otakatikawas!

otakatikawas!
Showing posts with label Kayrana Amadyatara. Show all posts
Showing posts with label Kayrana Amadyatara. Show all posts

Tugas 2: Saya dan Peristiwa Malari

|

Oleh: Kayrana Amadyatara XI IPA 1


KESULITAN MENCARI NARASUMBER
Saat pertama kali diberikan tugas sejarah untuk mewawancarai pelaku/saksi sejarah dari suatu peristiwa, saya bingung sekali menentukan siapa yang harus saya wawancarai. Kakek dan nenek saya dari pihak Ibu maupun Ayah sudah meninggal sejak saya masih kecil. Lalu saya mencari ke pihak keluarga, saya menemukan beberapa nama sesepuh yang mantan anggota TNI namun sayangnya sudah menjadi almarhum. Setelah mencari kesana-kemari, saya tetap tidak mendapatkan narasumber yang pas. Akhirnya saya memutuskan untuk mewawancarai ibu saya sendiri karena ia pernah menjadi saksi salah satu peristiwa sejarah, yakni peristiwa Malari 1974.

BIOGRAFI SINGKAT NARASUMBER
Ibu saya bernama Mira Rachmalia. Beliau lahir di Jakarta, tanggal 29 Desember 1963 dari pasangan Syachrial Bahar dan Mien Karmini. Ibu saya merupakan anak ke 6 dari 7 bersaudara, dan satu-satunya anak perempuan di keluarga karena kakak perempuannya meninggal dunia ketika berusia 3 tahun. Ibu saya dari kecil dibesarkan di daerah pusat. Awalnya ia tinggal di daerah Menteng, kemudian pindah ke Jl. Ir. H Juanda yang berada di seberang Istana Negara.Ibu saya memulai pendidikannya di TK Adik Irma, kemudian melanjutkan ke SD Argentina di bilangan Menteng (sekarang SD HOS Cokroaminoto). Namun ketika menginjak kelas 6 SD, Ibu saya pindah sekolah ke SD Adik Irma karena ingin masuk ke SMP 1 (saat itu pemilihan sekolah menggunakan sistem rayon sehingga hanya anak yang berasal dari SD yang berada di daerah yang sama dengan SMP yang dituju boleh bersekolah di SMP tersebut). Ibu saya berhasil melanjutkan pendidikannya di SMP 1. Setamat SMP, beliau melanjutkan ke SMA 4. Ketika SMA ini Ibu saya memperkuat tim basket sekolah, dan berhasil menjuarai berbagai kejuaraan tingkat Jakarta. Ia juga pernah menjadi pemain terbaik tingkat SMA di Jakarta. Namun sayangnya beliau tidak melanjutkan karir basketnya karena memutuskan untuk kuliah. Ibu saya kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Ketika kuliah inilah Ibu saya bertemu dengan Ronny Suhendi, yang sekarang menjadi ayah saya. Setelah lulus kuliah, Ibu dan Ayah saya menikah di tahun 1989, tepatnya tanggal 15 Desember. Di awal pernikahannya, kedua orangtua saya tinggal di bilangan bintaro. Ayah saya bekerja di sebuah perusahaan asuransi, dan ibu bekerja di perusahaan marketing. Tak lama, kedua orangtua saya pindah rumah ke kawasan rempoa. Ibu saya juga pindah kerja ke perusahaan asuransi Cigna. Cukup lama kedua orangtua saya menanti momongan, akhirnya saya pun lahir di tahun ke 5 perkawinan mereka. Setelah saya lahir, Ibu saya masih bekerja di kantor selama beberapa tahun sampai akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja dan merawat saya serta adik saya dirumah.

PERISTIWA MALARI
Ketika Ibu saya duduk di kelas 4 SD, terjadi sebuah peristiwa demonstrasi dan kerusuhan massal di Jakarta pada tanggal 15 Januari 1974. Karena itulah peristiwa ini disebut peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari). Meskipun masih kecil, Ibu saya masih ingat betul keadaan saat itu serta asal-usul peristiwa ini karena selalu dijelaskan oleh Ayahnya ketika peristiwa ini berlangsung.


‘Waktu itu tahun ’74 ada Malari. Itu terjadi pas Perdana Mentri Jepang Tanaka datang ke Indonesia. Mahasiswa pada demo menentang kedatangan Tanaka karena dianggap Indonesia saat itu sudah dibawah pengaruh Jepang, karena waktu itu Jepang menanam banyak modal di Indonesia. Awalnya, dari tanggal 14 Malam udah mulai heboh. Tanggal 14 sore itu Mama masih diajak Opa (ayah dari ibu saya) jalan-jalan ke Sudirman. Semuanya masih aman-aman saja, walaupun banyak mahasiswa lagi demo. Tapi mulai malam, mulai ada ricuh-ricuh. Dekat rumah Mama (Jl. Ir. H. Juanda) ada kantor Astra. Astra itu asuransi punya Jepang makanya kantornya dibakar massa. Tanggal 15, mahasiswa UI long march dari Salemba ke Trisakti. Setelah itulah pembakaran terjadi dimana-mana. Dengar-dengar sih, yang bakar-bakar itu bukan mahasiswa UI tapi warga lain yang datangnya bareng sama Mahasiswa UI.

Tanggal 15 sore Opa ngajak mama keliling Sudirman lagi. Nah disitu mama liat sepanjang jalan dari Juanda sampai Sudirman bangkai mobil yang habis dibakar bergelimpangan. Semua toko dan kantor yang dimiliki Jepang dibakar. Kantor pusat Astra yang ada di Sudirman juga dibakar habis-habisan. Tahu Wisma Nusantara kan? Dulu di Wisma Nusantara yang di Bundaran Hotel Indonesia itu punya Jepang dan ada lambang Toyota besar diatasnya. Pas Malari, orang-orang manjat ke atas gedung, terus nutupin lambang Toyota itu pake kain hitam. Pokoknya semua yang berbau Jepang dihancurin deh’, tutur Ibu saya ketika saya bertanya mengenai peristiwa Malari tersebut.




Mahasiswa memang mendapat peran besar dalam peristiwa Malari tersebut. Mahasiswa merencanakan menyambut kedatangan Perdana Menteri Jepang, Tanaka Kakuei dengan berdemonstrasi di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Namun karena dijaga ketat, rombongan mahasiswa tidak berhasil menerobos masuk pangkalan udara. Tujuan utama aksi mahasiswa itu sesungguhnya menuntut pemerintah mengubah kebijakan pembangunan dan ketergantungan pada modal asing. Selain itu, juga mendesak penguasa menangani secara serius berbagai penyelewengan dan korupsi yang kian merajalela serta penguatan lembaga penyalur pendapat rakyat. Seperti yang sudah narasumber tuturkan sebelumnya, para Mahasiswa melakukan longmarch dari Salemba sampai Trisakti. Di Trisakti, mereka melakukan mimbar bebas.

Massa melakukan pembakaran, perusakan, dan penjarahan terhadap sejumlah gedung. Dalam kerusuhan yang berlangsung selama dua hari itu, 11 orang meninggal, ratusan mobil dan sepeda motor rusak, serta lebih dari 100 gedung dan bangunan hangus dibakar. Karena peristiwa Malari inilah Perdana Menteri Jepang Tanaka yang akan pulang ke Jepang berangkat dari Istana tidak dengan mobil, tetapi diantar Presiden Soeharto dengan helikopter dari Bina Graha ke pangkalan udara. Meski para tokoh mahasiswa menyatakan kerusuhan itu tidak ada kaitannya dengan demonstrasi mahasiswa, pemerintah tetap menangkap sejumlah pentolan mahasiswa. Salah satunya adalah Hariman Siregar, yang pada saat itu adalah Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia.

‘Tokoh Malari yang terkenal itu Hariman Siregar. Dia ketua Dewan Mahasiswa UI. Katanya sih mahasiswa gak ikut bakar-bakar dan bikin rusuh, cuma demo aja. Tapi tetep masuk daftar target penangkapan dan akhirnya ditangkep-tangkepin sama polisi. Sebagian mahasiswa juga dipenjara karena Malari itu,’ tutur Ibu saya tentang tokoh Malari ini.

‘Gak lama setelah bebas, Hariman Siregar pernah kerumah Mama. Waktu itu lagi perayaan kelulusan adiknya Opa, terus Hariman ini ternyata teman adiknya Opa. Wah, dia disambutnya heboh deh sama Opa karena saat itu dia jadi terkenal bak tokoh politik. Waktu acara itu juga, Opa banyak ngobrol-ngobrol sama dia tentang Malari ini,’ lanjut Ibu saya.

Sebuah buku pun diterbitkan untuk mengisahkan Hariman dan Malari. Buku yang berjudul Hariman & Malari ini mengisahkan dengan cukup rinci bagaimana jejak politik Hariman dimulai, peristiwa Malari,  perkembangannya, hingga kondisinya pada masa setelah reformasi.

Setelah peristiwa Malari, Jenderal Ali Moertopo menuduh eks PSII dan eks Masyumi atau ekstrem kanan adalah dalang peristiwa tersebut. Tetapi setelah para tokoh peristiwa Malari seperti Syahrir dan Hariman Siregar diadili, tidak bisa dibuktikan bahwa ada sedikitpun fakta dan ada seorangpun tokoh eks Masyumi yang terlibat di situ. Belakangan ini barulah ada pernyataan dari Jenderal Soemitro(almarhum) dalam buku Heru Cahyono, Pangkopkamtib Jendral Soemitro dan Peristiwa Malari bahwa ada kemungkinan kalau justru malahan Ali Moertopo sendiri dengan CSIS-nya yang mendalangi peristiwa Malari.

Memang peristiwa Malari ini sampai sekarang dapat dilihat dari berbagai perspektif. Ada yang memandangnya sebagai demonstrasi mahasiswa menentang modal asing, terutama Jepang (seperti yang Ibu saya tuturkan). Beberapa pengamat melihat peristiwa itu sebagai ketidaksenangan kaum intelektual terhadap Asisten pribadi (Aspri) Presiden Soeharto (Ali Moertopo, Soedjono Humardani, dan lain-lain) yang memiliki kekuasaan teramat besar.
Ada wacana tentang para petinggi militer, khususnya ‘perseteruan’ antara Jenderal Soemitro-Ali Moertopo. Kecenderungan serupa juga tampak dalam kasus Mei 1998 (antara Wiranto dan Prabowo).
Usai terjadi demonstrasi yang disertai kerusuhan, pembakaran, dan penjarahan, Soeharto menghentikan Soemitro sebagai Pangkomkamtib. Aspri Presiden dibubarkan. Kepala BAKIN Soetopo Juwono diberhentikan dan dijadikan duta besar, diganti oleh Yoga Sugama. Bagi Soeharto, kerusuhan 15 Januari 1974 ini mencoreng namanya karena peristiwa itu terjadi di depan tamu negara.
Menurut buku-buku karangan Ramadhan KH dan Heru Cahyono, terlihat kecenderungan Soemitro untuk menyalahkan Ali Moertopo yang merupakan rivalnya dalam dunia politik tingkat tinggi. Soemitro mengungkapkan, Ali Moertopo dan Soedjono Humardani “membina” orang-orang eks DI/TII dalam GUPPI (Gabungan Usaha Perbaikan Pendidikan Islam). Dalam kasus Malari, lewat organisasi itu dilakukan pengerahan massa oleh Ramadi dan Kyai Nur dari Banten. Bambang Trisulo disebut-sebut mengeluarkan Rp 30 juta untuk membayar para preman. Roy Simandjuntak mengerahkan tukang becak dari sekitar Senen. Kegiatan itu-antara lain perusakan mobil Jepang, kantor Toyota Astra dan Coca Cola-dilakukan untuk merusak citra mahasiswa dan memukul duet Soemitro-Soetopo Juwono.
Lain menurut ‘dokumen Ramadi’. Dokumen ini mengungkap rencana Soemitro menggalang kekuatan di kampus-kampus, “Ada seorang Jenderal berinisial S akan merebut kekuasaan dengan menggulingkan Presiden sekitar bulan April hingga Juni 1974. Revolusi sosial pasti meletus dan Pak Harto bakal jatuh”. Ramadi saat itu dikenal dekat dengan Soedjono Humardani dan Ali Moertopo. Tudingan dalam “dokumen” itu tentu mengacu Jenderal Soemitro.
Peristiwa Malari sampai saat ini masih menyimpan banyak misteri. Dapat dilihat dari tidak banyaknya info-info yang diumbar ke khalayak. Bahkan dalam buku otobiografi Soeharto tahun 1981 peristiwa Malari dilewatkan begitu saja.

'Padahal peristiwa ini salah satu kerusuhan terbesar di Jakarta sebelum adanya Kerusuhan Mei 1998, tapi ya memang simpang siur sampai sekarang. Gak ada yang benar-benar tahu alasan dan kelanjutan sebenarnya,' tutup Ibu Saya. 

Merupakan bagian dari sejarah Orde Baru, peristiwa Malari masih tetap gelap dan menyimpan misterinya sendiri.

[+/-]Baca Lebih Lanjut? Klik Judul Artikel

Tugas 4: Saya dan Negara Tirai Bambu

|

Oleh: Kayrana Amadyatara XI IPA 1


















Republik Rakyat Cina (RRC; Pinyin: Zhōnghuá Rénmín Gònghéguó; Hanzi Tradisional: 中華人民共和國) adalah sebuah negara komunis yang terdiri dari hampir seluruh wilayah kebudayaan, sejarah, dan geografis yang dikenal sebagai Cina. Sejak didirikan pada 1949, RRC telah dipimpin oleh Partai Komunis CIna (PKC). Sekalipun seringkali dilihat sebagai negara komunis, kebanyakan ekonomi republik ini telah diswastakan sejak tiga dasawarsa yang lalu meskipun pemerintah masih mengawasi ekonominya secara politik terutama dengan perusahaan-perusahaan milik pemerintah dan sektor perbankan. Secara politik, ia masih tetap menjadi pemerintahan satu partai.
RRC adalah negara dengan penduduk terbanyak di dunia, dengan populasi melebihi 1,3 miliar jiwa, yang mayoritas merupakan bersuku bangsa Han. RRC juga adalah negara terbesar di Asia Timur, dan ketiga terluas di dunia, setelah Rusia dan Kanada. RRC berbatasan dengan 14 negara. Dalam suatu pertikaian yang terus berlangsung, RRC menuntut hak memerintah atas Taiwan dan pulau-pulau sekitarnya yang tidak pernah dilepaskan oleh Republik Cina. Pemerintah RRC mendakwa bahwa Republik Cina merupakan suatu entitas yang tidak lagi wujud dan secara administratif meletakkan Taiwan sebagai provinsi ke-23 RRC. RRC mengklaim kedaulatan terhadap Taiwan namun tidak memerintahnya. Status politik Taiwan merupakan hal yang kontroversial; Taiwan diperintah Republik Cina, yang kini berbasis di Taipei. Republik Cina mengklaim kedaulatan terhadap seluruh Cina daratan dan begitu juga dengan RRC. RRC juga dijuluki sebagai "Cina Merah" merujuk kepada warna merah yang merupakan lambang komunis.


SEJARAH AWAL

Sejarah Cina adalah salah satu sejarah kebudayaan tertua di dunia. Dari penemuan arkeologi dan antropologi, daerah Cina telah didiami oleh manusia purba sejak 1,7 juta tahun yang lalu. Peradaban Cina berawal dari berbagai negara kota di sepanjang lembah Sungai Kuning pada zaman Neolitikum. Sejarah tertulis Cina dimulai sejak Dinasti Shang (k. 1750 SM - 1045 SM).
Manusia modern tiba pertama kali di Cina dari Asia Tengah sekitar 50.000 SM. Mereka adalah manusia  Zaman Batu yang tinggal di gua-gua bersama anjing mereka. Mereka memenuhi kebutuhan makanan dengan cara berburu dan meramu. Pada 4000 SM, penduduk Cina mulai menanam padi serta beternak biri-biri dan ayam. Pada 3000 SM, mereka bahkan telah menggunakan gerabah dan tinggal di rumah. Dari orang Asia Tengah, penduduk Cina belajar memanfaatkan kuda untuk menarik kereta beroda. Orang Cina memasuki Zaman Perunggu pada 2000 SM. Saat itu mereka sudah mempergunakan tulisan.

MASA DINASTI


Dinasti Shang menurut sumber tradisional adalah dinasti pertama Cina. Menurut kronologi berdasarkan perhitungan Liu Xin, dinasti ini berkuasa antara 1766 SM dan 1122 SM, sedangkan menurut Sejarah Bambu adalah antara 1556 SM dan 1046 SM. Hasil dari Proyek Kronologi Xia Shang Zhou pemerintah Republik Rakyat Cina pada tahun 1996 menyimpulkan bahwa dinasti ini memerintah antara 1600 SM sampai 1046 SM. Informasi langsung tentang dinasti ini berasal dari inskripsi pada artefak perunggu dan tulang orakel, serta dari Catatan Sejarah Agung karya Sima Qian.
Temuan arkeologi memberikan bukti keberadaan Dinasti Shang sekitar 1600-1046 SM, yang terbagi menjadi dua periode. Bukti keberadaan Dinasti Shang periode awal (k. 1600-1300 SM) berasal dari penemuan-penemuan di Erlitou, Zhengzhou dan Shangcheng. Sedangkan bukti keberadaan Dinasti Shang periode kedua (k. 1300–1046 SM) atau periode Yin (殷), berasal dari kumpulan besar tulisan pada tulang orakel. Para arkeolog mengkonfirmasikan bahwa kota Anyang di provinsi Henan adalah ibukota terakhir Dinasti Shang dari sembilan ibukota lainnya. Dinasti Shang diperintah 31 orang raja, sejak Raja Tang sampai dengan Raja Zhou sebagai raja terakhir. Masyarakat Cina masa ini mempercayai banyak dewa, antara lain dewa-dewa cuaca dan langit, serta dewa tertinggi yang dinamakan Shang-Ti dan arwah nenek moyang yang dianggap sudah menjadi dewa. Sekitar tahun 1500 SM, orang Cina mulai menggunakan tulang orakel untuk memprediksi masa depan.
Pada 1100 SM Dinasti Zhou/Chou menaklukkan Cina. Pada masa ini, yaitu sekitar 700 SM, para pandai besi Cina belajar membuat peralatan dan senjata dari besi. Budaya, sastra, dan filsafat Cina berkembang pada zaman Dinasti Zhou (1045 SM hingga 256 SM) yang melanjutkan Dinasti Shang. Dinasti ini merupakan dinasti yang paling lama berkuasa dan pada zaman dinasti inilah tulisan Cina modern mulai berkembang.Dinasti Zhou terpecah menjadi beberapa negara kota, yang menciptakan Periode Negara Perang. Namun, pada 481 SM Cina terpecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang saling berperang.

PERIODE MUSIM SEMI-GUGUR DAN NEGARA PERANG
Pada sekitar abad ke-8 SM, terjadi desentralisasi kekuasaan pada Periode Musim Semi dan Musim Gugur, yang diberi nama berdasarkan karya sastra Chun Qiu (Musim Semi dan Gugur). Pada zaman ini, pimpinan militer lokal yang digunakan Zhou mulai menunjukkan kekuasaannya dan berlomba-lomba memperoleh hegemoni. Invasi dari barat laut, misalnya oleh Qin, memaksa Zhou untuk memindahkan ibu kotanya ke timur, yaitu ke Luoyang. Ini menandai fase kedua Dinasti Zhou: Zhou Timur. Ratusan negara bermunculan, beberapa di antaranya hanya seluas satu desa, dengan penguasa setempat memegang kekuasaan politik penuh dan kadang menggunakan gelar kehormatan bagi dirinya. Seratus Aliran Pemikiran dari filsafat Cina berkembang pada zaman ini, berikut juga beberapa gerakan intelektual berpengaruh seperti Konfusianisme, Taoisme, Legalisme, dan Mohisme.
Setelah berbagai konsolidasi politik, tujuh negara terkemuka bertahan pada akhir abad ke-5 SM. Meskipun saat itu masih terdapat raja dari Dinasti Zhou sampai 256 SM, namun ia hanya seorang pemimpin nominal yang tidak memiliki kekuasaan yang nyata. Pada masa itu, daerah tetangga dari negara-negara yang berperang juga ditaklukkan dan menjadi wilayah baru, antara lain Sichuan dan Liaoning; yang kemudian diatur di bawah sistem administrasi lokal baru berupa commandery dan prefektur (郡县/郡县). Periode saat negara-negara saling berperang hingga penyatuan seluruh Cina oleh Dinasti Qin pada tahun 221 SM, dikenal dengan nama "Periode Negara Perang", yaitu penamaan yang diambil dari nama karya sejarah Zhan Guo Ce (Strategi Negara Berperang).

Qin SHi Huang

Pada 221 SM, Dinasti Ch’in (Qin Shi Huang) berhasil menyatukan Cina kembali dan mendirikan kekaisaran pertama Cina. Mereka juga melakukan ekspansi ke wilayah-wilayah Zhejiang, Fujian, Guangdong, dan Guangxi pada 214 SM. Mereka bahkan membawa kejayaan Cina melebihi masa-masa sebelumnya. Bukti kebesaran Dinasti Ch’in masih bisa dilihat hingga saat ini, yaitu Tembok Besar Cina. Dinasti Ch’in berumur pendek. Mereka digusur oleh Dinasti Han pada 202 SM. Dinasti Han meraih banyak keberhasilan. Mereka berdagang sepanjang Jalur Sutera dengan orang-orang Persia dan Romawi. Mereka juga menyerang India dan ketika kembali membawa ajaran Buddha ke Cina.

Pada 220 M, Cina kembali terpecah. Kali ini Cina terbagi menjadi tiga kerajaan. Pada 581 M, seorang jenderal bernama Wen Ti berhasil menyatukan tiga kerajaan tersebut dan mendirikan Dinasti Sui. Putra Wen Ti, Yang Ti, memerintahkan penggalian kanal besar yang menghubungkan Sungai Kuning dan Sungai Yangtze. Namun, Yang Ti terbunuh pada 618 M, dan penguasa berikutnya mendirikan Dinasti Tang.

Pada 618 M, di bawah Dinasti Tang, kota-kota di Cina mulai tumbuh. Pajak dan perdagangan diorganisasi dengan lebih baik. Wilayah Cina makin luas, dan bahkan lebih luas daripada Cina saat ini. Namun, sejumlah perang saudara melemahkan Dinasti Tang. Pada 960 M, Dinasti Sung mengambil alih Cina. Mereka menghadapi banyak masalah, di antaranya penyerbu dari Asia Tengah yang mengganggu Jalur Sutera. Para pedagang kemudian beralih ke selatan, yaitu India.

Pada 1279 M, bangsa Mongol menyerbu dari Asia Tengah dan menaklukkan Cina. Bangsa Mongol memerintah Cina di bawah Genghis Khan dan dilanjutkan oleh Kublai Khan. Mereka mendirikan Dinasti Yuan, yang daerah kekuasaannya meliputi Asia Tengah, India, Asia Barat, dan Eropa Timur. Namun, pada 1330 M, penduduk yang mendiami wilayah Kekaisaran Mongol terserang wabah penyakit. Kerajaan Mongol pun tercerai-berai.

Di Cina, Dinasti Ming mengambil alih kekuasaan pada 1368 M. Dinasti Ming mencapai puncak kekuasaannya pada awal abad ke-15. Pasukan Cina kembali menaklukkan Annam, wilayah Vietnam saat ini. Sepanjang masa kekuasaan Dinasti Yuan, terjadi penentangan yang cukup kuat terhadap kekuasaan asing ini di kalangan masyarakat. Sentimen ini, ditambah sering timbulnya bencana alam sejak 1340-an, akhirnya menimbulkan pemberontakan petani yang menumbangkan kekuasaan Dinasti Yuan. Zhu Yuanzhang dari suku Han mendirikan Dinasti Ming setelah berhasil mengusir Dinasti Yuan pada tahun 1368.

Tembok Besar Cina

Selama masa Dinasti Ming, pembangunan terakhir Tembok Besar Cina selesai dilaksanakan, sebagai usaha perlindungan bagi Cina atas invasi dari bangsa-bangsa asing. Meskipun pembangunannya telah dimulai di masa sebelumnya, sesungguhnya sebagian besar tembok yang terlihat saat ini adalah yang telah dibangun atau diperbaiki oleh Dinasti Ming. Bangunan bata dan granit telah diperluas, menara pengawas dirancang-ulang, serta meriam-meriam ditempatkan di sepanjang sisinya
Sementara itu, armada laut Cina berlayar mengarungi Laut Cina dan Samudra Hindia. Mereka menjelajahi lautan hingga pantai timur Afrika. Dinasti Ming melemah akibat perang berkepanjangan melawan bangsa Mongol dan penyerangan kota-kota pesisir oleh bangsa Jepang.

Pada 1644 M, orang-orang Manchu merebut Beijing dan mendirikan dinasti kekaisaran terakhir, Dinasti Qing. Penguasa Manchu meluaskan pengaruhnya hingga ke Xinjiang, Tibet, dan Mongolia. Namun, pada abad ke-18 kekuasaan Dinasti Qing mulai melemah. Cina terlibat dalam Perang Candu melawan Inggris pada 1840 M. Cina bahkan harus menyerahkan Hong Kong kepada Inggris pada 1842 M.  Penguasa Dinasti Qing juga harus menghadapi beberapa pemberontakan, di antaranya Pemberontakan Taiping, Nien, Panthay, dan Boxer. Akhirnya, Revolusi 1911 M yang dipimpin Sun Yat-sen menjungkalkan Dinasti Qing dan mengakhiri monarki feodal Cina yang telah berusia 2.000 tahun.

REPUBLIK CINA


Sun Yat Sen

Pada 12 Maret 1912, pemerintahan sementara Republik Cina terbentuk di Nanjing. Sun Yat-sen terpilih sebagai presiden. Namun, sebagai bagian dari perjanjian agar penguasa Qing mau mundur, Sun Yat-sen terpaksa menyerahkan kekuasaan kepada Yuan Shikai, mantan perdana menteri pemerintahan Qing. Khawatir akan timbulnya pemberontakan, Yuan Shikai mundur pada Maret 1916 dan meninggal pada Juni di tahun yang sama. Kosongnya kekuasaan mengakibatkan Cina tercerai-berai

KMT vs PKC
Pada 1920-an, Sun Yat-sen bermaksud menyatukan Cina kembali dan mendirikan basis perjuangannya di Cina selatan. Dengan bantuan Uni Soviet, dia bersekutu dengan Partai Komunis Cina (PKC). Setelah Sun Yat-sen meninggal pada 1925, penerusnya, Chiang Kai-shek berhasil menguasai sebagian besar Cina di bawah bendera Kuomintang (KMT) yang berhaluan nasionalis. Saat itu, PKC juga mulai berusaha menanamkan pengaruhnya sehingga bersaing dengan KMT.
Pada 1927 M, Chiang mengejar tentara PKC dan mendesak mereka dari basis-basis komunis di Cina selatan dan timur. Pasukan PKC terpaksa mengadakan long march ke daerah barat daya dan mendirikan basis gerilya di Provinsi Yan’an dan Shaanxi. Selama long march ini, muncul pemimpin PKC yang baru, Mao Zedong.

REPUBLIK RAKYAT CINA
Setelah sempat bersatu menghadapi Jepang antara 1937 – 1945, KMT dan PKC kembali bermusuhan setelah Perang Dunia II berakhir. Pada1949, PKC keluar sebagai pemenang dan menjadi penguasa tunggal di Cina daratan. Republik Rakyat Cina secara resmi berdiri pada 1 Oktober 1949 dengan ibu kota Beijing. Kuomintang kemudian menyingkir ke Taiwan.





SUMBER:
http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Cina
http://id.wikipedia.org/wiki/Republik_Rakyat_Cina
http://www.anneahira.com/sejarah-cina.htm
http://luviyani.blogspot.com/2010/04/sejarah-cina.html

[+/-]Baca Lebih Lanjut? Klik Judul Artikel

Tugas 3: Saya, Museum Gajah dan Pakaian Kuno Indonesia

|

Oleh Kayrana Amadyatara XI IPA 1


PERJALANAN KE MUSEUM NASIONAL

Pada hari Jumat lalu, saya bersama beberapa teman sekelas saya yaitu Hana, Adis, Adira, Della, Kiki, Kayrana, Akla, Cintya, Raras, Nadya dan Eka pergi mengunjungi Museum Nasional atau lebih dikenal dengan Museum Gajah. Selepas solat Jumat, kami bersama-sama pergi ke Museum Gajah menggunakan 2 mobil. Sesampainya disana, kami langsung membeli tiket masuk seharga Rp. 2000. Awalnya kami diminta membayar tiket seharga dewasa (Rp. 5000) namun akhirnya petugas memberikan kami tiket harga anak-anak yakni Rp. 2000. Awalnya kami masuk ke bagian gedung utama yang di bagian depannya banyak terdapat patung-patung dewa-dewi hindu dan Buddha. Setelah berkeliling sebentar, kami memutuskan untuk pindah ke gedung baru yang terletak di sebelahnya karena rata-rata dari kami sudah pernah ke bagian gedung lama. Di gedung baru yang terdiri dari 4 lantai itu terlihat lebih terawat dan rapi dari gedung lama. Kami pun memulai pencarian artefak yang kami inginkan sebagai bahan tugas di area gedung baru.

MUSEUM NASIONAL  



Museum Nasional Republik Indonesia adalah salah satu museum yang berada di Jakarta. Mungkin orang-orang lebih mengenal museum ini sebagai Museum Gajah. Disebut Museum Gajah karena di halaman depan museum ini terdapat sebuah patung gajah yang meruapakan hadiah dari Raja Chulalongkorn dari Thailand.  Museum ini terletak di Jalan Medan Merdeka barat dan berhadapan langsung dengan Monumen Nasional (Monas).
Museum Gajah banyak mengkoleksi benda-benda kuno dari seluruh Nusantara. Antara lain yang termasuk koleksi adalah arca-arca kuno, prasasti, benda-benda kuno lainnya dan barang-barang kerajinan. Koleksi-koleksi tersebut dikategorisasikan ke dalam etnografi, perunggu, prasejarah, keramik, tekstil, numismatik, relik sejarah, dan benda berharga.
Sumber koleksi banyak berasal dari penggalian arkeologis, hibah kolektor sejak masa Hindia Belanda dan pembelian. Koleksi keramik dan koleksi etnografi Indonesia di museum ini terbanyak dan terlengkap di dunia. Museum ini merupakan museum pertama dan terbesar di Asia Tenggara.
Menurut catatan di tahun 2001 menunjukkan bahwa koleksin Museum Nasional telah mencapai 109.342 buah. Jumlah koleksi itulah yang membuat museum ini dikenal sebagai museum terlengkap di Indonesia. Pada tahun 2006 jumlah koleksinya sudah melebihi 140.000 buah, tapi baru sepertiganya saja yang dapat diperlihatkan kepada khalayak
Kondisi koleksi dijaga dengan ketat dengan usaha konservasi. Terutama adalah koleksi dari kertas yang butuh penanganan hati-hati. Seringkali bagian koleksi yang rusak diganti dengan bahan tiruan. Meskipun hal ini mengurangi otentisitas, tetapi tetap mempertimbangkan sisi estetika dan bentuk asli karya yang dikonservasi. Sering pula ditemui usaha rekonstruksi untuk mengganti koleksi yang rusak parah.
Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, koleksi di Museum Gajah sangat beragam mulai dari prasasti hingga benda-benda sehari-hari. Di area gedung baru yang saya kunjungi, terdapat banyak sekali benda-benda sehari-hari zaman dahulu. Mulai dari replika rumah, kendaraan, alat perang, alat masak, sampai yang paling simpel, yakni pakaian. Saya pun akhirnya memutuskan untuk memilih pakaian-pakaian kuno untuk bahan tugas sejarah saya.



PAKAIAN KUNO INDONESIA

Pakaian pada masa ini sudah menjadi sebuah gaya hidup. Orang-orang berpakaian sebaik mungkin untuk menunjukkan kepribadian bahkan status sosial mereka. Dan terhanya hal-hal tersebut sudah dimulai dari zaman dahulu kala, meskipun jenis pakaian dan bahannya tentu berbeda. Pada awalnya, pakaian hanya digunakan sebagai penutup atau pelindung tubuh dari cuaca dan benda-benda. Namun seiring perkembangan zaman, pakaian tidak hanya digunakan sebagai penutup atau pelindung tubuh namun juga sebagai simbol status pemakainya.

Bahan baku yang digunakan untuk membuat pakaian zaman dulu adalah dari serat tanaman seperti kapas dan kayu, kulit binatang, rumput, dedaunan/tumbuhan, manik-manik dan lain-lain. Bahan-bahan ini dapat dicari dari lingkungan sekitar dan tanpa harus diproses secara rumit (misalnya ditenun dan sebagainya). Mereka hanya perlu menyambung atau merangkai ‘bahan’ baju tersebut kemudian diikatkan ke tubuh sebagai penutup.

Pada puluhan, bahkan ratusan tahun yang lalu dapat dijumpai pakaian berupa cawat atau rok berumbai yang terbuat dari rumput-rumputan yang dirangkai atau dari buah yang dikeringkan yang hanya menutupi bagian vital saja. Selain itu bagi wanita juga ada yang membuat penutup dada terbuat dari semacam anyaman daun/akar yang merupakan asal muasal pakaian dalam wanita. Pakaian seperti ini bahkan sampai sekarang masih dapat ditemukan di beberapa suku di Indonesia, misalnya di Papua. Di papua, pakaian seperti ini disebut koteka dan masih bertahan sampai sekarang di pedalaman.





Akhirnya tibalah masa dimana manusia mulai bisa menemukan alat, salah satunya adalah alat tenun kain. Dengan ditemukannya alat tenun, terjadilah evolusi dalam pembuatan pakaian. Selain itu juga masuk unsur-unsur kebudayaan luar ke Indoesia sehingga memperkaya pengetahuan bangsa Indonesia tentang bahan, teknik dan teknologi pembuatan pakaian dari para pedagang Cina, Arab, India dan lain-lain yang datang ke Indonesia. Pedagang Islam mulai masuk pada abad XII-XIV di bandar-bandar besar. Selain menyebarkan agama, mereka juga membawa barang-barang misalnya tenun sutra, kain pelekat, sarung bermotif garis atau motif kotak-kotak yang sebelumnya tidak ada di Indonesia.

Masuknya orang-orang Barat juga membawa perubahan dalam bentuk pakaian di Indonesia. Mulai masuknya baju model barat juga mempengaruhi sehingga gaya berpakaian mulai berubah. Meskipun begitu, pakaian tradisional tetap menjadi pakaian utama, namun modelnya mulai berubah.Pakaian tradisional pun tetap menjadi identitas, biasanya digunakan dalam upacara adat resmi.

Selain itu, pakaian mulai bersifat sosial dan cara berpakaian seseorang dapat menunjukkan status sosial seseorang, dilihat dari cara berpakaian, motif dan bahan yang digunakan. Misalnya komunitas yang hidup di lingkungan Keraton menggunakan kain dodot atau motif tertentu misalnya lereng/parang dan dihias dengan cairan/tinta emas atau lebih dikenal dengan sebutan Prada, maka dapat menunjukkan bahwa ia berasal dari kalangan kerajaan/bangsawan. Contoh lainnya adalah jika ada wanita yang menggunakan songket dengan hiasan benang emas dalam suatu upacara/acara, dapat disimpulkan bahwa ia adalah salah satu dari kalangan kelas atas.

Pakaian sendiri dibedakan dalam kedua kelompok. Yaitu pakaian sehari-hari dan pakaian adat untuk upacara. Cara berpakaian dalam kedua kelompok ini dibedakan pula sesuai dengan latar belakang status sosial seseorang. Berpakaian sehari-hari tentu lebih simpel misalnya hanya baju dan rok/bawahan. Namun untuk pakaian adat biasanya ditambahi aksesori tertentu. Bisa berupa ikat pinggang, topi, hiasan kepala, anting, gelang bahkan mahkota. Mahkota dan topi kuno terbuat dari logam dan tumbuan kering. Dan ada pula yang ditambahkan paruh burung yang sudah mati dan dipasang di atas topi. Anting dan gelang kuno umumnya terbuat dari logam dan biasanya ukurannya besar. Bahkan ada suku tertentu di Kalimantan yang anting nya sangat berat karena terbuat dari logam sampai lubang di telinganya sangat besar dan hal itu menunjukkan statusnya dalam suku tersebut. Dari hal ini dapat dilihat bahwa pakaian (beserta aksesori) dapat menunjukkan darimana seseorang berasal, misalnya dari kalangan bangsawan atau rakyat jelata.





Berikut ini juga merupakan salah satu contoh pakaian adat pria yang disebut Karai Ne Tuama. Karai Ne Tuama berasal dari Menado dan terbuat dari serat pisang. Baju berleher V ini digunakan oleh laki-laki dalam upacara adat. Dalam pengembangannya, baju ini dilapisi oleh bahan katun agar tidak panas/gatal.





Pakaian juga dapat menunjukkan asal seseorang. Hal ini dapat dilihat dari motif pakaian/batik yang digunakan, karena umumnya batik memiliki corak tersendiri yang berbeda-beda setiap daerahnya. Pekalongan adalah salah satu daerah pusat pembuatan batik di pantai Utara dengan ciri khas motif berbupa bunga berwarna merah muda, kuning dan biru. Beberapa pola batik Pekalongan juga dibuat di Cirebon yang merupakan salah satu daerah pembuatan batik yang amat penting di dunia perbatikan. Motif batik Cirebonan banyak dipengaruhi oleh motif keratonan yang disesuaikan dengan pengaruh Islam (karena pengaruh Islam disana pada saat itu kuat). Selain itu, batik  Cirebonan juga banyak dipengaruhi oleh motif dan warna Cina seperti merah dan biru pada motif bunga, awan atau megamendung serta burung.









[+/-]Baca Lebih Lanjut? Klik Judul Artikel

16 tahun hidup saya - Kayrana Amadyatara

|

Sebuah autobiografi.
Kayrana Amadyatara XI IPA 1.



Lahir-Balita

11 Mei 1994. Akhirnya tiba juga hari yang telah dinantikan oleh kedua orang tua saya. Setelah menanti sekitar empat setengah tahun setelah menikah, akhirnya saya pun hadir di dunia. Kayrana Amadyatara, putri pertama dari pasangan Ronny Suhendi dan Mira Rachmalia. Saya lahir dengan proses persalinan normal di Rumah Sakit Pondok Indah pukul 17.50, tepat ketika Adzan Maghrib berkumandang. Mungkin ini sebagai ‘penyambut’ atas hadirnya saya setelah penantian bertahun-tahun. Hal ini tentu merupakan kebahagiaan yang luar biasa bagi kedua orangtua saya, dan juga bagi keluarga yang lain terutama Oma (Ibu dari Mama). Mungkin karena saya adalah cucu perempuan pertama yang Oma miliki, dan Mama adalah satu-satunya anak perempuan Oma (seluruh Kakak dan Adik Mama adalah laki-laki).

Menurut Mama, saya tidak rewel pada malam hari. Saya selalu tertidur pulas dari habis maghrib sampai pagi, tidak pernah terbangun tengah malam. Namun pada siang hari saya sangat aktif dan tidak pernah bisa tidur siang, dan hal ini terus berlanjut sampai sekarang. ‘Kakak juga pertumbuhannya lebih cepet dari anak-anak lain, 11 bulan udah lancar komunikasi dan jalan’, begitu kata Mama. Ketika umur 1 tahun 10 bulan, kedua orangtua saya mengajak saya pergi berlibur. Dan kata Mama ‘Kakak waktu lagi di tour bus udah berani misahin diri dari Mama, nyamperin dan ngajak ngobrol penumpang lainnya’.


Ketika usia dua tahun, saya mulai dimasukkan ke Playgroup. Ini dikarenakan kondisi Mama yang tidak terlalu sehat karena sedang hamil anak ke dua, sehingga tidak selalu bisa menemani saya. Saya masih ingat kegiatan favorit saya adalah bermain didalam kain besar yang diangkat dan dikibar-kibarkan, sehingga kita seolah sedang merasakan badai. Usia tiga tahun, saya dipindahkan ke kelompok bermain Bakti Mulya 400. Ketika saya berusia 3 tahun juga, lahirlah adik saya ke dunia. Ia diberi nama Khariza Nararya. Saya senang sekali karena adik yang sudah saya nanti-nantikan akhirnya lahir dan saya resmi menjadi seorang ‘Kakak’ (Walaupun dari sebelum punya adik saya sudah dipanggil Kakak). Tahun 1998 di usia 4 tahun, saya melanjutkan TK kembali di Bakti Mulya. Namun pada tahun tersebut, terjadi peristiwa yang berdampak besar bagi banyak orang yakni Kerusuhan 98 dan krisis moneter melanda Indonesia. Harga barang naik berlipat-lipat. 1 Dolar Amerika yang awalnya bernilai Rp. 2.500 melonjak menjadi sekitar Rp. 15.000. Keadaan juga menjadi tidak aman dan terjadi penjarahan dimana-mana. Saya ingat betul ketika minimarket dekat rumah saya hangus dibakar dan dijarah massa. Jalan raya diisi tank dan panser TNI, bahkan supermarket didalam sebuah Mall terpaksa dijaga pasukan karena takut dijarah. Sungguh keadaan yang mengerikan.

Masa SD

Seiring berjalannya waktu, semuanya menjadi lebih baik. Memasuki usia SD (6 tahun), saya kembali melanjutkan sekolah saya di Bakti Mulya. Ketika saya duduk di kelas 2 SD, terjadi peristiwa yang menggemparkan dunia. Terjadi penyerangan oleh terorisme ke gedung-gedung penting Amerika Serikat (disebut tragedi 9/11). Menara kembar tertinggi di dunia, WTC runtuh setelah ditabrak pesawat. Hari itu saya menyaksikan langsung kejadian tersebut yang disiarkan di televisi. Awalnya saya dan keluarga menganggap itu hanya kecelakaan biasa, namun ternyata peristiwa tersebut merupakan salah satu peristiwa terorisme terbesar dalam sejarah Amerika Serikat karena menelan nyawa sekitar 3000 jiwa.



Selama bersekolah di SD Bakti Mulya 400, saya sering terlibat dalam banyak kegiatan seni. Antara lain mengikuti paduan suara, menjadi anggota ansambel dan tergabung dalam drum band. Prestasi yang dihasilkan juga cukup baik, antara lain menjadi juara 3 di lomba paduan suara tingkat Jakarta. Selain kegiatan di sekolah, saya juga mengikuti berbagai kegiatan kursus. Antara lain kursus balet di Namarina yang saya jalani selama 5 tahun, kursus bahasa inggris, piano, mengaji, kursus renang, softball dan tenis. ‘Olahraga itu gak cuma bagus buat badan, tapi juga bagus buat melatih kerja kelompok supaya jadi terbiasa’, begitu kata Ayah. Memang pada akhirnya saya tidak melanjutkan ke salah satu cabang olahraga dengan serius, namun saya bersyukur saya pernah mencoba berbagai macam kegiatan dan mendapatkan dasar-dasarnya yang bisa saya manfaatkan sekarang. Selain itu, saya juga sempat bergabung dengan tim basket untuk kompetisi di sekolah namun tidak berlanjut karena sudah kelas 6.

Di kelas 6 itulah saya menemukan sosok guru yang luar biasa. Namanya Pak Budi. Ia adalah wali kelas saya di kelas 6A, ahli dalam mata pelajaran IPS. Ia adalah guru yang sangat baik dalam membimbing muridnya, senang memberi games-games menarik namun akan menjadi sangat tegas ketika kami berbuat salah. Di bawah bimbingan Pak Budi inilah akhirnya saya berhasil mendapat nilai yang cukup memuaskan di ujian-ujian akhir dan masuk SMP Labschool Kebayoran.

Masa SMP

Memasuki usia SMP, saya sangat antusias dengan masuknya saya ke SMP Labschool Kebayoran. Hal ini dikarenakan saya akhirnya merasakan suasana yang ‘berbeda’ karena telah menghabiskan masa TK dan SD saya di sekolah yang sama. Saya juga sangat bersyukur karena berhasil lulus tes masuknya yang menurut saya sangat sulit. Ketika mulai sekolah, saya cukup kaget dengan kegiatan dan suasana di Labschool yang berbeda dari sekolah umumnya. Salahsatunya adalah kegiatan lari pagi setiap jumat. Masa transisi ini cukup berat namun terasa menyenangkan karena diduking lingkungan sekolah yang mendukung. Di tengah semester 2 kelas 7 dibukalah seleksi pendaftaran untuk menjadi pengurus OSIS. Saya dari awal masuk Labschool sangat terkesima dengan kegiatan OSIS yang terlihat menyenangkan, karena itulah saya pun mencoba mendaftar. Setelah mengikuti serangkaian tes dan kegiatan ke-pra-osis-an, saya lolos seleksi dan diterima menjadi pengurus OSIS. Saya pun dilantik menjadi seksi Wawasan Global 3.




Selain diisi dengan kegiatan ke-OSIS-an, masa SMP diisi dengan banyak kegiatan lainnya. Di kelas 7 kami mengikuti kegiatan MOS, Pesantren, LDKS-KARISMA (proses seleksi OSIS) dan lari lintas juang (karena saya menjadi anggota MPK di kelas 7). Di kelas 8, kami wajib mengikuti kegiatan BIMENSI yaitu Bina Mental Siswa yang diadakan di Marinir.

Memasuki kelas 9, kegiatan belajar-mengajar menjadi prioritas. Kami dipersiapkan dengan sangat matang oleh sekolah untuk menempuh UAN, dengan mengikuti berbagai tambahan pelajaran yang disebut ‘paket’ serta tryout. Kami juga diberi motivasi secara mental dan sering melakukan kegiatan ‘afirmasi’. Alhamdulillah, perjuangan selama 3 tahun di SMP berhasil ditutup dengan hasil UAN yang cukup baik.


Tapi kabar gembira tidak selamanya datang. Di sela waktu menunggu hasil ujian, saya pergi ke dokter spesialis ortopedi untuk memeriksakan tulang belakang saya yang terasa berbeda. Setelah dilakukan pemeriksaan, diketahui bahwa saya ternyata menderita skoliosis dengan kurva 42 derajat. Tentu ini cukup mengejutkan karena menurut dokter, jika sudah mencapai 45 derajat keatas harus dioperasi untuk menghentikan pergerakan tulang. Saya yang saat itu sedang giat mengikuti kelas aikido pun akhirnya harus berhenti karena membuat kurva tulang bertambah besar.

Masa SMA

Masuk SMA tentu menjadi hal yang sangat saya nantikan, apalagi karena waktu kosong setelah ujian menuju tahun ajaran baru cukup lama . Saya kembali melanjutkan ke SMA Labschool Kebayoran. Hampir 50% lebih teman-teman SMP melanjutkan ke SMA Labsky. Karena itulah kami tidak terlalu sulit untuk beradaptasi di SMA, juga karena faktor lingkungannya yang berada di area yang sama. Namun ternyata permulaan menjadi siswa SMA tidak begitu baik. Sepulang dari pengarahan MOS, saya merasakan demam. Awalnya hanya menganggap demam biasa, namun ternyata semakin parah, tetapi saya masih masuk di hari pertama sekolah. Akhirnya sepulang sekolah saya pergi ke rumah sakit dan setelah di tes darah diketahui saya terkena penyakit Rubella. Maka malam itu juga saya akhirnya diopname selama 5 hari dan melewatkan seluruh kegiatan di minggu-minggu pertama SMA.

Setelah sembuh, saya mengetahui bahwa saya masuk di kelas calon siswa akselerasi. Awalnya saya bersemangat untuk mengikuti program akselerasi, namun setelah mencoba menyesuaikan diri ternyata saya tidak menyukai metode belajar yang digunakan, sehingga saya memutuskan untuk kembali ke kelas reguler setelah satu bulan ‘masa percobaan’. Di kelas X ini saya harus beradaptasi dengan pelajaran-pelajaran yang menurut saya berbeda dengan sewaktu SMP, terutama di mata pelajaran Kimia. Meskipun cukup melelahkan, alhamdulillah saya masih bisa mengejar nilai yang cukup baik. Selain itu, di kelas X saya juga harus mengikuti kegiatan wajib antara lain Trip Observasi dan Bintama yang sangat berkesan.

Masa kelas X berlangsung dengan sangat cepat, dan tidak terasa saya sudah berada di kelas XI. Saya masuk ke jurusan IPA. Saya agak menyesal karena pada akhir kelas X saya bingung memutuskan masuk ke jurusan IPA atau IPS, dan akhirnya memutuskan IPA namun sebenarnya jurusan kuliah yang saya inginkan adalah program IPS. Namun saya tidak menyesal saya berada di kelas XI IPA 1 karena teman-teman sekelas ini menyenangkan, meskipun di kelas 11 ini banyak sekali kegiatan non akademis yang menyita waktu belajar karena saya juga tergabung dalam OSIS sebagai seksi olahraga. Salah satunya adalah ketika saya harus mempersiapkan kegiatan tahunan sekolah yakni Sky Battle yang akhirnya selesai dilaksanakan.











Mimpi dan Masa Depan.

Tidak terasa bulan depan saya akan genap 17 tahun. Tidak terasa sebentar lagi saya akan menjadi siswa kelas 12, lalu masuk kuliah. Saya ingin lulus SMA dengan nilai baik dan melanjutkan kuliah di FEUI. Saya juga ingin membuka bisnis yang bisa mempekerjakan banyak orang, sehingga bisa membantu orang-orang yang membutuhkan pekerjaan. Selain bisnis, saya juga tertarik dengan bidang seni dan hubungan internasional. Memang, di kepala saya saat ini masih rancu apa yang ingin saya lakukan setelah kuliah nanti. Saya berharap seiring berjalannya waktu, saya dapat menentukan dan melaksanakan ‘cita-cita’ yang pas untuk saya dan bisa membahagiakan kedua orangtua. Amin.








[+/-]Baca Lebih Lanjut? Klik Judul Artikel

 

Design modified by mugimunteng | Basic Design by Dzignine in Collaboration with Trucks, SUV, Kidney Stones