otakatikawas!

otakatikawas!
Showing posts with label Inas Raras Maheningtyas. Show all posts
Showing posts with label Inas Raras Maheningtyas. Show all posts

TUGAS-4 : SAYA DAN NEGARA MATAHARI TERBIT a.k.a JEPANG

|

Nama : Inas Raras Maheningtyas
Kelas  : XI IPA 1

Seperti yang telah kita dengar melalui berita bahwa baru-baru ini, di awal tahun 2010, malapetaka besar telah menimpa sebagian Negara Jepang atau yang sering disebut sebagai Negara Matahari Terbit. Namun, hebatnya, berkat usaha dan persiapan siaga bencana dari pemerintahan Jepang, angka korban dari bencana Tsunami tersebut dapat dikurangi dalam jumlah yang sangat mengejutkan. Hal tersebut mendorong saya untuk mengetahui lebih dalam mengenai Negara Jepang, sehingga berikut ini saya akan membahas mengenai Negara tersebut.

Jepang, berada di peringkat ke-10 negara berpenduduk terbanyak di dunia. Tokyo secara de facto adalah ibu kota Jepang, dan berkedudukan sebagai sebuah prefektur. Tokyo Raya adalah sebutan untuk Tokyo dan beberapa kota yang berada di prefektur sekelilingnya. Sebagai daerah metropolitan terluas di dunia, Tokyo Raya berpenduduk lebih dari 30 juta orang.
Simbol Kekaisaran Negara Jepang


Gunung Fuji


Geografi

Jepang (bahasa Jepang: Nippon/Nihon) adalah sebuah negara kepulauan di Asia Timur. Letaknya di ujung barat Samudra Pasifik, di sebelah timur Laut Jepang, dan bertetangga dengan Republik Rakyat Cina, Korea, dan Rusia. Pulau-pulau paling utara berada di Laut Okhotsk, dan wilayah paling selatan berupa kelompok pulau-pulau kecil di Laut Cina Timur, tepatnya di sebelah selatan Okinawa yang bertetangga dengan Taiwan.

Jepang terdiri dari 6.852 pulau yang membuatnya merupakan suatu kepulauan. Pulau-pulau utama dari utara ke selatan adalah Hokkaido, Honshu (pulau terbesar), Shikoku, dan Kyushu. Sekitar 97% wilayah daratan Jepang berada di keempat pulau terbesarnya. Sebagian besar pulau di Jepang bergunung-gunung, dan sebagian di antaranya merupakan gunung berapi. Gunung tertinggi di Jepang adalah Gunung Fuji yang merupakan sebuah gunung berapi.



Peta Negara Kepulauan Jepang

Ekonomi

Sebagai negara maju di bidang ekonomi, Jepang memiliki produk domestik bruto terbesar nomor dua setelah Amerika Serikat, dan masuk dalam urutan tiga besar dalam keseimbangan kemampuan berbelanja. Jepang adalah anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa, G8, OECD, dan APEC. Jepang memiliki kekuatan militer yang memadai lengkap dengan sistem pertahanan moderen seperti AEGIS serta suat armada besar kapal perusak. Dalam perdagangan luar negeri, Jepang berada di peringkat ke-4 negara pengekspor terbesar dan peringkat ke-6 negara pengimpor terbesar di dunia.

Sebagai negara maju, penduduk Jepang memiliki standar hidup yang tinggi (peringkat ke-8 dalam Indeks Pembangunan Manusia) dan angka harapan hidup tertinggi di dunia menurut perkiraan PBB. Dalam bidang teknologi, Jepang adalah negara maju di bidang telekomunikasi, permesinan, dan robotika.


Bendera Jepang


Zaman Pra Sejarah

Jepang telah dihuni manusia purba setidaknya 600.000 tahun yang lalu, pada masa Paleolitik Bawah, berdasarkan penelitian arkeologi. Setelah beberapa zaman es yang terjadi pada masa jutaan tahun yang lalu, Jepang beberapa kali terhubung dengan daratan Asia melalui jembatan darat (dengan Sakhalin di utara, dan kemungkinan Kyushu di selatan), sehingga memungkinkan perpindahan manusia, hewan, dan tanaman ke kepulauan Jepang dari wilayah yang kini merupakan Republik Rakyat Cina dan Korea. Zaman Paleolitik Jepang menghasilkan peralatan bebatuan yang telah dipoles yang pertama di dunia, sekitar tahun 30.000 SM.


Dengan berakhirnya zaman es terakhir dan datangnya periode yang lebih hangat, kebudayaan Jomon muncul pada sekitar 11.000 SM, yang bercirikan gaya hidup pemburu-pengumpul semi-sedenter Mesolitik hingga Neolitik dan pembuatan kerajinan tembikar terawal di dunia. Diperkirakan bahwa penduduk Jomon merupakan nenek moyang suku Proto-Jepang dan suku Ainu masa kini.

Dimulainya periode Yayoi pada sekitar 300 SM menandai kehadiran teknologi-teknologi baru seperti bercocok tanam padi di sawah yang berpengairan dan teknik pembuatan perkakas dari besi dan perunggu yang dibawa serta migran-migran dari Cina atau Korea.

Zaman Klasik

Bagian sejarah Jepang meninggalkan dokumen tertulis dimulai pada abad ke-5 dan abad ke-6 Masehi, saat sistem tulisan Cina, agama Buddha, dan kebudayaan Cina lainnya dibawa masuk ke Jepang dari Kerajaan Baekje di Semenanjung Korea. Perkembangan selanjutnya Buddhisme di Jepang dan seni ukir rupang sebagian besar dipengaruhi oleh Buddhisme Cina. Walaupun awalnya kedatangan agama Buddha ditentang penguasa yang menganut Shinto, kalangan yang berkuasa akhirnya ikut memajukan agama Buddha di Jepang, dan menjadi agama yang populer di Jepang sejak zaman Asuka.

Pada tahun 784, Kaisar Kammu memindahkan ibu kota ke Nagaoka-kyō, dan berada di sana hanya selama 10 tahun. Setelah itu, ibu kota dipindahkan kembali ke Heian-kyō (kini Kyoto). Kepindahan ibu kota ke Heian-kyō mengawali periode Heian yang merupakan masa keemasan kebudayaan klasik asli Jepang, terutama di bidang seni, puisi dan sastra Jepang. Hikayat Genji karya Murasaki Shikibu dan lirik lagu kebangsaan Jepang Kimi ga Yo berasal dari periode Heian.


Huruf Kanji Jepang


Zaman Pertengahan

Abad pertengahan di Jepang merupakan zaman feodalisme yang ditandai oleh perebutan kekuasaan antarkelompok penguasa yang terdiri dari ksatria yang disebut samurai. Pada tahun 1185, setelah menghancurkan klan Taira yang merupakan klan saingan klan Minamoto, Minamoto no Yoritomo diangkat sebagai shogun, dan menjadikannya pemimpin militer yang berbagi kekuasaan dengan Kaisar. Pemerintahan militer yang didirikan Minamoto no Yoritomo disebut Keshogunan Kamakura karena pusat pemerintahan berada di Kamakura (di sebelah selatan Yokohama masa kini). Setelah wafatnya Yoritomo, klan Hōjō membantu keshogunan sebagai shikken, yakni semacam adipati bagi para shogun. Keshogunan Kamakura berhasil menahan serangan Mongol dari wilayah Cina kekuasaan Mongol pada tahun 1274 dan 1281. Meskipun secara politik terbilang stabil, Keshogunan Kamakura akhirnya digulingkan oleh Kaisar Go-Daigo yang memulihkan kekuasaan di tangan kaisar. Kaisar Go-Daigo akhirnya digulingkan Ashikaga Takauji pada 1336. Keshogunan Ashikaga gagal membendung kekuatan penguasa militer dan tuan tanah feodal (daimyo) dan pecah perang saudara pada tahun 1467 (Perang Ōnin) yang mengawali masa satu abad yang diwarnai peperangan antarfaksi yang disebut masa negeri-negeri saling berperang atau periode Sengoku.


Patung Buddha


Zaman Modern

Pada 31 Maret 1854, kedatangan Komodor Matthew Perry dan "Kapal Hitam" Angkatan Laut Amerika Serikat memaksa Jepang untuk membuka diri terhadap Dunia Barat melalui Persetujuan Kanagawa. Persetujuan-persetujuan selanjutnya dengan negara-negara Barat pada masa Bakumatsu membawa Jepang ke dalam krisis ekonomi dan politik. Kalangan samurai menganggap Keshogunan Tokugawa sudah melemah, dan mengadakan pemberontakan hingga pecah Perang Boshin tahun 1867-1868. Setelah Keshogunan Tokugawa ditumbangkan, kekuasaan dikembalikan ke tangan kaisar (Restorasi Meiji) dan sistem domain dihapus. Semasa Restorasi Meiji, Jepang mengadopsi sistem politik, hukum, dan militer dari Dunia Barat. Kabinet Jepang mengatur Dewan Penasihat Kaisar, menyusun Konstitusi Meiji, dan membentuk Parlemen Kekaisaran. Restorasi Meiji mengubah Kekaisaran Jepang menjadi negara industri modern dan sekaligus kekuatan militer dunia yang menimbulkan konflik militer ketika berusaha memperluas pengaruh teritorial di Asia. Setelah mengalahkan Cina dalam Perang Sino-Jepang dan Rusia dalam Perang Rusia-Jepang, Jepang menguasai Taiwan, separuh dari Sakhalin, dan Korea.

Pada awal abad ke-20, Jepang mengalami "demokrasi Taisho" yang dibayang-bayangi bangkitnya ekspansionisme dan militerisme Jepang. Semasa Perang Dunia I, Jepang berada di pihak Sekutu yang menang, sehingga Jepang dapat memperluas pengaruh dan wilayah kekuasaan. Jepang terus menjalankan politik ekspansionis dengan menduduki Manchuria pada tahun 1931. Dua tahun kemudian, Jepang keluar dari Liga Bangsa-Bangsa setelah mendapat kecaman internasional atas pendudukan Manchuria. Pada tahun 1936, Jepang menandatangani Pakta Anti-Komintern dengan Jerman Nazi, dan bergabung bergabung bersama Jerman dan Italia membentuk Blok Poros pada tahun 1941.

Pada tahun 1937, invasi Jepang ke Manchuria memicu terjadinya Perang Sino-Jepang Kedua (1937-1945) yang membuat Jepang dikenakan embargo minyak oleh Amerika Serikat. Pada 7 Desember 1941, Jepang menyerang pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbor, dan menyatakan perang terhadap Amerika Serikat, Inggris, dan Belanda. Serangan Pearl Harbor menyeret AS ke dalam Perang Dunia II. Setelah kampanye militer yang panjang di Samudra Pasifik, Jepang kehilangan wilayah-wilayah yang dimilikinya pada awal perang. Amerika Serikat melakukan pengeboman strategis terhadap Tokyo, Osaka dan kota-kota besar lainnya. Setelah AS menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang akhirnya menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945 (Hari Kemenangan atas Jepang).


Menara Tokyo

Perang membawa penderitaan bagi rakyat Jepang dan rakyat di wilayah jajahan Jepang. Berjuta-juta orang tewas di negara-negara Asia yang diduduki Jepang di bawah slogan Kemakmuran Bersama Asia. Hampir semua industri dan infrastruktur di Jepang hancur akibat perang. Pihak Sekutu melakukan repatriasi besar-besaran etnik Jepang dari negara-negara Asia yang pernah diduduki Jepang. Pengadilan Militer Internasional untuk Timur Jauh yang diselenggarakan pihak Sekutu mulai 3 Mei 1946 berakhir dengan dijatuhkannya hukuman bagi sejumlah pemimpin Jepang yang terbukti bersalah melakukan kejahatan perang.

Pada tahun 1947, Jepang memberlakukan Konstitusi Jepang yang baru. Berdasarkan konstitusi baru, Jepang ditetapkan sebagai negara yang menganut paham pasifisme dan mengutamakan praktik demokrasi liberal. Pendudukan AS terhadap Jepang secara resmi berakhir pada tahun 1952 dengan ditandatanganinya Perjanjian San Francisco. Walaupun demikian, pasukan AS tetap mempertahankan pangkalan-pangkalan penting di Jepang, khususnya di Okinawa. Perserikatan Bangsa-Bangsa secara secara resmi menerima Jepang sebagai anggota pada tahun 1956.

Seusai Perang Dunia II, Jepang mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat, dan menempatkan Jepang sebagai kekuatan ekonomi terbesar nomor dua di dunia, dengan rata-rata pertumbuhan produk domestik bruto sebesar 10% per tahun selama empat dekade. Pesatnya pertumbuhan ekonomi Jepang berakhir pada awal tahun 1990-an setelah jatuhnya ekonomi gelembung.

Budaya

Kini, Jepang merupakan salah sebuah pengekspor budaya pop yang terbesar. Anime, manga, mode, film, kesusastraan, permainan video, dan musik Jepang menerima sambutan hangat di seluruh dunia, terutama di negara-negara Asia yang lain. Pemuda Jepang gemar menciptakan trend baru dan kegemaran mengikut gaya mereka memengaruhi mode dan trend seluruh dunia. Pasar muda-mudi yang amat baik merupakan ujian untuk produk-produk elektronik konsumen yang baru, di mana gaya dan fungsinya ditentukan oleh pengguna Jepang, sebelum dipertimbangkan untuk diedarkan ke seluruh dunia.

Baru-baru ini Jepang mula mengekspor satu lagi komoditas budaya yang bernilai: olahragawan. Popularitas pemain bisbol Jepang di Amerika Serikat meningkatkan kesadaran warga negara Barat tersebut terhadap segalanya mengenai Jepang.


Sashimi Makanan Tradisional Jepang

Orang Jepang biasanya gemar memakan makanan tradisi mereka. Sebagian besar acara TV pada waktu petang dikhususkan pada penemuan dan penghasilan makanan tradisional yang bermutu. Makanan Jepang mencetak nama di seluruh dunia dengan sushi, yang biasanya dibuat dari pelbagai jenis ikan mentah yang digabungkan dengan nasi dan wasabi. Sushi memiliki banyak penggemar di seluruh dunia. Makanan Jepang bertumpu pada peralihan musim, dengan menghidangkan mi dingin dan sashimi pada musim panas, sedangkan ramen panas dan shabu-shabu pada musim dingin.

Tsunami Melanda Jepang

Tsunami Jepang melanda Pulau Honshu setelah terjadi gempa berkekuatan dahsyat 8,8 pada skala Richter. Delapan orang tewas sementara puluhan lainnya terluka akibat tsunami di Jepang ini. Seperti dilansir NHK World, tsunami di Jepang tersebut mencapai ketinggian empat meter dan datang dengan tiba-tiba. Warga di daerah Pulau Honshu terjebak di dalam bangunan-bangunan yang dittinggali, sementara akses jalan tertutup dengan air dari laut.

Tsunami Menerpa Jepang tahun 2010



Gempa dengan kekuatan 8,8 skala Richter yang mengakibatkan tsunami tersebut berpusat di sekitar 382 km arah timur laut Tokyo dan di kedalaman 10 km. Getaran gempa terasa di hampir semua wilayah pesisir pantai pasifik Jepang, ternasuk daerah Osaka dan Tokyo.


Sumber:
2.      emon-wook.blogspot.com
3.      http://hotlinenow.blogspot.com/2011/

[+/-]Baca Lebih Lanjut? Klik Judul Artikel

TUGAS-3 : SAYA DAN PRASASTI CANGGAL DI MUSEUM NASIONAL INDONESIA a.k.a MUSEUM GAJAH

|


Nama : INAS RARAS MAHENINGTYAS
Kelas : XI IPA 1

Kunjungan ke Museum Gajah

Seusai bel tanda pulang sekolah SMA Labschool Kebayoran berbunyi, sekitar pukul 13.00 hari Jum’at, 20 Mei 2011, Saya dan sebagian besar teman-teman saya dari kelas XI IPA 1 berangkat menuju ke Jakarta Pusat, tepatnya Jalan Medan Merdeka Barat no.12, dimana Museum Nasional Indonesia atau yang lebih kita kenal sebagai Museum Gajah, berdiri. Museum Gajah merupakan salah satu objek wisata yang terkenal di kota Jakarta. Mendengar kabar bahwa museum ini telah direnovasi dan memiliki gedung baru, akhirnya kami semua sepakat untuk mengunjungi museum ini.

Rombongan terdiri dari saya, Hana, Naad, Adis, Adira, Della, Kiki, Eka, Akla, Kayrana, Cintya, Michelle, Olaf, Andry, Okti, Ifan, Yoga, dan Heza. Karena peserta rombongan cukup banyak, kami membaginya menjadi tiga kloter, dimana masing-masing kloter berangkat dengan kendaraan berbeda-beda. Kedatangan kami disambut baik oleh petugas penjaga museum. Beliau bermurah hati memberikan kami keringanan dan mengganti tiket kami yang seharusnya masuk ke dalam kategori “dewasa” sebesar Rp 5000,- menjadi kategori “anak-anak” sebesar Rp 2000,-.

Kami memulai kunjungan kami dengan melihat-lihat ke dalam gedung lama, namun kami tidak menemukan artefak atau barang-barang sejarah menarik yang akan kami jadikan objek penelitian. Akhirnya kami pindah dan memasuki gedung yang baru dibangun. Gedung tersebut terdiri dari empat lantai, ditambah dengan basement, dimana tiap lantai dihubungkan dengan escalator. Kami menelusuri tiap lantai dan akhirnya menemukan bermacam-macam benda-benda sejarah yang menarik di dalamnya.


Pertama kali memasuki museum, kami memasuki ruangan bagian Sejarah Nusantara dimana dipajang bermacam-macam peninggalan dan benda-benda bersejarah seperti perahu, topeng, dan lain sebagainya. Namun karena gedung tersebut sudah pernah kami kunjungi sebelumnya, akhirnya kami memutuskan untuk meneruskan ke ruang arca,di dalam sini terdapat banyak partung-patung dan prasasti yang ditemukan di seluruh derah nusantara, kemudian pencarian kami lanjutkan ke lantai 2 hingga lantai 3 gedung baru. Kami melihat banyak artefak-artefak peninggalan masa lalu, contoh-contoh rumah adat, barang-barang yang digunakan pada jaman dahulu, serta fosil-fosil homo soloensis.

Kemudian kami diperkenalkan dengan kebudayaan-kebudayan dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Papua, Nusa Tenggara Barat, Batak, Sulawesi, dan Jawa. Di bagian kebudayaan Jawa terdapat berbagai jenis gamelan, keris-keris dengan beraneka ragam bentuk, serta terdapat miniatur pulau jawa dilengkapi dengan peta-peta serta ilustrasi gunung-gunung berapi di pulau tersebut.

Mengenai Museum Gajah

Museum Nasional Indonesia atau yang dikenal sebagai Museum Gajah, memiliki icon patung gajah yang berada di depan bangunan museum. Dibangun pada tahun 1862 oleh Pemerintah Belanda, Museum ini terpelihara dengan baik hingga sekarang. Saya dapat melihat dari penampilan luar museum ini yang sangat asri, dihiasi penghijauan di sekitar patung gajah perunggu.

Museum Nasional mempunyai visi yang mengacu kepada visi Departemen Kebudayaan dan Pariwisata yaitu “Terwujudnya Museum Nasional sebagai pusat informasi budaya dan pariwisata yang mampu mencerdaskan kehidupan bangsa, meningkatkan peradaban dan kebanggaan terhadap kebudayaan national, serta memperkokoh persatuan dan persahabatan antar bangsa”.

Museum Nasional dikenal sebagai Museum Gajah sejak dihadiahkannya patung gajah perunggu oleh Raja Chulalongkorn dari Thailand pada 1871. Tetapi pada 28 Mei 1979, namanya resmi menjadi Museum Nasional Republik Indonesia. Kemudian pada 17 September 1962, Lembaga Kebudayaan Indonesia yang mengelolanya, menyerahkan Museum kepada pemerintah Republik Indonesia. Sejak itu pengelolaan museum resmi oleh Direktorat Jendral Sejarah dan Arkeologi, di bawah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Tetapi mulai tahun 2005, Museum Nasional berada di bawah pengelolaan Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata.


Museum ini diresmikan pada tahun 1868, tapi secara institusi cikal bakal Museum ini lahir tahun 1778, tepatnya tanggal 24 April, pada saat pembentukan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen oleh pemerintah Belanda. Catatan di website Museum Nasional Republik Indonesia pada tahun 2001 menunjukkan bahwa koleksinya telah mencapai 109.342 buah. Jumlah koleksi itulah yang membuat museum ini dikenal sebagai yang terlengkap di Indonesia. Pada tahun 2006 jumlah koleksinya sudah melebihi 140.000 buah, tapi baru sepertiganya saja yang dapat diperlihatkan kepada pengunjung.

Museum Gajah banyak mengkoleksi benda-benda kuno dari seluruh Nusantara. Antara lain yang termasuk koleksi adalah arca-arca kuno, prasasti, benda-benda kuna lainnya dan barang-barang kerajinan. Koleksi-koleksi tersebut dikategorisasikan ke dalam etnografi, perunggu, prasejarah, keramik, tekstil, numismatik, relik sejarah, dan benda berharga. Sumber koleksi banyak berasal dari penggalian arkeologis, hibah kolektor sejak masa Hindia Belanda dan pembelian. Koleksi keramik dan koleksi etnografi Indonesia di museum ini terbanyak dan terlengkap di dunia. Museum ini merupakan museum pertama dan terbesar di Asia Tenggara.

Prasasti Canggal

Saat memasuki bagian arca, Saya melihat terdapat beraneka ragam prasasti-prasasti kuno di ruangan tersebut. Lalu mata saya tertarik oleh sebuah prasasti yang berada di ujung ruangan. Ukurannya memang tidak sebesar prasasti Tugu yang langsung menarik perhatian pengunjung, namun prasasti ditemukan di halaman Candi Gunung Wukir di desa Kadiluwih, kecamatan Salam, Magelang, Jawa Tengah ini memiliki cerita sejarahnya tersendiri.

Prasasti Canggal dipandang sebagai pernyataan diri Raja Sanjaya pada tahun 732 sebagai seorang penguasa universal dari Kerajaan Mataram Kuno. Prasasti yang ditulis menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Sansekerta ini menceritakan tentang pendirian lingga (lambang Siwa) di atas bukit Sthirangga, desa Kunjarakunja oleh Sanjaya, untuk tujuan keselamatan dan kesejahteraan rakyatnya. Kunjarakunja-desa dapat berarti "tanah dari pertapaan Kunjara", yang diidentifikasikan sebagai tempat pertapaan Resi Agastya, seorang maharesi Hindu yang dipuja di India selatan. Dalam epik Ramayana, diceritakan bahwa Rama, Sinta, dan Laksmana mengunjungi pertapaan Agastya di gunung Kunjara. Selain itu prasasti ini juga berisi silsilah keluarga Raja Sanjaya.


Berdasarkan isi prasasti Canggal disebutkan bahwa nama sebuah pulau “Yawadwipa” kaya akan padi-padian dan jewawut serta tambang emas. Mula- mula diperintah oleh seorang raja bernama Sanna, namun setelah baginda mangkat kedudukannya digantikan oleh keponakannya bernama Sri Sanjaya, putera Sannaha saudara perempuan raja Sanna. Menurut penulis sejarah Ratu Sanjaya menakhlukkan atau mendirikan kerajaan di wilayah Bagelen. Satu abad kemudian keratonnya dipindahkan ke wilayah Wonosobo, yaitu suatu wilayah yang sangat subur dan strategis. Sanjaya adalah keturunan dari raka- raka yang bergelar syailendra. Arti syailendra adalah Syaila: batu, gunung dan indra : raja. Jadi syailendra adalah raja gunung atau tuan yang datang dari gunung. Mungkin juga tuan yang turun dari khayangan, karena menurut kepercayaan gunung merupakan tempat bersemayamnya roh nenek moyang dan para dewata. Raja Sanjaya adalah seorang ahli kitab suci dan keprajuritan dan selama masa kekuasaannya berhasil menakhlukkan kerajaan- kerajaan di sekitarnya. Bahkan dalam “kitab Parahiyangan” yang berasal dari Jawa Barat disebutkan daerah kekuasaannya hingga Bali, Kerajaan Melayu, Kemir (kamboja), Keling, Barus, dan Sriwijaya, sedangkan negeri Tiongkok diperanginya.

 

Raja Sri Sanjaya dinilai sebagai raja besar yang sangat dihormati, karena terkenal kesohorannya di India. Bahkan hubungan kenegaraannya hingga sampai ke Afrika - Iran – Tiongkok, karena angkatan lautnya maupun angkatan daratnya kuat dan besar. Menurut kitab sejarah dinasti Tang Kuno (618-906), di pulau jawa terkenal sebuah kerajaan bernama “Ho-Ling” yang terletak di sebuah pulau di laut selatan. Kotanya dikelilingi pagar kayu, rajanya berdiam di istana tingkat, beratap daun-daun palma. Raja duduk diatas singgasana dari gading. Penduduknya pandai menulis dan mengenal ilmu falak. Kalau makan duduk dan menggunankan tangan tanpa alat apapun, minuman kerasnya tuak. Di pegunungan ada daerah bernama “ Lang- pi –ya” tempat raja selalu pergi untuk melihat laut. Diungkapkan pula bahwa tahun 640 M kerajaan jawa mengirimkan utusan ke Tiongkok, demikian juga pada tahun 6576 M. Dalam menafsir berita yang ditulis dari dinasti Tang tentang kerajaan “Ho-Ling” disebutkan raja hidup dalam kota Cho- p’o yang dikelilingi 28 kerajaan-kerajaan kecil yang semuanya mengakui kewibawaannya. Menurut kronik tersebut raja dibantu 32 orang pegawai tinggi. Wilayah kerajaan Sanjaya tersebut berbentuk segitiga tempat yang sekarang dikenal dengan nama “Ledok” merupakan pojok paling utara dari Bagelen. Bassisnya pantai selatan, puncaknya gunung Prahu (dieng) dan sungai utamanya Bagawanta.
Alasan lain mengapa prasasti ini keluarkan adalah dalam rangka pengangkatan Sanjaya sebagai Raja di Medang. Isi prasasti ini memuji bangunan suci di tepi sungai suci yang letaknya di hutan Kunjarakunja ( hutan banyak gajah ) dan prasasti tersebut juga menceritakan tentang pembayaran sima.

* * *

[+/-]Baca Lebih Lanjut? Klik Judul Artikel

TUGAS-2: Saya dan Bapak Slamet Soeyono, Kakek Sekaligus Seorang Tokoh Sejarah Nasional

|

Nama  : Inas Raras Maheningtyas
Kelas   : XI IPA 1

Dalam rangka pemenuhan tugas ke-2 sejarah, saya melakukan wawancara untuk kedua kalinya dengan kakek saya, Slamet Soeyono. Sebelumnya, saya telah mewawancara beliau mengenai hubungannya dengan seorang Tokoh Nasional, Sutan Syahrir, namun ternyata tugas yang saya kerjakan dan saya post pada 28 April 2011 tersebut kurang tepat. Sehingga saya mohon maaf atas keterlambatan saya mengerjakan perbaikan tugas ke-2 ini, yang melebihi batas waktu yang diberikan. Berikut biografi kakek saya sebagai seorang tokoh sejarah nasional.

Kakek Saya, yang memiliki nama lengkap Slamet Soeyono, kini berusia 85 tahun. Beliau lahir di Kediri, pada 25 Desember 1925 dari kakek buyut saya, S.Djojoprawiro dan nenek buyut saya R.Ngt.S.Djojoprawiro. Beliau memiliki 3 saudara kandung, yaitu Sastromihardjo, Soeyoedi, dan Soetadji.

15 April 1952, beliau menikah dengan nenek saya, yang bernama lengkap Sri Kanti, di kota Blitar. Mereka dianugerahi 6 orang anak, 3 laki-laki dan 3 perempuan, yaitu Eko Rahardjo, Yoeliarti Rahajoeningsih, Tri Sasongko, Setyani Rahardjanti, Rahardjanto, dan Sri Lestari. Namun, kedua anaknya yang bernama Eko Rahardjo dan Rahardjo, keduanya meninggal dunia tepat 4 hari setelah mereka lahir.

Bapak Slamet Soeyono (tengah) Bersama istrinya, Sri Kanti (kanan) ditemani cucu-cucunya

Bapak Slamet Soeyono (kiri) bersama Saya sewaktu kecil tahun 1996

Slamet Soeyono menempuh pendidikannya di Sekolah Rakyat Purwoasri pada 1931-1936, lalu melanjutkan pendidikannya di Schakel School Gajah Mada, Kertosono, pada 1936-1940. Kemudian Beliau pindah ke Madiun, dan melanjutkan sekolah di BUDI UTOMO, sampai tahun 1942, ketika Jepang datang ke Indonesia. Beliau pindah ke Yogyakarta, lalu melanjutkan sekolah di Taman Dewasa hingga tahun 1945, beliau lulus dan melanjutkan ke Sekolah Dagang Menengah Tinggi hingga tahun 1946. Saat itu, beliau juga ikut aktif dalam Gerakan Pemuda Pelajar, dan mengikuti penyerbuan KIDO BUTAI di Kota Baru, serta penyerbuan di Magelang.
KIDO BUTAI atau Pertempuran 5 Hari di Semarang adalah serangkaian pertempuran antara rakyat Indonesia di Semarang melawan Tentara Jepang. Pertempuran ini adalah perlawanan terhebat rakyat Indonesia terhadap Jepang pada masa transisi (bedakan dengan Peristiwa 10 November - perlawanan terhebat rakyat Indonesia dalam melawan sekutu dan Belanda).

Pertempuran dimulai pada tanggal 15 Oktober 1945 (walau kenyataannya suasana sudah mulai memanas sebelumnya) dan berakhir tanggal 20 Oktober 1945. Berita Proklamasi dari Jakarta akhirnya sampai ke Semarang. Seperti kota-kota lain, di Semarang pun rakyat khususnya pemuda berusaha untuk melucuti senjata Tentara Jepang Kidobutai yang bermarkas di Jatingaleh. Pada tanggal 13 Oktober, suasana semakin mencekam, Tentara Jepang semakin terdesak. Tanggal 14 Oktober, Mayor Kido menolak penyerahan senjata sama sekali. Para pemuda pun marah dan rakyat mulai bergerak sendiri-sendiri. Aula Rumah Sakit Purusara dijadikan markas perjuangan. Para pemuda rumah sakit pun tidak tinggal diam dan ikut aktif dalam upaya menghadapi Jepang. Sementara itu taktik perjuangan pemuda menggunakan taktik gerilya.

Ketika itu, Kakek saya merupakan salah satu tentara yang ikut menyerbu dalam pertempuran merebut senjata tersebut. Meski beliau dan pasukan lainnya hanya bermodalkan bambu runcing dan batu kali, namun mereka berhasil merebut senjata laras panjang seperti pistol dan senapan. Pada pagi harinya, Belanda menyerah. Namun, pertempuran tersebut cukup banyak memakan korban. Sebanyak 21 orang siswa Sekolah Menengah Tinggi Taman Madya gugur dalam pertempuran, salah satunya adalah Sareh, yang merupakan teman baik kakek saya, Slamet Soeyono. Saat itu beliau merupakan pengurus GASEMA (Gabungan Sekolah Menengah Mataram).
“Seminggu ke sekolah, lalu seminggu di peron. Begitulah aktivitas Kakek saat jaman penjajahan Jepang..”, tutur Kakek saya.

Tahun 1954, Slamet Soeyono pindah ke Jakarta, melanjutkan pendidikannya di SMA Negeri,dan beliau belajar di Sekolah Kewiraswastaan selama 4 bulan. Kemudian beliau mengikuti kursus militer di Penataran Pengurusan Personil, di Ajudan Jenderal Bandung, selama 4 minggu. Tahun 1954 beliau menempuh pendidikan militer di KUPALTU dan KUPALDA di Jakarta, dan lulus pada 1955.

Setelah menempuh pendidikan bertahun-tahun, kakek saya berhasil menguasai 4 bahasa, yakni bahasa Indonesia, Belanda, Inggris, serta bahasa Jepang. Dengan kemampuannya, beliau telah mendapatkan berbagai macam jabatan dalam pekerjaannya. Beliau memulai pekerjaannya sebagai Pengajar Kursus Mengetik “Wongsoatmojo” di Jogyakarta. Tahun 1947, beliau diangkat menjadi Sekretaris Ajudan Menteri Muda Dalam Negeri.

Tahun 1948, Sutan Syahrir diangkat menjadi penasihat Presiden Soekarno sekaligus Duta Besar Keliling dan mendirikan Partai Sosialis Indonesia (PSI) sebagai partai alternatif selain partai lain yang tumbuh dari gerakan komunis internasional. Partai tersebut merupakan hasil fusi gabungan yang diadakan tanggal 17 Desember 1945 antara PARSI (yang dewan partainya dipimpin oleh Amir Syarifudin,, dengan wakil ketuanya Sukindar, yang berdiri pada 12 November 1945) dan PARAS (berdiri di Cirebon pada 19 November 1945 dipimpin oleh ketua umum Sutan Syahrir). Fusi antara Parsi dan Paras tersebut menjadi Partai Sosialis yang mendukung cabinet Syahrir dengan ketuanya Amir Syarifuddin, pendukungnya di Yogyakarta kelompok pemuda Pathook dan tokoh-tokoh yang menjalin hubungan dengan Sutan Syahrir ketika Jepang sedang berkuasa. PNI dan PKI baru muncul belakangan di Yogyakarta, sebab PNI tampaknya masih menunggu sikap pemerintah lebih lanjut tentang PNI yang ditetapkan PPKI bersama BKR dan KNIP, dan tokoh-tokoh PKI masih bergabung dengan Partai Sosialis dan Partai Buruh Indonesia.
Pada Kongres Visa penggabungan kedua partai (PARSI dan PARSA), yaitu tahun 1946 di kota Cirebon, Sutan Syahrir sedang menjabat sebagai Perdana Menteri di Jakarta, sedangkan Ketua Umum Harian saat itu adalah Bapak Wiyono Suryokusumo. Pada saat itu, Kakek saya, Slamet Soejono merupakan sekretaris pribadi (ajudan) dari Bapak Wiyono Suryokusumo yang menjabat sebagai Menteri Muda Dalam Negeri, bersamaan dengan masa terjadinya Perjanjian Linggarjati. Wiyono Suryokusumo, yang merupakan anggota kelompok Sutan Syahrir juga merupakan ketua BTI (Barisan Tani Indonesia) yang merupakan organisasi massa yang memiliki perhatian terhadap politik pemerintahan dan memiliki pengaruh besar terhadap penyusunan kembali birokrasi pemerintahan di Yogyakarta.

Sutan Syahrir di masa Partai Sosialis


Ketika Kabinet Syahrir III bubar, Bapak Wiyono Suryokusumo yang berpangkat Jendral Mayor saat itu, kembali ke Kementrian Pertahanan. Lalu Kakek Saya, Slamet Soeyono, resmi menjadi anggota TNI Angkatan Darat dengan pangkat permulaan Pegawai Menengah III Letnan Muda Tentular.

Selain itu, Slamet Soeyono juga sering berpartisipasi dalam rapat yang diadakan oleh Presiden Soekarno di Istana Kegaraan di Yogyakarta, yang umumnya membahas mengenai program-program pemeritahan dalam negeri, otonomi daerah, dan lain sebagainya. Istana Gedung Agung Yogyakarta merupakan salah satu dari enam istana negara di Indonesia. Terletak di kota Yogyakarta, Istana Gedung Agung menjadi tempat tinggal Presiden Soekarno pada tahun 1946 sebagai Istana Kepresidenan. Ini berlangsung hingga tahun 1948, ketika Presiden Soekarno pindah ke Jakarta. Peristiwa penting yang pernah berlangsung di tempat tersebut antara lain andalah pelantikan Panglima Jendral Soedirman sebagai pucuk pimpinan angkatan bersenjata di Indonesia
Setelah menjabat sebagai Sekretaris Ajudan Menteri Muda Dalam Negeri, kakek saya, Slamet Soeyono, menjadi Anggota Bagian Organisasi Jawatan Perlengkapan di Yogyakarta pada tahun 1947-1950. Dalam kedudukannya sebagai Anggota Bagian Organisasi Jawatan Perlengkapan dalam rangka pelaksanaan koordinasi atas pembekalan terhadap kesatuan-kesatuan, beliau sering sekali ditugaskan ke daerah operasi.

Kemudian pada tahun 1950, beliau merangkap menjadi Anggota K.A Dinas Pembekalan dan Angkutan Tentara di Jakarta, dengan induk kesatuan D.P.A.T. Tahun 1951, beliau diangkat menjadi Kepala Bagian Personalia di Jakarta, dengan induk kesatuan C.I.A.D. dalam kedudukan tersebut, beliau ditugaskan ke Teritorrium-2 untuk mengurus dan menyelesaikan konsolidasi organisasi dengan pengisian personil baik militer maupun sipil.

Awal tahun 1955, Bapak Slamet Soeyono, yang sedang berpangkat Letnan Satu, diangkat menjadi Instruktur SUPIAD selama 1 tahun.  Pada 1 Januari 1957, beliau naik pangkat menjadi Kapten, lalu menjabat sebagai Wakil Kepala Bagian Pembelian di Jakarta, serta merangkap sebagai Komandan Pendidikan Militerisasi Calon Bentara/Tamtama. Kemudian tahun 1959 beliau diangkat menjadi Kepala Biro Statistik Kepala Bagian Pengawasan.

Tahun 1962, Bapak Slamet Soeyono sempat ditugaskan ke luar negeri, yakni di Negara Yugoslavia. Beliau ditugaskan mengurus inspeksi pabrik-pabrik sepatu dalam kontrak sepatu Indonesia (Angkatan Darat) dengan Yugoslavia.. Hingga beliau sering ditunjuk mewakili sebagai Wadan MPP sejak Januari 1979.

Hingga akhir masa jabatannya, Bapak Slamet Soeyono telah mendapatkan sejumlah Bintang-bintang atau tanda-tanda jasa berupa: Bintang Gerilya, Setia Lencana Perang Kemerdekaan ke-1, Setia Lencana Perang Kemerdekaan ke-2, Setia Lencana Kesetiaan 8 Tahun, Dwidja Sista, Penegak, serta K.E.P. Beliau menerima Surat Tanda Jasa Pahlawan berupa “Satyalantjana Peristiwa Perang Kemerdekaan 1” dan “Satyalantjana Peristiwa Perang Kemerdekaan II” dari Menteri Pertahanan Republik Indonesia, sebagai Pangkat Letnan Dua.Pa. Perlengkapan Co. Djawa.

Beliau memulai derajat kepangkatannya pada 1 April sebagai Letnan Muda, lalu naik menjadi Letnan Dua pada 1 Januaru 1949, Letnan Satu pada 1 Oktober 1953, Kapten pada 1 Januari 1957, Mayor pada 1 Januari 1961, Letnan Kolonel pada 1 Januari 1965. Lalu pada 1 Juli 1972, beliau diangkat dan diresmikan sebagai Kolonel DISBEKUMAD. Bapak Slamet Soeyono pensiun dari pekerjaannya pada akhir tahun 1985. Kini beliau tinggal di Jakarta bersama keluarganya.

Berikut saya lampirkan garis besar Kepangkatan Bapak Slamet Soeyono:

1 April 1947       : Letnan Muda Tit.
1 Januari 1949    : Letnan Dua
1 Oktober 1953  : Letnan Satu
1 Januari 1957    : Kapten
1 Januari 1961    : Mayor
1 Januari 1965    : Letnan Kolonel
1 Juli 1972          : Kolonel


* * *


Nama : Inas Raras Maheningtyas
Kelas : XI IPA 1

SMA LABSCHOOL KEBAYORAN 2011




[+/-]Baca Lebih Lanjut? Klik Judul Artikel

 

Design modified by mugimunteng | Basic Design by Dzignine in Collaboration with Trucks, SUV, Kidney Stones