laras melalui regulator dengan empat lubang cepat-penyesuaian ukuran yang berbeda, dimaksudkan untuk menyesuaikan volume gas untuk suhu sekitar yang berbeda ( aliran terkecil pada suhu tinggi, misalnya gurun musim panas, terbesar pada suhu rendah, misalnya musim dingin Arktik). Ventilasi gas dalam piston yang pada gilirannya digerakkan blok sungsang. Sedangkan gagang atas tong digunakan untuk pegangan dan menghapus laras panas tanpa resiko terbakar tangan.


Saat perang dunia kedua, aku umumnya dibawa dengan tiga senapan setiap pletin. Sebuah battalion infanteri juga punya senjata Bren pada orang yang membawa perbekalan. Jadi tak banyak yang membawaku waktu itu, mungkin karena beratku yang mencapai 11 kg lebih, aku seperti orang gendut yang kelebihan berat badan, namun bertenaga besar. Dalam perang udara, aku juga bisa diandalkan. Setiap pesawat yang dibekali Bren, pasti ada yang mengandalkanku untuk menembak dari udara. Selama masa perang, aku umumnya hanya dioperasikan oleh satu awak tentara. Meskipun bisa 2 orang, dengan 1 awak tentara lagi sebagai pemberi magazine peluru, simbol makananku. Secara umum, aku dipopoh oleh bipod terpasang, sehingga tak lari keliaran ketika aku memuntahkan para peluru itu.


Secara umum, aku dianggap sebagai senapan mesin ringan yang efektif dan handal, meskipun di Afrika Utara itu aku dilaporkan mengalami kemacetan yang sering , kecuali dijaga sangat bersih dan bebas dari pasir atau kotoran. Hal ini populer dengan pasukan Inggris, yang menghormatiku untuk keandalan dan efektivitas tempur. Kualitas bahan yang digunakan umumnya akan memastikan kemacetan minimal. Ketika sebuah pistol misalnya, macet atau memiliki beberapa benda asing terjebak di dalamnya, operator bisa menyesuaikan regulator gas empat-posisi untuk pakan lebih banyak gas ke piston meningkatkan kekuatan untuk mengoperasikan mekanisme. Laras perlu dibuka dan meluncur ke depan sedikit untuk memungkinkan regulator yang akan berubah. Hal ini bahkan mengatakan bahwa semua masalah dengan “kemacetanku” bisa saja dibersihkan oleh memukul pistol, memutar regulator, atau melakukan keduanya. Tak heran sepertinya banyak yang memukul besiku ini ketika di peperangan, untuk menghindari macet atau benda asing masuk ke besi-besiku ini.


“ Pasca Perang Dunia kedua, The Bren digunakan oleh Angkatan Darat Inggris, dan tentara berbagai negara Persemakmuran , dalam Perang Korea , para Darurat Malaya , yang Mau Mau Pemberontakan dan konfrontasi Indonesia-Malaysia , di mana ia lebih memilih penggantinya, sabuk- makan GPMG , karena ringan beratnya. Selama Perang Falklands pada tahun 1982, 40 Commando Royal Marines dilakukan satu LMG dan satu GPMG per bagian.



Ketika Tentara Inggris mengadopsi 7,62 mm NATO cartridge, yang Bren itu dirancang ulang untuk kaliber 7,62 mm, dilengkapi dengan barel, baut baru dan magasin. Itu redesignated sebagai L4 Light Machine Gun (dalam berbagai versi-sub) dan tetap dalam pelayanan Tentara Inggris ke 1990-an. The penyembunyi flash kerucut digantikan oleh jenis slot yang mirip dengan senapan L1 kontemporer dan L7 General Purpose Machine Gun . Perubahan dari untuk tanpa bingkai dan kartrij hampir lurus magasin membaik-makan cukup, dan memungkinkan penggunaan-bulat berbingkai dari magasin 20 dari 7,62 mm L1A1 Diri Loading Rifle. Magasin 30-bulat dari L4 juga dilengkapi senapan L1A1, tetapi musim semi magasin ini tidak selalu cukup kuat untuk memberikan cukup tekanan ke atas untuk memberi makan putaran dengan benar, tetapi ini sudah diperbaiki oleh peregangan magasin mata air.



Penyelesaian pindah ke 5,56 mm NATO cartridge menyebabkan Bren/L4 yang sedang dihapus dari daftar senjata disetujui dan kemudian ditarik dari layanan. Fakta bahwa senjata Bren tetap bekerja selama bertahun-tahun dengan begitu banyak negara yang berbeda dalam begitu banyak perang mengatakan banyak tentang kualitas desain dasar.


Bren Mark III tetap digunakan terbatas dengan Tentara Cadangan Angkatan Pertahanan Irlandia, meskipun di hampir semua unit telah diganti dengan 7,62 mm FN MAG (GPMG). senjata itu populer dengan tentara yang dipecat itu (dikenal sebagai Brenners) seperti yang ringan dan tahan lama, dan memiliki reputasi untuk akurasi. Yang penting menggunakan sebagian besar Bren oleh pasukan Irlandia berada di Kongo selama 1960-an, ketika tentara Bren adalah bagian standar yang biasa senjata otomatis. “ – Wikipedia.org



Perjalananku di Indonesia berliku-liku, salah satu yang terbesar adalah perjuanganku dengan para polisi Indonesia. Pada akhir Oktober sampai awal Desember 1945, di Jawa Tengah muncul gerakan komunis yang dikenal dengan sebutan “Peristiwa Tiga Daerah”, yakni di Tegal, Brebes, dan Pemalang yang berpusat di Desa Talang, Kabupaten Tegal. Para petualang politik berhaluan komunis berhasil menghimpun massa dan berusaha merebut kekuasaan Pemerintah Republik Indonesia dengan cara kekerasan di tiga daerah tersebut. Massa di daerah-daerah Slawi, Pemalang, dan Brebes dapat dipengaruhinya, tetapi kota Tegal masih dalam penguasaan satuan-satuan Tentara Keamanan Rakyat XVII (TKR XVII). Pada tanggal 17 Desember 1945 segera setelah dilakukan serangan pembersihan oleh Resimen TKR XVII, maka situasi keamanan di tiga daerah tersebut berhasil dipulihkan.



Ya, aku jadi pelaku sejarah waktu itu. Bersama Kepolisian yang dikonsepkan oleh Dwi tunggal saat itu (soekarno-Hatta) di sejajarkan dengaan Tentara Nasional Indonesia dibawah naungan ABRI. Yah oleh usulan PKI sendiri, yang kami lawan waktu itu.
Dan sekarang nasibku ini? Gampang, cukup kembali ke paragraf satu…tapi yang pasti, semoga mereka tak melupakanku.





[+/-]Baca Lebih Lanjut? Klik Judul Artikel

Enam Peluru Sang Baret Merah

|



Jumat siang itu aku menyempatkan waktuku untuk pergi ke Cijantung, sebuah kota sebelah Tenggara dari Jakarta Pusat. Tempat di mana aku bisa mewawancarai seorang tokoh sejarah sekaligus pelaku sejarah. Dia tinggal di perumahan Kopasus Cijantung, berpintu masukkan persis di depan Mall Cijantung. Kala itu waktu menunjukkan pukul 12 kurang 5 menit, saat aku sampai di sana sambil disambut baik oleh keluarganya, yang juga saudara dari pihak ayahku. Namun tak terlihat batang hidungnya, kutanya Uwa (panggilan untuk yang lebih tua dalam bahasa Sunda, RED) Asih, dia sudah pergi ke masjid untuk sholat Jumat. Karena waktu memang memanggilku untuk beribadah, lhasil, aku pergi meninggalkan tas dan plastik berisikan gudeg yang kubeli di warung jalan, sebagai tanda bertamuku di rumahnya, dan pergi sebentar untuk sholat Jumat.


Hari itu terasa panas, suhu saat itu mungkin 39 derajat celcius. Seusai sholat Jumat, kembali tak terlihat batang hidungnya keluar dari Musholla. Padahal aku ingin menyapanya dan berjalan bersama ke rumahnya, bercengkrama seperti adegan film mungkin. Apa boleh buat, sambil beralaskan sandal hitam yang kupinjam dari keluarganya, aku kembali ke rumahnya, mungkin dia sudah pulang terlebih dahulu.

“ Dreppp ,“ bunyi kakiku di depan pintu gerbang rumahnya yang berwarna hitam, saat itu juga aku disambut beliau dengan berbajukan koko hijau yang melihatku. Aku bersalaman dengannya, tapi dengan gaya hormat, tak sembrono di depan pahlawan itu. “Apa kabar Wa? ,“ Bilangku kepadanya. “ Wah dah gede Aa Ugi,yok masuk-masuk ,” jawabnya berkata dengan senyum khas perjuangan ’45. Beliaulah Uwa Om, panggilan keluarga besar kami untuknya. Aku dan beliau tergolong bersaudara, karena istri beliau adalah kakak dari ayahku. Yap, saudaraku adalah pahlawan, pelaku serta tokoh sejarah. Kulihat beliau, masih segar dengan muka berbahagia , tak kulihat raut wajahnya yang cemberut, seperti orang tua lainnya mungkin yang cemberut terkadang juga mengeluh dalam akhir hayat hidupnya. Tingginya sekitar 165 cm, lebih pendek dariku. Tapi badannya tegak, tak bongkok osteoroporosis atau bongkok seribu jenis lainnya. Masih tegak layaknya tentara yang sedang baris-berbaris. Rambutnya segar, wajahnya segar, badannya fit , terlintas sejenak dalam pikiranku “, Ini pasti buah dari perjuangannya sebagai Kopasus dulu! “. Beliau bernama Bapak Syafei Hamsyah. Bapak yang telah berumur 78 tahun itu adalah seorang pejuang veteran dari Kopasus angkatan 6, yang kala itu bernama RPKAD. Yang telah berjuang dalam kemerdekaan Indonesia, khususnya Orde Lama. Banyak cerita yang akan disampaikan oleh beliau, mengingat tujuanku di sini untuk mengobrol dengannya sekaligus wawancara dengan beliau. “ Ayo gi makan dulu ,” Cetus Uwa Asih, sang istri beliau, mengajakku dan beliau yang sedang berada di teras rumah untuk makan . Tak mungkin kutolak, bukan ? Apalagi mereka saudara saya, Hehe.

Setelah makan siang itu, kami bercengkrama di teras rumah. Bukan hanya aku saja yang berada di ruang teras, ada pula Mang Iyan, anak beliau, dan bapakku yang menemaniku menemui sang pahlawan. Disundutnya korek api pada sebatang rokok, Dji Sam Soe. Ditancapkannya pada sebuah gading gajah kecil, sebagai tempat untuk merokok, persis ala tentara yang digambarkan di novel-novel. Waktu kubilang aku mau mewawancarai beliau akan pengalamannya, dia tertawa geli mengingat masa lalu, mungkin. Mulai dia bercerita satu persatu pengalamannya, kami mendengarkan.


1.1 Habis merdeka? Siapa bilang sudah merdeka?

RPKAD

Perjalanan beliau sebagai Kopasus dimulai dari diterimanya Uwa Om pada pendidikan RPKAD. Kala itu RPKAD belum bernama Kopasus. Uwa Om sendiri berasal dari Kodam Kalimantan. Dari 256 tentara seluruh Kalimantan kala itu, hanya 6 yang diterima, termasuk beliau. “ Cuman 6 orang yang diterima, ketat itu! Haha, habis itu langsung ke Jakarta,” Ceritanya sambil menghisap rokok. Kopasus kala itu memang benar-benar pasukan yang baru. Ijon Jambi bersama A.H Nasution, termasuk orang yang mencetuskan berdirinya pasukan khusus itu, di mana kondisi Indonesia seperti ombak berombang-ambing, datang konflik dari sana sini. Ada lah pemberontakan, ada juga lah serangan Belanda.


Uwa Om Muda

Ijon Jambi

Uwa Om yang sampai di Jakarta, kemudian dikirim ke Jombang, waktu itu tempat latihannya bernama Batalion 2 Jombang. “ Sampai di sana, wah bingung ini! Kenapa baretnya merah-merah? ,” Cerita Uwa Om sambil mengekspresikan kebingungannya, tertawa geli beliau. Pendidikan RPKAD waktu itu juga masih dibina oleh Ijon Jambi. Seorang Belanda kelahiran Kanada, yang berperan dalam perjuangan Indonesia meraih kedaulatannya. “ Ijon Jambi yang ngebina, bahasanya otomatis Bahasa Belanda. Nah tapi kitanya gak ngerti tuh Bahasa Belanda,” bahasnya. Cuman 6 bulan pendidikan di Jombang, setelah itu? Pendidikan di medan perang, apa itu? Operasi DI/TII di Jawa Barat.



Sedikit flashback tentang gerakan Darul Islam, yang diberantas oleh operasi tersebut. Sekar Marijan Kartosuwiryo mendirikan Darul Islam (DI) dengan tujuan menentang penjajah Belanda di Indonesia. Akan tetapi, setelah makin kuat, Kartosuwiryo memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) pada tanggal 17 Agustus 1949 dan tentaranya dinamakan Tentara Islam Indonesia (TII). Upaya penumpasan dengan operasi militer yang disebut Operasi Bharatayuda.

Misi pertama, sekaligus dalam masa pendidikan Uwa Om kala itu adalah pemberantasan DI/TII di Jawa Barat, di era 50 akhir, sekitar tahun 1958 akhir. Bersama batalyonnya, dibagi menjadi beberapa pleton, kemudian beberapa kelompok regu. Memang sudah standar tentara sepertinya dalam medan peperangan, dibagi menjadi beberapa regu.

Penumpasan NII kala itu dirasakan oleh beliau sebagai salah satu yang tersulit dari beberapa misinya. Pasalnya, pergerakkan NII licik dan susah dilacak. Siang menjadi petani, malam menjadi pemberontak. Dari Cirebon, berangkatlah Uwa Om bersama kelompok regunya, melintasi Gunung Cireme. “ NII ini pinter, Kartosuwiryo susah dilacak. Kata Intel ada di Cirebon, eh taunya ada di Garut ,” Ceritanya. Dalam berperang, NII tergolong sadis dan licik. Ketika ada seseorang yang dianggapnya memihak pada pemerintah dalam wilayah mereka, tak segan-segan satu keluarganya dibunuh oleh mereka. Siang Intel, malam tentara. Tak peduli anak kecil atau orang dewasa sekalipun.

“ Ketika mereka kami kejar, mereka pintar. Mereka bergerak dengan jalan mundur sambil menutupi jejak mereka. Makanya Kartosuwiryo pas itu susah ditangkep,” Ceritanya kembali.

Pengejaran melintasi Gunung Cireme, dimulai dari titik Cirebon. Guna melacak dan menangkap Kartosuwiryo. Perjuangannya? Tak seperti sekarang di mana “bantuan logistik” sudah mudah. “ Dulu mah gak kaya sekarang, dulu kita miskin! Jangankan untuk makanan, untuk amunisi yang penting saja cuma dikasih 6 peluru! 1 peluru, 1 nyawa! Hahaha ,” Tawanya geli sambil mengenang. Kala itu, jangankan bantuan logistik, peluru saja susah, di saat Indonesia sedang mengalami titik kemiskinannya, hingga akan terjadi inflasi besar-besaran pada tahun 1965.

Saat melintasi Gunung Cireme, di sanalah beliau merasakan spirit perang tentara , tapi di saat masa latihan. “ Widih, waktu di Gunung Cireme itu emang paling menderita, “ tuturnya dengan gaya bicaranya. Perjalanannya di Gunung Cireme memang salah satu dari tersusah baginya. Logistik kurang, serta jarang ditemukannya air di gunung itu. Gunung Cireme yang terletak di Cirebon, sekarang berada di Kabupaten Cirebon, likunya seperti buah Cireme, naik turun naik turun. Ditambah lagi memang mayoritas tumbuhan yang tumbuh di gunung itu adalah Pohon Pinus, tak seperti gunung-gunung yang berada di selatan Jawa Barat. “ Mau masak gimana? Air pun tak ada? ,” katanya. Selama satu minggu, bersama regunya beliau berjalan melintasi gunung tersebut. Dengan persediaan air yang minim, persis seperti para khafilah yang berjalan di gurun pasir tanpa ada air, namun versi beliau ini berjalan melintasi wilayah hutan tropis, miris.

“ Waktu mau sampe di Kuningan, baru tuh terdengar air. Teman ada yang bilang ‘, BUNYI AIR ITU BUNYI AIR!!’. Aku bilang ‘, DIAM-DIAM ssstt!!!! ‘. Wah ternyata memang bunyi air betulan! Langsung kita lari, NYEMPLUNG minum air sepuasnya. Hahahaha ,” Katanya sambil geli “, Minum airlah kita itu sampe Kenyang, perut kembung, haha. Kubilang ‘, awas ini kalau ada DI TII! Kita habisi mereka sudah ngerepotin kita!’ ,“ lanjutnya.

Dari gunung, melintasi darat, ada juga melintasi kereta api. “ Bosan juga ketika melintasi rel kereta api, seharian itu melulu. Apalagi ketika melewati jembatan kereta, begitu ada kereta lewat, kita semua bergelantungan. Wah haha ngeri juga tuh, “ Ceritanya sambil digerakan tangannya. Ketika melewati terowongan , badan satu regu dipempetkan di dinding terowongan, muka berubah menjadi hitam oleh asap cerobong kereta api yang masih menggunakan batu bara. “ Mukamu kok hitam? Lho mukaku juga? , “ Sahut menyahut satu regu yang diceritakan Uwa Om seperti pengalamannya waktu itu. Kadang aku juga berpikir, seru juga jadi tentara.

Perjuangannya di wilayah Jawa Barat itu berakhir, setelah Kartosuwiryo ditangkap oleh pasukan Siliwangi . “ Sakit kuning dia waktu itu. Jadi pas mereka dikepung, mereka yang menyerahkan diri. Mereka bilang dia sedang sakit kuning, di sebuah gubuk di Garut. Ditangkap lah dia, dan langsung kabari ke pusat. ,” flashback nya”, Kalau bukan sakit kuning susah tertangkap mungkin. Gerakannya diam-diam, lincah , dan susah terlacak. Tertangkapnya juga karena taktik pagar betis, dikepung.”. Kartosuwiryo ditangkap dalam keadaan lemas tak berdaya. Jadi kalau ada buku sejarah di kalangan sekolah yang bilang dia ditembak mati oleh tentara , berarti ada salah tulis buku itu.

1.2 Operasi Permesta, Operasi Perang Saudara


Cuti didapat Uwa Om kelar dari penugasan operasi DI TII. Sekitar 14 hari pulang ke markas batalyon. Bersantai sejenak, tanpa ada kesulitan air atau logistik. Walau waktu itu Indonesia masih miskin. Nasib tentara pun tidak sesubur sekarang, dari gaji sampai jatah makanan harian. “ Tentara sekarang gaji gede, kalau dulu cuman 415 perak, dulu kita makan dijatah lebih dikit,” Ceritanya. Tentara seperti Uwa Om,yang masih berpangkat prajurit, memang termasuk yang paling merasakan krisisnya Indonesia kala itu. Untuk makan pagi dijatah 150 gram, siang sekitar 250 gram, malam baru 400 gram. Kalau dihitung-hitung cuman 4 sendok. “ Sehat aja, tapi gak kenyang, haha. Perut itu masih kruyuk-kruyuk rasanya. , “kenangnya “, Gaji saja waktu itu, sekali dapet, langsung habis buat jajan bersama teman-teman. Makan sate ayam, yah cuman 415 perak. Gak seperti sekarang udah gede-gede gajinya.”. Ya, itulah perjuangan tentara jaman Indonesia berusaha meraih kedaulatannya.

Baru sekitar 6 hari beliau cuti, kembali beliau dipanggil tugas, kali ini operasinya di luar pulau Jawa. Yap, tahun 1959 awal, beliau dipanggil bertugas untuk menumpas gerakan Permesta di Manado, yang dipimpin oleh Alex Evert Kawilarang, mantan tentara lawan tentara.



Berangkat dari Tanjung Priok menggunakan kapal angkut, bukan pesawat. Pesawat milik Auri untuk mengangkut masih terbilang minim di jaman itu. Adapula pesawat Dakota, namun nasib berkata lain pada pesawat itu yang tertembak jatuh lantaran perang. Selama 7 hari 7 malam perjalanan mengarungi laut menuju Manado, dengan mampir terlebih dahulu di Surabaya.

Perdjuangan Semesta atau Perdjuangan Rakjat Semesta disingkat Permesta adalah sebuah gerakan militer di Indonesia. Gerakan ini dideklarasikan oleh pemimpin sipil dan militer Indonesia Timur pada 2 Maret 1957 yaitu oleh Letkol Ventje Sumual. Pusat pemberontakan ini berada di Makassar yang pada waktu itu merupakan ibu kota Sulawesi. Awalnya masyarakat Makassar mendukung gerakan ini. Perlahan-lahan, masyarakat Makassar mulai memusuhi pihak Permesta. Setahun kemudian, pada 1958 markas besar Permesta dipindahkan ke Manado, dipimpin oleh A.E Kawilarang. Disini timbul kontak senjata dengan pasukan pemerintah pusat sampai mencapai gencatan senjata. Masyarakat di daerah Manado waktu itu tidak puas dengan keadaan pembangunan mereka. Pada waktu itu masyarakat Manado juga mengetahui bahwa mereka juga berhak atas hak menentukan diri sendiri (self determination) yang sesuai dengan sejumlah persetujuan dekolonisasi. Di antaranya adalah Perjanjian Linggarjati, Perjanjian Renville dan Konferensi Meja Bundar yang berisi mengenai prosedur-prosedur dekolonisasi atas bekas wilayah Hindia Timur.

“ Di Manado inilah, kita benar-benar melintasi gunung, tinggal di gunung, makan di gunung, selama 8 bulanan. Permesta itu gerakan yang kejam, walau tak sekejam DI/TII. Tapi di Manado ini, benar-benar perang kontak senjata terus-menerus, “ Cerita Uwa Om.

Tinggal di gunung selama 8 bulan bukanlah hal yang gampang. Walau sekarang logistik lebih terjamin, tapi musuh juga lebih tersenjatai. Evert Kawilarang sendiri sebenarnya adalah bagian dari tentara Indonesia kala itu, bahkan termasuk dalam orang yang berjuang di tahun ’45. Dari September 1956 hingga Maret 1958 Kawilarang menjabat sebagai atase militer pada Kedutaan Besar Republik Indonesia di Washington, DC, Amerika Serikat, dengan pangkat brigadir jenderal. Ketika pemberontakan PRRI/Permesta meletus di tanah air, Kawilarang segera melepaskan jabatannya sebagai atase militer lalu minta pensiun. Ia kembali ke tanah air dan langsung ke Sulawesi Utara untuk menjabat sebagai Panglima Besar/Tertinggi Angkatan Perang Revolusi PRRI (1958) dan Kepala Staf Angkatan Perang APREV (Angkatan Perang Revolusi) PRRI, dengan pangkat mayor jenderal dari Februari 1959 hingga Februari 1960. Banyak yang bilang bahwa latar belakang Kawilarang bergabung dengan Permesta, salah satunya adalah ketidakpuasan mereka terhadap pembangunan di Indonesia tahun-tahun itu. Juga sebagai bentuk protes atas keberadaan komunis di Jawa.

Namun apa daya, latar belakang tersebut menimbulkan perang ‘saudara’ yang besar kala itu. Permesta tidak seperti pemberontak DI/TII, yang takut-takutan kalau siang. Siang hari justru terjadi kontak dengan pihak TNI.

Bermodalkan pakaian tentara ala kadarnya, Uwa Om bersama regunya tinggal di gunung. Dalam satu wilayah yang terbagi atas 1 pleton, setiap pleton dibagi atas 5 regu. Masing-masing regu berjumlahkan 10 orang sebagai anggotanya. Pleton RPKAD Uwa Om menerima wilayah Gunung Hulu sebagai penjagaannya dalam pembagian wilayah. Di Gunung Hulu itu, terdapat 5 regu yang menjaga, di mana setiap regu dipimpin oleh Komandan Regu, bermodalkan kompas dan radio macam P.C.R. 2, yang ukurannya sekarang seperti telpon umum di trotoar.

“ Di Manado itu perang bener-beneran paling terasa. Setiap hari ada kontak senjata. Pihak Permesta juga terlatih. Karena ya itu tadi, banyak tentara yang ikut andil dalam pihak Permesta ,” Katanya.

Untuk bergerak pun harus hati-hati, Permesta pintar dalam taktik perang, karena banyak bekas tentara yang bermain andil dalam gerakan tersebut. Ranjau misalnya, ranjau yang dipakai bukan ranjau bom, tapi ranjau bambu. Bambu yang diruncingkan, seruncingnya, kemudian dikuburkan dalam tanah, ditutupi oleh rumput. Banyak tentara yang terluka karenanya, kebanyakan dari Pasukan Kodam Diponegoro. “ Jadi sate itu kalau kena, hehe ,” ceritanya sambil geli. Dalam perangnya pun Permesta cenderung tidak mengenal etika. Beberapa pasukan RPKAD yang terjun ditembak terlebih dahulu sebelum menyentuh tanah, padahal hal tersebut menentang dari Etika Perang hasil dari Konvensi Jenewa. “ Yah namanya perang, daripada mereka mati, ya mereka tembak duluan saja, haha,” katanya.

Uwa Om dan regu pun juga pernah jahil dalam berperang. Pernah suatu ketika saat mendatangi suatu desa Permesta, para tentara Permesta yang sedang beristirahat kabur kelabakan. Di dekat botol-botol minum pasukan Permesta, ada penggorengan besar yang sedang dipenuhi dengan gula aren yang dimasak. “ Gula aren kan kalau kering beku tuh? Nah kita masukin aja ke botol tuh pasukan, biar tahu rasa mereka! Gak bisa minum! Haha ,” Ceritanya sambil tertawa terbahak-bahak.

Tapi yang namanya nasib tentara saat perang, celana robek-robek, badan lecet, kaki sakit menimpa ransel sekaligus senapan laras panjang AK-47, itulah yang dirasakan beliau ketika berada di perang Manado. “ Ya itulah namanya tentara, “ cetusnya. 8 bulan hidup di hutan, kadang malah dikasihani oleh penduduk setempat untuk mampir ke rumah mereka. “ Gak bisa lah tapi, tugas tetep tugas, “ cetusnya.

Pertempuran puncak yang beliau alami adalah ketika penyerbuan Lapangan Mapanget. Lapangan Mapanget sangat dijaga ketat oleh pihak Permesta. Peluru berkaliber 12,7 siap mencoba menembus pasukan tentara gabungan Indonesia waktu itu. “ Gak bisa ditembus! Benar-benar dijaga ketat oleh mereka, pelurunya juga 12,7. Kalau kena kepala, bisa putus tuh ,” Ceritanya. Persenjataan mereka lengkap, berpeluru udara dan darat. Jika dilihat dari sejarahnya, senjata tersebut merupakan peninggalan KNIL dan donasi dari pihak sekutu. “ Baru ditembus ketika diakali oleh pilot AURI, Liawatimena namanya. Jadi dia terbang-terbang pake pesawat Mustang di atas lapangan yang dijaga ketat itu, kemudian pura-pura jatuhlah dia. Pas sudah gak ditembaki karena dikira jatuh, baru dia ngebom lapangan itu. ,” Tuturnya mengingat jasa sang pilot ‘, Baru kita masuk serbu tuh lapangan, kalau gak ada dia, wah susah itu masuk ke lapangan’ , lanjutnya. Lapangan Mapenget berhasil direbut tanggal 5 Mei 1959.

Walau begitu, Evert Kawilarang tidak mau menyerah sebelum RPKAD yang menangkapnya. Mungkin karena begitu kecewanya dia terhadap jalannya pemerintahan Indonesia. Begitulah yang diceritakan Uwa Om. “ Makanya Jendral Nasution datang waktu itu ke Manado. Ketika datang, maka menyerahlah si Kawilarang itu. Turun dia dari gunung sambil berkuda, bersalaman lah dia dengan Nasution. Begitu juga dengan pasukannya yang menyerah. Bahkan ada sebagian dari mereka yang mengenal satu sama lain dengan anggota RPKAD. Mungkin karena dulunya satu akademi. ,“ Kenangnya.



Pergerakan Permesta resmi berakhir pada tahun 1961.

1.3 Belum Selesai! Masih Ada Tri dan Dwi, dari Kora!

Misi bersejarah sang Uwa Om belum selesai, masih ada 2 misi yang ia jalani, Trikora dan Dwikora.

“ Kalau Trikora, kita RPKAD belum sempat benar-benar perang. Karena ketika sampai di Irian Barat, langsung dipanggil dari pusat untuk balik ke Jakarta,” Katanya. Memang sebenarnya peristiwa Trikora malah yang membuat Belanda ketar-ketir akan kekuatan Indonesia yang dibantu oleh Uni Soviet saat itu. Bagaimana tidak, Belanda masih mengandalkan pesawat perang dunia kedua, sementara Indonesia sudah menggunakan pesawat bermesinkan jet turbin. Walau banyak peristiwa besar yang terjadi seperti Perang Laut Uru. Di dalam sejarah tercatat peristiwa Trikora terjadi 19 Desember 1961 - 15 Agustus. Ada juga sabotase yang dilakukan pihak Intel Belanda waktu itu. Ketika sampai di Jakarta saat pemeriksaan kantong terjun, ternyata talinya putus semua, diputus tepatnya. “Untung saja satu batalyon juga tidak terjun waktu itu, kalau terjun bisa mati semua itu,” Tuturnya.

Sekedar informasi, pada tanggal 15 Agustus 1962, perundingan antara Indonesia dan Belanda dilaksanakan di Markas Besar PBB di New York atas jalan keluar konflik Trikora. Pada perundingan itu, Indonesia diwakili oleh Soebandrio, dan Belanda diwakili oleh Jan Herman van Roijen dan C.W.A. Schurmann. Isi dari Persetujuan New York adalah:
• Belanda akan menyerahkan pemerintahan Papua bagian barat kepada United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA), yang didirikan oleh Sekretaris Jenderal PBB. UNTEA kemudian akan menyerahkan pemerintahan kepada Indonesia.
• Bendera PBB akan dikibarkan selama masa peralihan.
• Pengibaran bendera Indonesia dan Belanda akan diatur oleh perjanjian antara Sekretaris Jenderal PBB dan masing-masing pemerintah.
• UNTEA akan membantu polisi Papua dalam menangani keamanan. Tentara Belanda dan Indonesia berada di bawah Sekjen PBB dalam masa peralihan.
• Indonesia, dengan bantuan PBB, akan memberikan kesempatan bagi penduduk Papua bagian barat untuk mengambil keputusan secara bebas melalui
1. musyawarah dengan perwakilan penduduk Papua bagian barat
2. penetapan tanggal penentuan pendapat
3. perumusan pertanyaan dalam penentuan pendapat mengenai kehendak penduduk Papua untuk tetap bergabung dengan Indonesia; atau
memisahkan diri dari Indonesia
4. hak semua penduduk dewasa, laki-laki dan perempuan, untuk ikut serta dalam penentuan pendapat yang akan diadakan sesuai dengan standar internasional
• Penentuan pendapat akan diadakan sebelum akhir tahun 1969.
Sehingga dengan itu, berakhirlah konflik Trikora, Indonesia mulai meraih kedaulatannya dengan genggaman tangan penuh.

1.4 Konflik Kedua Buatan Sekutu, Adek dari Trikora, Dwikora~

Ada yang bilang peristiwa Dwikora dilakukan Soekarno karena Malaysia dianggap sudah tidak menghormati Indonesia melalui aksi demonstrasi anti Indonesia pada tanggal 17 September 1963 di Kuala Lumpur dengan cara menyerbu gedung KBRI, merobek-robek foto Soekarno, membawa lambang Negara Garuda Pancasila ke hadapan Tuanku Abdul Rahman Perdana Menteri Malaysia saat itu dan memaksanya untuk menginjak Garuda. Sejak saat itulah kemarahan Soekarno atas Malaysia mencapai puncaknya yang pada akhirnya memunculkan komando Dwikora.

Awal konflik Indonesia – Malaysia ini diawali oleh peristiwa klaim federasi Malaysia atas wilayah Brunei, Sabah, Serawak dan Singapura yang akan digabung menjadi persekutuan tanah Melayu (tahun 1961). Peristiwa ini membuat presiden Soekarno dan beberapa negara lain kecewa. Soekarno menganggap pembentukan Federasi Malaysia ini sebagai proyek Nekolim (Neo-Kolonialisme dan Imperialisme) baru di kawasan Asia Tenggara yang dipimpin Inggris serta tidak sesuai dengan perjanjian Manila (Manila Accord).

Pasca demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur, pada tanggal 20 januari 1963 Indonesia melalui Mentri Luar Negeri Soebandrio menyatakan sikap bermusuhan terhadap Malaysia. sejak saat itulah kemudian muncul istilah “Ganyang Malaysia” dan “Dwikora” yang disebut oleh Soekarno sebagai upaya menjaga martabat Negara Republik Indonesia.


Sehingga seusai Operasi Mandala Trikora kemudian pada tahun 1963, RPKAD kembali mendapat perintah untuk melaksanakan misi Dwikora. Tugasnya mengganyang Pemerintahan Malaysia yang pada waktu itu dipimpin oleh Tengku Abdurahman. Yang meliputi daratan Malaka, Sarawak, Singapura dan Sabah (yang pada waktu itu masih tergabung dengan Malaysia). Operasi dilakukan pada tanggal 15 Maret 1964, seluruh anggota tim mendapat penjelasan dari Komandan Kopaska bahwa mereka secara administrasi telah dikeluarkan dari Kedinasan Angkatan Laut dengan tujuan bila mereka tertangkap dikemudian hari Angkatan Laut bisa mengelak dari keterlibatanya.

Uwa Om ditugaskan untuk menyusup ke daerah Kalimantan Timur, perbatasan antara Indonesia dan negara yang bakal jadi itu, Malaysia.

Ada fakta yang unik yang saya dapatkan dari pengalaman Uwa Om yang satu ini tentang peristiwa Dwikora. Dari seorang Uwa Om, bagian dari RPKAD yang terjun langsung ke medan pertempuran. Faktanya adalah? Tidak ada tentara Malaysia yang ikut berperang dalam peristiwa Dwikora. Lantas siapa yang berperang? Mereka adalah tentara bayaran Inggris, suku dari Tibet bernama Gurkha.



Inggris waktu itu juga tidak mau kehilangan negara bawahannya begitu saja. Namun di lain sisi takut akan kekuatan Indonesia yang kala itu militernya menjadi salah satu yang terkuat di dunia. Apalagi Malaysia yang kecil dan tak berdaya pada saat peristiwa itu terjadi. Inggris pun mengirimkan tentara bayarannya, yang dibayar mahal. Hal ini yang agak banyak terluput dari buku pelajaran sekolah.

Sedikit informasi mengenai Gurkha. Gurkha, juga dieja gorkha, adalah orang-orang dari Nepal yang mengambil namanya dari orang suci Hindu abad ke-18, Guru Gorakhnath. Pengikutnya, Bappa Rawal, lahir dengan nama Prince Kalbhoj, merupakan orang Gurkha pertama. Gurkha dikenal terutama karena keberanian dan kekuatannya dalam Brigade Gurkha dalam Angkatan Darat Britania Raya. Mereka juga terkenal karena pisau khas mereka yang disebut kukri. Mereka terkenal dengan kemampuannya bertarung dengan sebilah Kukrinya, kadang bisa dilempar kadang bisa ditebas spesial unutk musuhnya.

Tapi ada juga yang unik, apa itu? “ Mereka takut tentara Indonesia,” Kata Uwa Om “, Walau waktu itu kita memang berbekal pas-pasan. Tapi kita dapat bekal dari mereka. Mereka suka meninggalkan bekal mereka untuk kita, haha”, lanjutnya. Sebelum turun dari helikopter misalnya, mereka takut untuk langsung turun. Alhasil mereka menembaki dulu sekitar hutan di atas tempat mereka akan mendarat, lalu baru turun dari helikopter untuk mengkontrol keadaan. Untuk berperang? Tak pernah regu Uwa Om berperang kontak senjata secara harafiah. Mereka lah yang mencoba untuk kontak Senjata. “ Biar mereka habis peluru, gampang tuh caranya. Jadi pada pagi hari, kita pancing mereka dengan satu tembakan,’DOORR’. Mereka pasti balas itu tembakan, tapi balasnya mereka tembak ke mana saja dengan peluru lengkap mereka. Dari meriam lontar sampai senjata mesin. Pohon-pohon jatuh bertumbangan, tembak menembak mereka ke mana saja. Nah kita? Yah kita diam saja, orang mereka takut. Hahaha ,” Kenang Uwa Om, aku pun geli mendengar ceritanya.

Bahkan malah tentara bayaran dengan gaya khas topi miring itu pernah melambai-lambai teriak”, Oiii oii” menandakan mereka tak mau berperang dengan RPKAD.

“ Mereka suka ninggalin rokok kalengan ampe susu bekas tuh, disangkutin ke pohon-pohon besar. Jadi kalau ketemu, kita ambil, makan deh haha,” cerita Uwa Om sambil tertawa.

Memang sebuah cerita yang lucu menggelikan mendengarnya langsung dari sumber. Tapi sayangnya tak pernah dipublikasikan di ajaran buku sekolah. Entah mengapa, padahal itu pasti menjadi kebanggaan tersendiri bagi kita, yang mempelajari sejarah, mendengar cerita tersebut. Betapa militer kita merupakan salah satu yang terkuat dan ditakuti kala itu, di jaman Presiden Soekarno masih memimpin.

Uwa Om kemudian dipulangkan dari misi Dwikora setelah konflik itu berakhir, terutama karena munculnya gerakan PKI yang membuat Indonesia semakin terombang-ambing oleh krisis karakter negara.


1.5 Sekarang pun Masih Bugar



Uwa Om termasuk sebagai orang yang sederhana dalam menjalani hidupnya. Senyum dan penuh gelak tawa mengalir dalam kehidupannya sehari-hari. Belum pernah sepertina kulihat beliau cemberut, atau sakit-sakitan . Seperti yang kukatakan di awal-awal cerita ini.

Sekarang beliau sudah pensiun, tinggal di Cijantung bersama 2 orang anaknya. Satu sudah berkeluarga memiliki 2 anak, satu lagi belum menikah. Pangkat terakhirnya adalah Sersan Kepala, berbekaskan veteran perang Kopasus Angkatan tahun 1959, atau angkatan 6. Berbagai penghargaan pernah diterima beliau sebagai pahlawan perang. Dari penghargaan oleh Menteri Pertahanan, sampai oleh A.H Nasution.

Beliau adalah seseorang yang hebat, patut dicontoh. Dari hidup beliau juga menceritakan, bahwa “masa mudamu adalah masa tuamu”. Bahwa ketika kita menyia-nyiakan masa muda, seperti gaya hidup yang buruk, atau bermalas-malasan, atau merusak diri kita dengan rokok, maka tak heran masa tua kita adalah cerminan masa muda kita. Dari hal itu juga menggambarkanku, bahwa aku sebagai anak muda jaman sekarang harus bersyukur. Perang sudah tidak ada seperti dulu, krisis makanan , atau inflasi tak kualami, atau sedikitnya belum kualami. Walau tantangan sebagai anak muda jaman sekarang berbeda ,seperti sedang gempar-gemparnya perang terhadap terorisme. Tapi pelajaran yang paling penting adalah , bahwa aku harus bermental baja dalam menjalani hidup ini. Tak boleh mudah menyerah dan harus terus berusaha. Seperti kata pepatah , “ bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian” , Atau “Ganbatte” seperti kata orang Jepang.

Aku pamit pada beliau sekitar jam setengah 3 sore, cuaca mendung waktu itu. Tak lupa sebelumnya aku berfoto dengannya, sebagai bukti bahwa aku pernah bertemu dengan seorang pahlawan. Seorang pahlawan yang cinta akan tanah airnya, seorang pahlawan yang tak mudah menyerah, dan bermental baja.

Yah, dia benar-benar memberikanku semangat baru untuk menjalani kehidupan melihat dari sejarah masa lalu. Tak heran, Soekarno pernah bilang, “ Jangan sekali-sekali melupakan sejarah “, JAS MERAH! [MUGI]




Uwa Om Bersama Teman(Palign atas), Penghargaan dari Menteri Pertahanan dan A.H Nasution





[+/-]Baca Lebih Lanjut? Klik Judul Artikel

Inilah, si Mugi Bentang!

|



1.1 Lahirnya si Anak “Faatihah”

Cerita aku bermula dari perjuangan berat Ibuku yang telah mengandung jasadku selama 9 bulan lebih. Perjuangan itu diakhiri dengan titik klimaks, yaitu kelahiranku, tepatnya malam hari 19 Januari tahun 1994. Malam itulah aku, Mugi Bentang Faatihah, dilahirkan di muka bumi ini . Di sebuah rumah sakit bernama Rumah Sakit Asih. Tak ingat apa yang terjadi kala itu, namun aku ingat betul kedatangan aku di muka bumi ini disambut bahagia oleh kedua orang tua aku, Ayahanda Agus dan Ibunda Safrita. Walau Ibunda tersenyum belakangan karena masih terlelap akibat biusan operasi cesar. Langsung beberapa saat setelah itu, di malam hari menjelang subuh ayah saja mengumandangkan Adzan di kuping aku, sebagai tanda memenuhi sunnah Rasul Muhammad SAW.



Tak lama selang hari itu, orang tua aku, memberi nama aku. Nama yang akan menjadi simbol aku di masyarakat. Nama yang akan menjadi panggilan aku di lingkup masyarakat. Yap, mereka berdua memutuskan untuk menamai aku, Mugi Bentang Faatihah, atau biasa disebut Mugi. Dari nama itu aku tahu , bahwa nama itu menandakan harapan orang tua aku terhadap aku. Mugi Bentang Faatihah, Yang berarti,” Semoga menjadi bintang yang unggul “. Namaku itu merupakan perpaduan antara Bahasa Sunda dan Bahasa Arab. Lha kok bisa begitu? Yap, bapakku adalah Orang Sunda, berdarah Banten dan Bandung. Begitu juga dengan ibuku, perantau dari Lampung ke Jakarta ketika beliau kuliah. Bukan berdarah Sunda tapi, namun Bengkulu tepatnya. Sehingga bisa saja aku dibilang sebagai ”, Anak blasteran ala lokal “.

Mungkin kala itu memang aku masih polos. Belum bisalah aku berbicara seperti orang yang mengerti baik dan busuknya seluk beluk politik waktu itu. Tak bisalah aku menulis otobiografi aku seperti sekarang ini waktu itu. Jangankan untuk makan, untuk kencing saja orang tua yang turun tangan. Belum lagi rewelnya aku, kadang aku berpikir betapa sabarnya kedua orang tua aku ini. Aku juga berpikir apa yang telah aku lakukan untuk membanggakan orang tua aku. Namun sepertinya itu memang jadi pikiran banyak orang. Mau jadi apa kelak aku nanti, seperti apa yang terpikir sekarang ini, namun belum terpikir saat aku bayi dahulu kala.



Kala itu orangtuaku baru pindah dari kontrakan semulanya ,yang terletak di Kebayoran Baru, ke daerah Pamulang, sebuah kota kecil di Jawa Barat tahun 1994. Di tahun 1994, Pamulang adalah kota yang sepi. Dibelakang rumah aku tahun itu, masih berupa kebun-kebun yang ditanami oleh tanaman bernilai ekonomis oleh warga sekitar. Pada malam hari, dinginnya masih serupa dengan Bogor, sejuk campur dingin. Pepohonan rimbun ditemani oleh suara jangkrik pada malam harinya. Beruntung aku sempat merasakan segarnya udara Pamulang pada tahun 1994. Entah mengapa hidup di lingkungan segar seperti Pamulang ,yang terletak sekitar 40 km dari Jakarta Pusat, membawa aura positif dalam pikiranku. Tak ada kebisingan mobil-mobil, tak ada polusi, tak ada kemacetan begitu keluar rumah. Mungkin tak seperti pengalaman kebanyakan orang lainnya yang tinggal di Jakarta. Tak heran banyak orang yang telah lama tinggal di Pamulang sampai sekarang, merasakan rindunya keasrian Pamulang. Karena Pamulang sudah berubah 180 derajat dari tahun 1994 dan tahun-tahun sebelumnya. Sekarang Pamulang gersang dan panas, dipenuhi oleh kendaraan bermotor baik itu yang beroda empat sampai beroda tiga. Mungkin inilah efek dari perkembangan ekonomi wilayah masa kecil aku, namun tak tertangani dengan baik oleh pemerintah, pemerintah Tangsel tepatnya. Sampai sekarangku tulis saja masih tidak jelas siapa yang menjadi walikotanya setelah pemilihan ulang pilkada Tangsel. Tim Andre Taulany atau Tim Airin, tak ada yang tahu sepertinya sampai sekarang kecuali mereka yang berdansa dalam kotak politik. Usut punya usut terjadi praktek KKN di dalamnya, walah mau jadi apa kota yang baru jadi ini. Mungkin tak jadi, hanya setengah jadi seperti nangka busuk gagal matang. Hal yang menjadi problema pemerintahan kita sepertinya masih mendarah daging dari tahun aku lahir sampai sekarang ini.



Waktu itu rumahku tidak mempunyai tetangga, ada satu tetangga di sepanjang deretan jalan depan rumahku. Namun untuk mencapainya harus melewati sekitar 2 rumah dari samping kanan rumahku. Tak ada banyak pohon di sepanjang jalan rumah-rumah kosong yang diwarnai cat putih. Jalan depan rumah masih berupa aspal sementara, dengan got-got ¬baru yang masih terlihat bekas luluran semennya, belum tercemar pembuangan limbah rumah tangga. Rumput rumah-rumah kosong seperti baru ditanami oleh pekerja dari developer komplek Permata Pamulang. Sekitar 4 rumah dari samping kiriku, terdapat jurang dengan sungai di lembahnya. Sehingga kalau malam, masih terdengar sayup-sayup suara sungai yang bernama kali angke dari rumahku. Suasana gang perumahaan yang dihuni kami sekeluarga waktu itu bagaikan kota mati. Tepatnya mungkin kota mati di pinggiran ibukota negara berkembang, Jakarta. Jangankan tetangga atau penjual gerobakan, kucing kampung saja jarang terlihat melintas depan rumah. Kalau ibu tidak masak? Terpaksa bapak harus menggunakan motor sampai Pamulang kota. Walau ada pedagang kaki lima waktu itu, namun biasanya menjual produk jamu-jamu kesehatan, tak mungkin aku yang berumur 1 tahun kurang mengkonsumsi itu. Di komplek Permata Pamulang kala itu, yang ada adalah rumah-rumah penduduk asli berdarah Betawi di belakang rumahku. Dan sebuah komplek kecil pendahulu Permata Pamulang, terletak sekitar 300 meter dari rumahku, dihuni oleh para pekerja asal Jakarta sampai mereka yang bekerja di tanah Tangerang dan sekitarnya.

Baru sekitar tahun 1995, rumah-rumah di gang rumah keluarga Hermawan (nama keluargaku), mulai ditempati oleh pendatang dari berbagai sudut Jakarta sampai daerah. Tetangga tepat 1 rumah di sebelah kiriku termasuk yang pertama kali menempati rumah-rumah kosong itu. Mereka adalah “keluarga Zulkifri”. Sang Oom bernama Bapak Zulkifri yang bekerja di Departemen Perhubungan, dan sang tante bernama Uci yang bekerja sebagai desainer . Mereka sekeluarga sudah mempunyai 2 anak, kakaknya bernama Karizki dan adiknya bernama Kariza. Mereka semua termasuk tetangga pertama keluarga kami. Lalu mulai datang beberapa tetangga lainnya, entah itu mereka yang berumah tangga dan sudah bekerja juga sudah mempunyai anak ataupun yang belum mempunyai anak dan sudah bekerja. Tak hanya mereka yang sudah berkeluarga yang tinggal di gang rumah kami. Ada juga sekumpulan mahasiswa universitas binaan Pak Habibie, Insitut Teknologi Indonesia , yang tinggal rumah di belakang rumah kami. Mungkin mereka yang tinggal di sini sebagian besar adalah mereka yang merasakan sumpeknya tinggal di Jakarta. Walau tinggal di Pamulang berarti tinggal di daerah yang asing dari perkembangan Jakarta waktu. Ada juga efek baiknya, yaitu ketentraman daerah Pamulang ini membawa tali silaturahmi bagi kita semua. Sampai sekarang ini, wilayah Rukun Tetangga yang aku tinggali ini memiliki hubungan erat antar sesama tetangga, yaaaah idiom dari Inggris”, Don’t judge a book by its cover “ ada benarnya juga.

Kendati demikian sebenarnya aku beruntung lahir di tahun 1994, harga bahan pangan masih stabil. Orangtuaku tidak terlalu memikirkan harga bahan pangan pada waktu itu. Perkerjaan ayahku sebagai wartawan Kompas cukup untuk menafkahi kami sekeluarga. Walau balasannya beliau sering pulang malam, dan kadang lebih baik menginap di kantor, karena Pamulang tahun 1994 adalah sebuah kota yang asing ketika tengah malam. Rawan akan perampokan dan jual diri wanita malam. Tak herang jua, polisi sering berpatroli malam-malam mengitari jalan utama Pamulang. Sebenarnya, dahulu ibuku juga bekerja pada sebuah perusahaan, Avigra namanya. Namun karena kemunculan aku di muka bumi ini, alhasil ibunda rela berkorban dan berhenti kerja , tak dapat dipungkiri bahwa pengorbanan ibundaku sangat besar. Di tahun 1994 itu, abah dan bunda (panggilan aku untuk mereka) masih bisa membeli barang-barang mainan bayi untukku waktu itu. Model-model mainan import Cina atau produksi lokal ala pedagan kaki lima di Turunan dan Tanjakan Puncak. Mungkin beda halnya dengan model-model orangtua tahun 1965, di mana mereka menangis memikirkan cara hanya agar anaknya dapat makan, di mana mereka juga diteror oleh keberadaan PKI dan sekongkolnya. Di mana mereka juga dapat dengan gampang difitnah sebagai anggota PKI saat pemberantasan partai komunis itu dilakukan. Kembali yang terpikirkan dalam benak aku sekarang ini adalah”, Apakah aku sudah bersyukur dan memanfaatkan rizki itu?”.


Mungkin tak banyak cerita yang masih aku ingat ketika aku masih bayi waktu itu. Ditambah lagi, sekitar satu tahunan kurang , baru banyak tetangga yang datang menempati rumah-rumah kosong, dan otomatis aku baru berkenalan dengan anak-anak sepantaran aku dan berteman dengan mereka ketika itu. Tapi yang jelas Bunda pernah bilang, aku ini anak yang unik, keras kepala, sekaligus penuh perhitungan. Senang minum susu, dan suka makan sayur. Kalau sudah ada maunya, akan usaha sampai berhasil. Itu perkataan Bunda tentangku, yang dulu mungkin sering terpikir oleh beliau padaku. Bunda dan Abah juga bilang, aku juga punya sahabat perempuan, bernama Anggi kala aku masih kecil. Dia tinggal di depan rumah aku, namun rumahnya berada di 2 rumah depan aku. Mereka bilang kami berdua sangat dekat, yah bagaikan 2 bocah yang sering terlihat senang ketika bermain bersama, persis seperti iklan susu kalengan anak. Entah mengapa tapi sepertinya aku tidak ingat akan dia. Memang karena masih bocah, atau karena frekuensi kami berdua yang berbeda.Karena kadang balita berbicara dengan rekannya tanpa tahu apa yang mereka bicarakan, mungkin itulah yang terjadi kala itu. Kalau saja aku bisa bertemu lagi dengan dia, mungkin aku akan ingat dengannya. Apa boleh buat, dia telah pindah ke rumah lain. Hengkang dari Pamulang sebelum aku mengenalnya lebih jauh. Entah di mana keberadaannya sekarang, di pulau Jawa atau bukan saja, aku tak tahu.

1.2 Waktunya Berseragam, nak!



“ Saatnya berseragam nak! ,“ itu adalah pikiran yang pasti terlintas di benak ibu ketika mau menyekolahkan anaknya. Umur aku beranjak 4 tahun, berarti sekitar tahun 1997. Bunda menyekolahkan aku di sebuah Taman Bermain di dekat rumah. Mungkin karena mengikuti jejak tetangga-tetangga yang menyekolahkan anaknya di Taman Bermain itu. Aku bersama 3 teman balita aku yang tinggal satu gang jalan, akhirnya bersekolah di Taman Bermain itu. Taman Bermain itu bernama Taman Kanak-Kanak Widiya Tama. Sebuah sekolah untuk balita, demi mempersiapkan bocah-bocah lima tahun ke bawah untuk mengenal sopan santun sampai belajar aksara latin.



Berpakaian rompi merah-merah, motifnya sekilas terlihat seperti motif Skotlandia Utara. Celananya bunglon, alias mengikuti motif rompi aku. Itulah seragam ala Widiya Tama. Kadangkala panas memakai rompi itu, mungkin karena bahannya dari Polyester atau karena perasaan aku saja. Masuk TK jam 8 pagi, kadang kelas diputar ke siang hari karena keterbatasan ruang belajar mengajar. Gedung Widiya Tama sebenarnya adalah rumah biasa, hasil dari kerja keras sang pekerja kontrakan developer. Namun gedung itu dirubah oleh beberapa guru amazing yang menginginkan pendidikan di bawah umur di wilayah Permata Pamulang pada waktu itu. Karena pada waktu itu, mencari Taman Kanak-Kanak susahnya bukan susah munafik. Kebutuhan akan pendidikan sudah banyak pada waktu itu, di wilayah Permata Pamulang. Alhasil mereka yang bersekolah di Taman Kanak-Kanak sebelum didirikannya TK Widiya Tama, harus menempuh perjalanan menuju Pamulang Kota demi mendapatkan pendidikan untuk bocah bawah lima tahun itu. Pilihan kedua adalah, menembus jalan belakang Permata Pamulang, bersekolah di Taman Kanak-Kanak daerah Bogor. Namun ketika TK Widiya Tama ini didirikan, tak tanggung –tanggung orang tua yang tinggal di sekitar pun langsung berbondong-bondong menyekolahkan anak dibawah 5 tahunnya untuk bersekolah di tempat itu. TK Widiya Tama adalah TK yang simple. Di depan gedungnya, terdapat taman bermain berlantaikan bata konblok, dihiasi oleh bola-bola berongga hasil bikinan tukang las. Di samping bola rongga itu, terdapat jungkat-jungkit dan “perosotan”. Biasa dimainkan anak-anak saat istirahat, mau masuk kelas, atau menunggu jemputan datang.

Sepertinya jika diceritakan dalam satu tugas ini, tak akan habis pengalaman masa kecil aku ini. TK Widiya Tama adalah sekolah yang mengajarkan perilaku sopan santun dalam lingkup masyarakat. Guru-gurunya mengerti akan bakat anak-anaknya masing-masing. Ibu Yoyo, Ibu Santi, Ibu Tri, aku masih ingat nama-nama mereka. Merekalah orang-orang yang berperan dalam mengajarkan pondasi sopan-santun kelak yang akan aku gunakan dalam menghadapi dunia ini. Mereka yang mengajarkan aku aksara latin dan tambah menambah kedua kali setelah orang tua aku. Mereka juga yang berperan mengajarkan aku untuk tabah dan berdoa kepa Allah SWT. Apalagi saat kondisi pada tahun 1998, di mana terjadi kerusuhan yang berakar pada reformasi Indonesia ini, ajaran mereka menjadi bekal aku dalam tabah menghadapai situasi tersebut.

Saat itu keluarga aku tegang karena kondisi itu. Bagaimana tidak, abah adalah seorang wartawan, kala itu pula kebebasan pers masih tidak seperti sekarang. Jadi saat genting-gentingnya situasi seperti itu jika Koran Kompas membuat kesalahan dalam artikelnya, bisa terjadi penutupan terhadap kantor abah, bahkan nyawa jadi taruhannya. Apalagi saat kerusuhan merembak ke Pamulang. Yang paling aku ingat adalah ketika itu Tomang Tol, sebuah pusat perbelanjaan di Pamulang, habis diludes oleh para perusuh. Membuat abah memilih menginap di Kantor untuk beberapa saat. Situasi di Komplek Permata Pamulang ini pun mulai menegang. Ditambah lagi kerusuhan tahu 1998 itu berbau SARA terhadap etnis Tionghoa. Akibatnya, banyak warung-warung milik orang Tionghoa ditutup. Bahkan ditulisi sebuah spanduk”, Milik orang Islam” di depan pintunya. Namun Alhamdullilah, tidak terjadi kasus pembunuhan karena kerusuhan itu di dalam komplek ini. Untungya tidak seperti di Jakarta, di mana etnis Tionghoa banyak yang dibantai kala itu. Tak lama setelah itu, terjadi krisis moneter, yang juga menandakan turunnya kekuasaan Soeharto.

Krisis moneter di mana banyak harga barang naik lebih dari 2x lipatnya, di mana terjadi kekacauan pasca reformasi yang diusung oleh para mahasiswa seluruh Indonesia. Klimaksnya ditandai dengan para mahasiswa yang menjebol masuk gedung DPR, dan menduduki atap gedung DPR pada waktu itu. Iya benar, inilah tahun berhati-hati. Berhati-hati dalam hal ekonomi sampai dalam hal mental. Tak tahu siapa dalangnya, ada yang berkata Soerharto ada juga yang berkata para anggota DPR. Situasi politik waktu itu memang berliku-liku. Korupsi dari pihak pemerintah pun merajalela, namun tertutup karena ketidak bebasan pers seperti sekarang. Yang terang hanyalah korupsi yang dilakukan oleh pihak swasta. Contoh kasus Bank Duta misalnya, yang sempat menjadi gempar akibat perbuatan sang Dicky Iskandar Dinata, Wakil Direktur Bank tersebut, pada era 90, yang merugikan nasabah-nasabahnya hinggga 800 Miliar Rupiah.

1.3 Hap-Hap! Masuk SD , nih.



Setelah sekitar 4 tahunan sejak masuk Taman Kanak-Kanak Widiya Tama, aku dinyatakan lulus dengan sertifikat ala Widiya Tama. Berbekalkan kemampuan hitung menghitung dan kemampuan baca tulis aksara latin. Bunda mendaftarkan aku masuk Sekolah Dasar, fase pendidikan yang diwajibkan oleh pemerintah. Kali ini, aku sendirian mendaftar ke SD itu, tak ada lagi teman dari satu komplek yang menemani. Sekolah itu bernama Sekolah Dasar Cikal Harapan, terletak di BSD. 6 Tahun aku mendalami ilmu di SD itu, milik Yayasan Permata Sari, masih ingat betul aku.

Tak ada lagi seragam berompi ala Skotlandia Utara di Cikal Harapan ini. Yang ada baju ala Sekolah Dasar berdasi motif simbol Yayasan Permata Sari, dan seragam Pramuka khusus untuk Hari Sabtu. Gurunya pun juga lebih banyak, tak lagi semudah membalikkan telapak tangan kalau ingin menghitung jumlahnya. Kelasnya tak usah berganti siang atau pagi seperti shift karyawan, karena cukup tersedia kelas di Sekolah Dasar Cikal Harapan ini. Di sini juga ada satpamnya, tugasnya pastilah mengawasi anak-anak beranjak remaja ini aman.

fotoku bersama keluarga saat SD.


Di Sekolah Dasar Cikal Harapan inilah, aku mulai belajar tentang kehidupan dan bersosialisasi dengan teman-teman yang berasal dari berbagai sudut kota Tangerang, tak ada yang dari Jakarta waktu itu karena jauhnya jarak memisahkan antara kota calon metropolitan Tangerang ini dengan ibukota. Kalau ditanyakan tempat tinggal oleh teman-teman saya, tak heran jawaban yang keluar dari mulut mereka”, Widih jauh amet gi rumah kamu “. Namun ketika mereka saling menanyakan rumah mereka, yang ada adalah permainan angka sektor ala BSD. Antara Sektor 1, sektor 2 s,ampai sektor 3, atau nama sektor di perumahan BSD dengan menggunakan bahasa Sansekerta, Nusa Loka sampai Giri Loka. Tidak simple seperti alamatku, cukup berkata “, Permata Pamulang.” Maka mereka semua tahu di mana Pamulang itu berada, haha karena jauhnya letak rumahku itu dari BSD. Sekolahku memang sudah jauh-jauh dari rumah sejak SD. Kalau mau berangkat ke sekolah, ada dua teman barenganku, yang satu bernama Dito tinggal di Permata Pamulang juga, yang satu lagi bernama Tomi, rumahnya juga di Pamulang, tapi lebih jauh daripadaku. Haha tak apalah tapi, aku tak pernah memikirkan itu semua, dan tak mau mengeluh. Karena aku selalu ingat akan pepatah “, Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian ".




Karena aku selalu ingat akan pepatah “, Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.”.
Tak hanya pelajaran wajib ala pemerintah saja yang kudapat di sini, pelajaran lain pun kudapat. Aku bisa berenang, aku bisa main gitar, semuanya dimulai sejak SD ini. Aku belajar bisnis pun mulai dari sini. Dengan bermodalkan uang dari orang tua, aku mendirikan sebuah “perusahaan” kecil-kecilan penjual berondong alias popcorn. Alhasil, untung besar aku dapat waktu itu. Tak tanggung-tanggung bisa dapat uang 50 ribu dalam 3 hari. Dengan uang itu, aku sudah berpikir untuk memperkerjakkan teman-temanku sebagai karyawannya. Haha, perusahaan kecil itu kunamakan MDD, singkatan dari Mugi Dito Dio. Dito dan Dio adalah “karyawanku” saat mengelola perusahaan itu. Kami semua bocah kelas 4, belajar bisnis pertama kali dari itu. Juga belajar manajemen bisnis. Saat istirahat tiba, berbondong-bondong orang dari satu paralel kelas ataupun bukan datang untuk membeli berondong kami. Bukan main, banyak sekali yang datang. Antara yang sudah memesan dan baru memesan berondong yang sudah aku plastiki dari rumah itu, bercampur baur. Alhasil, pengalaman mendapat komplain pun pernah kami dapat juga kala itu. Terutama dari mereka yang tidak kebagian berondong yang telah mereka pesan, nasib-nasib betapa manajemen yang sangat buruk waktu itu, tapi tak apalah belajar dari pengalaman, hehe.

Cerita yang paling menyedihkan dalam sejarah hidupku pada fase Sekolah Dasar ini, adalah meninggalnya kakekku, tepat pada hari ulang tahunku, 19 Januari. Kakekku memang sudah sakit sejak sekitar 1 bulan yang lalu dari waktu itu. Sehingga beliau terpaksa pindah dari Lampung menuju Jakarta untuk berobat di ibukota Indonesia. Karena tak ada rumah sakit yang benar-benar memadai kondisi kakekku kala itu di Lampung. Tapi apa daya manusia. Memang ajal tak pandang tanggal, itulah kuasa Tuhan. Pada hari Senin, kalau tidak salah, setelah sholat Zhuhur berjamaah di Masjid sekolah, aku diberi tahu oleh Pak Maksum, guruku tentang hal itu. Sedih bercampur penasaran rasanya kala itu, tak dapat tergambarkan dengan indera ini. Jika bisa, maka akan kugambarkan. Aku dijemput oleh bang Apip waktu itu, kurir kantor ibunda. Ditemani oleh istri oomku, Tante Opi. Penasaran itu hilang menjadi kenyataan, ketika sampai rumahku, dihiasi oleh rangkaian bunga berduka cita, dan jalan-jalan yang dituntun oleh bendera kuning. Tak ada senyum kakek mengucapkan”, Selamat Ulang Tahun, Cucu.” Pada waktu itu, yang ada? Ya bendara kuning, rangkaian bunga, dan perabot duka lainnya. Selamat tinggal kakek…

Namun beruntung juga sebenarnya, tetangga-tetangga membantu keluarga kami. Ketika mereka mengetahui kakek saya meninggal, langsung mereka membantu kami untuk mempersiapkan tenda di depan rumahku, dan peralatan lainnya untuk Yasinan di rumahku. Aku masih membayangkan sekarang, ketar-ketir kami jika tidak ada tetangga yang membantu waktu itu. Yap, inilah buah positif dari bersilaturahmi.

Sementara yang paling menyenangkan? Tentunya jatuh cinta, hehe. Entah mengapa cucu Adam ini mudah sekali jatuh cinta, haha.
Aku lulus dari SD Cikal Harapan pada tahu 2006, kembali melanjutkan ke jenjang SMP

1.4 Wah Udah ABG, nih!


- Abah emang baik


Tahun 2006 tepatnya pada pertengahan tahun itu, mulailah aku ini beranjak SMP. Well, pencarian SMP tak semudah membalikan telapak tangan ternyata. Bagaikan menempuh jalan lurus 5 km dengan merangkak, akhirnya aku menemukan SMP yang cocok, bernama SMP Lazuardi, terletak di Ujung Cinere. Kembali lagi pada kebiasaanku, bersekolah nan jauh dari rumahku.

Tak disangka memang, aku ini termasuk dalam deretan senior di sekolah itu. Maklum saja SMP Lazuardi tahun 2006 adalah SMP yang baru didirikan oleh Yayasan Mizan, pencetak buku-buku terkenal milik Khaidar Bagir. Hanya ada 2 kelas yang dibuka saat angkatanku, angkatan 2. Setiap kelas terdiri dari sekitar 15 orang siswa, tentu bisa dihitung, satu angkatan terdiri dari 30 siswa, waw.

Pernah aku sempat berpikir, “ Mau jadi apa aku selama 3 tahun di sini?”. Benar-benar tidak ada rasa nyaman bersekolah rasanya waktu itu. Mungkin karena kala itu aku adalah anak yang polos, agak susah bergaul dengan teman, atau mungkin karena mentalku. Setiap pagi, di kala mengobrol , aku hanya menutup mukaku dengan tangan sambil duduk di meja kelas sambil menunggu bel. Jangankan jadi anak gaul, teman dekatku saja ketika aku menduduki kelas 7 bisa dihitung dengan 1 kali ronde jari, alias kurang dari 10. Pernah suatu ketika untuk bermain bola saja kala itu, aku berbohong tentang pengalaman bermain bolaku. Seolah-olah aku adalah seorang pemain bola yang handal. Alhasil kala itu, Tuhan membuka kebohonganku, bukannya bermain seperti bermain bola, yang ada malah terpeleset saat bermain bola, konyolnya diriku ini.

Tapi ternyata, kembali mengingat sebuah idiom dari Inggris itu “, Don’t judge a book by it’s cover “. 3 tahunku di Lazuardi ini ternyata tidak seperti yang aku pikirkan saat kelas 7 itu. Tahun-tahun di sini penuh keceriaan dan pengalaman. Guru-guru lah yang pertama kali memberikanku motivasi dan pelajaran akan berteman. Pernah juga suatu ketika, ada kejadian pelecehan atau bullying di sekolahku. Aku juga sempat jadi korbannya. Guru-guruku lah yang membelaku di saat itu. Ibu Yun, Ibu Nunik, Ibu Desi, dan ibu-ibu ataupun perempuan luar biasa lainnya yang bekerja sebagai guru. Mereka adalah sekumpulan guru yang berpikiran open minded, pengertian, dan berjiwa seperti Ki Hajar Dewantoro. Pahlawan tanpa tanda jasa.

Di saat SMP pula, aku mendalami ilmu organisasi, seperti OSIS. Walau pernah mencalonkan diri sebagai ketua OSIS, tapi apa boleh buat aku kalah dalam pemilihan suara , haha. Sindiran dan provokasi politik pernah kudapat saat itu, saat mencalonkan menjadi ketua OSIS, dari kakak kelas. Sakit hatiku mendapat sindir-sindiran dan ejek-ejekan itu, tapi dari situlah aku belajar, politik itu keras , begitu juga hidup ini.
Di saat SMP pula, aku juga memahami arti kekurangan dan kelebihan orang lain. SMP Lazuardi adalah sekolah yang mencampur baurkan anak “special needs” alias autis/idiot dengan anak normal lainnya. Jadi setiap kelas, biasanya terdapat satu anak dengan “kebutuhan khusus” itu. Ada satu anak yang bernama Andre kala itu, anak “special needs”. Aku banyak memahami tentang arti yang telah kusebutkan dalam awal paragraf ini. Cita-cita anak itu sederhana, dia ingin menjadi seorang ustadz. Orang tua kakak dan adiknya sangat mendukung, dan sangat sayang padanya. Tapi dakwah yang pernah dia sampaikan? Tak tanggung-tanggung dan banyak, sampai dia pernah berceramah di depan “warga Universitas Indonesia” di suatu acara universitas itu. Walau dengan bahasa yang sederhana, sesuai dengan kemampuannya, suatu hal yang belum tentu bisa saya lakukan. Di sinilah aku juga belajar akan kekuatan ikhtiar, alias kerja keras. Seperti hadits nabiku, Muhammad Rasullulah SAW, “ Siapa yang bersungguh-sungguh, pasti dia berhasil “. Dari sini aku juga mendapat pelajaran berharga, kekurangan bukanlah suatu halangan, namun satu ujian yang dapat menjadi nilai tambah bagi kita. Sungguh luar biasa upaya si Andre itu. Aku tak pernah berjumpa dengannya lagi sekarang , sejak bertemu dengannya di SMA Labschool Kebayoran, tahun 2010 lalu kalau tidak salah.

Bersama Teman-Teman SMP, kangen juga.


Itulah Lazuardi, SMP Lazuardi atau kadang disebut Lazuardi Junior High School. Kadang kusebut dengan sekolah pembuka pikiran. Persis seperti sekolah yang ada di buku Toto-Chan. Mungkin susah untuk menceritakan seribu keajaiban yang terdapat di sekolah itu, sekolah di pojok kota Cinere, dalam satu tulisan ini. Tapi yang jelas, sekolah itu membuka pikiranku.


1.5 Yeah, Willkommen bei Dschungle!

Yeah, Willkommen bei Dschungle, berarti “Selamat datang di hutan belantara “ dalam bahasa Indonesia. SMA adalah saat di mana aku “bakal” beranjak dewasa, saat di mana aku membuka pertemanan yang luas yang akan berguna kelak nanti terjun ke dunia kerja. Inilah SMA, saat di mana aku mengalaminya ketika menulis tentang otobiografi sederhanaku ini.

Aku bersekolah di SMA Labschool Kebayoran, sebuah Sekolah Menengah Atas yang berada di Kebayoran Baru. Inilah masa-masa yang sekarang ini kualami, seru rasanya. Banyak orang yang bilang memang, terutama mereka yang sudah merasakan “gimana asiknya” saat berada di fase sekolah menengah atas ini. Aku pun juga tahu, bagaimana duduk di bangku sma itu.

Jujur saja, kembali aku ini belajar merantau dari Permata Pamulang. Tak ada teman satu SMP denganku. Tak sama seperti teman-teman yang kujumpai di Labschool ini, kebanyakan dari mereka pernah satu sekolah dulunya. Perjalanan dari SMA sampai sekolah memakan waktu sekitar 45 menit di saat jam 5 pagi, itulah jam di mana aku biasa berangkat, bersama Abah yang bekerja di daerah Palmerah. Pulangnya? Lebih dari 1 jam tentunya, menaiki metro mini bernomor 72 dilanjutkan 2 jenis angkot yang berbeda fakultas, alias jurusan. Sekilas aku berpikir, “ apakah bisa Tokoh Lintang yang ada di dalam novel Laskar Pelangi melewati hari-hariku seperti ini?”. Zaman Lintang dahulu tidak ada polusi, dia tidak tinggal di Jakarta! Pulang pergi pakai sepeda, sekarang malah lagi tren pulang pergi pakai sepeda di Jakarta. Yah tapi itulah hidup, masing-masing orang memiliki jalan cerita yang berbeda. Lintang punya semangat yang kuat, aku juga harus punya itu.

SMA ku ini unik. Tak hanya mengajarkan tentang nilai-nilai bersifat akademis, tapi juga mengajarkan nilai-nilai mental. Ada kegiatan seperti tinggal bersama penduduk desa, bernama Trip Observasi. Sampai “outbond” yang dilatih oleh para Kopasus, bernama Bintama. Mungkin pengalaman yang kudapat itu belum tentu bisa didapat oleh orang lain, inilah Labschool Kebayoran.

Ada benarnya juga kata orang-orang tentang asiknya SMA itu. Teman-temannya unik, gila, konyol terkadang, namun penuh pengetahuan. Di masa ini, aku mengenal lebih banyak tipe orang. Mungkin sebenarnya aku sudah mengenal banyak tipe orang sebelum SMA, tapi kala itu masih dengan sudut pandang polos, belum mengerti baik buruknya sifat seseorang. Aku sudah mulai bisa membedakan sekarang, mana pribadi temanku yang di luar berbaju baja namun di dalam berbaju kutang, dan mana yang di luar berbaju kutang di dalam berbaju baja. Yap, idiom dari Inggris itu kembali kuingat “, Don’t judge a book by it’s cover”.

Di masa ini juga, aku mendapat pengalaman organisasi yang jauh lebih banyak. Jauh lebih banyak. Tak lagi secuil biji duku seperti masa-masa sebelumnya, di mana belajar organisasi merupakan formalitas dari sekolah, dari kepala sekolah tepatnya atas usul para orang tua.

Belajar Organisasi saat SMA




Di masa SMA ini juga, aku lebih banyak membaca Koran dan mengerti tentang seluk beluk politik. Tak seperti zaman SMP yang mengerti politik, namun ketika berbicara politik, yang ada malah membuat narasi khayalan seribu satu kata. Hal ini juga membuatku sadar, bahwa menganalisa sesuatu tanpa ilmu seperti mencari biji salak di dalam kegelapan. Bisa-bisa bukan biji salak yang ditemukan, tapi tanah garapan dari tangan mencari-cari biji salak itu. Aku bisa jadi lebih tahu sekarang dari 2 sisi politik karena masa SMA ini. Tentang mengapa Indonesia tidak menyerbu Malaysia, yang memperkerjakan 2 juta lebih tenaga kerja Indonesia, atas kejahilannya dalam hal perbatasan wilayah. Tentang mengapa hanya Gayus Tambunan, koruptor dari sang lembaga pengatur pajak negara ini, yang hanya di senter-senteri oleh pemerintah yang takut akan terbongkarnya oknum-oknum busuk departemen itu. Tentang sisi buruk PKS, yang memainkan peran ketidakadilan dalam impor daging, berbanding terbalik dengan namanya. Yah itulah salah satu perkembanganku, tapi aku harus ingat,harus objektif!

Bersama Tim Jurnalistik SMA ,Aku Pemrednya



Belum banyak yang bisa kuceritakan tentang SMA pada saat menulis otobiografi singkat ini. Karena aku ini sedang mengalaminya. Belum ada rasa kangen walau tak bertemu dengan teman SMA selama liburan, misalnya. Beda halnya dengan mereka, yang menulis otobiografi jauh sesudah lulus SMA. Yang pasti, aku malah membuat visi dan misiku saat berada di SMA ini. Aku tak mau berfoya-foya dalam imajinasi dan kenangan terlebih dahulu yang kudapat di SMA , sebelum aku sukses setelah SMA. Sukses atau tidaknya, ditentukan oleh kerja kerasku dari sekarang. Inilah aku, watakku yang terbawa dari lahir. Aku tak mau jadi orang pemalas, aku harus jadi orang sukses..

Bersama Teman-Teman SMA



1.6 Ke Depannya, Aku Harus di Depan!



Aku mempunyai cita-cita tinggi. Yang harus kucapai dengan kerja keras. Tak mungkin tercapai tanpa kerja keras, cita-citaku adalah berkuliah di Austria. Cita-cita terbesarku adalah menolong banyak orang atas ilmu yang ingin kugapai setinggi-tingginya. Aku melihat, terutama orang Indonesia, banyak yang pintar , tapi tak bisa memberikan dampak positif bagi bangsa,negara, dan masyakarat sekitarnya. Sebut saja Gayus Tambunan yang awal tahun 2011 ini sedang marak-maraknya karena kasus korupsi pajak. Didikan STAN ,berisi orang-orang pintar. Bagaimana tidak? Saringan dilakukan terhadap manusia-manusia di nusantara ini yang ingin masuk sekolah negara itu. Tak mungkin orang-orang macam Pak Ogah dalam animasi Unyil yang masuk ke sekolah itu, pastilah orang pintar. Namun keuntungan apa yang dihasilkan olehnya pada negara dan masyarakatnya ini? Nihil, nol hasilnya. Orang seperti itu sama saja seperti parasit nyamuk demam berdarah yang menghisap darah manusia, kemudian meninggalkan penyakit. Tak ada kebaikan darinya, tak ada senyum yang dimunculkan oleh masyarakat kepadanya, kosong melompong. Yang ada adalah umpatan kata-kata dari masyarakat kepadanya.

Aku tak mau menjadi orang seperti itu, pintar tapi mental tempe, atau pintar tapi bodoh akan kepedulian sekitar, atau bahkan pintar tapi be-EQ rendah. Aku mau menjadi orang yang berguna bagi masyarakat sekitar. Memegang kepercayaan dan amanat yang diberikan padaku. Aku ingin memberantas kemiskinan dan kebodohan semampuku. Untuk itu, aku harus bekerja keras dalam mencapai cita-citaku, tak mungkin aku duduk diam sambil ngopi saja lalu tiba-tiba aku dapat semua ilmu itu, tak mungkin.

Inilah misiku, dan itulah visiku. Tak boleh aku tak memiliki visi dan misi. Tak boleh juga aku memiliki visi dan misi tapi duduk diam di kobangan. Setiap harinya aku selalu berjanji menjadi orang yang lebih baik. Yang lebih banyak memberi ketimbang diberi, seperti kata gurunya Andrea Hirata yang ia ceritakan dalam novel Laskar Pelanginya. Aku telah mendapat pelajaran hidup, dari pengalaman yang kudapat selama ini, yang bisa kugunakan sebagai bekal untuk menuju ke depannya.

Aku juga harus melihat ke depan, harus juga melihat ke belakang, sebagai tanda motivasiku.

Ketika aku berkata aku ingin berkuliah di Austria, aku harus berusaha. Aku ingin mencari beasiswa untuk pergi ke sana. Aku tak mau merepotkan orang tuaku. Sudah cukup aku merepotkan mereka saat aku masih berak di celana. Aku harus mandiri. Karena aku juga yakin”, Siapa yang bersungguh-sungguh pasti dia berhasil.” Itulah ucapan Rasul dan Nabiku Muhammad SAW , yang selalu ada dalam benak pikiranku.

Itulah rancangan hidupku, aku tak mau menghayal-hayal lagi, aku harus mendapatkannya. Itu adalah hal penting bagiku, bagi hidupku , dan dalam hidupku. Ketika aku jatuh, aku harus bediri lagi. Seperti kata orang Jepang ketika jatuh, mereka ingat konsep Ganbatte, berdiri dan bangun walau ditempa ujian yang berat. Seperti yang terjadi di Jepang awal 2011 ini, ketika Tsunami melanda negara matahari tersebut, Ganbatte Ganbatte Ganbatte! Jepang berusaha bangkit.

Aku ingin punya mental seperti orang Jepang, Ganbatte dan pekerja keras. Tapi aku juga ingin dekat pada Tuhanku, Allah SWT. Tanpa-Nya, aku bukanlah apa-apa.





Aku bersama adik, Adhia














Bersama Keluarga, Abah yang foto.



[+/-]Baca Lebih Lanjut? Klik Judul Artikel

 

Design modified by mugimunteng | Basic Design by Dzignine in Collaboration with Trucks, SUV, Kidney Stones