otakatikawas!

otakatikawas!
Showing posts with label Astari Nandhiasa. Show all posts
Showing posts with label Astari Nandhiasa. Show all posts

Tugas 4: Saya dan Azərbaycan Respublikası

|

1. AZERBAIJAN KUNO
        Para ilmuan mendefinisikan Azerbaijan sebagai suatu wilayah yang kini dihuni oleh bangsa Azerbaijan-Turk; yaitu orang-orang yang mendiami sebuah kawasan yang membentang dari lereng bagian Utara pegunungan Kaukasus di sepanjang Laut Kaspia hingga dataran tinggi Iran.


        Pada penghujung millennium ke-4 SM dan awal millennium ke-3 SM mulai tampak adanya pertumbuhan lapisan atas dalam kelas-kelas social yang mempunyai cirri keunggulan peradaban proto-urban dan telah memiliki embrio struktur kenegaraan. Pada masa ini aliansi suku-suku bangsa telah membentuk sebuah Negara Aratta, Negara Lullubum (sejak 2300 SM) dan Negara Gutian (setelah paruh kedua 3000 SM). Pada tahun 2175 SM rakyat Gutian berhasil menundukkan Sumer dan Akkad serta menguasainya hingga satu abad lamanya.
        Antara abad 9 hingga 7 SM, kerajaan Mannaean mengguncang daerah sekitar Danau Urmia. Kerajaan Simmeria-Scythia-Saka tumbuh pesat pada abad ke-7 dan 6 SM di bagian Selatan–Barat Daya Azerbaijan. Pada pertengahan abad 6 SM kerajaan Mannaean runtuh.
        Peran penting dalam sejaraha Azerbaijan dimainkan kerajaan Atropaten yang muncul di bagian Selatan pada thun 520an SM. Kerajaan ini sangat kental dipengaruhi tradisi Hellenisme.
        Negara Albania di Kaukasus berdiri di sebelah Utara Azerbaijan pada penghujung millennium ke-4 dan awal millennium ke-3 SM dengan sungai Araz sebagai garis perbatasan di sebelah Selatan. Negara ini berhasil mempertahankan wilayahnya dari serangan-serangan musuhnya hingga pada akhirnya ditaklukkan Romawi pada tahun 66 SM. Bangsa Albania terdiri dari berbagai kebangsaan yang pada umumnya berbicara dalam bahasa Turki.




2. AZERBAIJAN PADA ABAD PERTENGAHAN
        Seiring dengan invasi bangsa Arab, maka sejak awal abad ke-8 M Islam menjadi agama dominan di Azerbaijan. Beberapa Negara baru didirikan di wilayah Azerbaijan pada abad 9 M. Negara Shirwan dengan ibukotanya Shemakha, merupakan Negara adikuasa yang diperintah dinasti Mezyedi. Dinasti inilah yang terutama sekali banyak memainkan peran penting dalam sejarah Azerbaijan hingga abad 16 M. Disamping itu beberapa Negara merdeka seperti Sajid, Salarid, Rvvadid (masing-masing berpusat diibukota Maragha, Ardabil dan Tabriz) serta Shaddadids (dengan ibukota Ganja) tumbuh di wilayah Azerbaijan pada abad 9 hingga abad 11 M.


        Azerbaijan pernah pula dikuasai dinasti Seljuk sejak akhir abad 11 M. Setelah berkuasa dari tahun 1136-1225, pemerintahan Atabek Eldegiz di Azerbaijan runtuh.
        Keragaman populasi yang terdiri dari penduduk asli yang berbahasa Turki dan keturunan bangsa Turki serta kesamaan keyakinan yang dianut (Islam) telah memungkinkan berlangsungnya proses konsolidasi bangsa Azerbaijan yang mencapai puncaknya pada abad 11 dan 12 M. Pada periode ini pula tampak perkembangan budaya Azerbaijan yang mengagumkan yang telah menjadi warisan dunia berupa para filosof terkemuka, arsitek, puisikus dan ilmuan-ilmuan terkenal. Kejayaan pemikiran social dan budaya Azerbaijan pada era ini dapat dilihat dalam bentuk karya Nizami Ganjavi (1141-1209), puisikus sekaligus filosof yang hingga kini dipandang sebagai salah satu permata warisan khazanah peradaban dunia.
        Sejak pertengahan abad 13 M, Negara-negara di Azerbaijan jatuh dalam kekuasaan dinasti Mongol, Khulagu (1258-1356). Pada pertengahan abad 14 M, seiring dengan bangkintya kesadaran para penduduk pribumi untuk mengusir para penjajah, tokoh feudal setempat yang bernama Jalairid memimpin pergerakan perjuangan dan mengambil alih kekuasaan di Azerbaijan. Dengan dukungan para bangsawan Azerbaijan lainnya, ia berhasil membentuk Negara Jalairid (1359-1410).
        Sejak akhir abad 14 M, Azerbaijan kembali diduduki Tamerlan dan menjadi panggung teater dalam epoh peperangannya melawan Horde Emas.
Dinasti-dinastiAzerbaijan “Qara-Qoyunlu” dan “Aq-Qoyunlu” memerintah Azerbaijan pada tahun 1410-1468 dan 1468-1501. Di bawah pemerintahan kedua dinasti tersebut kekuatan Azerbaijan telah tumbuh secara signifikan. Pada tahun 1501 negara Safawid didirikan di Azerbaijan, yang kemudian disebut pula dengan dinasti Azerbaijan yang beribukota di Tabriz. Di bawah dinasti ini, seluruh wilayah Azerbaijan berhasil dipersatukan untuk pertama kalinya dalam sejarah yakni menjadi satu Negara Azerbaijan. Wilayah dinasti Safawid membentang dari Sungai Amu Darya hingga sungai Euphratdan dari Derben hingga pesisir pantai Teluk Persia. Entitas politik ini terbentuk dan terus berkembang menjadi Negara Azerbaijan secara essensial di mana seluruh kekuatan politik berada dalam kendali kaum bangsawan Azerbaijan. Pegawai-pegawai senior di pengadilan, para jenderal militer dan para gubernur diangkat dari kalangan bangsawan Azerbaijan. Tentara juga dibentuk dari kelompok milisi yang berasal dari suku terkuat dan berkuasa di Azerbaijan. Bahasa Azerbaijan dijadikan bahasa resmi Negara Safawid. Pada akhir abad 16 M, ibukota negara Safawid dipindahkan dari Isfahan dan shah mendapatkan dukungan penuh dari kalangan bangsawan Persia. Di bawah pemerintahan dinasti Azerbaijan, negara ini berkembang dengan corak ke-Persia-an.




3. KEMERDEKAAN NEGARA-NEGARA KHANAT AZERBAIJAN.
AZERBAIJANTERBAGI ANTARA RUSIA DAN IRAN
Pada pertengahan abad 18 M, seiring dengan melemahnya kekuatan Shah Persia atas wilayah Azerbaijan, negara mengalami perpecahan hingga menjadi duapuluh khanat yaitu: Ardabil, Ganja, Derbent, Erivan, Javad, Karabakh, Karadakh, Khoi, Maku, Maragin, Nakhchivan, Quba, Baku, Sarab, Shirvan, Sheki, Tabriz, Talysh dan Urumi. Selain itu negara juga terpecah belah ke dalam beberapa kesultanan yaitu Kazah-Samshadil, Ilisu, Arash, Gutgashen dan Nagorno-Karabakh, yang banyak dihuni oleh umat Islam Azerbaijan dan sebagian umat Kristen Albania, membentuk suatu bagian integral dalam khanat Karabakh yang meliputi wilayah yang membentang antara sungai Kura dan Araxes. Bangsawan lokal (atau “melikdoms”) dari Dizak, Varanda, Kachen dan Gulistan, yang seluruhnya terletak di antara wilayah pegunungan Karabakh, juga merupakan bagian dari khanat tersebut, dimana penduduknya bersumpah setia kepadanya sebagai daerah bawahan.
        Pada penghujung abad 18 dan pada sepertiga awal abad 19 Azerbaijan menjadi kawasan yang diperebutkan Persia, Rusia dan Turki Usmani. Masing-masing kekuatan berupaya menancapkan hegemoninya di Negara yang memiliki situasi dan letak strategis serta menentukan secara geopolitik. Terjadi penambahan jumlah persenjataan khanat guna mempertahankan kedaulatannya. Sementara itu kelompok yang lainpun dipersenjatai sebagai upaya mempertahankan berbagai kepentingannya masing-masing, dan atau untuk membuat kesepakatan-kesepakatan yang memposisikan lawan menjadi berstatus taklukan.
        Karenanya pada tanggal 14 Mei 1805 sebuah piagam kesepakatan ditandatangani di tepian sungai Kura antara Khan Ibrahim Khalil dari Azerbaijan yang menyatakan bahwa kemerdekaan khanat Karabakh di Azerbaijan tunduk kepada pemerintahan Rusia. Piagam ini seringkali diangkat ke permukaan akhir-akhir ini untuk membuktikan bahwa secara historis Karabakh merupakan bagian dari Azerbaijan.


        Perang pertama Rusia-Persia pada tahun 1804-1813 pecah untuk memperebutkan dominasi atas khanat Azerbaijan dan berakhir dengan pembagian wilayah Azerbaijan bagi Rusia dan Persia. Piagam perdamaian Gulistan yang ditandatangani pada tanggal 12 Oktober 1813 oleh Rusia dan Persia telah memberikan legalitas yang mengakui aneksasi yang dilakukan Rusia terhadap beberapa khanat di bagian Utara Azerbaijan dengan pengecualian daerah Nakhchivan dan Erivan. Perang kedua Rusia-Persia pecah pada tahun 1826-1828 diakhiri dengan penandatanganan piagam perdamaian Turkmanchai pada tanggal 10 Pebruari 1828 yang memuat pernyataan resmi klaim Persia atas wilayah Utara Azerbaijan serta pengakuan terhadap aneksasi yang dilakukan Rusia terhadap Nakhchivan dan Erivan.
        Penting pula dicatat bahwa sejumlah khanat di atas, tak terkecuali Karabakh yang dianeksasi Rusia, adalah sejatinya milik Azerbaijan. Kesemuanya adalah bangsa Azerbaijan yang sesungguhnya, wilayah yang dikuasai oleh rakyat Azerbaijan, serta komposisi etnis kelompok elite-feodal yang dominan (baik meliputi para khan itu sendiri, maupun para pemilik tanah serta para pemuka agama dan lainnya).
Berdasarkan maklumat Tsar Rusia, Nicholas I, pada tanggal 21 Maret 1828 Khan Nakhchivan dan Erivan dibubarkan serta dialihkan pemerintahannya menjadi sebuah administrasi baru yang disebut “Armenian Oblast” dibawah kendali Rusia. Pada tahun 1849 “Armenian Oblast” berganti nama menjadi provinsi Erivan.


        Antara tahun 1828-1920, dalam rangka mengikuti kebijakan yang bertujuan merubah keseluruhan demografi Azerbaijan, bangsa Armenia bermaksud mengusir sejumlah besar penduduk Azerbaijan. Lebih dari dua juta jiwa penduduk Azerbaijan terusir dari kampung halamannya dan sejumlah lainnya tewas terbunuh. Dalam dua peristiwa pada tahun 1828 dan 1854, Rusia menduduki bagian Timur Anatolia dan dalam kesempatan ini pula mereka telah membawa serta seratus ribu orang Armenia pindah ke Kaukasus untuk merebut posisi orang-orang Turki (dan juga Azerbaijan) yang terpaksa beremigrasi atau meninggal dunia.
        Pada perang 1877-1878, Rusia merampas wilayah Kars-Ardahan dengan mengusir populasi muslim dan menempatkan tujuh puluh ribu orang Armenia sebagai gantinya. Sekitar enam puluh ribu orang Armenia kembali ditempatkan oleh Rusia di Kaukasus dalam perang 1895-1896. Akhirnya migrasi pada perang dunia I terjadi secara besar-besaran dimana sekitar empat ratus ribu orang Armenia dari Timur Anatolia dipindahkan untuk ditukar dengan empat ratus ribu orang muslim Kaukasus.
        Menurut informasi McCarthy, antara tahun 1828-1920 sekitar lima ratus enam puluh ribu orang Armenia kembali ditempatkan di Azerbaijan. Dengan kata lain, bahwa secara aktual pasca pendudukan wilayah Selatan Kaukasus oleh Rusia jumlah orang Armenia di bumi Azerbaijan, khususnya di bagian Utara sungai Araxes, telah bertambah secara dramatis.
        Ketika kita menengok ke Karabakh, segera kita jumpai catatan-catatan resmi bertahun 1810 (sebelum aneksasi Rusia) bahwa khanat Karabakh memiliki dua belas ribu rumah tangga yang dihuni oleh sembilan ribu lima ratus jiwa orang Azerbaijan dan hanya kurang dari dua ribu lima ratus jiwa orang Armenia. Menurut data tahun 1823, terdapat sebuah kota di wilayah khanat Karabakh yaitu kota Susha dan enam ratus desa yang empat ratus lima puluh diantaranya dihuni oleh orang Azerbaijan dan hanya sekitar seratus lima puluh orang Armenia, dengan total populasi sembilan puluh ribu jiwa. Angka-angka relative tentang rumahtangga Azerbaijan dan Armenia di kota Susha mencatat seribu empat puluh delapan dan empat ratus tujuh puluh empat, dan diperkirakan di daerah perkotaan lain dua belas ribu sembilan ratus dua dan empat ribu tiga ratus tiga puluh satu.
        Sejak pertengahan abad 19 M, industri minyak tumbuh pesat di bagian Utara Azerbaijan. Untuk pertama kalinya industri minyak berhasil diperoleh pada tahun 1848. Pada akhir abad 19 M dan awal abad 20 M, daerah ini menyuplai 95% produksi minyak Rusia dan sekitar 50% minyak dunia. Penghargaan-penghargaan dan Rathschilds banyak diraih karena daya tarik minyak tersebut dan telah menjelma menjadi pendapatan yang sangat diperhitungkan. Begitu banyak keuntungan yang diraup berkat hasil industri minyak Azerbaijan.






4. REPUBLIK PERTAMA: REPUBLIK AZERBAIJAN (1918-1920)
        Setelah revolusi 1917 di Rusia, proses keruntuhan dan disintegrasi Imperium tersebut menjadi semakin nyata. Situasi dan kondisi ini banyak dimanfaatkan berbagai etnis di daerah-daerah bekas imperium Rusia untuk membentuk Negara-negara yang merdeka. Maka pada tanggal 28 Mei 1918 Republik Demokrasi Azerbaijan diproklamasikan di daerah bagian Timur kawasan Selatan Kaukasus. Inilah demokrasi parlementer yang pertama di dunia Timur; suatu demokrasi yang memainkan peran historis dalam arus kebangkitan kembali dan pembentukan kesadaran identitas etnik maupun identitas kenegaraan bangsa Azerbaijan. Pada saat itu, pemimpin Azerbaijan adalah Muhammad Amin Rasulzade.
        Perkembangan Republik Demokrasi Azerbaijan baik sebagai bangsa dan Negara didasarkan atas idea “Azerbaijanisme” yang memadukan prinsip-prinsip modernisme, Islamisme dan Turkisme, sekaligus menyimbolkan aspirasi rakyat Azerbaijan untuk maju berdasarkan kesadaran dan keyakinan bersama terhadap peradaban Islam dan identitas ke-Turki-an.
        Selama tak lebih dari dua tahun eksistensi gemilang parlemen Azerbaijan yang multi-partai dan koalisi pemerintahan memimpin negeri untuk mengambil langkah-langkah penting dalam proses pembentukan bangsa dan pembangunan negara yang meliputi bidang pendidikan, pembentukan angkatan bersenjata, kemandirian secara finansial dan sistem ekonomi, serta menjaga citra baik dan pengakuan dunia internasional terhadap Republik muda ini sebagai anggota penuh dalam konteks percaturan antar bangsa. Pada tanggal 11 Januari 1920 diadakan Konferensi Damai Paris yang menghasilkan Piagam Versailles yang mengabadikan pengakuan secara de fakto kemerdekaan Republik Azerbaijan.


Di penghujung tahun 1919 dan awal tahun 1920, situasi politik di Republik Demokrasi Azerbaijan baik domestic maupun luar negeri mulai memburuk. Azerbaijan terjebak dalam peperangan antara Entente, Rusia dan Persia, di mana masing-masing pihak mencoba menanamkan tujuan politiknya terhadap kawasan penting dan strategis serta kaya minyak ini.


5. REPUBLIK KEDUA: REPUBLIK SOSIALIS SOVIET-AZERBAIJAN (1920-1991).
        Keputusan politik yang diambil pemerintah Bolsheviks di Republik Sosialis Federasi Rusia untuk tidak mengakui Republik Demokrasi Azerbaijan dengan mengirim “tentara merah ke-11” ke Azerbaijan pada musim semi 1920, agresi yang dilancarkan rezim Dashnak Armenia ke Azerbaijan di Karabakh dan Zangezur, kelompok-kelompok teroris Armenia dan Bolshevik menggerogoti kedamaian penduduk Azerbaijan di Azerbaijan dan krisis social serta ekonomi yang melanda negeri, adalah beberapa factor yang telah menyebabkan melemahnya Republik Demokrasi Azerbaijan yang berakhir dengan okupasi “tentara merah ke-11” pada tanggal 27-25 April 1920. Seperti dimuat dalam telegram dari Staff Umum Front Kaukasus kepada komandan “tentara merah ke-11” bertanggal 1 Mei 1920, menyebutkan: bahwa tentara Rusia telah diinstruksikan untuk mengambil alih seluruh wilayah Azerbaijan yang terdapat dalam wilayah Imperium Rusia, tanpa melanggar perbatasan dengan Persia.


        Selama tujuh puluh tahun berikutnya, sebagai bagian dari Republik Sosialis Uni-Soviet, dapat dianggap sebagai sebuah tahapan baru dan penting dalam perkembangan Negara Azerbaijan karena selama itu pula Republik Sosialis Soviet-Azerbaijan telah mengalami pertumbuhan dan perkembangan secara social, ekonomi dan budaya.
        Selama era Soviet daerah bagian Nakhchivan dan wilayah-wilayah lainnya telah dianeksasi teroris Zangezur, Goycha, dan digabungkan dengan tetangganya, Armenia. Sebagai akibatnya, wilayah territorial Negara yang pada masa Republik Demokrasi Azerbaijan seluas 114.000 km2 telah berkurang pada tahun 1920-1921 menjadi hanya 86.600 km2. Terlebih lagi pada tanggal 7 Juli 1923, atas inisiatif para pemimpin Moskow-Bolshevik, daerah otonom Nagorno-Karabakh yang secara dominan telah dihuni populasi Armenia, secara artificial dicerabut dari cakupan wilayah territorial sejarah Karabakh, yang dulunya dihuni mayoritas orang-orang Azerbaijan.
        Kebijakan tersebut merupakan langkah awal kampanye politik untuk menganeksasi Nagorno-Karabakh dari bekas wilayah Azerbaijan.




6. REPUBLIK KETIGA: REPUBLIK AZERBAIJAN.
        Pada tahun 1988-1990, gerakan nasional-demokratik di Azerbaijan mengkampanyekan pentingnya melakukan restorasi kemerdekaan Negara. Pada tanggal 23 September 1989, Azerbaijan merupakan salah satu Negara pertama yang memutuskan untuk segera mengakhiri kekuasaan Republik Soviet.


        Dalam rangka menekan gerakan ini pada tanggal 20 Januari 1990 dengan restu para pemimpin Soviet di bawah kepemimpinan Mikhail Gorbachev, beberapa unit tentara Soviet dikirim ke Baku. Tindakan represif pasukan ini cenderung sangat brutal sehingga mengakibatkan ratusan jiwa rakyat Azerbaijan yang tak berdosa jatuh menjadi korban.
        Situasi gawat darurat segera diumumkan dan terus berlanjut hingga pertengahan tahun 1991. Perjuangan yang tak mengenal lelah terus dilakukan para pejuang patriotik Azerbaijan hingga akhirnya berbuahkan Deklarasi Dewan Tertinggi Republik Azerbaijan tanggal 31 Agustus 1991 tentang restorasi kemerdekaan Republik Azerbaijan.
        Deklarasi tersebut mengukuhkan kemerdekaan Negara Republik Azerbaijan dan menyempurnakan perjalanan panjangnya pada tanggal 18 Oktober 1991 dengan tersusunnya fondasi kenegaraan Azerbaijan yang merdeka, serta terumuskannya prinsip-prinsip politik dan struktur perekonomian. Dengan deklarasi tersebut Republik Azerbaijan sekali lagi, setelah tujuh puluh satu tahun lamanya, menjadi negara yang merdeka.


        Pada tahun 1991 Azerbaijan menjadi negara anggota OKI, PBB, UNESCO dan pada tahun 1992 menjadi anggota Konferensi Keamanan dan Kerjasama di Eropa (CSCE), yang kini dikenal dengan Organisasi Keamanan dan Kerjasama di Eropa (OSCE). Pada tahun 1996 masuk keanggotaan Dewan Eropa, dan pada tahun 1997 menjadi anggota GUAM serta lainnya. Dewasa ini Azerbaijan telah menjadi anggota penuh pada sebagian besar organisasi-organisasi regional maupun internasional.



Referensi:

[+/-]Baca Lebih Lanjut? Klik Judul Artikel

Tugas 3: Saya dan Museum Kareta Ngayogyakarta

|

Oleh: Astari Nandhiasa



Kota Yogyakarta identik dengan banyaka hal: batik, becak, gamelan, gudeg, bakpia, kue kipo dari Kota Gede, wedang ronde, pecel lele, wedang uwuh, dll. Maaf kalau saya terlalu banyak menyebutkan nama makanan. Tapi ada satu lagi yang sangat khas Yogya, dan kali ini bukan makanan: delman. Walau jumlahnya sudah sangat berkurang dibandingkan 10 tahun lalu, delman masih mudah ditemukan di Yogya.

Delman sendiri bukan hanya kendaraan bagi rakyat biasa. Atau rakyat jelata seperti saya. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sendiri juga punya delman-delman khusus yang hanya boleh dipakai oleh keluarga Sultan. Delman di keraton tidak disebut dengan delman, tetapi kareta. Kareta-kareta tersebut sekarang disimpan di dalam Museum Kareta Karaton Ngayogyakarta.


Mungkin ada yang berpikir saya salah mengetik Museum Kereta menjadi Museum Kareta. Tapi memang tulisannya Kareta, bukan Kereta. Jangan tanya saya kenapa bisa begitu. Saya juga tidak tahu kenapa. Museum Kareta letaknya tidak jauh dari Keraton. Jaraknya sekitar 150 meter di sebelah kiri keraton.

Kunjungan ini adalah kunjungan ketiga kalinya saya ke Museum Kareta. Yang pertama saat saya masih SD, kedua saat SMP, dan ketiga kalinya kalinya saat guru sejarah saya bernama Pak Shobirin. Kunjungan ketiga itu terjadi pada tanggal 23 April 2011. Sebelum masuk museum, saya membeli tiket masuk seharga Rp 3.000,- dan tanda ijin memotret seharga Rp 1.000,-.

Begitu masuk saya langsung didampingi oleh seorang guide. Semua guide di Museum Kareta merupakan abdi dalem Keraton. Bahkan guide yang mendampingi saya mengaku sudah mengabdi selama 32 tahun walau pun gajinya hanya Rp 2.500,- per bulan. Percaya atau tidak percaya, memang para abdi dalem mempunyai kesetiaan yang sangat tinggi pada Sultan. Menurut guide saya, yang penting bagi para abdi dalem bukanlah nominal gaji yang mereka terima, tapi pengabdian seumur hidup mereka pada Sultan.

Di samping Museum Kareta ada istal kuda. Dulunya di istal ada banyak kuda untuk menarik kereta, tapi sekarang tinggal tersisa satu kuda. Saya lupa tidak menanyakan ke mana kuda-kuda yang lain. Mungkin kuda yang lain sudah uzhur dan sudah dikebumikan. Kalau ternyata salah, saya minta maaf kepada pihak Keraton karena saya membuat analisis sendiri.

Museum Kareta sebenarnya merupakan garasi bagi kereta-kereta Keraton. Di sana terdapat 23 kereta yang memiliki fungsi berbeda-beda. Ada kereta bagi putra Sultan, kereta untuk pelantikan, kereta perang, dll. Karena tidak mungkin menceritakan semuanya sekaligus, saya memilih satu kereta saja, yaitu Kareta Kanjeng Nyai Jimad. Dan saya baru sadar, Pak Shobirin memang memang mengizinkan kami menceritakan satu artefak saja.

Kareta Kanjeng Nyai Jimad adalah kereta yang paling tua di Museum Kareta. Kereta ini merupakan peninggalan Sultan Hamengkubuwono I. Sebenarnya Kareta Kanjeng Nyai Jimad dibuat di Belanda pada tahun 1750. Tapi yang memberikannya kepada Kesultanan Yogyakarta justru Spanyol. Saat itu Spanyol memiliki hubungan perdagangan dengan Keraton.

Dulu Kareta Kanjeng Nyai Jimad dipakai sebagai alat transportasi sehari-hari Sultan Hamengkubuwono I – III. Selain itu pelantikan Sultan Hamengkubuwono I – V juga menggunakan kereta ini. Jadi bisa dibayangkan betapa tua dan pentingnya kereta yang satu ini.

Kuda yang dipakai untuk menarik Kareta Kanjeng Nyai Jimad berjumlah delapan. Kuda-kudanya juga bukan sembarang kuda, tapi harus kuda putih. Dulu pihak Keraton memang memelihara kuda-kuda putih di istal, tapi sekarang sudah tidak ada. Karena itu jika Keraton hendak menggunakan Kareta Kanjeng Nyai Jimad, mereka akan meminjam kuda dari Kavaleri Bandung. Kuda-kuda itu akan melewati semacam seleksi atau audisi dulu sebelum dipilih. Delapan kuda terbaik lah yang nantinya mendapat kehormatan menarik Kareta Kanjeng Nyai Jimad.


Saat saya masih SD, tidak semua orang bisa mengambil gambar Kareta Kanjeng Nyai Jimad dengan kamera. Bukan karena dilarang oleh para abdi dalem, tapi hampir di semua foto kereta tersebut tidak nampak. Jadi jika 10 tahun lalu Anda mencoba mengambil gambar Kareta Kanjeng Nyai Jimad, bisa saja Anda hanya mendapatkan gambar hitam.

Kebetulan ibu saya dulu bisa mengambil gambar kereta keramat itu. Kalau dipikir-pikir ibu saya hebat juga. Tapi sudah sejak 2 tahun yang lalu pihak Keraton mengadakan ritual untuk memohon agar Kareta Kanjeng Nyai Jimad bisa difoto. Jadi saya bisa menyertakan foto saya dengan kereta itu untuk tugas yang satu ini.


Walau begitu, tetap saja ada bagian dari kereta yang tidak bisa difoto dengan jelas. Misalnya hiasan perempuan di bagian depan kereta. Kalau diperhatikan, di foto saya ada bagian kelabu pada hiasan perempuan tersebut. Padahal aslinya semua bagian terbuat dari kayu dan tidak ada yang berwarna kelabu. Biar pun sudah ganti kamera, tetap saja warna kelabu itu tidak hilang.

Sebenarnya hiasan perempuan itu memiliki arti tersendiri. Berdasarkan Perjanjian Giyanti, wilayah Kerajaan Ngayogyakarta mencakup Hutan Beringin di desa Pachetokan. Saat akan membuka Hutan Beringin, Sultan Hamengkubuwono I meminta ijin terlebih dahulu pada penunggu hutan itu. Guide saya menyebut sang penunggu dengan panggilan “beliau”.

“Beliau” mengijinkan Hutan Beringin dijadikan ibu kota Yogya, dengan syarat “beliau” diperistri dan mendampingi keluarga Keraton secara turun termurun. Saya sendiri kurang mengerti apa yang dimaksud dengan memperistri “beliau”. Akhirnya pada bagian depan Kareta Kanjeng Nyai Jimad diberi hiasan perempuan yang merupakan symbol dari “beliau”. Hiasan perempuan tersebut selalu diberi ronce bunga karena “beliau” menyukai ronce bunga.


Hiasan yang terdapat pada Kareta Kanjeng Nyai Jimad tidak hanya hiasan perempuan. Di atas kereta ada hiasan yang kalau diperhatikan berbentuk mahkota raja. Arti dari hiasan tersebut adalah Kareta Kanjeng Nyai Jimad diperuntukkan bagi Sultan Yogya dan hanya boleh dipakai oleh Sultan. Bahkan putra mahkota pun tidak boleh menaikinya karena sebelum menjadi Sultan, putra mahkota memiliki kereta tersendiri.


Lalu di bagian depan ada hiasan naga. Lagi-lagi, hiasan naga ini merupakan symbol dari “beliau”. Menurut guide saya, “beliau” bisa berwujud apa saja, termasuk naga. Dengan meletakkan hiasan naga di depan, berarti Sultan saat menggunakan Kareta Kanjeng Nyai Jimad dilindungi oleh naga.


Kareta Kanjeng Nyai Jimad adalah salah satu kereta yang dikeramatkan. Karena itu orang-orang awam termasuk pengunjung museum tidak boleh sembarangan menyentuhnya. Untuk mencegah hal ini, di sekeliling kereta-kereta yang dikeramatkan diberikan tali pembatas. Tapi tetap saja ada orang yang iseng melanggar pembatas. Sering ada orang tua yang tidak menghiraukan pagar pembatas, lalu menyuruh anaknya duduk di tangga kereta atau menyentuh kereta untuk difoto.

Apa yang terjadi dengan anak-anak itu? Berdasarkan kesaksian para guide, anak-anak itu akan kejang-kejang, kemudian jatuh sambil berteriak-teriak. Saya tidak bohong, guide saya sendiri yang mengatakannya. Kejang-kejang itu baru berhenti saat pada abdi dalem membacakan doa. Makanya jika Anda berkunjung ke Museum Kareta, saya sarankan Anda benar-benar mengikuti aturan yang ada. Jangan merasa tertantang untuk melanggar aturan. Kalau cuma kejang-kejang masih untung, tapi kalau taruhannya nyawa, saya lebih memilih taat aturan. Sekali ini saja.

Di bagian dalam Kareta Kanjeng Nyai Jimad hanya tersedia tempat duduk untuk dua orang. Satu tempat duduk sudah pasti untuk Sultan Hamengkubuwono. Lalu tempat yang satu lagi untuk siapa? Untuk istri Sultan? Atau untuk putra mahkota? Ternyata bukan untuk kedua-duanya, lebih tepatnya tempat duduk itu bukan diperuntukkan bagi manusia. Ya, saya tegaskan sekali lagi, bukan untuk manusia. Tapi untuk “beliau”.

Seperti yang sudah saya sebutkan lagi, “beliau” meminta agar bisa mendampingi keluarga Sultan secara turun termurun. Ini adalah salah satu dari wujud pendampingan “beliau”. Karena itu di dalam Kareta Kanjeng Nyai Jimad, Sultan tidak boleh didampingi oleh manusia sekalipun istrinya.

Kalau begitu siapa yang mengendalikan kereta? Apakah tidak ada yang mengendalikannya? Atau “beliau” juga yang mengendalikan keretanya? Tidak seekstrem itu juga. Walau Kareta Kanjeng Nyai Jimad bisa dibilang kereta yang paling keramat, tetap saja kereta tersebut memerlukan kusir. Tempat duduk kusir ada di luar kereta, di bagian depan.

Layaknya ban mobil atau motor, ban Kareta Kanjeng Nyai Jimad terdiri dari ban dalam dan ban luar. Ban dalam dibuat dari kayu jati, sedangkan bagian luar ban dibuat dari besi. Bahan yang digunakan memang memiliki kualitas terbaik. Bahkan per kereta dibuat dari kulit kerbau.


Sebagai kereta yang dikeramatkan, Kareta Kanjeng Nyai Jimad selalu diberikan sesaji. Sesaji tersebut terdiri dari bunga, pisang raja, dan minuman. Ada aturan tersendiri dalam penyajian minumannya. Saat Jumat Kliwon, minuman harus berjumlah tujuh. Sedangkan pada Selasa Kliwon, sesaji terdiri dari sembilan jenis minuman. Minuman yang disajikan juga harus berbeda-beda. Tidak boleh ada dua jenis minuman yang sama.

Sebetulnya saya mencoba mengambil gambar sesaji dengan kamera saya. Namun entah kenapa yang muncul di layar kamera hanya warna hitam. Waktu saya mencoba kedua kalinya, tetap saja saya hanya mendapat foto hitam. Jadi saya relakan saja foto sesaji itu, walau sebenarnya saya ingin sekali mendapatkan gambar sesaji di depan kereta.

Perlakuan khusus bagi Kareta Kanjeng Nyai Jimad tidak hanya dalam hal pemberian sesaji. Setiap 1 Sura menurut penanggalan Jawa, kereta tersebut selalu dimadikan. Kemudian pada malam Jumat mulai jam 5 sampai jam 8, air yang dipakai untuk memandikan kereta menjadi bahan rebutan orang-orang. Umumnya orang-orang yang memperebutkannya adalah orang-orang yang masih menganut kejawen. Mereka berasal dari luar lingkungan keraton dan berasal dari semua agama.

Museum Kareta adalah museum yang sangat menarik. Apalagi dengan unsur budayanya yang sangat kental, daya tarik dari museum ini semakin bertambah. Kereta-kereta yang dipajang juga tidak sembarangan. Bahkan ada kereta yang terbuat dari emas asli, seperti emas di puncak Monas. Tapi tidak bisa dipungkiri juga kalau saya merasa agak merinding di dalam museum. Mungkin karena guide saya berulang kali menyebutkan “beliau”. Saat dia bercerita bahwa para abdi dalem sering mendengar bunyi dari kereta-kereta yang ada, jujur saja saya tambah merinding. Secara keseluruhan, Museum Kareta adalah museum yang ingin saya datangi lagi.

[+/-]Baca Lebih Lanjut? Klik Judul Artikel

Tugas-2, Saya dan Tokoh Sejarah: Edi Sumono

|

Oleh: Astari Nandhiasa


Proses Mendapatkan Tokoh dan Kesulitan Menghimpun Inforrmasi

Saat pertama diumumkan adanya tugas mewawancarai tokoh sejarah, saya tidak mempunyai ide sama sekali siapa yang harus diwawancarai. Awalnya saya berencana melakukan wawancara dengan Shigetada Nishijima, anak buah Laksamana Tadashi Maeda yang merupakan satu – satunya saksi hidup perumusan Naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Dari nama beliau, dapat ditebak bahwa Shigetada Nishijima adalah orang Jepang. Kini beliau tinggal di Tokyo bersama istrinya. Sempat terpikirkan untuk melakukan wawancara lewat e-mail, namun sayangnya Pak Nishijima tidak memiliki alamat e-mail. Dengan demikian satu alternatif tokoh sejarah sudah hilang.


Kemudian saya ingat, kakek saya dari pihak ibu dulunya adalah pendeta Angkatan Darat. Beliau juga sudah meninggal, tapi Nenek saya masih hidup. Mungkin saja Nenek tahu salah satu cerita dari masa saat Kakek saya masih aktif di Angkatan Darat. Tapi apa boleh buat, karena faktor umur (Nenek saya sudah berusia lebih dari 80 tahun) tidak ada cerita peristiwa yang beliau ingat dengan jelas.

Lagi-lagi saya harus mencari tokoh lain. Dengan bantuan ibu saya, saya mendapatkan satu nama yang memungkinkan untuk tugas ini. Beliau adalah Ibu Yohana, atau yang lebih dikenal dengan Ibu Ari, putri dari Kapten Infantri Angkatan Darat (Purn) Edi Sumono. Kapten Edi Sumono adalah kenalan Kakek saya saat di Angkatan Darat. Sama seperti Kakek saya, Kapten Edi juga sudah meninggal. Karena itu saya hanya bisa mewawancarai putrinya, Ibu Yohana.

Sudah lebih dari lima tahun ini Ibu Yohana berdomisili di Daerah Istimewa Yogyakarta. Mau tidak mau, saya harus melakukan perjalanan ke Yogyakarta untuk menghimpun informasi tentang kehidupan Kapten Edi dan peranannya sebagai saksi dalam peristiwa Tanjung Priok 12 September 1984. Setelah membuat janji temu dengan Ibu Yohana, akhirnya pada tanggal 23 April 2011 saya bisa bertemu dengan beliau.



Dengan Ibu Yohana sebagai narasumber, banyak informasi tentang Kapten Edi yang bisa saya dapatkan. Bahkan suami Ibu Yohana, Pak Ari, ikut menceritakan peristiwa Tanjung Priok 1948 di mana Kapten Edi ikut terlibat. Sayangnya masih banyak informasi vital tentang Kapten Edi yang tidak diceritakan pada saya. Bukan karena Ibu Yohana menganggapnya sebagai privasi yang tidak boleh diusik, tapi karena Ibu Yohana memang tidak ingat (atau tidak tahu).

Saya tidak mungkin mencari tokoh lain hanya karena informasi tentang Kapten Edi kurang. Saya sudah tidak punya waktu lagi. Apalagi kalau orang yang harus saya wawancarai juga tinggal di luar kota seperti Ibu Yohana. Kalau harus ke Yogyakarta masih bisa ditoleransi. Setidaknya Jakarta dan Yogyakarta ada di satu pulau. Tapi bagaimana kalau saya harus ke luar pulau seperti Sumatra atau Kalimantan? Saya tidak mau kalau harus begitu. Dan memang mustahil untuk dilakukan karena keterbatasan waktu dan dana.

Akhirnya Ibu Yohana mengusulkan agar saya bertanya kepada ibu dari Ibu Yohana atau dengan kata lain istri Kapten Edi, Ibu Yosina. Atau saya bisa juga mewawancarai adik Ibu Yohana, yaitu Ibu Vera. Namun Ibu Vera berbeda ayah dari Ibu Yohana. Karena itu beliau tidak begitu mengenal kapten Edi. Satu-satunya pilihan yang tersisa adalah mewawancarai Ibu Yosina.



Saat itu saya lega mendengar usul tersebut. Namun kendala lain muncul: saya tidak mempunyai cukup waktu untuk mewawancarai Ibu Yosina. Pertemuan dengan Ibu Yohana itu saya lakukan pada Sabtu sore. Dan pada malam harinya saya harus kembali ke Jakarta. Tidak mungkin saya tetap di Yogyakarta sampai esoknya karena pada hari Minggu saya ada acara di Jakarta. Lalu saya pun meminta izin pada Ibu Yohana agar saya boleh mewawancarai Ibu Yosina lewat telefon. Ibu Yohana mengizinkan dan memberikan nomor telefon rumah Ibu Yosina kepada saya.



Biografi Kapten Infantri Angkatan Darat (Purn) Edi Sumono

Kapten Edi lahir di Kediri, suatu kota yang terletak di Jawa Timur. Pada tanggal 8 Maret di tahun 1938, beliau terlahir dengan nama lengkap Edi Sumono. Kehidupan Kapten Edi di masa kecil dan remaja, termasuk masa-masa sekolah beliau tidak deiketahui. Hal ini dikarenakan Ibu Yosina, istri Kapten Edi, belum mengenal beliau saat itu. Mereka berkenalan setelah Kapten Edi lulus dari Akademi Militer Nasional (AMN) di Magelang, Jawa Tengah.

AMN adalah kelanjutan dari Akademi Militer Yogyakarta. AMN diresmikan pada 11 November 1957, tahun yang sama dengan tahun Kapten Edi memulai pendidikan di AMN. Saat itu beliau genap berusia 19 tahun dan sudah lulus dari SMA. Walaupun Kapten Edi adalah angkatan pertama di AMN, namun beliau dan angkatannya dinyatakan sebagai taruna Akademi Militer angkatan ke-4. Beliau lulus setelah 4 tahun menempuh pendidikan di AMN. Semua taruna yang lulus mendapatkan gelar Sarjana Pertahanan.

”Setelah itulah saya dan Pak Edi saling kenal. Kami dikenalkan oleh teman Pak Edi yang juga teman saya di gereja,” ujar Ibu Yosina. Saat itu Ibu Yosina dan Kapten Edi hanya berteman. Belum ada hubungan spesial di antara mereka, apalagi setahun setelah itu Kapten Edi ditugaskan di Purworejo, Jawa Tengah.

Namun hubungan pertemanan antara Ibu Yosina dan Kapten Edi tetap berlanjut. Mereka rajin berkirim surat hingga akhirnya bunga-bunga cinta tumbuh di hati keduanya. Dengan cepat mereka menjadikan hubungan mereka ke tingkat yang lebih serius. Keinginan untuk menikah pun tidak dapat dihindari. Namun mereka terhalang peraturan yang menyatakan bahwa selama masa pendidikan, taruna tidak diperkenankan untuk menikah sampai yang bersangkutan telah 2 tahun menjalani ikatan dinas selepas dilantik menjadi letnan dua.Pada tahun 1965, akhirnya Ibu Yosina dan Kapten Edi meresmikan hubungan mereka ke jenjang pernikahan.

“Kami menikah pada 27 September. Pernikahannya sederhana saja, yang penting keluarga datang. Setelah pemberkatan di gereja dan pernikahannya dicatat di Catatan Sipil, kami melakukan resepsi pernikahan yang sederhana. Semuanya dilakukan di Yogyakarta. Setelah itu saya ikut Bapak (Pak Edi, red.) pindah ke Purworejo. Saya senang bisa menemani Bapak bertugas,” kata Ibu Yosina.

Dua tahun setelahnya, pasangan berbahagia itu dikarunia seorang anak, tak lain dan tak bukan adalah Ibu Yohana. Pada tahun 1975, Kapten Edi kembali dipindah tugaskan ke Jakarta, tepatnya beliau bertugas di Angkatan Darat Kodim Cililitan. Inilah tempat tugas terakhir Kapten Edi. Di sana pula beliau memperoleh gelar Kapten Angkatan Darat.

Kapten Edi meninggal pada tahun 1979. Beliau meninggal bukan karena pertempuran atau pun hal-hal yang berkaitan dengan militer. Tapi beliau meninggal karena sakit kanker hati. Sebelum meninggal, beliau ikut terlibat dalam Peristiwa Tanjung Priok. Peristiwa inilah yang akan saya ceritakan berdasarkan data-data yang saya dapat baik dari Ibu Yohana, Pak Ari, maupun Ibu Yosina.


Peristiwa Tanjung Priok

Peristiwa Tanjung Priok terjadi karena adanya demonstrasi oleh organisasi masyarakat Islam garis keras. Mereka menginginkan didirikannya Negara Indonesia dengan ideologi agama Islam. Mungkin inilah yang menjadi cikal bakal munculnya Negara Islam Indonesia (NII) yang marak saat ini. Ada atau tidak adanya hubungan di antara keduanya, saya tidak tahu. Tapi yang pasti keduanya memiliki kesamaan yang signifikan, yaitu mengubah Negara Indonesia menjadi suatu negara Islam.

Ide ini ditentang keras oleh presiden pada masa itu, yaitu Presiden Soeharto. Beliau menolak mentah-mentah usulan pengubahan ideologi Indonesia. Untuk meredam demonstrasi besar-besaran yang terjadi, Presiden Soeharto menurunkan personil Angkatan Darat dalam jumlah yang besar pula. Di antaranya terdapat Kapten Edi. Tentara-tentara Angkatan Darat tersebut berada di bawah pimpinan L.B. Murdani.




Di sinilah saya menemukan keganjilan. Berdasarkan semua sumber yang saya temukan di internet, Peristiwa Tanjung Priok terjadi pada 12 September 1984. Sementara Kapten Edi sendiri meninggal pada tahun 1979.

Bagaimana mungkin peristiwa tersebut terjadi setelah Kapten Edi meninggal? Padahal Kapten Edi jelas-jelas termasuk dalam jajaran tentara yang terlibat langsung dalam Peristiwa Tanjung Priok.

Menurut saya ada dua kemungkinan mengapa terjadi perbedaan tahun kejadian yang sangat mencolok:
1. Mungkin saja narasumber saya (Ibu Yosina dan Pak Ari) dua-duanya salah
mengingat tahun wafatnya Kapten Edi,
2. Bisa saja pemerintah sengaja mengganti tanggal Peristiwa Tanjung Priok untuk
mengaburkan sejarah.

Untuk poin yang pertama, kemungkinan narasumber saya salah menyebutkan tahun bisa saja terjadi. Sebagaimana yang kita ketahui, manusia memiliki batasan dalam ingatan. Karena itu dapat dimaklumi bahwa tahun yang disebutkan pada saya ada yang salah.

Untuk poin kedua, mengapa saya bisa berasumsi adanya pengubahan tanggal Peristiwa Tanjung Priok oleh pemerintah? Menurut apa yang diceritakan Kapten Edi pada istri dan anak-anaknya, dalam kejadian tersebut terjadi pembantaian besar-besaran.


Banyak sekali warga sipil yang meninggal karena ditembak oleh Angkatan Darat. Perintah itu diberikan oleh L.B. Murdani. Tapi siapa yang memberikan izin menembak demonstran pada L.B. Murdani? Sayangnya narasumber saya tidak mengetahui jawaban dari pertanyaan ini.

Korban tewas dari peristiwa ini mencapai jumlah yang relatif banyak. Saya tidak tahu jumlah pastinya, tetapi menurut apa yang diceritakan pada saya, jumlah korban tewas lebih dari 50 orang. Angka ini belum termasuk jumlah orang yang hilang, yang bahkan jumlahnya lebih banyak dari yang tewas. Oleh pemerintah peristiwa ini tidak diekspos ke masyarakat luas.

Kapten Edi secara pasti ikut dalam barisan tentara Angkatan Darat yang meredam demonstrasi, beliau juga saat itu berada di bawah pimpinan L.B. Murdani. Peristiwa Tanjung Priok berdasarkan Komnas HAM juga memiliki data yang serupa. Lalu mengapa tanggal yang tertera jauh berbeda?

Menurut cerita Kapten Edi, Peristiwa Tanjung Priok membawa perubahan yang sangat besar bagi warga yang terlibat. Banyak keluarga yang sanak saudaranya meninggal, banyak pula yang setiap hari berurusan dengan aparat karena mencari anggota keluarganya yang menghilang. Ya, bila ada yang ketahuan mencari anggota keluarga yang hilang, maka orang itu harus berurusan dengan aparat.

Hingga akhir hayat Kapten Edi, masih banyak orang yang hilang karena Peristiwa Tanjung Priok. Malah menurut beliau jumlahnya justru makin bertambah. Karena peristiwa itu, selama beberapa lama Tanjung Priok menjadi area dengan suasana mencekam. Bagi Kapten Edi selaku saksi sejarah, kejadian tersebut adalah mimpi buruk bukan hanya baginya, tapi juga bagi rekan-rekannya, para demonstran, dan keluarga korban.



[+/-]Baca Lebih Lanjut? Klik Judul Artikel

Nyaris 17 Tahun

|

Oleh: Astari Nandhiasa / XI IPA 1


MASA BALITA

Beberapa tahun sebelum saya lahir, orang tua saya pindah dari Jakarta ke Purwokerto, Jawa Tengah. Di sana saya terlahir dengan nama Astari Nandhiasa Sastrohadiwiyoto. Walaupun begitu di dalam akte kelahiran saya tidak ada nama keluarga Sastrohadiwiyoto. Kalau boleh jujur saya sedikit dendam dengan petugas akte yang membuat akte saya. Gara-gara dia, saya tidak punya nama keluarga. Di akte itu pula tertulis tanggal lahir saya, 9 Mei 1994. Ya, saya memang lahir di tanggal itu. Paling tidak tanggal lahir saya di akte tidak salah.

Saat suster di rumah sakit menyerahkan saya yang baru lahir ke ayah saya, yang pertama diucapkan oleh beliau adalah “Ih, anakku kecil amat ya?” Apa boleh buat, berat badan saya waktu lahir hanya 2,25 kg. Supaya Anda bisa membayangkan seberat apa saya dulu, cukup angkat barbel di rumah. Satu barbel biasanya memiliki berat 1 kg. Dengan demikian berat saya sama dengan mengangkat dua barbel ditambah beberapa buku.


Pada masa itu Soeharto adalah presiden Negara Indonesia. Presiden Soeharto memulai Orde Baru dalam dunia politik Indonesia. Kebijakan luar negeri dan dalam negeri yagn dilaksanakan Presiden Soeharto sangat berbeda dibandingkan dengan masa pemerintahan Presiden Soekarno. Selama masa pemerintahannya, kebijakan-kebijakan yang dibuat dan pengeksploitasian sumber daya alam secara besar-besaran menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang besar namun tidak merata di Indonesia. Hal ini menciptakan ketidakpuasan rakyat Indonesia terhadap pemerintah.

Saat masa balita saya tidak ada kejadian yang luar biasa, jauh berbeda dengan apa yang dialami Indonesia pada masa itu. Banyak tragedi yang terjadi, seperti banyaknya aksi protes oleh masyarakat yang menyebabkan banyak korban jiwa di Papua pada akhir tahun 1994 sampai awal tahun 1995, aksi kekerasan dan kekacauan antar ras dan agama pada tahun 1995 sampai tahun 1998 di Maluku, serta terjadinya krisis ekonomi Thailand yang mempengaruhi ekonomi di Asia termasuk Indonesia, menyebabkan nilai mata uang rupiah jatuh pada tahun 1997. Sedangkan pada tanggal 22 Januari 1998, mata uang rupiah menembus angka 17.000,- per dolar AS. Tentunya pada masa-masa seperti itu bangsa Indonesia sangat mengharapkan bantuan dari IMF. Namun IMF bahkan tidak menunjukkan rencana akan memberikan bantuan kepada Indonesia.

Di tahun itu saya berusia empat tahun. Seperti orang tua lain pada umumnya, orang tua saya memutuskan untuk menyekolahkan saya. Mereka memilih TK Penabur Kasih Ibu sebagai sekolah saya yang pertama. Sebagai anak TK, saya tidak mengerti apa pentingnya sekolah. Bagi saya sekolah berarti hanya bertemu teman lalu bermain sampai Mama memanggil saya untuk pulang.

Di TK Penabur Kasih Ibu ada kandang kelinci.yang selalu berisi paling tidak tiga kelinci. Anak – anak TK boleh meemberi merela makan dengan wortel yang sudah disediakan di samping kandang. Kelinci – kelinci inilah yang membuat kami, anak – anak TK, lupa waktu. Bahkan kadang kami menangis jika sudah disuruh pulang tapi masih ingin melihat kelinci.

Masih di tahun 1998, terjadi Tragedi Trisakti dimana adanya aksi kerusuhan dipicu oleh penembakan mahasisawa yang sedang berdemo oleh aparat. Terdapat pula aksi kriminalitas terhadapa kaum keturunan Tionghoa karena dianggap merusak negara Indonesia. Untungnya ayah saya – yang sangat mirip keturunan Tionghoa – sedang tidak di Jakarta. Saya tidak berani membayangkan jika ayah saya saat itu masih di Jakarta. Mungkin beliau bisa menjadi korban kriminalitas karena dikira keturunan Tionghoa. Tak lupa pula aksi para mahasiswa yang meminta turunnya Presiden Soeharto pada sekitar pertengahan Mei 1998.

Akhirnya pada tanggal 21 Mei, Pukul 9.00 WIB, Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya pada pukul 9.00 WIB. Soeharto kemudian mengucapkan terima kasih dan mohon maaf kepada seluruh rakyat dan meninggalkan halaman Istana Merdeka didampingi ajudannya, Kolonel (Kav) Issantoso dan Kolonel (Pol) Sutanto (kemudian menjadi Kepala Polri).  Wakil Presiden B.J. Habibie menjadi presiden baru Indonesia. Dan keesokan harinya beliau mengumumkan susunan "Kabinet Reformasi".




MASA SD ( SEKOLAH DASAR )

Lagi-lagi orang tua saya yang memilihkan sekolah untuk saya, tentunya karena saya masih terlalu kecil dan belom bisa memilih sendiri. Tapi sebenarnya saya juga ikut memilih SD Kristen 1 sebagai sekolah saya. Kenapa saya memilih SD tersebut? Alasannya mudah, karena kakak saya juga alumnus SD Kristen 1. Waktu kecil saya memang selalu meniru Kakak dalam hal apa pun. Karena itu terhitung sejak Juli 1999, saya resmi menjadi siswa SD Kristen 1.

Peristiwa besar yang saya ingat dari masa SD adalah maraknya pengeboman di Indonesia. Walau saya belum mampu mengerti apa itu bom, tragedi pengeboman yang terjadi beberapa kali tersebut sangat membekas di pikiran saya. Aksi – aksi tersebut disinyalir sebagai aksi – aksi terorisme.

Aksi terorisme yang pertama saya tahu adalah peledakan  sebuah bom pada tanggal 1 Agustus 2000 di Kedubes Filipina di Jakarta. Bom meledak dari sebuah mobil yang diparkir di depan rumah Duta Besar Filipina, Menteng, Jakarta Pusat. 2 orang tewas dan 21 orang lainnya luka-luka, termasuk Duta Besar Filipina Leonides T Caday.

Kejadian itu terulang lagi pada tanggal 27 Agustus. Sebuah bom lainnya meledak di Kedubes Malaysia di Jakarta. Bom meledak di kompleks Kedutaan Besar Malaysia di Kuningan, Jakarta. Untungnya di dalam kejadian ini tidak ada korban jiwa. Namun tetap saja kedua aksi pengeboman ini mencoreng nama baik negara Indonesia di mata dunia internasional. Walau pelaku utama pengeboman bukan merupakan warga negara Indonesia, banyak negara yang memberikan travel ban atau larangan berkunjung ke Indonesia bagi rakyatnya.

Belum selesai Indonesia berduka, terjadi serangkaian ledakan bom pada malam Natal tahun 2000 di beberapa kota di Indonesia. Peristiwa ini merenggut nyawa 16 jiwa dan melukai 96 lainnya serta mengakibatkan 37 mobil rusak.

Tahun berikutnya, yaitu tahun 2001, ribuan demonstran berkumpul di Gedung MPR menuntut pengunduran diri Gus Dur pada tanggan 29 Januari. Sementara saya naik ke kelas II SD, Gus Dur dilengserkan dari kursi kepresidenan dan digantikan oleh Megawati Soekarnoputri, yang kemudian menjabat sebagai Presiden RI yang ke 5 (diresmikan 23 Juli). Ekonomi Indonesia membaik ditandai dengan kurs Rupiah yang lebih stabil, walaupun menurut saya di bidang lainnya pembangunan tidak begitu maju. Paruh kedua tahun ini juga diisi oleh banyak kasus bom, mengikuti peristiwa 9/11 yang mengguncang dunia saat itu.

Pada tahun 2002, saya sudah naik ke kelas 3. Bagi saya waktu itu, bisa menjadi siswa kelas tiga saja sudah sangat membanggakan. Bukan karena nilai bagus – nilai saya biasa saja – atau pun ranking yang tinggi, tapi karena sejak kecil saya ingin meniru kakak saya yang kebetulan waktu itu sudah kelas tiga.

Umur saya dan kakak saya berjarak 6 tahun. Begitu akhirnya saya masuk SD, Kakak sudah SMP. Sebelum masuk SD, setiap ada yang bertanya, “Dhea kelas berapa sekarang?”, saya pasti akan menjawab sesuai kelas Kakak saat itu. Kalau Kakak kelas tiga, maka saya akan menjawab kelas tiga. Bagaiman kalau kakak saya sudah kelas lima? Ya pastinya saya juga kelas lima. Pokoknya saya selalu ingin sama dengan Kakak.

Di saat – saat bahagia saya itu, Indonesia belum bisa turut berbahagia. Aksi terorisme belum berhenti begitu saja. Pada 12 Oktober 2002, terjadi peristiwa Bom Bali di sebuah klub malam di daerah Pantai Kuta. 202 orang yang mayoritas turis meninggal, 300 lebih luka-luka. Sebuah bom lainnya meledak di dekat konsul AS di Pantai Sanur yang tidak menimbulkan korban. Pada saat yang bersamaan, di Manado, Sulawesi Utara, bom rakitan juga meledak di kantor Konjen Filipina, namun tidak ada korban jiwa. Peristiwa tersebut sangat merugikan Provinsi Bali yang kehilangan banyak turis mancanegara. Kita tidak bisa menyalahkan mereka yang takut berkunjung ke Bali. Ketakutan mereka akan bom susulan sangat logis dan bisa dimengerti.
 
Tahun 2003 pun tidak lolos dari kasus pemboman, kasus Bom Marriott (5 Agustus) merupakan kasus yang cukup besar saat itu. Kemudian, yang cukup meresahkan masyarakat saat itu adalah kasus pemboman di Mabes Polri Jakarta (3 Februari), karena walaupun tidak memakan korban, kasus ini menimbulkan kesan pada masyarakat bahwa polisi tidak mampu melindungi mereka. Belum lagi pada bulan Mei, kedamaian antara pemerintah dan GAM berakhir, menyebabkan ditugaskannya operasi militer di Aceh.

Setelah tahun – tahun yang penuh dengan kasus pengeboman dan terorisme, pada tahun 2004 dilaksanakan Pemilihan Umum pertama setelah adanya amandemen UUD 1945 tahun 2002. Pemilihan Umum ini dimenangkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono dengan Jusuf Kalla sebagai Wakil Presidennya. Namun ternyata di tahun ini juga masih ada kasus bom, dimana yang terkenal saat itu adalah kasus Bom Kedubes Australia 2004 (9 September). Di tahun ini juga, Indonesia mengalami musibah bencana alam yang hebat dan kecelakaan-kecelakaan transportasi yang bertubi-tubi.

Satu minggu setelah saya Ulangan Akhir Semester I kelas V, pada tanggal 26 Desember 2004, terjadi tsunami yang menghantam wilayah Sumatra Utara dan Aceh, menelan sekitar 220 ribu korban jiwa. Tsunami tersebut dipicu oleh gempa berkekuatan 9,3 skala Richter yang terjadi beberapa menit sebelumnya. Bencana ini dianggap sebagai bencana internasional karena efek tsunami tidak hanya menimpa Indonesia, tetapi juga negara – negara lainnya.  Kejadian ini juga secara tidak langsung menarik operasi militer di Aceh yang sedang melawan GAM.

Awal pertengahan tahun 2006 merupakan tahun terakhir saya di Sekolah Dasar. Khusus untuk menghadapi Ujian Akhir, saya belajar dengan sungguh – sungguh. Sebetulnya bukan hanya untuk ujian akhir, tapi juga tes penerimaan siswa baru SMP Negeri 2. Untuk pertama kalinya saya ikut andil dalam memilih sekolah. Dan akhirnya saya pun diterima di sekolah tersebut.


MASA SMP (SEKOLAH MENENGAH PERTAMA)

Awalnya sebelum masuk SMP saya sempat membayangkan seperti apa MOS yang akan saya jalani nanti. Ternyata tidak separah yang saya kira, bahkan saya lumayan akrab dengan kakak – kakak OSIS dan tentunya dengan angkatan saya. Kebetulan saya diterima di kelas internasional. Ini pertama kalinya saya belajar di kelas internasional, dan saya membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Bukan dengan teman – teman seangkatan, tetapi dengan pelajarannya. Saya belum terbiasa dengan pelajaran yang berbahasa pengantar bahasa Inggris.

Sejujurnya saya tidak berniat memilih kelas internasional. Mama saya yang menganjurkannya. Saat saya tanya kenapa, beliau hanya menjawab, “Anggep iseng – iseng aja. Kamu juga enggak rugi apa – apa kan kalo masuk kelas internasional?”. Ya sudah, sesuai anjuran Mama, saya “iseng – iseng” mencoba kelas internasional.

Di tahun 2006 ini kembali meletus konflik perbatasan dengan Timor Leste pada bulan Januari. Tanggal 22 April, ribuan massa berkumpul untuk menolak RUU Anti Pornografi Pornoaksi. Tanggal 27 Mei, terjadilah bencana Lumpur Lapindo, yang menggenangi wilayah Sidoarjo, Jawa Timur, dan sampai saat ini belum dapat ditanggulangi sepenuhnya. Ganti rugi bagi korban Lumpur Lapindo pun tidak jelas kelanjutannya. Akhir tahun ini ditutup dengan kasus yang tragis, dimana pada tanggal 30 Desember KM Senopati Nusantara yang mengangkut 825 orang hilang di sekitar utara Pulau Mundanika, dan baru ditemukan 117 orang.

Awal tahun 2007, di malam tahun baru terjadi musibah Adam Air Penerbangan 574 yang hingga kini masih menyisakan misteri. Seluruh penumpang dan awak pesawat tidak pernah diketemukan jenasahnya dan dianggap meninggal. Kejadian ini terjadi saat saya akan naik ke kelas VIII. Liburan kenaikan kelas saat itu saya manfaatkan untuk belajar surfing di Pantai Kuta, Bali. Hasilnya lumayan, paling tidak saya sudah tidak mudah jatuh dari surf board. Tapi saya mendapatkan memar yang lebih luas dari pantat botol karena menghantam surf board saat jatuh.

27 Januari 2008, mantan presiden Soeharto meninggal dunia karena komplikasi kesehatan. Di bulan Mei, Presiden SBY mengumumkan rencananya untuk Indonesia mundur dari Organisasi Pengekspor Minyak Sedunia karena impor minyak Indonesia sudah lebih besar dari jumlah ekspornya serta produksi minyak yang gagal. Terjadi demonstrasi atas rencana pemerintah menaikkan harga minyak untuk mengurangi subsidi pemerintah.

Setahun kemudian saya sudah di tahun akhir SMP dan harus menentukan SMA mana yang akan saya pilih. Karena orang tua saya memutuskan kembali ke Jakarta, maka saya semakin bingung memilih SMA. Tadinya saya ingin masuk SMA 70 karena Mama dulu juga bersekolah di sana.

Tapi kemudian Kak Addo, sepupu saya, menyarankan untuk masuk SMA Labschool Kebayoran (lebih dikenal dengan Labsky). Kebetulan Kak Addo adalah angkatan Catruka atau angkatan 4. Kak Addo yang memanas-manasi saya untuk mencoba tes masuk Labsky. Teteh (angkatan 3 /  Triseka), Kak Addo, dan Kak Antya (angkatan 5 / Pancatra) menceritakan tentang Labsky terutama Pra TO, TO, penjelajahan TO, Lalinju, dan Bintama setiap saat. Akhirnya saya tertarik juga dengan Labsky.


MASA SMA (SEKOLAH MENENGAH PERTAMA)

Setelah lolos tes masuk Labsky, saya justru bingung memilih antara Labsky dan SMA 70. Orang tua saya tidak ikut memilihkan sekolah karena menurut mereka saya harus menentukannya sendiri. Saya tidak tahu harus bagaimana, lalu saya cap-cip-cup dan memilih Labsky. Dengan demikian saya tidak perlu pusing-pusing lagi.

MOS di Labsky sangat berbeda saat saya masih SMP. Jujur saja MOS SMA ini lebih seru dan lebih disiplin. Di hari kelima menjadi siswa SMA, saat sedang Ekspo Ekskul, terjadi peristiwa bom yang meledak di dua hotel kawasan Kuningan (J.W. Marriot dan Ritz Carlton) pukul 07.45 WIB. Saya baru mengetahui berita itu saat sedang istirahat kedua. Selama bermingu-minggu berita tersebut menjadi bahan pembicaraan orang.

Setelah itu saya menjalani Pra-TO dengan kakak-kakak OSIS hingga mendapatkan nama angkatan Nawa Drastha Sandyadira (Nawastra). Tidak lupa pula Trip Observasi di Kampung Pasir Muncang. Di sana kami mempelajari kehidupan desa, bekerja di sawah, melakukan obsevasi dan presentasi. Yang paling berkesan dari TO adalah penjelajahan. Saya sendiri tidak mengerti kenapa bisa terkesan.

Bulan April 2010 muncul kasus kerusuhan di Koja, di area makam Mbah Priok dan sekitarnya. Peristiwa ini melibatkan bentrokan Satpol PP dan warga. Pada bulan Mei, diadakan sensus penduduk, yang kemudian diperpanjang sampai 15 Juni 2010. Setiap warga Indonesia wajib mendaftarkan diri dan keluarganya.

Di akhir kelas X sesudah UKK, Nawastra melaksanakan Bintama di Grup I Kopassus Serang. Mulai dari tanggal 12-17 Juni, kami tinggal di barak, belajar tata upacara militer, LCR, survival, dan lain-lain. Yang paling penting adalah Nawastra menjadi semakin kompak dan disiplin.

Bulan Juli saya kembali ke sekolah dan ditempatkan di kelas XI IPA 1, kelas saya sekarang ini. Sejak saat itu banyak kasus korupsi yang terkuak, seperti kasus Gayus. Sebagai pegawai pajak yang baru masuk, Gayus memiliki kekayaan yang jumlahnya tidak masuk akal.

Tak beda dengan akhir tahun 2010, tahun 2011 masih didominasi oleh kasus korupsi. Kasus Gayus pun belum selesai diproses. Seperti mengingat masa lalu, pengeboman kembali terjadi di Indonesia. Namun kali ini bom yang dikirimkan disamarkan dalam sebuah buku. Kejadian Bom Buku pertama kali dikirimkan untuk Ulil Abshar Abdalla pada tanggal 15 Maret 2011. Sejak itu Bom Buku ditemukan dalam paket kiriman ke beberapa tempat.


MASA DEPAN

Cita-cita saya sejak kecil tidak pernah konsisten. Dulu saya ingin menjadi arsitek. Tapi karena gambar saya jelek, saya berpindah haluan menjadi diplomat, lalu Gubernur BI, lalu sekarang saya tidak tahu lagi ingin bekerja sebagai apa.

Satu yang pasti, saya ingin lulus dari Labsky tahun 2012 dan masuk ITB melalui jalur SPMB undangan. Mungkin saya akan menjadi mahasiswa Fakultas Teknik Elektro, atau Teknik Industri, atau teknik apa pun selama bukan Teknik Kimia. Bukannya saya anti dengan Pak Yusuf (guru kimia saya), tapi saya memang agak lemah di kimia.

Sesudah menyelesaikan S1 dengan IP yang – mudah-mudahan – tinggi, saya akan mencari beasiswa untuk S2 jurusan Ekonomi Manajemen atau Bisnis. Saya sudah merencanakan untuk S2 tapi belum tahu fakultas yang tepat untuk S1.

Seperti yang sudah saya katakana sebelumnya, saya tidak punya keinginan khusus untuk perkerjaan. Hanya saja saya tertarik bekerja di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Lebih khususnya lagi, saya berharap bisa ditempatkan di UNICEF (United Nations International Children’s Emergency Fund). Apa pun yang terjadi nanti, saya berharap itu yang terbaik untuk saya. Amin.



Sumber:
-          www.wikipedia.com
-          www.gimonca.com

[+/-]Baca Lebih Lanjut? Klik Judul Artikel

 

Design modified by mugimunteng | Basic Design by Dzignine in Collaboration with Trucks, SUV, Kidney Stones