otakatikawas!

otakatikawas!
Showing posts with label Nadya Amalia Hakim. Show all posts
Showing posts with label Nadya Amalia Hakim. Show all posts

Tugas 2, Saya dan Saksi Sejarah

|

Saya mendapat tugas dari pelajaran sejarah untuk membuat biografi tentang seorang saksi sejarah. Karena kakek dan nenek dari ibu saya keduanya sudah meninggal dunia begitu juga dengan kakek dari ayah saya, sedangkan nenek dari ayah saya tinggal di Surabaya dan cukup sulit untuk menghubunginya, akhirnya tokoh yang saya pilih untuk tugas ini adalah ibu saya sendiri.
              
  
Pada tanggal 29 Mei 1966, ibu saya yang bernama Dian Budiani dilahirkan dari pasangan suami istri Sutardi Winoto dan Hartilah. Dian lahir di Bandung. Beliau merupakan anak terakhir dari 6 bersaudara. Ibu saya pertama kali mendapatkan pendidikan di Taman Kanak-kanak Santa Anna di Surabaya. Beliau melanjutkan pendidikan Sekolah Dasar di Santa Anna sampai dengan kelas 2 SD. Kakek saya sering dinas ke berbagai daerah yang berbeda, sehingga ibu saya harus pindah dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Kelas 3 SD, ibu saya pindah ke Surabaya dan melanjutkan di SD Maria Fatima sampai dengan kelas 5 SD. Tahun berikutnya beliau pindah ke SD Tarakanita. Untuk pendidikan Sekolah Menengah Pertama, ibu saya bersekolah di SMP Stella Duce di Yogya selama satu tahun. Untuk kelas 2 dan 3 SMP, beliau pindah ke Semarang karena kakek saya harus pindah kesana, di SMP Maria Goretti. Selanjutnya ibu saya melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Atas di Semarang tepatnya di SMA Loyola. Semua pendidikan yang ditempuh oleh ibu saya adalah sekolah Kristen yang keras dan sangat disiplin dalam mendidik muridnya, dimana mendapatkan nilai yang bagus adalah hal yang sulit. Selanjutnya ibu saya meneruskan pendidikan kuliahnya di Fakultas Sastra Universitas Indonesia, selama satu tahun. Pada tahun berikutnya beliau meneruskan kuliahnya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia selama 6 tahun ke depan, dan lulus dengan gelar dokter umum pada tahun 1991. Di masa kuliah ini jugalah ibu saya bertemu dengan ayah saya yang juga mahasiswa kedokteran UI, kemudian menikah pada tanggal 23 Februari 1992. Awalnya ibu saya ingin meneruskan pendidikannya untuk menjadi dokter spesialis, terutama dokter saraf atau dokter kandungan karena ibu saya sangat menyukai ilmu itu, namun karena ayah saya juga akan meneruskan untuk menjadi dokter spesialis ibu saya berpikir bahwa mereka berdua akan sangat sibuk dan kewalahan mengurus saya dan adik-adik saya. Setelah lulus kuliah, ibu saya bekerja di Klinik Siaga, Jakarta Selatan selama 1 tahun. Setelah itu beliau pindah bersama ayah saya untuk bekerja di Puskesmas Kecamatan Muara Bengkal, Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur selama 3 tahun sebagai Pegawai Tidak Tetap Departemen Kesehatan. Dulu hal ini adalah sebuah kewajiban untuk dokter yang baru lulus untuk harus bekerja selama beberapa tahun di daerah, menurut peraturan Departemen Kesehatan saat itu. Pada tahun 1994 tepatnya tanggal 31 Oktober 1994, saya lahir di Surabaya dan sempat juga tinggal di Kalimantan ini selama satu tahun. Setelah menyelesaikan tugas di Kalimantan, ibu saya bekerja sebagai konsultan untuk perusahaan asuransi kesehatan selama 4 tahun. Pada tahun-tahun ini ayah saya melanjutkan kuliahnya di Bandung untuk mencapai gelar dokter spesialis, sehingga ibu saya harus mengurus saya sendirian di Jakarta selama kurang lebih 2-3 tahun. Kemudian beliau bekerja di PT Prudential Life Assurance selama 12 tahun sampai sekarang ini. Berikut ini adalah beberapa peristiwa dan perubahan sejarah yang terjadi dan terkenang oleh ibu saya:               

1978
Pada tahun 1978 ini ibu saya berumur 12 tahun dan duduk di bangku SMP. Pada tahun ini, ibu saya dan teman-temannya mengalami perubahan tahun ajaran yang diberlakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Saat itu tahun ajaran yang berlaku adalah dari Januari-Desember, namun tiba-tiba dilakukan perubahan, yaitu tahun ajaran baru dari bulan Juli sampai bulan Juli berikutnya. Karena hal yang mendadak ini, ibu saya dan teman-temannya kehilangan waktu dan rugi 6 bulan karena tidak melakukan apa-apa, yang seharusnya sudah naik kelas 2 namun harus menunggu lagi karena naik kelasnya ditunda. Hal yang mendadak ini juga ditambah dengan tidak adanya penjelasan dari Depdiknas tentang alasan kenapa harus diberlakukannya tahun ajaran baru ini. Semua sekolah diberlakukan secara serentak, dan tahun ajaran ini pun kemudian dipakai hingga saat ini.

1981
Pada tahun 1981 ini, ibu saya sedang duduk di bangku SMA. Pada periode ini di Indonesia khususnya Semarang tempat ibu saya tinggal saat itu, muncul-lah rasa permusuhan antara kalangan pribumi dengan kalangan Cina. Awalnya semua itu hanya dalam konteks yang masih sederhana dan tidak mengganggu, namun lama kelamaan berkembang menjadi kekerasan. Orang-orang Cina tidak berani pergi dan keluar rumah. Karena kebetulan ibu saya tinggal di kompleks yang banyak penghuni Cina-nya, kompleks rumahnya pun jadi sepi karena orang-orang itu sampai mengungsi dan pindah ke tempat lain. Di Semarang, kondisi ekonominya dikendalikan dan cukup dipengaruhi oleh pengusaha Cina, jadi jalanan tempat pusat usaha juga sepi. Jika ada orang Cina yang berani membuka toko maka akan dilempari batu oleh warga setempat. Kebetulan ibu saya memiliki mata yang kecil dan kulit yang putih, begitu juga dengan nenek dan adik nenek saya, sehingga mereka pun ikut merasakan kewas-was-an pergi keluar rumah karena takut dianggap orang Cina dan ikut diserang oleh warga.

1997
Pada tahun 1997-1998 terjadi sebuah kerusuhan yang berawal dari peristiwa krisis moneter di Indonesia, khususnya Jakarta. KRISIS moneter Indonesia disebabkan oleh kebijakan Pemerintah Thailand di bulan Juli 1997 untuk mengambangkan mata uang Thailand “Bath” terhadap Dollar US. Selama itu mata uang Bath dan Dollar US dikaitkan satu sama lain dengan suatu kurs yang tetap. Devaluasi mendadak dari Bath ini menimbulkan tekanan terhadap mata-mata uang negara ASEAN lainnya dan menjalarlah tekanan devaluasi di wilayah ini, termasuk Indonesia. Pada bulan September/Oktober 1997, nilai mata uang rupiah terhadap dollar sudah turun sebesar 30% sejak bulan Juli 1997. 1 tahun kemudian pada bulan Juli 1998, nilai rupiah kembali turun sekitar 90%, diikuti dengan pertumbuhan ekonomi yang merosot menjadi –13,7% dari pertumbuhan sebesar +4,9% di tahun sebelumnya. Di tengah krisis ekonomi yang parah itu, MPR mengesahkan Soeharto sebagai presiden untuk ketujuh kalinya dengan Prof Ing BJ Habibie sebagai wakil presiden. Pada 17 Maret 1998, ia menyumbangkan seluruh gaji dan tunjangannya sebagai presiden dan meminta kerelaan para pejabat tinggi lainnya untuk menyerahkan gaji pokoknya selama satu tahun dalam rangka krisis moneter. Presiden Soeharto menyatakan bersedia mundur kalau memang rakyat menghendaki. Sebelas menteri bidang ekonomi dan industri Kabinet Pembangunan VII mengundurkan diri. Dampak krisis moneter ini juga terjadi pada ribuan mahasiswa yang menggelar aksi keprihatinan di berbagai tempat. Mahasiswa Trisaksi, Jakarta mengelar aksinya tidak jauh dari kampus mereka. Peserta aksi mulai keluar dari halaman kampus dan memasuki jalan artileri serta berniat datang ke Gedung MPR/DPR yang memang sangat stategis. Puncaknya sore hari adalah saat terdengar siaran berita meninggalnya empat mahasiswa Trisakti. 18 Mei 1998, ribuan mahasiswa kembali mendatangi Gedung MPR/DPR. Aksi tersebut berakhir dengan mundurnya Presiden Soeharto, tepat 70 hari setelah diangkat kembali menjadi presiden untuk periode yang ketujuh kalinya, pada tanggal 21 Mei 1998.
Ibu saya yang saat itu bekerja menjadi konsultan di perusahaan asuransi juga merasakan dampaknya. Karena nilai tukar yang rendah, banyak perusahaan yang tidak sanggup untuk membayar orang asing yang bekerja di perusahaan mereka. Akibatnya nasabah-nasabah asing berkurang drastis dan cukup menyebabkan kerugian. Kemudian pada periode ini juga tidak mungkin untuk membeli barang-barang import karena sangat mahal. Selain itu para pengusaha tingkat menengah, salah satunya adalah kakek saya yang mempunyai usaha toko di rumahnya, juga mengalami kesulitan menjual barang yang makin mahal. Pada tahun 1997 ini ibu saya juga melahirkan adik laki-laki saya, Emil. Krisis moneter ini membuat ibu saya sangat sulit mencari susu untuk adik saya  karena sangat jarang dijual, bahkan di supermarket besar seperti Hero tidak ada. Karena jarang dijual tentu saja harganya sangat mahal. Karena itu ibu saya harus titip kepada ayah saya yang sedang kuliah di Bandung untuk membeli susu, karena di Bandung susu masih cukup mudah untuk ditemukan dan dijual dimana-mana.

2004
Pada tahun ini, ibu saya sedang bekerja di Prudential, sebuah perusahaan asuransi. Pada periode ini, hukum tentang kepailitan di Indonesia masih belum jelas. Jadi jika ada sebuah perusahaan yang berhutang kepada sebuah pihak tertentu, maka pihak ini dapat menuntut perusahaan ini apabila hutangnya tidak dilunasi sesuai tanggal yang ditetapkan, walaupun kekayaan perusahaan ini sendiri jauh lebih besar dibandingkan hutang yang ia miliki. Di Prudential itu, ada sebuah pihak yang merasa bahwa Prudential telah melewati batas tanggal pelunasan hutang, lalu pihak itu menuntut agar Prudential dipailitkan atau tutup dan berhenti beroperasi. Prudential akhirnya tutup selama kurang lebih satu minggu sambil mengupayakan penyelesaian melalui jalur hukum. Penyelesaian peristiwa ini cukup memakan waktu sampai akhirnya Prudential memenangkan perkara ini, dan pihak tersebut dilunasi hutangnya. Sejak saat itu, satu tahun berikutnya hukum kepailitan di Indonesia mengalami revisi sehingga tidak semudah itu sebuah pihak dapat menuntut perusahaan tertentu, namun juga harus diperhatikan perbandingan antara kekayaan perusahaan dengan hutang yang ada. 

[+/-]Baca Lebih Lanjut? Klik Judul Artikel

Tugas 4, Saya dan Negeri 1000 Gajah

|

Republik Demokratik Rakyat Laos adalah negara yang terkurung daratan di Asia Tenggara, berbatasan dengan Myanmar dan Republik Rakyat Cina di sebelah barat laut, Vietnam di timur, Kamboja di selatan, dan Thailand di sebelah barat. Dari abad ke-14 hingga abad ke-18, negara ini disebut Lan Xang atau "Negeri Seribu Gajah".

Politik
Satu-satunya partai politik yang diakui di Laos adalah Partai Revolusioner Rakyat Laos (LPRP). Kepala negara adalah seorang presiden yang ditentukan oleh parlemen untuk masa jabatan 5 tahun. Kepala pemerintahan adalah seorang perdana menteri yang ditunjuk oleh presiden dengan persetujuan dari parlemen. Kebijakan pemerintahan ditentukan oleh partai melalui 9 anggota yang sangat berkuasa Politbiro dan 49 anggota Komite Pusat. Keputusan pemerintah yang penting ditentukan Dewan Menteri.
Laos menganut konstitusi baru sejak 1991. Pada tahun berikutnya, pemilu diadakan untuk 85 kursi baru Majelis Nasional yang anggotanya dipilih secara rahasia untuk masa jabatan 5 tahun. Parlemen tunggal ini diperluas sejak pemilu 1997 menjadi 99 anggota, menyetujui semua hukum baru, meskipun presidenlah yang memegang kekuasaan untuk mengeluarkan dekrit yang sifatnya mengikat. Pemilu yang terbaru dilaksanakan pada Februari 2002 ketika Majelis Nasional diperluas menjadi 109 anggota.
Sisa-sisa dari kelompok etnis Hmong yang beraliansi dengan Amerika Serikat ketika Perang Vietnam terlibat dalam konflik bersenjata dengan rezim komunis Laos sejak 1975. Sehubungan dengan adanya beberapa laporan tentang penyerahan diri etnis Hmong di media internasional baru-baru ini, konflik ini sepertinya sudah agak mereda. Sebagian besar anggota etnis Hmong berbaur kembali dengan masyarakat secara damai, dan sebagian dari mereka bahkan dilaporkan meraih posisi strategis di dalam pemerintahan negara Laos.
Serangan-serangan masih terjadi secara kecil-kecilan di seluruh negeri, tetapi tidak mengarah kepada salah satu gerakan politik. Segala perbedaan pendapat di Laos dimusnahkan, sehingga informasi yang benar sulit didapat.

Sejarah
Laos jejak sejarahnya pertama kali tercatat dan asal sebagai negara yang bersatu untuk munculnya Kerajaan Lan Xang ("sejuta gajah") pada tahun 1353. Di bawah pemerintahan Raja Fa Ngum, kekayaan dan kemakmuran Thailand dan Laos inilah berasal. Penerusnya, terutama Raja Setthathirat pada abad ke-16, membantu mendirikan Buddhisme sebagai agama dominan negara. Pada abad ke-17, kerajaan Lan Xang memasuki masa penurunan ditandai dengan perjuangan dinasti dan konflik dengan tetangganya. Pada abad 18 an, Siam (Thailand) mendirikan hegemoni lebih banyak dari Laos saat ini. Wilayah ini dibagi menjadi kerajaan yang berpusat di Luang Prabang di utara, Vientiane di tengah, dan Champassak di selatan. Setelah penjajahan mereka di Vietnam, Perancis menggantikan Siam dan mulai mengintegrasikan Laos ke dalam kekaisaran Perancis. Perjanjian Franco-Siamese tahun 1907 ditetapkan batas Lao hadir dengan Thailand.
Selama Perang Dunia II, Jepang mendududuki Perancis Indocina, termasuk Laos. Raja Sisavang Vong dari Luang Prabang diperintahkan untuk mendeklarasikan kemerdekaan dari Perancis pada tahun 1945, sebelum Jepang menyerah. Selama periode ini, nasionalisme mula tumbuh. Pada bulan September 1945, Vientiane dan Champassak bersatu dengan Luang Prabang untuk membentuk pemerintahan independen di bawah Laos Bebas (Lao Issara). The Gerakan ini, bagaimanapun, berumur pendek. Pada awal 1946, pasukan Prancis mengambil alih negeri dan memberikan otonomi terbatas pada Laos setelah pemilihan untuk majelis konstituante. Selama perang Indochina pertama antara Perancis dan gerakan komunis di Vietnam, Pangeran Souphanouvong membentuk Pathet Lao (Tanah Laos) perlawanan organisasi berkomitmen untuk perjuangan komunis melawan kolonialisme. Laos tidak diberikan kedaulatan penuh sampai kekalahan Perancis oleh Vietnam dan konferensi perdamaian di Jenewa selanjutnya 1954. Pemilu diadakan pada tahun 1955, dan pemerintah koalisi pertama, yang dipimpin oleh Pangeran Souvanna Phouma, dibentuk pada tahun 1957. Pemerintah koalisi runtuh pada tahun 1958, di tengah meningkatnya polarisasi dari proses politik.

Pada tahun 1960, Kong Le, seorang kapten Paratroop, menduduki Vientiane dalam kudeta dan menuntut pembentukan pemerintahan netral untuk mengakhiri pertempuran. Pemerintah netralis, sekali lagi dipimpin oleh Souvanna Phouma, tidak berhasil dalam memegang kekuasaan. Pasukan Kanan di bawah Jenderal Phoumi Nosavan mengendarainya dari kekuasaan kemudian pada tahun yang sama. Selanjutnya, neutralists bersekutu dengan pemberontak komunis dan mulai menerima dukungan dari Uni Soviet. Phoumi Nosavan's menerima dukungan dari Amerika Serikat.
Konferensi Gevena yang kedua, diadakan di 1961-62, disediakan untuk independensi dan netralitas Laos. Segera setelah kesepakatan tercapai, penandatangan saling menuduh melanggar syarat-syarat perjanjian, dan dengan dukungan negara adidaya di kedua sisi, perang saudara segera dilanjutkan. Meskipun adalah untuk bersikap netral, kehadiran Amerika dan militer Vietnam Utara berkembang di negeri ini semakin menarik Laos ke dalam perang Indocina kedua (1954-1975). Selama hampir satu dekade, Laos menjadi sasaran pemboman sangat berat sebagai US berusaha untuk menghancurkan sebagian dari Ho Chi Minh Trail yang melewati Laos timur.
Pada tahun 1972, Partai Rakyat Komunis berganti menjadi Partai Rakyat Laos Revolusioner. Ia bergabung dengan pemerintahan koalisi baru di Laos segera setelah perjanjian gencatan senjata Vientiane pada tahun 1973. Meskipun demikian, perjuangan politik antara komunis, neutralists, dan golongan kanan terus berjalan. Jatuhnya Saigon dan Phnom Penh untuk pasukan komunis pada bulan April 1975 mempercepat penurunan koalisi di Laos. Berbulan-bulan setelah kemenangan komunis ini, Pathet Lao masuk Vientiane. Pada tanggal 2 Desember 1975, raja melepaskan takhta-Nya di monarki konstitusional, dan Laos Komunis Republik Rakyat Demokratik didirikan.
Pemerintah komunis baru yang dipaksakan terpusat langkah-langkah ekonomi keamanan pengambilan keputusan dan luas, termasuk kontrol media dan penangkapan dan penahanan anggota banyak pemerintah sebelumnya dan militer dalam "kamp pendidikan ulang." Kebijakan-kebijakan kejam dan kondisi ekonomi yang memburuk, seiring dengan upaya pemerintah untuk menegakkan kontrol politik, diminta eksodus Lao dataran rendah dan etnis Hmong dari Laos. Sekitar 10% dari penduduk Laos dicari status pengungsi setelah 1975, banyak dari mereka ditempatkan di negara ketiga, termasuk Amerika Serikat. Dari tahun 1975 sampai 1996, AS dipindahkan sekitar 250.000 pengungsi Laos dari Thailand, termasuk 130.000 Hmong.
Seiring waktu, Pemerintah Laos menutup kamp pendidikan ulang dan membebaskan kebanyakan tahanan politik. Pada akhir 1999, lebih dari 28.900 Hmong dan dataran rendah Lao sukarela dipulangkan ke Laos - 3, 500 dari China dan sisanya dari Thailand. Melalui Kantor Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), dan organisasi non-pemerintah, AS telah mendukung berbagai program bantuan reintegrasi seluruh Laos. UNHCR UNHCR dipantau kembali selama beberapa tahun dan melaporkan tidak ada bukti penindasan sistemik atau diskriminasi. UNHCR menutup kantornya di Laos pada akhir tahun 2001.
Keguncangan politik di negara tetangganya Vietnam membuat Laos menghadapi Perang Indochina Kedua yang lebih besar (disebut juga Perang Rahasia) yang menjadi faktor ketidakstabilan yang memicu lahirnya perang saudara dan beberapa kali kudeta. Pada 1975 kaum komunis Pathet Lao yang didukung Uni Soviet dan komunis Vietnam menendang pemerintahan Raja Savang Vatthana dukungan Amerika Serikat dan Perancis. Setelah mengambil alih negara ini, mereka mengganti namanya menjadi Republik Demokratik Rakyat Laos yang masih berdiri hingga saat ini. Laos mempererat hubungannya dengan Vietnam dan mengendurkan larangan ekonominya pada akhir dekade 1980an dan dimasukkan ke dalam ASEAN pada 1997.

Pembagian administratif
Laos dibagi menjadi 16 provinsi (khoueng), 1 kotapraja* (kampheng nakhon), dan 1 daerah khusus** (khetphiset) yang terdiri dari Attapu, Okeo, Borikhamxay,Champassack, Houaphan, Khammouane, Louang Namtha, Louangphabang, Oudomxay, Phongsaly, Saravane, Savannakhet, Vientiane, Xaignabouli, Saysomboun, Xekong, Xiangkhoang.

Geografi
Laos adalah negara yang terhimpit oleh daratan di Asia Tenggara dan diselimuti hutan lebat yang kebanyakan bergunung-gunung, di mana salah satunya yang tertinggi adalah Phou Bia dengan ketinggian 2.817 m dari permukaan laut. Laos juga memiliki beberapa dataran rendah dan dataran tinggi. Sungai Mekong membentuk sebagian besar dari perbatasannya dengan Thailand, sementara rangkaian pegunungan dari Rantai Annam membentuk sebagian besar perbatasan timurnya dengan Vietnam.
Iklim Laos adalah tropis dan dipengaruhi oleh angin musim. Musim penghujan berlangsung dari Mei hingga November, diikuti oleh musim kemarau sejak December sampai April. Ibukota dan kota terbesar di Laos adalah Vientiane, kota-kota besar lain meliputi Luang Prabang, Savannakhet, dan Pakse.
Pada 1993, pemerintah mencanangkan 21% dari wilayah negara sebagai Area Konservasi Keanekaragaman Hayati Nasional (National Biodiversity Conservation Area/NBCA), yang mungkin akan dikembangkan menjadi sebuah taman nasional. Bila telah selesai, maka ia diperkirakan akan menjadi taman nasional terbaik dan terluas di Asia Tenggara.
Sejumlah spesies binatang baru telah ditemukan atau ditemukan kembali di Laos beberapa tahun terakhir. Termasuk di dalamnya kelinci Annam, saola, dan yang terbaru adalah tikus batu Laos atau kha-nyou.

Ekonomi
Pemerintah Laos - salah satu dari sekian negara komunis yang tersisa - memulai melepas kontrol ekonomi dan mengizinkan berdirinya perusahaan swasta pada tahun 1986. Hasilnya, pertumbuhan ekonomi melesat dari sangat rendah menjadi rata-rata 6% per tahun periode 1988-2004 kecuali pada saat krisis finansial Asia yang dimulai pada 1997. Seperti negara berkembang umumnya, kota-kota besarlah yang paling banyak menikmati pertumbuhan ekonomi. Ekonomi di Vientiane, Luang Prabang, Pakxe, dan Savannakhet, mengalami pertumbuhan signifikan beberapa tahun terakhir.
Sebagian besar dari wilayahnya kekurangan infrastruktur memadai. Laos masih belum memiliki jaringan rel kereta api, meskipun adanya rencana membangun rel yang menghubungkan Vientiane dengan Thailand yang dikenal dengan Jembatan Persahabatan Thailand-Laos. Jalan-jalan besar yang meghubungkan pusat-pusat perkotaan, disebut Rute 13, telah diperbaiki secara besar-besaran beberapa tahun terakhir, namun desa-desa yang jauh dari jalan-jalan besar hanya dapat diakses melalui jalan tanah yang mungkin tidak dapat dilalui sepanjang tahun. Ada telekomunikasi internal dan eksternal yang terbatas, terutama lewat jalur kabel, namun penggunaan telepon genggam/handphone telah menyebar luas di pusat perkotaan. Listrik tidak tersedia di banyak daerah pedesaab atau hanya selama kurun waktu tertentu. Pertanian masih memengaruhi setengah dari PDB dan menyerap 80% dari tenaga kerja yang ada. Ekonomi Laos menerima bantuan dari IMF dan sumber internasional lain serta dari investasi asing baru dalam bidang pemrosesan makanan dan pertambangan, khususnya tembaga dan emas. Pariwisata adalah industri dengan pertumbuhan tercepat di Laos. Pertumbuhan ekonomi umumnya terhambat oleh banyaknya penduduk berpendidikan yang pindah ke luar negeri akibat tidak tersedianya lapangan pekerjaan yang memadai. Pada 2005 penelitian oleh Bank Dunia melaporkan bahwa 37% dari penduduk Laos yang berpendidikan tinggal di luar negeri, menempatkan Laos pada tempat ke-5 di dunia untuk kasus ini.
Akhir 2004 Laos menormalisasi hubungan dagangnya dengan Amerika Serikat, yang membuat produsen Laos mendapatkan tarif ekspor yang lebih rendah sehingga merangsang pertumbuhan ekonomi mereka dari sektor ekspor.

Kebudayaan
Agama Theravada telah banyak memengaruhi kebudayaan Laos. Pengaruhnya dapat terlihat pada bahasa, seni, sastra, Seni tari, dll. Musik Laos didominasi oleh alat musik nasionalnya, disebut khaen (sejenis pipa bambu). Sebuah kelompok musik umumnya terdiri dari penyanyi (mor lam) dan seorang pemain khaen (mor khaen) bersama pemain rebab dan pemain instrumen lain. Lam saravane adalah jenis musik terpopuler di antara musik-musik Laos, tetapi etnis Lao di Thailand telah mengembangkannya menjadi mor lam sing yang menjadi salah satu best-selling internasional. Salah satu bukti penting dari kebudayaan Laos kuno terdapat di Dataran Guci.

SUMBER:


[+/-]Baca Lebih Lanjut? Klik Judul Artikel

Tugas 3, Saya dan Prasasti Tugu

|

PERJALANAN & PEMILIHAN ARTEFAK
Untuk tugas tiga sejarah kali ini, saya akan menceritakan sebuah artefak sejarah yaitu Prasasti Tugu yang terletak di Museum Nasional. Pada hari Jumat 20 Mei 2011 kemarin saya, Akla, Kayrana, Cintya, Raras, Michelle, Hana, Adis, Adira, Della, Kiki, Eka pergi ke museum tersebut selepas solat Jumat dan bertemu dengan Olaf, Andry, Okti, Ifan, Yoga, dan Heza. Tiket yang harus dibayar karena kita masih terhitung anak-anak adalah sebesar Rp 2.000,-. Pertama-tama saya memasuki bagian nusantara dimana terdapat berbagai macam peninggalan seperti perahu, alat musik, topeng, dan lain-lain dari berbagai penjuru. Lalu saya pergi ke bagian arca-arca dimana terdapat arca Ganesha, Wisnu, dan dewa-dewa lainnya. Setelah itu saya pergi ke bagian gedung yang baru dibangun, terdapat berbagai fosil homo soloensis, contoh rumah adat, nekara, alat masak, pakaian, kain, perhiasan, dan juga berbagai prasasti. Akhirnya saya memutuskan untuk menceritakan Prasasti Tugu yang merupakan salah satu prasasti yang paling dikenal. 


MUSEUM NASIONAL
Museum Nasional Republik Indonesia atau Museum Gajah, adalah sebuah museum yang terletak di Jakarta Pusat dan persisnya di Jalan Merdeka Barat 12. Museum Nasional Republik Indonesia adalah salah satu wujud pengaruh Eropa, terutama semangat Abad Pencerahan, yang muncul pada sekitar abad 18. Gedung ini dibangun pada tahun 1862 oleh Pemerintah Belanda di bawah Gubernur-Jendral JCM Radermacher sebagai respons adanya perhimpunan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen yang bertujuan menelaah riset-riset ilmiah di Hindia Belanda. Museum ini diresmikan pada tahun 1868, tapi secara institusi cikal bakal Museum ini lahir tahun 1778, tepatnya tanggal 24 April, pada saat pembentukan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen oleh pemerintah Belanda. Radermacher menyumbang sebuah gedung yang bertempat di Jalan Kalibesar beserta dengan koleksi buku dan benda-benda budaya sehingga menjadi dasar untuk pendirian museum. Di masa pemerintahan Inggris di bawah pimpinan Sir Thomas Stamford Raffles (1811-1816), yang juga berlaku sebagai Direktur dari Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen memerintahkan pembangunan gedung baru yang terletak di Jalan Majapahit No.3. Gedung ini digunakan sebagai museum dan ruang pertemuan untuk Literary Society (dahulu bernama "Societeit de Harmonie".) Gedung ini sekarang berada di kompleks Sekretariat Negara.
Di tahun 1862, setelah koleksi memenuhi museum di Jalan Majapahit, pemerintah Hindia-Belanda mendirikan gedung baru yang berlokasi di Jalan Merdeka Barat No.12. Gedung ini dibuka untuk umum pada tahun 1868.
Museum Nasional dikenal sebagai Museum Gajah sejak dihadiahkannya patung gajah perunggu oleh Raja Chulalongkorn dari Thailand pada 1871. Tetapi pada 28 Mei 1979, namanya resmi menjadi Museum Nasional Republik Indonesia. Kemudian pada 17 September 1962, Lembaga Kebudayaan Indonesia yang mengelolanya, menyerahkan Museum kepada pemerintah Republik Indonesia. Sejak itu pengelolaan museum resmi oleh Direktorat Jendral Sejarah dan Arkeologi, di bawah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Tetapi mulai tahun 2005, Museum Nasional berada di bawah pengelolaan Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata. Catatan di website Museum Nasional Republik Indonesia pada tahun 2001 menunjukkan bahwa koleksinya telah mencapai 109.342 buah. Jumlah koleksi itulah yang membuat museum ini dikenal sebagai yang terlengkap di Indonesia. Pada tahun 2006 jumlah koleksinya sudah melebihi 140.000 buah, tapi baru sepertiganya saja yang dapat diperlihatkan kepada khalayak.

KERAJAAN TARUMANEGARA

Tarumanagara atau Kerajaan Taruma adalah sebuah kerajaan yang pernah berkuasa di wilayah barat pulau Jawa pada abad ke-4 hingga abad ke-7 M. Taruma merupakan salah satu kerajaan tertua di Nusantara yang meninggalkan catatan sejarah. Dalam catatan sejarah dan peninggalan artefak di sekitar lokasi kerajaan, terlihat bahwa pada saat itu Kerajaan Taruma adalah kerajaan Hindu beraliran Wisnu. Bila melihat dari catatan sejarah ataupun prasasti yang ada, tidak ada penjelasan atau catatan yang pasti mengenai siapakah yang pertama kalinya mendirikan kerajaan Tarumanegara. Raja yang pernah berkuasa dan sangat terkenal dalam catatan sejarah adalah Purnawarman. Pada tahun 417 ia memerintahkan penggalian Sungai Gomati dan Candrabaga (Kali Bekasi) sepanjang 6112 tombak (sekitar 11 km). Selesai penggalian, sang prabu mengadakan selamatan dengan menyedekahkan 1.000 ekor sapi kepada kaum brahmana.
Bukti keberadaan Kerajaan Taruma diketahui dengan tujuh buah prasasti batu yang ditemukan. Empat di Bogor, satu di Jakarta dan satu di Lebak Banten. Dari prasasti-prasasti ini diketahui bahwa kerajaan dipimpin oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358 M dan beliau memerintah sampai tahun 382 M. Makam Rajadirajaguru Jayasingawarman ada di sekitar sungai Gomati (wilayah Bekasi). Kerajaan Tarumanegara ialah kelanjutan dari Kerajaan Salakanagara.

1. Prasasti Ciaruteun atau prasasti Ciampea ditemukan ditepi sungai Ciarunteun, dekat muara sungai Cisadane Bogor prasasti tersebut menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta yang terdiri dari 4 baris disusun ke dalam bentuk Sloka dengan metrum Anustubh. Di samping itu terdapat lukisan semacam laba-laba serta sepasang telapak kaki Raja Purnawarman. Gambar telapak kaki pada prasasti Ciarunteun mempunyai 2 arti, yaitu cap telapak kaki melambangkan kekuasaan raja atas daerah tersebut (tempat ditemukannya prasasti tersebut) dan cap telapak kaki melambangkan kekuasaan dan eksistensi seseorang (biasanya penguasa) sekaligus penghormatan sebagai dewa. Hal ini berarti menegaskan kedudukan Purnawarman yang diibaratkan dewa Wisnu maka dianggap sebagai penguasa sekaligus pelindung rakyat.

2. Prasasti Jambu atau prasasti Pasir Koleangkak, ditemukan di bukit Koleangkak di perkebunan jambu, sekitar 30 km sebelah barat Bogor, prasasti ini juga menggunakan bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa serta terdapat gambar telapak kaki yang isinya memuji pemerintahan raja Mulawarman.

3. Prasasti Kebonkopi ditemukan di kampung Muara Hilir kecamatan Cibungbulang Bogor. Yang menarik dari prasasti ini adalah adanya lukisan tapak kaki gajah, yang disamakan dengan tapak kaki gajah Airawata, yaitu gajah tunggangan dewa Wisnu.

4. Prasasti Muara Cianten, ditemukan di Bogor, tertulis dalam aksara ikal yang belum dapat dibaca. Di samping tulisan terdapat lukisan telapak kaki.

5. Prasasti Pasir Awi, ditemukan di daerah Leuwiliang, juga tertulis dalam aksara ikal yang belum dapat dibaca.

6. Prasasti Cidanghiyang atau prasasti Lebak, ditemukan di kampung lebak di tepi sungai Cidanghiang, kecamatan Munjul kabupaten Pandeglang Banten. Prasasti ini baru ditemukan tahun 1947 dan berisi 2 baris kalimat berbentuk puisi dengan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta. Isi prasasti tersebut mengagungkan keberanian raja Purnawarman.

7. Prasasti Tugu 

 
PRASASTI TUGU
Prasasti Tugu adalah salah satu prasasti yang berasal dari Kerajaan Tarumanagara. Prasasti tersebut isinya menerangkan penggalian Sungai Candrabaga oleh Rajadirajaguru dan penggalian Sungai Gomati oleh Purnawarman pada tahun ke-22 masa pemerintahannya. Penggalian sungai tersebut merupakan gagasan untuk menghindari bencana alam berupa banjir yang sering terjadi pada masa pemerintahan Purnawarman, dan kekeringan yang terjadi pada musim kemarau. Prasasti Tugu ditemukan di kampung Batutumbuh, desa Tugu, tepatnya pada koordinat 0°06’34,05” BT (dari Jakarta) dan 6°07’45,40”LS yang sekarang menjadi wilayah kelurahan Tugu selatan, kecamatan Koja, Jakarta Utara. Pada tahun 1911 atas prakarsa P.de Roo de la Faille Prasasti Tugu batu dipindahkan ke Museum Bataviaasch genootschap van Kunsten en Wetenschappen (sekarang Museum Nasional) serta didaftar dengan nomor inventaris D.124. Prasasti Tugu bertuliskan aksara Pallawa yang disusun dalam bentuk seloka bahasa Sansekerta dengan metrum Anustubh yang teridiri dari lima baris melingkari mengikuti bentuk permukaan batu. Sebagaimana semua prasasti-prasasti dari masa Tarumanagara umumnya, Prasasti Tugu juga tidak mencantumkan pertanggalan. Kronologinya didasarkan kepada analisis gaya dan bentuk aksara (analisis palaeografis). Berdasarkan analisis tersebut diketahui bahwa prasasti ini berasal dari pertengahan abad ke-5 Masehi. Khusus prasasti Tugu dan prasasti Cidanghiyang memiliki kemiripan aksara, sangat mungkin sang pemahat tulisan (citralaikha > citralekha) kedua prasasti ini adalah orang yang sama. Dibandingkan prasasti-prasasti dari masa Tarumanagara lainnya, Prasasti Tugu merupakan prasasti yang terpanjang yang dikeluarkan Sri Maharaja Purnawarman. Prasasti ini dikeluarkan pada masa pemerintahan Purnnawarmman pada tahun ke-22 sehubungan dengan peristiwa peresmian (selesai dibangunnya) saluran sungai Gomati dan Candrabhaga. Prasasti Tugu memiliki keunikan yakni terdapat pahatan hiasan tongkat yag pada ujungnya dilengkapi semacam trisula. Gambar tongkat tersebut dipahatkan tegak memanjang ke bawah seakan berfungsi sebagai batas pemisah antara awal dan akhir kalimat-kalimat pada prasastinya.

"pura rajadhirajena guruna pinabahuna khata khyatam purim prapya candrabhagarnnavam yayau// pravarddhamane dvavingsad vatsare sri gunau jasa narendradhvajabhutena srimata purnavarmmana// prarabhya phalguna mase khata krsnastami tithau caitra sukla trayodasyam dinais siddhaikavingsakaih ayata satsahasrena dhanusamsasatena ca dvavingsena nadi ramya gomati nirmalodaka// pitamahasya rajarser vvidaryya sibiravanim brahmanair ggo sahasrena prayati krtadaksina//"
“Dahulu sungai yang bernama Candrabhaga telah digali oleh maharaja yang mulia dan yang memilki lengan kencang serta kuat yakni Purnnawarmman, untuk mengalirkannya ke laut, setelah kali (saluran sungai) ini sampai di istana kerajaan yang termashur. Pada tahun ke-22 dari tahta Yang Mulia Raja Purnnawarmman yang berkilau-kilauan karena kepandaian dan kebijaksanaannya serta menjadi panji-panji segala raja-raja, (maka sekarang) beliau pun menitahkan pula menggali kali (saluran sungai) yang permai dan berair jernih Gomati namanya, setelah kali (saluran sungai) tersebut mengalir melintas di tengah-tegah tanah kediaman Yang Mulia Sang Pendeta Nenekda (Raja Purnnawarmman). Pekerjaan ini dimulai pada hari baik, tanggal 8 paro-gelap bulan Caitra, jadi hanya berlangsung 21 hari lamanya, sedangkan saluran galian tersebut panjangnya 6122 busur. Selamatan baginya dilakukan oleh para Brahmana disertai 1000 ekor sapi yang dihadiahkan”
 

[+/-]Baca Lebih Lanjut? Klik Judul Artikel

5960 hari kehidupan---

|

AUTOBIOGRAFI
NADYA AMALIA HAKIM.

1994 - 1999 
 Pada hari Senin, 31 Oktober 1994 di RS Islam Surabaya pada sekitar pukul 22.00 di RS Islam Surabaya, saya lahir dari ayah dan ibu saya, Lukman Hakim dan Dian Budiani. Mereka memberikan saya nama, Nadya Amalia Hakim. Pada tahun saya lahir ini, gempa berkekuatan 6,5 skala Richter meluluhlantakkan Liwa, Lampung Barat, yang mengakibatkan hampir semua bangunan permanen rata dengan tanah, 196 jiwa meninggal, dan 2.000 orang luka-luka. Namun berita bahagia pun datang kepada Brazil karena berhasil menjadi juara dunia pada Piala Dunia FIFA 1994 di Amerika Serikat. Pada saat saya berumur 3 bulan, saya pindah ke Samarinda karena ayah saya adalah seorang dokter yang pada tahun pertamanya harus praktek di daerah. Hidup di Kalimantan Timur saat itu tergolong cukup sederhana karena listrik yang belum terdistribusi dengan baik sehingga sering padam, transportasi yang minim sehingga harus naik perahu untuk pergi ke kota seberang, masih banyaknya binatang buas yang berkeliaran bebas di sekitar rumah saat itu membuat masa kecil saya menarik. Pada usia 7 bulan, saya pindah ke Jakarta tepatnya ke Jl. Pancoran Indah Dalam I no 30, Komplek Liga Mas. Setelah dipenuhi oleh tangisan dan teriakan, perlahan-lahan saya mulai bisa memanggil ibu dan ayah saya, kemudian belajar cara merangkak, berjalan, tertawa, berbicara sedikit demi sedikit. Pada tahun 1995 ini pekerja dari National Institutes of Health mengumumkan suksesnya percobaan pengobatan untuk penyakit anemia.

Saat saya berusia 2-3 tahun saya sangat sering menghabiskan waktu bersama nenek dan kakek saya, karena ayah saya masih melanjutkan kuliah sepesialis kedokteran dan ibu saya juga masih sering praktek. Nenek saya adalah orang yang palin sering menghabiskan waktu dengan saya, berbagai kebiasaan dan tata krama beliau ajarkan. Pada saat saya berumur 3 tahun, lahirlah seorang adik laki-laki bernama Emil Aulia Hakim yang kemudian menemani saya bermain sehari-hari. Pada tahun 1996 ini sebuah rocket Long March 3 di Xichang Satellite Launch Center, China jatuh menabrak sebuah pedesaan yang membunuh 500 jiwa. Pada tahun 1997, Presiden Amerika Serikat, memulai masa kepemimpinannya yang kedua pada tanggal 20 Januari.
 
Saya memulai pendidikan saya saat masuk ke Kelompok Bermain Besar sampai dengan Taman Kanak-Kanak di Mutiara Indonesia, Kalibata pada bulan Juli 1998. Bernyanyi, membaca, mengeja, menulis, bermain bersama teman-teman adalah hal-hal yang mengisi hari-hari saya. Pada tahun ini terjadi sebuah kerusuhan massa yang berawal dari insiden Trisakti, dimana 4 orang mahasiswa Universitas Trisakti ditembak oleh aparat yang saat itu berjaga diatas jembatan layang. Ribuan mahasiswa menguasai gedung MPR/DPR-RI menuntut Presiden Suharto mundur. Suharto pada akhirnya mengundurkan diri dan digantikan oleh B.J. Habibie. 




Pada tahun 1999 saya beranjak ke TK B, dimana ibu saya mendaftarkan saya ke kursus piano di YPM Manggarai, yang kemudian saya tekuni selama lebih dari 7 tahun. Saya masuk ke level terendah yaitu Pra Elementer dan mulai mempelajari not balok, ritme, ketukan, dan hal-hal dasar lainnya dengan guru saya, Grace Marissa. Masa kecil saya sama seperti masa kecil anak-anak pada umumnya;bermain, bercanda, bertengkar, menangis. Ibu saya sering bercerita bahwa sampai TK B ibu saya harus tetap mengantar saya ke sekolah dan berdiri di pinggir jendela karena saya seringkali menengok untuk memastikan ibu saya tetap disana. Hingga akhirnya saya mulai berani untuk pulang dan pergi naik mobil jemputan. Di TK B ini saya mengenal beberapa teman terdekat saya yang bernama Gadis dan Moty yang saat ini saya tidak pernah mendengar kabarnya bahkan bertemu lagi. Di TK B ini saya mendapatkan beberapa piala dan penghargaan seperti Juara II Membaca Puisi dan Juara I Menari. Pada tahun 1999 tanggal 20 Oktober, BJ Habibie berhenti sebagai presiden Indonesia dan digantikan oleh Abdurrahman Wahid.

2000 - 2006

Setelah dari Taman Kanak-Kanak saya masuk ke SD Adik Irma di Tebet. Pada tahun ini juga, lahirlah adik perempuan saya yang bernama Adinda Mutia Hakim. Dari 56 murid yang ada saya masuk ke kelas unggulan dengan hanya 4 orang siswa. Pada tahun pertama kelas unggulan itu berisi 7 orang anak, kemudian pada tahun kedua satu orang pindah, pada tahun ketiga satu orang lagi pindah, dan pada tahun keempat berkurang menjadi hanya empat orang. 6 tahun saya bersekolah di sana dipenuhi oleh dengan 3 orang teman terdekat saya; Dimas, Mariska, dan Ferdie. Prestasi saya di sekolah juga terbilang cukup baik; saya meraih rangking 2 dari kelas 2 sampai dengan kelas 4, rangking 1 di kelas 5, rangking 2 di kelas 6. Selain sibuk belajar, saat SD ibu saya mendaftarkan saya ke berbagai macam kursus seperti sempoa, kumon, piano, vokal, basket, berenang, melukis, tari tradisional, drum, bahasa inggris, dan lain-lain. Namun yang berhasil bertahan lama hanyalah piano dan kumon. Saya juga aktif di ekstrakurikuler bola basket selama 6 tahun SD. Setiap tahun saya ikut berpartisipasi dalam konser piano selama kurang lebih 7 tahun ke depan, dan juga meraih penghargaan setiap kali naik ke tingkat berikutnya. Saya juga mendapatkan beberapa penghargaan dari Kumon karena level yang saya capai sudah berada 3 atau lebih tingkat di atas yang seharusnya, saya belajar di Kumon selama kurang lebih 6 tahun. Saat saya kelas 5 SD, saya dan keluarga saya pindah rumah ke Jl. Abdul Majid Dalam III no 29 Komp. Deplu sampai sekarang. Lulus dari SD dengan peringkat lima di angkatan kemudian saya melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama.




  
2006 - 2009

Saya melanjutkan pendidikan ke SMP Labschool Kebayoran pada bulan Juli 2006. Pada awalnya saya tidak berminat masuk ke sekolah tersebut karena semua teman-teman SD saya kebanyakan bersekolah di daerah Tebet dan saya juga sebenarnya begitu, namun ibu saya memaksa saya untuk ikut tesnya terlebih dahulu. Saat tes berlangsung saya tidak belajar sebelumnya, dan bahkan ada beberapa pertanyaan yang saya tahu jawabannya namun saya sengaja menjawabnya salah. Pertama kali masuk ke SMP Labschool Kebayoran kesan pertama yang saya dapatkan adalah: capek. Setiap hari ada tugas, setiap minggu ulangan, pulang sekolah sudah sore, kegiatan non akademik bertumpuk. Di Labsky ada sebuah kebiasaan lari pagi yang dilakukan setiap hari Jumat pukul 05.30, hal ini merupakan sebuah kebiasaan yang baru untuk saya. Selain itu budaya yang ditanamkan dan diajarkan sangatlah terasa dan membentuk jati diri saya sekarang.Pada tahun pertama saya di SMP, semua les yang saya ikuti keteteran sehingga harus berhenti, mulai dari piano, kumon, dan bahasa inggris. Tahun pertama saya di SMP cukup berat. Kegiatan pertama yang harus kami jalani adalah MOS (Masa Orientasi Siswa), adalah masa dimana kita diperkenalkan kepada Labschool Kebayoran oleh kakak-kakak OSIS dengan semua budaya, kebiasaan, rutinitas, dan aturan yang harus kami taati, selama 5 hari pertama masuk.  Setelah itu ada kegiatan Aktual, dimana kita pergi bersama satu angkatan ke Museum, Seaworld, dan Dufan untuk mengamati berbagai macam hal dan mempresentasikannya kembali. Kegiatan selanjutnya adalah Kalam yaitu pesantren kilat ramadhan yang dilaksanakan saat bulan puasa selama 3 hari dua malam di sekolah. Lalu ada kegiatan LDKS-Karisma (Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa-Kaderisasi Siswa Mandiri) yaitu pelatihan yang harus kita semua lalui, dan jika berniat menjadi salah satu pengurus OSIS maka kita harus berusaha dan berpartisipasi secara maksimal. Di dalam LDKS ini disampaikan banyak materi tentang organisasi, kepemimpinan, pengaturan waktu, PBB, dan lain-lain. Setelah LDKS dari 200 peserta akan disaring menjadi kurang lebih 100 orang untuk tahap berikutnya menjadi pengurus OSIS yaitu Orientasi, saya termasuk salah satunya. Di Orientasi ini kita harus mengikuti beberapa macam tes, yaitu tes fisik, tes presentasi makalah, dan tes agama, pada tahap inilah saya gagal melanjutkan untuk menjadi pengurus OSIS. Orientasi ini adalah kegiatan terakhir yang saya jalani di tahun pertama SMP. Labschool terkenal dengan nametag yang rumit di semua kegiatannya, jadi pada tahun pertama saya sudah mempunyai 5 nametag. Pada tahun pertama ini saya ikut berpartisipasi dengan bermain gamelan dalam pertunjukan seni “Si Tomboy dan Putri Bungsu” dan “Si Tomboy Jadi Manten” di Gedung Kesenian Jakarta. Pada tahun 2007 ini, seorang musisi terkenal Indonesia, Chrisye, meninggal dunia.

Tahun kedua, kelas 8, adalah masa-masa yang paling santai dalam tiga tahun SMP. Pelajarannya tidak terlalu berat, kegiatan non-akademis yang sudah berkurang, banyaknya program kerja angkatan yang menyenangkan, dan lebih mengenal teman-teman yang ada. Saya juga aktif di dalam ekstrakurikuler Paskibra sejak kelas 7 karena pada awalnya saya ingin menjadi pengurus OSIS, dan kebanyakan kakak-kakak OSIS saya mengikuti ekskul tersebut. Walaupun pada akhirnya saya tidak lolos dalam tes pengurus OSIS namun ekskul ini membantu pengalaman saya dalam berorganisasi. Satu-satunya kegiatan wajib yang harus saya jalani adalah Bimensi (Bina Mental Siswa) dimana kami satu angkatan dilatih oleh marinir di Cilandak selama 5 hari. Pelatihan itu berisi tata cara PBB, tata cara apel, survival, latihan mendayung, outbond, dan lain-lain. Kegiatan ini sangat menguras energi karena padatnya aktivitas yang melelahkan. Namun setelah Bimensi selesai tidak ada lagi program wajib dari sekolah yang harus saya jalani. Tahun kedua di SMP ini dipenuhi oleh adanya Labspart, yaitu acara pertandingan olahraga dan seni .

Setelah itu saya naik ke kelas 9, tahun terakhir di SMP. Tahun ini diisi oleh belajar untuk melanjutkan ke SMA yang dimau dan juga persiapan Ujian Nasional. Tahun terakhir ini adalah tahun saya yang paling menyenangkan selama bersekolah di SMP Labschool Kebayoran, walaupun tersita waktu oleh belajar namun tidak jenuh karena suasana dan teman-teman yang  begitu menyenangkan. Dua kali seminggu sepulang sekolah diadakan pendalaman materi, ditambah dengan bimbingan belajar yang saya ikuti di luar sekolah membuat tahun ini cukup melelahkan. Di samping belajar, kegiatan yang saya ikuti di sekolah adalah TO UAN (Try Out Uan) yang berisi materi dan motivasi dari pembicara-pembicara yang cukup terkenal. Guru-guru di SMP Labschool Kebayoran sangat semangat dan kreatif dalam memotivasi kami untuk terus belajar dan berusaha untuk mencapai target tertinggi, yaitu NEM 40 dan lulus 100%. Sayang sekali hasil UAN saya tidak terlalu memuaskan. Setelah melewati ujian sekolah dan ujian nasional, adalah acara perpisahan (farewell) dan wisuda. Farewell diadakan di Citywalk Sudirman yang diisi oleh band, dance, performance dari teman-teman, pembacaan dan pembagian polling, serta video angkatan. Wisuda dan farewell adalah acara yang paling menyenangkan dan berkesan selama tiga tahun SMP. Setelah lulus dari SMP, saya berpsiah dengan teman-teman saya, Averla Sixeras, dan melanjutkan ke SMA yang berbeda-beda. Pada tahun 2009 ini, Barrack Obama diangkat menjadi Presiden Amerika Serikat ke 44 yang memecahkan rekor presiden orang kulit hitam untuk pertama kalinya, dan meninggalnya Michael Jackson, seorang penyanyi legendaris dunia.

 2009 - 2012

Saya melanjutkan ke SMA Labschool Kebayoran pada bulan Juli 2009. Lebih dari 50% teman-teman SMP saya juga melanjutkan ke SMA ini. Pada saat tes masuk melalui Jalur Khusus, yaitu tes masuk khusus untuk siswa SMP Labschool Kebayoran, saya tidak berhasil lolos karena hanya 40 orang yang diterima. Namun untungnya saat ikut tes masuk PSB saya berhasil lolos. Lokasi yang sama, gedung yang sama, teman-teman yang mayoritas sama, lingkungan budaya dan kebiasaan yang sama mempermudah proses adaptasi saya. Tahun pertama saya di SMA jauh lebih berat dari saat SMP karena semua kegiatan non akademis ditumpuk pada tahun pertama ini, dan kita juga dituntut untuk mendapatkan nilai yang memuaskan karena akan penjurusan IPA/IPS. Kegiatan pertama yang saya lalui di tahun pertama SMA ini adalah MOS (Masa Orientasi Siswa) yang berisi perkenalan kepada budaya SMA Labschool Kebayoran, kegiatan ini tidak jauh berbeda dengan MOS SMP sehingga tidak terlalu melelahkan, dan hanya selama 3 hari. Kemudian setelah itu adalah TO (Trip Observasi), yaitu kita tinggal di desa dengan orangtua asuh kita disana selama 5 hari. Kegiatan ini sangat menyenangkan walaupun awalnya melelahkan. Sebelum TO, ada kegiatan yang dinamakan Pra-TO. Selama 3 hari Pra-TO kita diberikan orientasi tentang cara memasak, bersih-bersih, mengecat tongkat dan membuat nametag yang cukup rumit yang kemudian akan kita gunakan saat TO, lari pagi, materi kepemimpinan dan aktivitas lain yang cukup melelahkan. Di Pra-TO ini kami juga mendapatkan nama angkatan, Nawa Drastha Sandyadira. Setelah selesai Pra-TO, satu minggu berikutnya saya dan teman-teman saya mengikuti kegiatan TO itu sendiri di Purwakarta. Beruntung sekali karena teman kelompok saya menyenangkan dan kooperatif maka semuanya tidak terasa begitu berat. Selama TO ada banyak sekali kegiatan yang kita lakukan. Pertama, kita harus melakukan survey untuk penelitian makalah yang harus kita buat per kelompok setelah selesai TO. Selain itu ada juga kegiatan pentas seni setiap malam, lalu pergi ke sawah bersama teman-teman yang lain untuk belajar membajak sawah, ikut orangtua asuh bekerja ke ladang, olahraga pagi, presentasi penelitian, dan lain-lain. Bagian puncaknya adalah penjelajahan, yaitu berjalan melewati hutan sawah sungai dan lain-lain sampai ke air terjun sambil melewati pos-pos kakak-kakak OSIS sejauh kurang lebih 7 km, serta api unggun dimana kita semua bernyanyi bersama-sama. Setelah TO, kegiatan berikutnya adalah Lapinsi (Latihan Kepemimpinan Siswa), yaitu pelatihan dasar bagi siswa yang ingin menjadi pengurus OSIS selama 3 hari di sekolah. Kegiatan ini berisi materi-materi kepemipinan, organisasi, manajemen waktu, olahraga pagi, dan sharing dengan kakak OSIS. Setelah lulus dari tahap Lapinsi, saya mengikuti TPO (Tes Potensi Organisasi) yang berisi tes presentasi makalah, tes agama, dan tes fisik. Tahap terakhir dalam pemilihan pengurus OSIS sekaligus kegiatan non-akademis wajib yang terakhir adalah Bintama, dimana saya dan teman-teman dilatih oleh Kopassus Angkatan Darat di Serang selama 5 hari. Kegiatan ini tidak jauh berbeda dengan Bimensi saat SMP seperti outbond, survival, latihan mendayung, PBB, lempar pisau, dan lain-lain namun sedikit lebih santai karena lokasinya lebih baru. Setelah Bintama lalu diumumkan bahwa saya lolos dalam tes pengurus OSIS. Saya juga berhasil masuk ke jurusan IPA dengan nilai yang cukup memuaskan. Tahun pertama di SMA saya juga diisi dengan banyaknya program kerja OSIS sebelumnya yang menguras waktu dan uang. Tahap terakhir sebelum menjadi pengurus OSIS adalah Lari Lintas Juang 17km dari Gedung MPR DPR sampai dengan SMA Labschool Kebayoran, yang kemudian dilanjutkan dengan pelantikan dan pemakaian jas. Di tahun 2010 ini terjadi banyak bencana alam; gempa bumi 7.0 SR di Haiti, gempa bumi 6.8 SR di Padang, gempa bumi di Mentawai, dan meletusnya Gunung Merapi yang memakan banyak korban jiwa.

Tahun kedua di SMA yang saat ini sudah berlangsung satu semester lebih cukup melelahkan karena banyaknya program kerja OSIS angkatan saya seperti Sky Battle pada Februari lalu dan Sky Avenue yang akan datang. Menjadi pengurus OSIS adalah keinginan saya sejak SMP dan akhirnya tercapai pada SMA ini menjadi Sekretaris Umum bersama dua teman saya lainnya yaitu Wima dan Dian. Di tahun kedua ini saya mengikuti ekskul futsal putri, dan sempat bermain di beberapa pertandingan. Masa SMA ini sangat menyenangkan mengingat banyaknya kegiatan dan pengalaman baru yang saya alami. Tidak ada kegiatan non-akademis yang harus saya ikuti karena semuanya telah dihabiskan di kelas X membuat tahun ini cukup santai tanpa tuntuntan apapun. Secara akademis nilai saya mengalami penurunan, karena pada kelas X semester satu saya meraih rangking 4, kelas X semester 2 saya meraih rangking 3, dan pada kelas XI semester 1 ini saya meraih rangking 5. Namun orangtua saya tidak mempermasalahkannya karena mereka mendukung saya melakukan kegiatan organisasi dan lain-lainnya. Pada tahun 2010 saya sempat pergi ke Swiss bersama ibu dalam tugas dinas kantornya. Itu merupakan salah satu pengalaman yang paling menyenangkan dan tidak akan pernah terlupakan yang pernah terjadi dalam tahun 2010, karena banyaknya hal baru yang saya lihat disana.


Mimpi saya sejak kecil seringkali berubah-ubah. Saat saya TK saya ingin menjadi dokter seperti ayah dan ibu saya karena dengan menjadi dokter dapat membantu menolong dan meringankan beban orang lain. Kemudian ketika saya mulai belajar piano dan sangat menikmatinya saat tampil di konser, saya ingin menjadi seorang pianis. Namun karena saya berpikir bahwa tidak aman untuk menaruh seluruh harapan hanya pada piano, saya sempat ingin menjadi seorang diplomat karena dapat pergi ke berbagai negara dan melihat banyak hal. Tetapi karena setelah saya dalami saya tidak terlalu berbakat dalam hal berbicara dan bernegosiasi, akhirnya cita-cita saya kembali ke dokter. Namun, semenjak SMA saya semakin menyadari bahwa saya tidak memiliki rasa tertarik menjadi dokter jika dibandingkan dengan semua yang ibu saya ceritakan ketika ia dulu SMA. Sampai saat ini saya masih belum yakin ingin jadi apa saya ketika besar nanti;mungkin seorang dokter spesialis kandungan yang mempunya rumah sakit dengan fasilitas memadai dan layanan berkualitas dengan biaya terjangkau untuk masyarakat;ataupun menjadi seorang insinyur yang memiliki perusahaan sendiri dan menciptakan sesuatu yang bisa bermanfaat dan menciptakan perubahan; lulus SMA dengan UN yang membanggakan bersama Nawa Drastha Sandyadira, membahagiakan orangtua, keluarga yang bahagia sejahtera, dan masuk surga.

[+/-]Baca Lebih Lanjut? Klik Judul Artikel

 

Design modified by mugimunteng | Basic Design by Dzignine in Collaboration with Trucks, SUV, Kidney Stones