otakatikawas!

otakatikawas!
Showing posts with label Rizki Rahmalina. Show all posts
Showing posts with label Rizki Rahmalina. Show all posts

Tugas-2; Saya dan Saksi Peristiwa Mei 1998

|


    Pada tugas sejarah kedua ini, saya diminta untuk mewawancarai seorang tokoh yang memiliki peran penting dalam sejarah nasional maupun internasional. Saat diberikan tugas itu, saya bingung sekali siapakah tokoh yang akan saya wawancarai, karena saya sama sekali tidak tahu apakah ada orang dari keluarga saya yang menjadi tokoh sejarah pada peristiwa-peristiwa sejarah nasioal maupun internasional, akhirnya tugas ini pun terbengkalai cukup lama. Pada akhirnya saya pun mewawancarai orang tua saya yaitu ayah saya yang merupakan saksi dari peristiwa yang sangat menghebohkan ,yaitu peristiwa semanggi dan tragedi trisakti pada tahun 1998 yang berawal dari krisis moneter yang menimpa Indonesia.
    Ayah saya bernama Muhammad Adhi Resza. Beliau lahir pada saat kakek saya sedang dinas di Irian Jaya, tanggal 12 Maret 1968.Terlahir dari pasangan Walujo dan Titiek. Ayah  saya merupakan anak tertua dari 4 bersaudara, Beliau dari kecil hidup berpindah-pindah karena Pekerjaan orang tuanya yang menuntun untuk dinas dikota-kota kecil.  Ayah  saya menjalani pendidikan SD di SD Pucangjajar kemudian melanjutkan pendidikannya di SMPN 12 Surabaya . Setamat SMP, beliau melanjutkan ke SMA 5 Surabaya. Ayah saya berhasil diterima di Universitas ITS Surabaya Fakultas Tehnik.  Setelah lulus kuliah, ayah saya menikah dengan temannya sejak SMP yaitu Rimawardhani yang saat itu masih menjalani Kuliah Kedokteran di Universitas Airlangga Surabaya yang tidak lain adalah ibu saya sendiri. Kemudian setelah berkeluarga kami semua pindah ke Jakarta karena ibu saya yang mendapat undangan untuk melanjutkan studi S2 kedokterannya di Universitas Indonesia. Disusul ayah saya yang juga melanjutkan studi S2 Bisnis Management di Universitas Prasetya Mulya. Saat ini ayah saya bekerja sebagai pegawai swasta disalah satu perusahaan asing.
     Ayah saya bercerita bahwa awal dari peristiwa kerusuhan ini merupakan kemarahan masyarakat terhadap kebrutalan aparat keamanan dalam peristiwa Trisakti yang dialihkan kepada orang Indonesia sendiri, terutama keturunan Cina. Betapa amuk massa itu sangat menyeramkan dan terjadi sepanjang siang dan malam hari mulai pada malam hari tanggal 12 Mei dan semakin parah pada tanggal 13 Mei siang hari setelah disampaikan kepada masyarakat secara resmi melalui berita mengenai gugurnya mahasiswa tertembak aparat. Ayah saya juga menceritakan bagaimana keadaan ekonomi pada masa itu, beliau berkata bahwa pada awal 1998, 1 dollar Amerika setara dengan 2400an rupiah,namun kemudian melonjak tajam hingga mencapai 17.000an rupaih per dollar Amerika,hal ini membuat harga harga barang dan sembako naik tiga lipat, yang berakibat pada tingginya tingkat kriminal pada masa itu. Diawali  dari krisis finansial asia, yaitu krisis finansial yang dimulai pada Juli 1997 di Thailand, dan memengaruhi mata uang, bursa saham dan harga aset lainnya di beberapa negara Asia atau yang lebih dikenal dengan “krisis moneter” di Indonesia. Indonesia merupakan salah satu Negara yang mendapatkan dampak paling parah dari krisis finansial asia. Pada Juni 1997, Indonesia terlihat jauh dari krisis. Tidak seperti Thailand, Indonesia memiliki inflasi yang rendah, perdagangan surplus lebih dari 900 juta dolar, persediaan mata uang luar yang besar, lebih dari 20 miliar dolar, dan sektor bank yang baik. Tapi banyak perusahaan Indonesia yang meminjam dolar AS. Di tahun berikut, ketika rupiah menguat terhadap dolar, praktisi ini telah bekerja baik untuk perusahaan tersebut -- level efektifitas hutang mereka dan biaya finansial telah berkurang pada saat harga mata uang lokal meningkat. Pada Juli, Thailand megambangkan baht, Otoritas Moneter Indonesia melebarkan jalur perdagangan dari 8 persen ke 12 persen. Rupiah mulai terserang kuat di Agustus. Pada 14 Agustus 1997, pertukaran floating teratur ditukar dengan pertukaran floating-bebas. Rupiah jatuh lebih dalam. IMF datang dengan paket bantuan 23 miliar dolar, tapi rupiah jatuh lebih dalam lagi karena ketakutan dari hutang perusahaan, penjualan rupiah, permintaan dolar yang kuat. Rupiah dan Bursa Saham Jakarta menyentuh titik terendah pada bulan Septemer. Moody's menurunkan hutang jangka panjang Indonesia menjadi "junk bond". Inflasi rupiah dan peningkatan harga bahan pokok membuat keadaan ekonomi Indonesia menjadi tidak stabil. 
    Kata ayah saya saat itu terjadi  penjarahan secara besar-besaran di mana-mana. Pada kerusuhan ini banyak toko-toko dan perusahaan-perusahaan dihancurkan, dirusak dan dibakar oleh amuk massa — terutama milik warga Indonesia keturunan Tionghoa. Karena ketika itu Tionghoa dianggap sebagai komunis. Terdapat ratusan wanita keturunan Tionghoa yang diperkosa dan mengalami pelecehan seksual dalam kerusuhan tersebut. Sebagian bahkan diperkosa beramai-ramai, dianiaya secara sadis, kemudian dibunuh. Dalam kerusuhan tersebut, banyak warga Indonesia keturunan Tionghoa yang meninggalkan Indonesia. Amuk massa ini membuat para pemilik toko di kedua kota tersebut ketakutan dan menulisi muka toko mereka dengan tulisan "Milik pribumi" atau "Pro-reformasi" Sebagian mahasiswa mencoba menenangkan masyarakat namun tidak dapat mengendalikan banyaknya massa yang marah. Kerusuhan ini merupakan amarah dari masyarakat yang dipendam. Masyarakat sudah tidak sanggup terus berada di bawah baying-bayang pemerintahan orde baru yang otoriter. Setiap mengeluarkan pendapat yang berseberangan dengan pemerintah, selalu dikaitkan dengan kegiatan makar. Hal ini menyebabkan masyarakat merasa takut dan tidak berani untuk mengeluarkan pendapat. 
    Setelah kerusuhan, menurut ayah saya peristiwa ini merupakan yang terbesar sepanjang sejarah bangsa Indonesia pada abad ke 20, yang tinggal hanyalah duka, penderitaan, dan penyesalan. Bangsa ini telah menjadi bodoh dengan seketika karena kerugian material sudah tak terhitung lagi padahal bangsa ini sedang mengalami kesulitan ekonomi. Belum lagi kerugian jiwa di mana korban yang meninggal saat kerusuhan mencapai ribuan jiwa. Mereka meninggal karena terjebak dalam kebakaran di gedung-gedung dan juga rumah yang dibakar oleh massa. Ada pula yang psikologisnya menjadi terganggu karena peristiwa pembakaran, penganiayaan, pemerkosaan terhadap etnis Cina maupun yang terpaksa kehilangan anggota keluarganya saat kerusuhan terjadi. Sangat mahal biaya yang ditanggung oleh bangsa ini. Akhirnya dibentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk menyelidiki masalah ini karena saat itu Indonesia benar-benar menjadi sasaran kemarahan dunia karena peristiwa memalukan dengan adanya kejadian pemerkosaan dan tindakan rasialisme yang mengikuti peristiwa gugurnya pahlawan revormasi. Demonstrasi terjadi di kota-kota besar dunia mengecam kebrutalan para perusuh. Akhirnya untuk meredam kemarahan dunia luar negri TGPF mengeluarkan pernyataan resmi yang menyatakan bahwa adalah benar terjadi peristiwa pemerkosaan terhadap wanita etnis minoritas yang mencapai hampir seratus orang dan juga penganiayaan maupun pembunuhan oleh sekelompok orang yang diduga telah dilatih dan digerakkan secara serentak oleh suatu kelompok terselubung. Sampai saat ini tidak ada tindak lanjut untuk membuktikan kelompok mana yang menggerakkan kerusuhan itu walau diindikasikan keterlibatan personel dengan postur mirip militer dalam peristiwa itu. Akhirnya kerusuhan mulai reda ketika presiden Republik Indonesia pada saat itu,Soeharto memutuskan untuk mundur dari jabatannya sebagai presiden.

[+/-]Baca Lebih Lanjut? Klik Judul Artikel

Tugas 4, Saya dan The Maldives

|


























PROFIL NEGARA

Geografi
Area: 298 km persegi. (115 mil persegi.), Lebih dari 1.100 pulau, dua kali ukuran Washington, DC
Ibukota: Male' (pop. 100,000)
Bentuk Kepulauan: Pulau atol Flat
Iklim: panas dan lembab

Penduduk
Kebangsaan: Maladewa (s).
Populasi (2009 est): 314.000 (ditambah 80.000 tenaga kerja asing yang tidak dihitung dalam sensus)
Tingkat pertumbuhan populasi: 1,66%. Laju pertumbuhan penduduk telah menurun secara dramatis dalam beberapa tahun terakhir
Suku bangsa: Maldivians
Agama: Islam Sunni
Bahasa: Divehi (resmi); banyak pejabat pemerintah berbahasa Inggris
Pendidikan: Tahun wajib - 7. Pendaftaran - SD (kelas 1-7) 100%; sekunder (kelas 8-10) 70%. berpendidikan -97%. Sumber: (Maldives Departemen Perencanaan Nasional dan Bank Dunia)
Kesehatan: Angka kematian bayi - 24 / 1.000 (Sumber: World Bank) tahun. Harapan Hidup - 72.
Penduduk Angkatan: kerja:, sosial dan pribadi Komunitas - 21%; manufaktur - 13%; memancing - 11%; wisata - 11%, transportasi, penyimpanan, dan komunikasi - 9%; lain - 35%.

Pemerintah
Jenis: Republik
Kemerdekaan: 26 Juli 1965 (sebelumnya protektorat Inggris).
Konstitusi: 7 Agustus 2008.
Cabang: Eksekutif - Presiden, kabinet umum. Legislatif unikameral - Majlis (parlemen pengadilan). Peradilan - Mahkamah Agung, Pengadilan Tinggi, Pengadilan Negeri, Pengadilan Pidana, Keluarga dan Pengadilan Anak, dan 204.
Administrasi subdivisi: 19 atol dan Ibukota.
Partai politik: Adhaalath Partai (AP), Divehi Raiyyethunge Partai (DRP - Maladewa Partai Rakyat), Islam Partai Demokrat (IDP), Maladewa Partai Demokrat (MDP), Sosial Partai Liberal (SLP), Dhivevi Quamee Partai (DQP), Rakyat Aliansi (PA), Partai Republik (Jumhooree), yang lain.
Hak pilih: Universal pada usia 21.

Ekonomi
PDB (2010): $ 1480000000.
Laju pertumbuhan PDB (2010): 4,8%
PDB per kapita (2010 est): $ 4.770
Inflasi, tahun ke tahun (2010 est): 4,7%
Hutang, eksternal (2009 est): $ 933,000,000.
Nilai tukar (resmi pasak): 12,8 rufiyaa (MVR) = US $ 1
Tingkat pengangguran (2006 est): 14,4%
Saldo Giro (2010 est): - $ 460 juta
Persentase dari PDB (2010 est): Pariwisata - 29%, transportasi dan komunikasi - 20%; pemerintah - 18%; manufaktur - 7%; memancing - 3%; konstruksi - 6%; pertanian - 2%; lain - 10%.
Perdagangan (2010 est): Ekspor - 180,000,000 $: produk ikan juta Mayor. Pasar - Thailand, Sri Lanka, Inggris,: Perancis. Impor - $ 980, produk minyak bumi, transportasi, peralatan konstruksi. Peralatan makanan pemasok Mayor - Singapura, UEA, India, Malaysia, Sri Lanka, Thailand.

Maladewa dilihat dari angkasa
 

PENDUDUK, SEJARAH, DAN BUDAYA
Maladewa terdiri dari 1.191 pulau-pulau di Samudera Hindia. Para pemukim awal itu mungkin dari India selatan. Speaker Indo-Eropa mengikuti mereka dari Sri Lanka pada abad keempat dan kelima sebelum masehi. Pada abad ke 12, pelaut dari Afrika Timur dan negara-negara Arab datang ke pulau-pulau. Hari ini, identitas etnis Maladewa merupakan perpaduan antara budaya ini, diperkuat oleh agama dan bahasa.
Awalnya Buddhis, Maldivians dikonversi menjadi Islam Sunni pada pertengahan abad ke-12. Islam adalah agama resmi seluruh penduduk. Tutup hubungan masyarakat dan kepatuhan yang ketat untuk ajaran Islam secara historis membantu menjaga kriminalitas rendah dan terkendali. Namun, masalah kecanduan heroin tumbuh dan munculnya geng-geng pemuda, terutama di Male, telah meningkatkan angka kejahatan dan insiden kekerasan jalanan.

Bahasa resmi dan umum adalah Divehi, yang berhubungan dengan Sinhala, bahasa Sri Lanka. Bahasa Inggris digunakan secara luas dalam perdagangan dan semakin sebagai media pengajaran di sekolah negeri. Beberapa stratifikasi sosial yang ada di pulau-pulau. Hal ini tidak kaku, karena peringkat didasarkan pada faktor yang bervariasi, termasuk pekerjaan, kekayaan, kebajikan Islam dirasakan, dan hubungan keluarga. Anggota elit sosial terkonsentrasi di Male '. Sejarah awal Maladewa tidak jelas. Menurut legenda Maladewa, seorang pangeran bernama KoiMale Sinhala terdampar dengan istrinya - putri raja Sri Lanka - di laguna Maladewa dan tinggal untuk memerintah sebagai sultan pertama. Selama berabad-abad, pulau-pulau telah dikunjungi dan perkembangan mereka dipengaruhi oleh para pelaut dari negara-negara di Laut Arab dan Samudra Hindia littorals. Mopla bajak laut dari Pantai Malabar - sekarang hari Kerala negara bagian di India - diganggu pulau. Pada abad ke-16, Portugis menaklukkan dan menguasai pulau-pulau selama 15 tahun (1558-1573) sebelum diusir oleh patriot-pejuang Thakurufar Muhammad Al-Azam. Meskipun diatur sebagai kesultanan Islam independen untuk sebagian besar sejarahnya 1153-1968, Maladewa adalah protektorat Inggris dari 1887 sampai dengan tanggal 26 Juli, 1965 yang sekarang setiap tahun ditandai sebagai Hari Kemerdekaan. Pada tahun 1953, ada upaya, singkat yang gagal pada suatu bentuk pemerintahan republik, setelah kesultanan kembali diberlakukan. Setelah kemerdekaan dari Inggris tahun 1965, kesultanan terus beroperasi selama 3 tahun. Pada tanggal 11 November 1968, itu dihapuskan dan digantikan oleh republik, dan negara diasumsikan nama saat ini.

Kekhawatiran Lingkungan
Ada kekhawatiran tentang terumbu karang dan merusak kehidupan laut karena penambangan karang (digunakan untuk membangun dan membuat perhiasan), pengerukan pasir, pencemaran limbah padat, dan perubahan iklim. Penambangan pasir dan karang telah memindahkan terumbu karang alami yang dilindungi beberapa pulau-pulau penting, membuat mereka sangat rentan terhadap efek erosi laut. Praktek telah diblokir dalam beberapa tahun terakhir. Pada bulan April 1987, air pasang menyapu Maladewa, membanjiri banyak Male 'dan pulau-pulau terdekat. Bulan Desember 2004 Tsunami Samudra Hindia menggenangi sejumlah pulau, mencemari sumber-sumber air tawar dan merusak rumah, tanah, dan air tanah. Peristiwa ini mendorong minat Maladewa tingkat tinggi perubahan iklim global, sebagai titik tertinggi negara itu sekitar 8 kaki (sekitar 2,4 meter) di atas permukaan laut.

Investasi dalam Pendidikan
Pengeluaran pemerintah untuk pendidikan adalah 8% dari PDB pada tahun 2006. Melek Huruf di Maldives adalah tinggi pada 97%. Maladewa telah membuat langkah besar selama bertahun-tahun di bidang pendidikan SD dan lebih rendah, dengan pendaftaran 100% pada tingkat dasar (kelas 1 sampai 7) sejak tahun 2002. Pendaftaran sekolah menengah juga telah meningkat secara signifikan, dengan sekitar 70% maju ke tingkat sekunder. Sekolah rendah menengah (kelas 8 sampai 10) terletak di 138 pulau. Pada tahun 2008, pemerintah bertujuan untuk membuat 10 tahun pendidikan tersedia untuk semua sebelum tahun 2010. Hanya sebagian kecil anak-anak meninggalkan sekolah dengan kualifikasi, dan "biasa tingkat" tingkat lulus (pada penyelesaian 10 grade) rendah bagi mereka yang memilih untuk mengambil ujian Pada pertengahan tahun 2007, akses ke sekolah menengah yang lebih tinggi (kelas 11 dan 12) adalah terbatas karena sekolah itu berada di atas hanya 14 pulau. Akses ke pendidikan tersier lebih terbatasMeskipun tidak ada bias gender bagi sekolah dasar dan bawah, ada bias mendukung anak laki-laki untuk pendidikan menengah dan tersier atas.

 Peta Negara Maladewa


PEMERINTAHAN
Sebuah referendum konstitusi 1968 disetujui, membuat Maladewa republik dengan cabang-cabang eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Konstitusi tersebut telah diperbaharui pada tahun 1970, 1972, 1975, dan sekali lagi pada tahun 2008.
Ibrahim Nasir, Perdana Menteri di bawah kesultanan-1968 pra, menjadi Presiden dan kantor diadakan 1968-1978. Ia digantikan oleh Maumoon Abdul Gayoom, yang terpilih jadi presiden tahun 1978 dan terpilih kembali pada tahun 1983, 1988, 1993, 1998 dan lagi pada bulan Oktober 2003. Setelah 30 tahun berkuasa, pada Oktober 2008 Gayoom telah dikalahkan oleh kandidat Partai Demokratik Maladewa Mohamed Nasheed dalam pemilihan presiden multipartai pertama diselenggarakan di 30 tahun. Presiden Nasheed diresmikan pada 11 November 2008 sebagai kepala cabang eksekutifNasheed mengurangi jumlah departemen pemerintah 21-14, menunjuk kabinet 14-anggota, dan menggantikan delapan anggota Majlis ditunjuk oleh pendahulunya.

Majlis unikameral saat ini, yang dipilih pada Mei 2009, terdiri dari 77 anggota menjalani hukuman 5 tahun. Pada bulan Februari 2009, Majlis mengesahkan undang-undang yang meningkatkan jumlah kursi menjadi 77 dari 50. Hasil Pemilu adalah: DRP 36,8%, 32,9% MDP, PA 9,2%, DQP 2,6% 1,3% Partai Republik, independen 17,1%; kursi oleh partai - DRP 28, MDP 26, PA 7, DQP 2, Partai Republik 1, independen 13. The next Majlis elections will be held in 2014. Majlis pemilu berikutnya akan diadakan pada tahun 2014.
Sistem hukum Maladewa - campuran tradisional-prinsip-prinsip umum hukum Islam dan - dikelola oleh Jaksa Agung, jaksa penuntut umum, pejabat sekuler, keadilan ketua, dan hakim yang lebih rendah pada masing-masing dari 19 atol, yang diangkat oleh presiden. Sebuah Mahkamah Agung baru diangkat oleh Presiden sebelumnya, Gayoom, mengambil kantor pada bulan September 2008. Berdasarkan hukum konstitusi 2008, tetapi, peradilan telah dikaji ulang oleh Komisi Yudisial Services, dan permanen hakim agung yang dilantik pada tanggal 10 Agustus 2010. Hakim Pengadilan Tinggi ditunjuk pada tanggal 27 Maret 2011. Setiap pulau berpenghuni memiliki pengadilan hakim.

Kepala Pejabat Pemerintah
Presiden - Mohamed Nasheed (kepala negara dan pemerintah)
Wakil Presiden - Mohamed Waheed
Menteri Pembangunan Ekonomi dan Perdagangan - Razee Mahmood
Menteri Keuangan dan Treasury - Mahmood Razee (bertindak)
Menteri Dalam Negeri - Afeef Hassan
Menteri Luar Negeri - Naseem Ahmed 

Bendera Maladewa
Lambang Negara Maladewa

KONDISI POLITIK
Pada tanggal 8 November 1988, Sri Lanka Tamil tentara bayaran mencoba untuk menggulingkan Pemerintah Maladewa. Atas permintaan Presiden Gayoom, militer India menekan upaya kudeta dalam waktu 24 jam. Pada bulan September 2003, setelah kematian tahanan, sebuah kerusuhan penjara singkat pecah di sebuah pulau dekat ibukota, Male '. Tiga narapidana lainnya tewas dalam insiden itu. Menanggapi pembunuhan dari narapidana, kerusuhan singkat berlangsung di jalan-jalan Male '. Di bawah Gayoom, pemerintah sering dicegah demonstrasi oposisi dari mengambil tempat. Komitmen Presiden Gayoom untuk memperkenalkan reformasi politik pada bulan Juni 2004 disambut secara luas. Sebuah komisi hak asasi manusia didirikan, dan majlis khusus, atau parlemen, diadakan untuk mempertimbangkan perubahan konstitusi, termasuk legalisasi partai politik. Pada bulan Agustus 2004, namun, demonstrasi di ibukota berubah menjadi kekerasan dan pemerintah mengumumkan keadaan darurat dan menahan sejumlah besar dikatakan terhubung ke protes. Beberapa dari mereka yang ditahan adalah menonjol dalam gerakan reformasi, termasuk beberapa anggota Majlis khusus Sebagian besar dirilis beberapa bulan kemudian.

Maladewa mengalami kerusakan parah akibat tsunami Asia tanggal 26 Desember 2004, yang menewaskan 82 dan menyebabkan kerusakan besar untuk pariwisata Maladewa, perumahan, dan infrastruktur perikanan. AS menyediakan $ 1,6 juta pada bantuan pertolongan segera. Meskipun bencana, Pemerintah Maladewa diadakan pemilihan parlemen, semula dijadwalkan pada tanggal 31, pada 22 Januari 2005. Reformasi dilakukan kandidat kuat. Setelah jajak pendapat, Presiden Gayoom mengumumkan rencana untuk membangun demokrasi multipartai dalam setahun. Pada bulan Juni 2005, anggota Majlis Rakyat dengan suara bulat memutuskan untuk mengakui secara hukum partai politik. Dalam rangka pendaftaran pihak pertama adalah Maladewa oposisi Partai Demokrat, pemerintah Divehi Raiyyethunge Pihak, Adhaalath (Keadilan) Partai, dan Partai Islam Demokrat. Baru-baru ini, sejumlah pihak lain dibentuk, termasuk Partai Liberal Sosial, yang Maladewa Kongres Nasional, Maladewa Partai Sosial Demokrat, dan Partai Republik. Beberapa tampaknya memiliki dukungan publik minimal. Formasi lain politik adalah New Maladewa kelompok, namun belum terdaftar sebagai sebuah pesta.
Sepanjang tahun 2006, oposisi menghadapi pembatasan atas kebebasan berkumpul, dan pemerintah terus untuk menangkap para aktivis oposisi. Pada bulan Maret 2006, pemerintah memperkenalkan "Roadmap untuk Reformasi" dan kemudian diperkenalkan beberapa tagihan di parlemen. Pada bulan Agustus 2007, para pemilih memutuskan melalui referendum bahwa konstitusi baru Maladewa 'harus menyediakan sistem presidensial pemerintah (wakil parlemen). Majlis khusus menyelesaikan pekerjaan dan konstitusi baru diberlakukan pada bulan Agustus 2008. Sesuai dengan konstitusi baru diratifikasi oleh Presiden Gayoom pada tanggal 7 Agustus 2008, putaran pertama pemilihan presiden diadakan pada tanggal 10 Oktober 2008. Sebagai kandidat tidak menerima 50% suara, putaran kedua diadakan pada tanggal 29 Oktober antara Presiden Gayoom dan Mohamed Nasheed. Nasheed menang dengan 54% suara. Anggota parlemen menyatakan afiliasi politik mereka jauh sebelum tahun 2008 pemilu Oktober multipartai. Lima pemimpin oposisi diizinkan untuk mengikuti pemilihan presiden, dan calon oposisi utama terpilih.

Presiden Nasheed adalah salah satu pendiri Partai Demokratik Maladewa (MDP). Presiden Nasheed, seorang Amnesty International mantan "tahanan hati nurani," telah berjanji untuk memperkuat demokrasi dan meningkatkan kebebasan media. Selama kampanye itu, Nasheed berjanji bahwa jika terpilih, ia akan mengadakan pemilihan awal presiden di tengah masa jabatannya. Proposal Nasheed, bagaimanapun, telah menemui perlawanan sengit dari pihak oposisi dan ia telah mampu untuk memajukan undang-undang di Majlis. Beberapa menteri kabinetnya menghadapi "tidak percaya" suara, beberapa telah berhasil telah diberhentikan dan diberhentikan. Pemerintah sebelumnya terus mengendalikan dengan ketat pada ekspresi ekstremisme Islam. Telah ada tren yang sedang berkembang di konservatisme Islam sejak munculnya demokrasi dan kebebasan berbicara.  


Male' ibukota Maladewa
EKONOMI
Perekonomian Maladewa didasarkan pada pariwisata dan memancing. Pertumbuhan ekonomi telah didukung terutama oleh pariwisata, tulang punggung perekonomian, dan spin-off dalam komunikasi, transportasi, dan sektor konstruksi. Lebih dari 700.000 kunjungan wisatawan setiap tahunnya. Perikanan tetap merupakan bagian penting dari perekonomian juga. Tsunami Samudera Hindia pada Desember 2004 menghancurkan banyak pulau. Ekonomi Maladewa melakukan pemulihan yang luar biasa, dengan rebound di bidang pariwisata dan rekonstruksi pasca-tsunami. Dari 1.191 Maladewa 'pulau, hanya 200 yang berpenghuni. Populasi tersebar di seluruh negeri, dengan konsentrasi terbesar di pulau modal, Male '. Pembatasan air minum dan tanah yang subur membatasi ekspansi. Sementara disparitas pendapatan tetap tinggi, terutama antara pulau-pulau modal dan jauh, pertumbuhan Maladewa 'telah menghasilkan kemajuan sosial yang cukup. Partisipasi murni di pendidikan dasar dekat dengan 100%. Angka melek aksara sekitar 97%. Bayi dan kematian ibu menurun dengan cepat.

PDB pada tahun 2010 mencapai $ 1480000000, atau sekitar $ 4.770 per kapita. Dari 2000-2010, pertumbuhan PDB riil rata-rata sekitar 6% per tahun, kecuali untuk tahun 2005, ketika PDB menurun setelah tsunami Samudera Hindia, dan 2009 ketika PDB menyusut sebesar 2% sebagai kedatangan wisatawan menurun dan arus modal terjun di bangun dari keuangan global krisis. Maladewa Otoritas Moneter (Bank Sentral) mengharapkan pertumbuhan GDP sekitar 4% pada tahun 2011. Inflasi berada pada 4,7% pada tahun 2010. Maladewa memiliki defisit perdagangan barang di bawah $ 300.000.000 hingga tahun 2003. Sejak saat itu defisit perdagangan telah mencapai $ 780 juta belum pernah terjadi sebelumnya. Pada tahun 2010, perekonomian Maladewa 'dibantu oleh kemajuan yang signifikan dalam kedatangan wisatawan. Akibatnya, defisit rekening giro yang terdapat di sekitar $ 460.000.000 pada tahun 2010. Neraca pembayaran mencatat surplus sekitar $ 50 juta. Pariwisata diharapkan untuk terus tumbuh pada tahun 2011.
Pengendalian fiskal telah memburuk baru-baru ini karena peningkatan belanja pemerintah, termasuk kenaikan upah besar serta pendapatan jatuh. Defisit anggaran sekitar 16% dari PDB pada tahun 2010. Pengeluaran pemerintah adalah 51% dari PDB dan pendapatan sekitar 34% dari PDBMenurut perkiraan pemerintah, defisit itu diperkirakan sebesar 15% dari PDB pada tahun 2010. Recent defisit anggaran yang besar telah menyebabkan penumpukan tajam utang publik, mendorong Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk mengklasifikasikan Maladewa sebagai berada di risiko sedang tertekan utang.

Pada bulan Desember 2009, IMF menyetujui pinjaman $ 93.000.000 bagi negara. Setelah dua pencairan pertama, IMF menahan pembayaran berikutnya karena kekhawatiran bahwa defisit anggaran harus jauh berkurang.  Maladewa menghadapi kekurangan devisa. Nilai tukar resmi saat ini terhadap dolar AS rufiyaa 12,8. Di bawah program IMF, pemerintah sepakat untuk memotong pengeluaran, secara substansial berhemat tenaga kerja pemerintah, mengurangi subsidi, mengubah sistem pajak untuk pajak langsung, dan memprivatisasi banyak industri. Pemerintah juga bertujuan untuk berpindah dari sebagai penyedia layanan untuk regulator, dan untuk meningkatkan peran sektor swasta. Program-program ini memerlukan reformasi besar dalam kerangka hukum dan peraturan dari berbagai sektor. Namun, sebagian besar rencana ini tidak berjalan dengan baik. Sebagai contoh, pemerintah menurunkan gaji pegawai negeri rata-rata 14% pada bulan Oktober 2009, tetapi Maladewa Komisi Pelayanan Sipil (CSC) telah mengajukan gugatan untuk mengembalikan gaji. Selain itu, rencana untuk melepas staf pelayanan sipil telah ditunda karena kurangnya dana. Rencana privatisasi pemerintah juga terancam oleh undang-undang baru disahkan oleh parlemen yang membutuhkan persetujuan parlemen untuk memprivatisasi lembaga negara. Pemerintah melakukan privatisasi bandara internasional, dan menjual saham pemerintah-diselenggarakan di sebuah perusahaan telekomunikasi sebelum perjalanan hukum. Pemerintah juga menandatangani kontrak manajemen dengan penyedia layanan kesehatan India untuk mengelola rumah sakit milik negara dengan tujuan untuk meningkatkan manajemen dan jasa. Pengiriman internasional dari dan ke Maladewa terutama dioperasikan oleh sektor swasta dengan hanya sebagian kecil dari tonase dilakukan pada kapal yang dioperasikan oleh maskapai nasional, Maladewa Pengiriman Management Ltd

Selama bertahun-tahun, Maladewa telah menerima bantuan ekonomi dari organisasi-organisasi pembangunan multilateral, termasuk Program Pembangunan PBB (UNDP), Bank Pembangunan Asia, dan Bank Dunia. Donor Individu - termasuk Jepang, India, Australia, dan negara-negara Eropa dan Arab (termasuk Islamic Development Bank dan Dana Kuwait) - juga memiliki kontribusi. Dalam upaya untuk mempromosikan ekspor, Pemerintah Amerika Serikat memulihkan Generalized System of Preferences (GSP) program perdagangan ke Maladewa pada bulan Desember 2009. Amerika Serikat sedang mencari upaya untuk memberikan berbagai bantuan lain untuk mempertahankan diri dari perubahan iklim, mencegah penggunaan narkoba, dan meningkatkan investasi AS. Maladewa menjadi anggota Organisasi Buruh Internasional pada tahun 2009. Diversifikasi di luar pariwisata dan perikanan, reformasi keuangan publik, dan meningkatkan kerja tantangan utama yang dihadapi pemerintah. Selama jangka panjang pemerintah Maladewa khawatir tentang dampak dari erosi dan pemanasan global mungkin negara mereka rendah berbohong; 80% wilayah adalah 1 meter (sekitar 3,3 kaki) atau kurang di atas permukaan laut.
Sektor Ekonomi
Pariwisata. Dalam beberapa tahun terakhir, Maladewa telah berhasil memasarkan aset alam untuk wisata - indah, pantai yang tercemar di pulau-pulau karang kecil, menyelam di perairan biru berlimpah dengan ikan tropis, dan matahari terbenam mulia. Pariwisata sekarang membawa di sekitar $ 600 juta per tahun. Pariwisata dan jasa terkait memberikan kontribusi 29% dari PDB pada tahun 2010. Tapi kontribusi secara tidak langsung jauh lebih tinggi. Akibatnya, pariwisata adalah katalis untuk pertumbuhan. Sejak resort pertama didirikan pada tahun 1972, lebih dari 95 pulau telah dikembangkan, dengan kapasitas total sekitar 23.600 tempat tidur. Maladewa telah memulai sebuah rencana ekspansi ambisius pariwisata; beberapa resort dalam pembangunan. Namun, ekspansi resort belum direncanakan dengan baik. Ada kekenyangan kamar hotel dan resort setengah-dibangun beberapa. Lebih dari 790.000 wisatawan (terutama dari Eropa) mengunjungi Maladewa pada tahun 2010. Tingkat hunian rata-rata sekitar 70%. Maladewa telah mengalami tingkat pemanfaatan kapasitas lebih dari 80% - mencapai lebih dari 95% pada musim dingin wisata puncak - sebelum drive resort baru yang dimulai pada tahun 2008. Wisatawan menginap rata-rata 8 hari.
Perikanan. Sektor ini mempekerjakan sekitar 11% dari angkatan kerja. Industri perikanan, termasuk pengolahan ikan, biasanya menyumbangkan sekitar 7% dari PDB. Karena penurunan drastis dalam menangkap ikan, kontribusi industri terhadap PDB hanya sekitar 4% pada tahun 2008 dan 3% pada tahun 2009. Pendapatan ekspor diperkirakan $ 80 juta pada tahun 2009. Penggunaan jaring adalah ilegal; memancing semua dilakukan oleh garis. Produksi sekitar 100.000 metrik ton pada tahun 2009, yang sebagian besar tuna cakalang. Lebih dari 40% yang diekspor, terutama ke Sri Lanka, Jepang, Hong Kong, Thailand, dan Uni Eropa. Segar, dingin, beku, kering, asin, dan ekspor tuna kaleng account untuk sekitar 90% dari seluruh ekspor hasil laut.

Pertanian. Miskin tanah subur dan tanah langka secara historis pertanian terbatas untuk beberapa subsisten sebuah tanaman, seperti kelapa, pisang, sukun, pepaya, mangga, talas, sirih, cabe manis, kentang, dan bawang. Hampir semua makanan, termasuk staples, harus diimpor. Desember 2004, tsunami terendam beberapa pulau pertanian dengan air garam, mencemari air tanah. Beberapa dari pulau-pulau ini masih tidak memiliki air tanah bersih. Pertanian menyediakan sekitar 2,0% dari PDB.
Manufaktur. Sektor manufaktur menyediakan kurang dari 7% dari PDB. Industri tradisional terdiri dari bangunan kapal dan kerajinan, sedangkan industri modern adalah terbatas pada beberapa pabrik pengalengan ikan tuna, sebuah pabrik pembotolan, dan beberapa perusahaan di ibukota memproduksi pipa PVC, sabun, mebel, dan produk makanan. Lima pabrik garmen yang diekspor terutama ke Amerika Serikat ditutup pada tahun 2005, setelah berakhirnya Pengaturan Multi-Fiber (MFA) yang telah menetapkan kuota pada pengembangan ekspor garmen negara ke negara-negara majuHilangnya pabrik ini tidak terbukti merupakan rintangan dapat diatasi, namun, karena sebagian besar keuntungan dipulangkan dan sebagian besar tenaga kerja adalah ekspatriat.
Lainnya. Sektor konstruksi memberikan kontribusi sekitar 6% dari PDB.



Resort mewah sebagai daya tarik pariwisata

HUBUNGAN DIPLOMATIK
Maladewa mengikuti kebijakan nonaligned dan berkomitmen untuk menjaga hubungan persahabatan dengan semua negara. Menurut Kementerian Luar Negeri, negara memiliki Misi PBB di New York, kedutaan di Amerika Serikat (Duta Besar ke Washington adalah penduduk di New York), Sri Lanka, China, Inggris, Bangladesh, India, Jepang, Singapura, dan Malaysia, serta misi-misi diplomatik di Jenewa dan Brussels. India, Pakistan, Bangladesh, dan Sri Lanka menjaga kedutaan besar penduduk di Male '. Denmark, Norwegia, Inggris, Jerman, Turki, dan Swedia memiliki lembaga konsuler di Male 'di bawah pengawasan kedutaan mereka di Sri Lanka dan India. UNDP memiliki penduduk perwakilan di Male ', seperti halnya Dana Anak PBB (UNICEF) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Seperti Amerika Serikat, banyak negara telah duta besar bukan penduduk terakreditasi untuk Maladewa, sebagian besar dari mereka yang berbasis di Sri Lanka atau India. Maladewa adalah anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) dan Gerakan Non-Blok (NAM). Pada tahun 2010, Maladewa terpilih untuk kursi di Perserikatan Bangsa-Bangsa Dewan Hak Asasi Manusia, dan tahun 2011 itu akan menjadi tuan rumah tahunan ke-17 Asosiasi Asia Selatan untuk Kerjasama Regional (SAARC) KTT. Retorika terampil Presiden Nasheed dan pembangunan konsensus di antara negara-negara pulau kecil membawa perhatian global untuk Maladewa pada konferensi 2009 Desember Perserikatan Bangsa perubahan iklim. Pada bulan Maret 2010, Maladewa host sebuah forum donor yang menghasilkan $ 313,000,000 di janji untuk negara dari bank-bank pembangunan multilateral, Uni Eropa, dan banyak negara termasuk Amerika Serikat.

HUBUNGAN ANTARA US DAN MALADEWA
Amerika Serikat memiliki hubungan persahabatan dengan Republik Maladewa. Duta Besar Amerika Serikat dan beberapa staf Kedutaan Besar di Sri Lanka diakreditasi ke Maldives dan melakukan kunjungan berkala. Amerika Serikat telah berupaya untuk mendukung transisi demokrasi Maladewa dan agenda pembangunan ekonomi. US Naval kapal telah secara teratur disebut di Male 'dalam beberapa tahun terakhir. Maladewa memberikan dukungan yang kuat untuk upaya AS untuk memerangi terorisme dan pendanaan teroris. Maladewa telah menawarkan pada prinsipnya untuk merelokasikan seorang tahanan Guantanamo, tetapi pengaturan akhir belum ditentukan pada pertengahan Juli 2010. 

Kontribusi AS untuk pembangunan ekonomi di Maladewa telah dilakukan terutama melalui program-program organisasi internasional. Setelah tsunami Desember 2004, Amerika Serikat dan Maladewa menandatangani perjanjian bantuan bilateral sebesar $ 8.600.000 dalam bantuan rekonstruksi. Bantuan ini akan membantu dalam pembangunan kembali pelabuhan, sistem pembuangan limbah, dan fasilitas pembangkit listrik dan dalam pengembangan kapasitas membantu penyerapan di Departemen Keuangan. Amerika Serikat telah langsung mendanai pelatihan manajemen bandara dan narkotika larangan dan memberikan komputer desktop untuk bea cukai Maladewa, imigrasi, dan upaya obat-kontrol dalam beberapa tahun terakhir. Pada forum 2010 donor Maret Maladewa, Amerika Serikat (sebagian besar melalui US Agency for International Development - USAID) menjanjikan $ 4.600.000 untuk adaptasi perubahan iklim, reformasi pasar obligasi, keamanan maritim, keamanan perbatasan, dan Militer Internasional Pendidikan dan Pelatihan (IMET ). Amerika Serikat juga melatih sejumlah kecil personil militer Maladewa setiap tahunnya. Sekitar 10 warga AS penduduk di Maladewa, sekitar 5.000 orang Amerika mengunjungi Maladewa setiap tahunnya. 

Maladewa menyambut investasi asing, meskipun ambiguitas hukum dikodifikasikan bertindak sedikit dari peredam. Maladewa menandatangani Kerangka Kerja Perdagangan dan Investasi Agreement (TIFA) dengan Amerika Serikat pada bulan Oktober 2009, telah diberikan manfaat GSP perdagangan pada bulan Desember 2009, dan menandatangani Overseas Private Investment Corporation (OPIC) perjanjian dengan Amerika Serikat pada Maret 2010. Wilayah kesempatan untuk bisnis di Amerika Serikat termasuk pariwisata, konstruksi, dan manufaktur berorientasi ekspor yang sederhana, seperti pakaian dan perakitan alat listrik. Ada kekurangan tenaga kerja terampil lokal, dan tenaga kerja sebagian besar industri harus diimpor dari Sri Lanka atau di tempat lain.

[+/-]Baca Lebih Lanjut? Klik Judul Artikel

Tugas 3, Saya dan Koleksi Museum Nasional- Prasasti Ciarunteun

|

NAMA: RIZKI RAHMALINA PUTRI
KELAS: XI IPA I

Saya melakukan perjalanan ke Museum Nasional Republik Indonesia atau yang lebih dikenal dengan nama Museum Gajah karena konon di halaman depan museum terdapat sebuah patung gajah perunggu hadiah dari Raja Chulalongkorn (Rama V) dari Thailand yang pernah berkunjung ke museum pada tahun 1871. Kadang kala disebut juga "Gedung Arca" karena di dalam gedung memang banyak tersimpan berbagai jenis dan bentuk arca yang berasal dari berbagai periode. Bersama dengan beberapa teman sekelas, seusai sepulang sekolah kami beramai-rami pergi mengunjungi Museum Nasional pada hari Jumat tangal 20 Mei 2011. Saya menentukan berkunjung ke Museum ini karena museum ini cukup populer di daerah Jakarta dan dekat dengan pusat kota. Kunjungan ini adalah kunjungan keempat kalinya saya ke Museum Nasional. Dengan harga tiket masuk museum yang hanya Rp 2.000,00 kita dapat berkeliling sepuasnya tanpa batasan waktu. Sewaktu saya pertama kali mengunjungi Museum Nasional, harga tiket masuk hanyalah RP 500,00 Tiket dibeli di loket yang menyatu dengan lobi museum. Harga tiket yang hanya seperempat atau sepertiga harga tiket bioskop ternyata tidak bisa dibandingkan dengan ilmu yang diperoleh di museum ini. Pengunjung akan mendapatkan hal yang lebih dahsyat daripada menonton film di bioskop. 

Koleksi di Museum Nasional sudah melebihi 140.000 buah, tapi baru sepertiganya saja yang dapat diperlihatkan kepada khalayak. Museum Nasional banyak mengkoleksi benda-benda kuno dari seluruh Nusantara. Antara lain yang termasuk koleksi adalah arca-arca kuno, prasasti, benda-benda kuna lainnya dan barang-barang kerajinan. Koleksi-koleksi tersebut dikategorisasikan ke dalam etnografi, perunggu, prasejarah, keramik, tekstil, numismatik, relik sejarah, dan benda berharga. Sumber koleksi banyak berasal dari penggalian arkeologis, hibah kolektor sejak masa Hindia Belanda dan pembelian. Koleksi keramik dan koleksi etnografi Indonesia di museum ini terbanyak dan terlengkap di dunia. Museum ini merupakan museum pertama dan terbesar di Asia Tenggara dan bernaung di bawah Departemen Kebudayaan dan Pariwisata
.  
Pertama-tama saya mengunjungi museum gedung lama (Unit A) berdasarkan pada jenis-jenis koleksi, baik berdasarkan keilmuan, bahan, maupun kedaerahan. Seperti Ruang pameran Prasejarah, Ruang Perunggu, Ruang Tekstil, Ruang Etnografi daerah Sumatra, dan lain-lain. Sebagai museum utama di ibukota, museum ini memang gak jauh beda keadaannya dengan banyak museum di ibukota, kurang perawatan. Banyak patung yang kurang terawat dan disusun bergeletakan dibawah, Di beberapa bagian gedung kesan mistis sangat terasa,apalagi waktu saya mengunjungi gedung lama sedang terjadi mati lampu dan pengunjungnya yang cuma sedikit bisa dihitung dengan jari. Koleksi Arkeologi meliputi benda-benda budaya hasil kegiatan manusia dari masa Hindu Buddha dan lebih dikenal dengan sebutan masa Klasik Indonesia. Masa ini berlangsung dari awal abad ke-5-15 Masehi, dimana berkembang kebudayaan lokal yang dipengaruhi oleh kebudayaan India.
Koleksi Arkeologi pada gedung lama terdiri dari arca dewa-dewa Hindu, arca Buddha, arca perwujudan, arca binatang, perhiasan, peralatan upacara, bagian bangunan, mata uang, prasasti, dan lain-lain. Koleksi-koleksi tersebut terbuat dari emas, perak, perunggu, batu, dan tanah liat yang dibakar.
                                                  Sebagian koleksi Arca Buddha
Koleksi Arkeologi sebagian besar berasal dari daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, misalnya temuan emas yang sangat bernilai dari desa Wonoboyo, Jawa Tengah; arca batu Prajñaparamita dari Singosari, Jawa Timur. Selain itu juga memiliki koleksi-koleksi penting lainnya, seperti prasasti tertua di Indonesia, yaitu prasasti Yupa dari Muara Kaman, Kutai Kalimantan Timur; prasasti-prasasti dari kerajaan Tarumanegara; dan prasasti-prasasti yang berasal dari masa kerajaan Sriwijaya. Arca Bhairawa Buddha dari Padang Roco, Sumatera Barat juga merupakan koleksi Arkeologi yang cukup menarik perhatian dilihat dari ukurannya yang sangat besar.
Akhirnya seluruh ruangan di Gedung Lama Museum Nasional berhasil saya jelajahi. Saya pun melanjutkan perjalanan ke Gedung Baru Museum Nasional. Ini pertama kalinya saya ke gedung baru, kerena waktu terakhir saya kesini bangunan ini belum jadi seutuhnya. penataan pameran di gedung baru (Unit B) tidak lagi berdasarkan jenis koleksi melainkan mengarah kepada tema berdasarkan aspek-aspek kebudayaan yang mana manusia diposisikan sebagai pelaku dalam lingkungan tempat tinggalnya. Tema pameran yang berjudul “Keanekaragaman Budaya dalam Kesatuan” ini terdiri dari beberapa subtema antara lain Manusia dan Lingkungan, Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Ekonomi, Organisasi Sosial dan Pola Pemukiman, dan Khasanah dan Keramik. 
Pada gedung baru ini suasananya sungguh berbeda dengan gedung lama. Tampak lebih modern, bersih, ber-ac dan semua koleksi-koleksi tertata dengan rapih. Salah satu koleksi yang menarik perhatian saya adalah Prasasti Ciaruteun atau prasasti Ciampea. Sebuah prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara berupa batu alam yang sangat besar. Prasasti ini ditemukan ditepi sungai Ciarunteun, dekat muara sungai Cisadane Bogor merupakan peninggalan kerajaan Tarumanagara. Tempat ditemukannya prasasti ini merupakan bukit yang diapit oleh tiga sungai: Cisadane, Cianten dan Ciaruteun. Sampai abad ke-19, tempat ini masih dilaporkan sebagai Pasir Muara, yang termasuk dalam tanah swasta Ciampéa (sekarang termasuk wilayah Kecamatan Cibungbulang).
                                                  Foto asli Prasasti Ciarunteun 

Menurut Pustaka Rajya-rajya i Bhumi Nusantara parwa 2, sarga 3, halaman 161 disebutkan bahwa Tarumanagara mempunya rajamandala (bawahan) yang dinamai "Pasir Muhara"
Prasasti Ciaruteun dilaporkan oleh pemimpin Museum Nasiona pada tahun 1863. Akibat banjir besar pada tahun 1893 batu prasasti ini terhanyutkan beberapa meter ke hilir dan bagian batu yang bertulisan menjadi terbalik posisinya ke bawah. Kemudian pada tahun 1903 prasasti ini dipindahkan ke tempat semula. Pada tahun 1981 Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mengangkat dan memindahkan prasasti batu ini agar tidak terulang terseret banjir.
Prasasti Ciaruteun bergoreskan aksara Pallawa yang disusun dalam bentuk seloka bahasa Sansekerta dengan metrum Anustubh yang teridiri dari tiga baris dan pada bagian bawah tulisan terdapat pahatan gambar umbi dan sulur-suluran (pilin), sepasang telapak kaki dan laba-laba. Isinya adalah puisi empat baris, yang berbunyi:
vikkrantasyavanipateh shrimatah purnavarmmanah tarumanagararendrasya vishnoriva padadvayam
Terjemahannya menurut Vogel:
Kedua (jejak) telapak kaki yang seperti (telapak kaki) Wisnu ini kepunyaan raja dunia yang gagah berani yang termashur Purnawarman penguasa Tarumanagara
Selain itu, ada pula gambar sepasang "pandatala" (jejak kaki), yang menunjukkan tanda kekuasaan &mdash& fungsinya seperti "tanda tangan" pada zaman sekarang. Kehadiran prasasti Purnawarman di kampung itu menunjukkan bahwa daerah itu termasuk kawasan kekuasaannya. Menurut Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara parwa II, sarga 3, halaman 161, di antara bawahan Tarumanagara pada masa pemerintahan Purnawarman terdapat nama "Rajamandala" (raja daerah) Pasir Muhara. 
Batu besar dengan berat delapan ton itu nampak kokoh sekali bernaung dibawah cungkup. Sepasang "pandatala" (tapak kaki) nampak tercetak jelas pada bagian atasnya dihiasi dengan sederet prasati berhuruf Palawa dan berbahasa Sangsekerta. Konon tapak kaki tersebut adalah bekas tapak kaki Maharaja Purnawarman yang memimpin dan menguasai kerajaan Tarumanegara.
                                                   Saya dan replika Prasasti Ciarunteun
Dari keterangan Prasasti Ciaruteun tersebut, telah didapat sebuah keterangan yang menjelaskan tentang keberadaan Purnawarman sebagai seorang raja Tarumanagara, yang menganut agama Hindu aliran waisnawa. Akan tetapi keberadaan prasasti Ciaruten tersebut kita masih belum bisa menemukan keberadaan keraton Kerajaan Tarumanagara dibawah kepeminpinan Raja Purnawarman.
Selain tulisan, dalam prasasti Ciaruteun terdapat juga lukisan yang berbentuk ikal dan sepasang tanda mirip gambar laba-laba atau matahari. Lukisan telapak kaki dianggap sebagai lambang langkah raja Purnawarman ke surga yang dipersamakan dengan perjalanan matahari, dari mulai terbit, kemudian mencapai titik tertinggi, terbenam, sampai akhirnya terbit kembali.
Penafsiran lain tentang keberadaan gambar telapak kaki pada prasasti Ciarunteun dapat diartikan sebagai:
1.
Sepasang "pandatala" melambangkan kekuasaan raja atas daerah tersebut (tempat ditemukannya prasasti tersebut).
2. Cap telapak kaki melambangkan kekuasaan dan eksistensi seseorang (biasanya penguasa) sekaligus penghormatan sebagai dewa. Hal ini berarti menegaskan kedudukan Purnawarman yang diibaratkan dewa Wisnu maka dianggap sebagai penguasa sekaligus pelindung rakyat.
Oleh-oleh dari kunjungan ke museum ini adalah rasa senang akan tambahan ilmu yang saya dapatkan. Sangat pantas apabila kita mengajak orang terdekat kita untuk mengunjungi museum guna menambah wawasan, melihat peninggalan sejarah di Indonesia, dan memotivasi kita untuk menciptakan hal yang tercatat dalam sejarah.

[+/-]Baca Lebih Lanjut? Klik Judul Artikel

 

Design modified by mugimunteng | Basic Design by Dzignine in Collaboration with Trucks, SUV, Kidney Stones