otakatikawas!

otakatikawas!
Showing posts with label Muhammad Nur Pratama. Show all posts
Showing posts with label Muhammad Nur Pratama. Show all posts

Pahlawan Muda Masa Depan

|


Seorang pahlawan nggak harus datang dari masa lalu kan? Gimana kalau seorang pahlawan di masa depan yang datang dari periode sekarang? Berikut bahasannya.
 
Sosok pria dengan tinggi kurang lebih 170 cm, berkaca mata, berbadan tegap, begitulah sosok seorang mahasiswa kelahiran Padang ini, dia adalah Muhammad Iman Usman. Di umur yang hampir genap 20 tahun, Iman adalah seorang sosok yang telah menginspirasi banyak orang. Mengapa tidak, dengan umurnya yang tergolong sangat muda, Iman telah mendapat banyak penghargaan, tidak terbatas dalam lingkup nasional, namun gelar sebagai Global Changemaker-pun berhasil Iman raih untuk dibawa pulang.

Iman, seorang pemuda dengan ambisi kuat dalam bidang Youth Empowerement, membuatnya menjadi sosok muda inspiratif. Tidak banyak yang mengenali figur seorang Iman, dalang dari berbagai organisasi dan kegiatan. Kisah perjuangannya dimulai pada umur 14 tahun, saat Iman mulai mengembangkan toko online besutannya serta memimpin beberapa kegiatan pemuda di kampung halamannya. Ketertarikannya dengan Hak Asasi Anak menjadi lebih intensif ketika Iman terpilih menjadi General Secretary untuk Forum Anak Sumatera Barat, berlanjut kemudian hingga pada tahun 2007, dibentuklah sebuah Komunitas Anak Kritis Indonesia dan diprakarsai oleh seorang Muhammad Iman Usman.

Tanggal 24-27 Juli 2008, Iman, seorang siswa SMAN 1 Padang yang mendapat penghargaan sebagai Pemimpin Muda Indonesia oleh Presiden Republik Indonesia, bergabung dalam Forum Anak Nasional. Sebagai siswa SMAN 1 Padang, Iman yang merupakan seseorang dengan berbagai keaktifannya diluar, pun turut aktif di berbagai kegiatan sekolah, contohnya adalah keikutsertaan Iman dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) sebagai ketua bidang 4. Telusur punya telusur, seorang Iman-pun ternyata punya hobby yang unik, yaitu Menyanyi! Sebut saja Pom-pom boys, sebuah grup musik asal kelas sosial SMAN 1 Padang.

Prestasi gemilang Iman terus bergulir sepanjang hidupnya. Berlanjut dengan ditunjuknya Iman sebagai Mondialogo Junior Ambassador, besutan UNESCO dan Daimler, di Beijing, China pada Oktober 2008. Berkat kehadirannya di Beijing China, Iman dipertemukan dengan Mr. Thirkell dari British International School Jakarta, yang lantas kemudian membuat pandangan Iman semakin terbuka akan pentingnya membangun masa depan pemuda Indonesia yang lebih baik.

“You’re a very inspirational young man. Indonesia need you to be better. You should go abroad, and learn outside for your country. I never meet a young man in your age in Indonesia who has thought and did for his country”, seperti yang diucapkan Mr. Thirkell kepada Iman disela-sela perjalanan di Beijing, China.

Sepulangnya dari Beijing, China, kesibukan Iman semakin menjadi-jadi. Lomba disana-sini, kegiatan dari A sampai Z-pun tetap menjadi rutinitasnya, sehingga di bulan Desember, prestasi akademiknya menurun drastis, walau gelar Juara 1 di kelas masih disandangnya.

Menurunnya nilai-nilai raport semester 1 di kelas XII, membuat Iman kecewa terhadap guru-gurunya, kecewa dalam arti tanda kutip. Jika apabila ditilik kebelakang, prestasi Iman dalam berbagai mata pelajaran sangatlah gemilang. Juara debat ekonomi, debat bahasa Indonesia, dan berbagai lomba lainnya sudah seperti bagian keseharian hidupnya. Namun kekecewaan Iman tidak menjadikannya patah semangat, justru menjadi cambukan jika PMDK HI UI tetap menjadi incarannya.

Hari demi hari berlalu, mimpinya yang besar bagi pemuda Indonesia semakin tertancap dalam dipikirannya. Hak-hak anak yang harus diperjuangkan, masa depan pemuda Indonesia, selalu terbayang-bayang. Singkat cerita, hingga pada akhirnya, Muhammad Iman Usman menjadi mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Indonesia.

Sebelum resmi menjadi bagian dari keluarga besar Universitas Indonesia, terlebih dahulu, di akhir Mei 2009, Iman berkesempatan untuk hadir di acara 1st Microsoft Regional Innovative Student Forum, Kuala Lumpur, Malaysia. 5 hari di Malaysia, membuatnya bertemu dengan semakin banyak orang hebat. Dari dosen Universitas Indonesia yang akan jadi dosennya kelak, hingga guru-guru hebat dari seluruh dunia, termasuk Indonesia, yang mengaplikasikan ICT ke dalam proses pembelajaran sehingga pembelajaran tidak terjadi secara membosankan. Dan, Mei 2009 menjadi awal dari proyek Iman yang baru, yaitu Children Behind Us!

Petualangan di SMA resmi berakhir, kemudian Iman resmi menjadi mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Indonesia yang didapatnya melalui jalur PMDK. Kisah perjuangannya sebagai mahasiswa, diawali ketika pada tanggal 12 September 2009, 43 mahasiswa baru didampingi senior angkatan 2007 jurusan Ilmu Hubungan Internasional UI didampingi melakukan kunjungan Non-Governmental Organization bekerjasama dengan organisasi HOPE Worldwide Indonesia ke Cilincing, Jakarta Utara.

Iman dengan tingkat percaya diri yang tinggi, kembali menorehkan prestasi di penghujung tahun 2009. Kisah unik kali ini berawal pada pertengahan tahun 2009, dimana Iman masih menyandang status sebagai siswa SMAN 1 Padang, ketika Iman mendengar mengenai pendaftaran Duta Muda Indonesia-ASEAN 2009 dengan salah satu kriteria peserta adalah menyandang predikat Mahasiswa aktif. Berbekal keyakinan karena Iman-pun sudah mendapat lampu hijau sebagai Mahasiswa HI UI melalui jalur PMDK, pihak penyelenggara akhirnya membolehkan Iman mendaftar. Dengan sedikit tidak percaya, menjelang penghujung tahun 2009, setelah melewati proses yang cukup panjang, Iman dinyatakan lolos ke tahap selanjutnya bersama 19 orang untuk kemudian mengikuti proses karantina. Hingga pada malam penganugerahan, lantas Iman terpilih menjadi juara 1 Duta Muda Indonesia-ASEAN Pria, dengan motivasi terbesarnya, “Saya hanya akan mencoba just perform. Nggak susah kok, karena saya ikut karena kemauan saya, saya tahu apa yang ingin saya capai, dan I just do what I love, and love what I do. Simple!” –Muhammad Iman Usman

Menyandang predikat sebagai Duta Muda Indonesia-ASEAN, lantas bersama teman-temannya, lantas kemudian Iman mendirikan sebuah organisasi, yaitu Indonesian Future Leaders (IFL). Kegiatan perdana IFL, dimulai terkait dengan Gempa di kampong halaman Iman, Padang, pada tanggal 30 September 2009. Iman, President IFL sekaligus alumni SMAN 1 Padang, pada 5 Januari 2010 berkesempatan untuk mengadakan presentasi dalam rangka memotivasi adik-adiknya di SMAN 1 Padang dengan membawakan tema “How to be a high quality student”.

6 bulan kemudian, Iman kembali mendapat kesempatan untuk menghadiri acara My Summit, konferensi resmi yang ditujukan kepada pemuda/i di seluruh dunia yang diselenggarakan bersamaan dengan G20 Summit, Kanada, yang lantas akan dihadiri oleh para pemimpin-pemimpin dunia. Lagi-lagi, tanggung jawab Iman sebagai delegasi cukup berat, karena sebagai delegasi bukan hanya menjadi representasi negara sebesar Indonesia, namun juga harus ada pelajaran yang dapat dibawa pulang ke Indonesia. Akhirnya, Iman menyanggupi apa yang menjadi tanggung jawabnya selama My Summit berlangsung, dan kemudian berusaha untuk membawa pelajaran terbaik bagi Indonesia kedepannya.

Lantas, hingga pada tahun 2011, berikut prestasi yang berhasil dibawa pulang oleh Iman:

1.      Global Teen Leaders 2011, held by We Are Family Foundation USA. Iman was the first ever Indonesian who received the award.
2.      Ashoka Young Changemaker Award 2010, held by Ashoka Indonesia. Lately, Iman also appointed by Ashoka Global Venture based in New York as the first ever Indonesian youth who joined Ashoka Global Venture.
3.      Global Changemakers, selected by British Council among more than 1600 applicants worldwide to come and learn in the United Kingdom (November 2010)
4.      One of 5 recipients in the world for “Be The Change Award 2010“, given by Global Volunteers Network [Agustus 2010]

Dan sekarang, Iman sedang menggarap sebuah proyek bersama Indonesian Future Leaders, yaitu Parlemen Muda.

“Parlemen Muda merupakan sidang parlemen bagi pemuda di Indonesia. Tidak hanya mempertemukan 33-66 pemuda dari seluruh Indonesia sebagai perwakilan terpilih, Parlemen Muda memfasilitasi konferensi tahunan supaya mereka dapat saling bertukar pikiran mengenai isu-isu penting. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pemberdayaan pemuda dan sebagai upaya untuk meningkatkan partisipasi pemuda dalam politik, terutama dalam proses pembentukan kebijakan.”

Nb: Tulisan ini dibuat berdasarkan studi literatur di imanusman.com

[+/-]Baca Lebih Lanjut? Klik Judul Artikel

361 tahun Saltanat Umān

|

Oman :)
Sampai saat ini tidak banyak yang mengenali keberadaan Oman sebagai negara di Timur Tengah, atau bahkan yang lebih umum dikenal dengan nama Sultanate of Oman. Keeksisannya selama 361 tahun di dunia internasional dipengaruhi oleh kestabilitasan kondisi dalam negeri hingga luar negeri, sehingga membuatnya seperti terlihat jarang bersua di kancah Internasional, walaupun berdasarkan realita, Oman berpartisipasi dalam berbagai organisasi internasional, seperti G-77, ILO, Interpol, PBB, UNESCO, WHO, WTO, dan masih banyak lagi.

Kisah perjalanan Oman, dimulai dari periode Pra-sejarah, yaitu 130 ribu tahun yang lalu dimana mendekati akhir jaman es. Beberapa saat sebelum waktu pergantian jaman, lantas terjadilah migrasi dalam jumlah besar dari Afrika menuju Jazirah Arab. Proses migrasi disebabkan oleh iklim Jazirah Arab yang lebih hangat disertai dengan curah hujan lebih tinggi, serta permukaan laut merah yang terus menurun dari hari ke hari, lantas memudahkan terjadinya migrasi dari Afrika Timur hingga Oman. Berbagai situs arkeologi di Yaman dan Oman yang ditemukan, lantas menjadi bukti nyata bahwa peradaban yang masuk ke kedua negara tersebut berasal dari Afrika Timur. Proses migrasi terus terjadi hingga 10 ribu tahun kemudian yang selanjutnya menjadi akhir dari jaman es sesungguhnya, sehingga permukaan laut merah kembali naik, bahkan hingga naik ke daratan.

Oman tidak hanya kehadiran pendatang asal Afrika Timur, sebagian proses migrasi lainnya datang dari wilayah Saudi Arabia yang kemudian ditandai dengan penduduk ber-ciri khas kulit coklat, sedangkan pendatang dari Afrika Timur memiliki kecenderungan untuk berkulit hitam.

Mulai Abad ke-6 SM hingga periode masuknya Islam di Abad ke-7 Masehi, Oman berada dalam kekuasaan Dinasti Achaemenida, Parthia, Sassanid, dan Persia. Pada abad ke-6 SM, Dinasti Achaemenida memiliki kontrol yang kuat atas semenanjung Oman, dan kemudian berkuasa penuh pada pesisir pusat seperti Sohar. Sekitar tahun 250 SM, Dinasti Parthia menaklukan Teluk Persia yang sebelumnya di bawah kendali Dinasti Achaemenida, lantas memperluas pengaruh mereka sampai ke Oman, mendirikan garnisun di Oman untuk membantu mengendalikan rute perdagangan di Teluk Persia. Pada abad ke-3, Dinasti Sasanid berhasil menaklukan Dinasti Parthia, dan kemudian memiliki daerah tersebut sampai munculnya Islam, empat abad kemudian.

Oman mulai mengadopsi Islam pada abad ke-7, yaitu selama masa Nabi Muhammad. Ibadisme kemudian menjadi faham keagamaan yang dominan di Oman pada abad ke-8. Oman saat ini menjadi satu-satunya negara Islam di dunia dengan penduduk mayoritas berfaham Ibadisme.
 
Tapi setelah kedatangan Islam, Oman tetap mendapat intervensi kekuatan asing yang dikendalikan oleh Dinasti Qarmatian pada tahun 931-932 dan kemudian terjadi lagi pada tahun 933-934. Antara tahun 967 dan 1053, Oman merupakan bagian dari pengaruh kekuasaan Buyyids Iran, dan antara tahun 1053 dan 1154, Oman adalah bagian dari kekuasaan Seljuk Agung. Tahun 1154, Dinasti Nabhani menguasai Oman, dan raja-raja Oman Nabhani memerintah sampai tahun 1470.

Muscat, ibukota Oman, pada akhirnya tunduk pada Portugis tanggal 1 April 1515. Pada sekitar tahun 1600, Dinasti Nabhani sementara dikembalikan ke Oman, walaupun terus berlangsung hingga tahun 1624. Perebutan Muscat yang terakhir dari Portugis terjadi pada 1650 setelah kehadiran kolonial di pantai timur laut Oman.

Selama masa pemerintahan Sultan Said bin Sultan Al Said (1806-1856), Oman membudidayakan koloni di Afrika Timur, mendapat keuntungan dari perdagangan budak. Sebagai kekuatan regional di abad ke-19, Oman menjajah wilayah di Pulau Zanzibar (Afrika Timur), wilayah sepanjang pantai Afrika Timur yang dikenal dengan Zanj termasuk Mombasa dan Dar es Salaam, dan di wilayah Gwadar (sekarang Pakistan) di sepanjang pantai Laut Arab. Tetapi ketika Inggris menyatakan perbudakan adalah ilegal di pertengahan abad ke-19, nasib kesultanan menjadi sebaliknya. Ekonomi runtuh sehingga banyak keluarga Oman bermigrasi ke Zanzibar. Populasi Muscat turun dari 55.000 menjadi 8.000 di antara tahun 1850 hingga 1870-an. Sebagian besar harta benda luar negeri disita oleh Inggris, dan Oman pada tahun 1850 merupakan daerah yang terisolasi dan miskin di dunia.

Ketika Sultan Said bin Sultan Al-Busaid meninggal pada tahun 1856, anak-anaknya bertengkar atas suksesi ayahnya. Sebagai hasil dari perjuangan ini, kekaisaran - melalui mediasi Pemerintah Inggris di bawah "Canning Award" - dibagi pada tahun 1861 menjadi dua kerajaan yang terpisah - Zanzibar, dengan dependensi Timur di Afrika, dan Muscat serta Oman. Lantas Zanzibar membayar subsidi tahunan untuk Muscat dan Oman sampai kemerdekaan pada tahun 1964 awal.

Nizwa Fort
Selama akhir abad ke-19 awal abad ke-20, sultan Muscat dihadapi pemberontakan oleh anggota Dinasti Ibadhi yang berada di pedalaman Oman, berpusat di sekitar kota Nizwa, yang ingin secara eksklusif Oman dikuasai oleh pemimpin agama mereka, Imam Oman. Konflik ini telah diselesaikan sementara oleh Perjanjian Seeb, yang memberikan imam mengenai aturan otonom di pedalaman, sementara mengakui kedaulatan sultan di tempat lain.

Konflik berkobar lagi pada tahun 1954, ketika imam baru memimpin pemberontakan 5 tahun sporadis terhadap upaya sultan untuk memperluas kontrol pemerintah ke pedalaman. Para pemberontak dikalahkan pada tahun 1959 dengan bantuan Inggris. Sultan kemudian mengakhiri Perjanjian Seeb dan menghancurkan kantor imam tersebut. Pada awal 1960-an, imam diasingkan ke Arab Saudi dengan memperoleh dukungan dari tuan rumah dan pemerintah Arab lainnya, tapi dukungan ini berakhir pada 1980-an.

Sebuah pemberontakan separatis dimulai pada Provinsi Dhofar di tahun 1964. Dibantu oleh pemerintah komunis dan sisi kiri seperti bekas Yaman Selatan (Rakyat Demokratik Republik Yaman), para pemberontak membentuk Front Liberasi Dhofar, yang kemudian bergabung dengan Marxist-dominated Popular Front for the Liberation of Oman and the Arab Gulf (PFLOAG). Tujuan PFLOAG adalah untuk menggulingkan semua rezim tradisional di Teluk Arab. Pada pertengahan 1974, PFLOAG disingkat namanya menjadi Popular Front for the Liberation of Oman (PFLO) dan memulai sebuah politik ketimbang pendekatan militer untuk mendapatkan kekuasaan di negara-negara Teluk lainnya, dengan terus melaksanakan perang gerilya di Dhofar.

Pada tahun 1970, Sultan Qaboos bin Said Al Said menggulingkan ayahnya, Sa'id bin Taymur, yang kemudian meninggal di pengasingan di London. Al Said telah memerintah sebagai sultan sejak saat itu. Sultan baru kemudian dihadapkan pada pemberontakan di negara oleh golongan-golongan yang merasa terganggu karena penyakit endemik, buta huruf, dan kemiskinan. Salah satu langkah pertama Sultan Qaboos adalah untuk menghapuskan berbagai pembatasan keras yang dilakukan oleh ayahnya, yang kemudian telah menyebabkan ribuan warga Oman meninggalkan negara itu, dan untuk menawarkan amnesti kepada para penentang rezim sebelumnya, lantas banyak dari mereka kembali ke Oman. Sultan Qaboos juga mendirikan struktur pemerintahan modern dan meluncurkan program pembangunan utama untuk meningkatkan fasilitas pendidikan dan kesehatan, membangun infrastruktur modern, dan mengembangkan sumber daya alam di Oman.

Dalam upaya untuk mengekang pemberontakan Dhofar, Sultan Qaboos memperluas serta melengkapi kembali angkatan bersenjata dan turut memberikan amnesti kepada semua pemberontak yang menuntut perang di Dhofar agar menyerahkan diri. Dia memperoleh dukungan militer langsung dari Inggris, Iran, dan Yordania. Pada awal 1975, gerilyawan yang berada pada 50 kilometer persegi (20 mil persegi) di daerah dekat perbatasan Yaman, tidak lama kemudian berhasil dikalahkan. Lebih lanjut, ancaman PFLO berkurang dengan pembentukan hubungan diplomatik pada bulan Oktober 1983 antara Yaman Selatan dan Oman, dan Yaman Selatan kemudian propaganda dan kegiatan melawan Oman berkurang. Pada akhir 1987, Oman membuka kedutaan besar di Aden, Yaman Selatan.

Sejak aksesi pada tahun 1970, Sultan Qaboos telah berhasil menyeimbangkan antara kepentingan suku, daerah, dan etnis dalam penyusunan pemerintahan nasional. Dewan Menteri yang terdiri dari 26 menteri, semuanya langsung diangkat oleh Sultan Qaboos. Majlis Al-Syura atau Dewan Konsultatif memiliki mandate untuk meninjau undang-undang yang berkaitan dengan pembangunan ekonomi dan pelayanan sosial sebelum sistem hukum di Oman benar-benar terbentuk.
 
Pada bulan November 1996, Sultan Qaboos mengumumkan Anggaran Dasar Negara yang pertama, atau lebih dikenal dengan "konstitusi". Hal ini menjamin berbagai hak seperti yang terkandung di dalam Al-Qur’an dan hukum, serta turut melarang menteri kabinet untuk menjadi pemilik perusahaan pemegang saham publik. Mungkin yang paling penting adalah Anggaran Dasar turut memberikan aturan untuk pengaturan suksesi Sultan Qaboos.

Lokasi Oman di Selat Hormuz, yang merupakan pintu masuk ke Teluk, menyebabkan Oman berkaitan erat dengan stabilitas regional serta keamanan, apalagi jika mengingat ketegangan di kawasan teluk bagian utara antara Iran dengan Irak, dan tentu ancaman potensi politik Islam. Selain itu, sejak tahun 1980 Oman dan Amerika Serikat telah terikat dalam suatu perjanjian kerjasama militer, yang telah direvisi dan diperbaharui pada tahun 2000. Oman juga telah lama menjadi anggota aktif dalam upaya untuk mencapai perdamaian Timur Tengah.

Sultan Qaboos's Mosque
Pada bulan September 2000, dari sekitar 100.000 penduduk baik itu pria ataupun wanita, terpilih 83 kandidat termasuk dua perempuan untuk menempati kursi di Majlis Al-Syura. Pada bulan Desember 2000, Sultan Qaboos menunjuk 48-anggota Majlis Al Dowla, atau Dewan Negara, termasuk lima perempuan didalamnya, yang bertindak sebagai majelis tinggi dalam tubuh perwakilan bikameral Oman.

Setelah serangan teroris di Amerika Serikat pada September 2001, Pemerintah Oman di semua tingkat menjanjikan dan memberikan dukungan mengesankan terhadap koalisi pimpinan Amerika dalam melawan terorisme.

Sumber:
1. http://en.wikipedia.org/wiki/History_of_Oman
2. http://en.wikipedia.org/wiki/Oman
3. http://www.historyofnations.net/asia/oman.html
4. http://www.historyworld.net/wrldhis/PlainTextHistories.asp?historyid=ad54
5. http://www.omaninfo.com/oman/history.asp
6. https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/geos/mu.html
7. http://www.omanet.om/english/misc/oman_flag.asp

[+/-]Baca Lebih Lanjut? Klik Judul Artikel

16 Tahun Berpetualang

|


Muhammad Nur Pratama adalah seorang siswa SMA Labschool Kebayoran kelas XI IPA 1. Mungkin tidak banyak yang mengenal sosoknya, karena di SMAnya dia tidak tergabung dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah.

Tama, begitulah sapaan akrabnya, sedang menginjak tahun ke-17. Dia lahir di Jakarta 14 September 16 tahun silam dengan berat 3,1 kg, bayi yang cukup gemuk di zamannya. Dengan tinggi yang mencapai 51cm dan berbekal darah Jawa dari kedua orang tuanya membuat dia cukup paham untuk bercakap-cakap layaknya orang Jawa sesungguhnya. Muhammad Nur Pratama sendiri memiliki arti tersendiri, Muhammad diambil dari nama Nabi Muhammad SAW, lalu Nur yang berarti cahaya, dan Pratama yang berarti anak pertama. Tama merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, sehingga membuatnya banyak belajar dan suka terhadap hal baru. Tidak hanya itu, bulan kelahirannya yaitu September membuat dia pernah tidak mendapat kesempatan mendaftar Sekolah Dasar, dikarenakan kurang umur. Beruntung ada sebuah Sekolah Dasar di Tangerang yang di menit terakhir menerimanya.

Belum genap 10 bulan sejak kelahirannya, terjadilah peristiwa Pembantaian Srebrenica di Bosnia Herzegovina. Beruntung pada saat itu, dia adalah seorang Indonesia asli dan tinggal di tanah merah-putih.
Menjelang satu tahun kehadirannya di muka bumi, masih belum banyak kemajuan di dalam dirinya. Tidak banyak respon yang Tama berikan ketika ulang tahunnya yang pertama. Belajar, semangat, dan sifat tidak kehabisan akal-lah yang membedakan dia dari bayi pada umumnya. Hal itu terbukti saat ulang tahun pertamanya, dia dapat berjalan dengan bantuan keranjang cucian di depannya.

Sampailah petualangannya di tahun kedua. Di bulan ke-14, Tama sudah dapat jalan sepenuhnya tanpa perlu menggunakan bantuan. Tidak berselang lama, 2 bulan setelahnya dia sudah dapat berbicara, walaupun masih belum banyak kata yang terucap. Perlahan tapi pasti, berbicara menjadi kesenangannya di waktu kecil. Segala sesuatu yang baru ditemukannya, tanpa menunggu lama, kata baru tersebut terucap dari bibirnya. Di tahun kedua inilah, Tama kedatangan seorang adik, sehingga dia saat ini resmi menjadi seorang kakak. Tidak mudah untuk menjadi anak pertama. Tanggung jawab untuk adik-adik kedepan harus turut dipikulnya. Keharmonisan antara kakak dan adik juga turut menjadi tanggung jawab seorang kakak, karena seorang kakak haruslah lebih dewasa daripada adik-adiknya.

Tahun ketiga bukanlah sebuah tahun-tahun indah baginya. Tidak banyak peristiwa-peristiwa menarik yang dialaminya, mengingat sang adik baru berumur tidak lebih dari satu tahun, terkecuali bagi Indonesia. Juli, 1997 adalah awal dari krisis finansial Asia yang berakibat pada hancurnya ekonomi di Indonesia dan kerusuhan masa bernuansa etnis.

1998 ditandai dengan mulai bergabungnya Tama di Kelompok Bermain. Orang Tuanya sadar jika itu sangat beresiko, mengingat 13 Mei terjadi kerusuhan di Jakarta dan kejadian tersebut merupakan pelajaran berharga hingga saat ini. Tidak banyak yang dia ingat mengenai kejadian Mei 1998, hanya satu memori yang diingat dirinya, yaitu penjarahan toko dimana-mana. Dia ingat ketika itu setelah ketegangan mereda, suasana menjadi sangat berantakan. Jalan raya dipenuhi dengan batu, toko-toko di jarah, kaca-kaca bangunan pecah, bamboo di tengah jalan raya, dan lain sebagainya. Perjalanan hidupnya di TK Islam Puspa Indah berlanjut ketika Tama naik kelas hingga menginjak tahun ketiganya dia di TK tersebut. Tidak banyak prestasi yang dimiliki oleh dia ketika TK, angklung diantaranya. Kegemarannya bermain angklung membuat Tama dan teman-temannya sering tampil di acara sekolah, TK, maupun di acara wisuda angkatannya.
 
Kisah hidupnya berlanjut ke jenjang lebih tinggi, Sekolah Dasar. Proses pembelajarannya bertambah pesat, mengingat jenjang pendidikan sudah menginjak tahap pendidikan formal. Lokasi rumahnya yang jauh dari sekolah, membuat dia harus bangun sepagi mungkin agar tidak terlambat datang di sekolah. Pamulang ke Bumi Serpong Damai, begitulah rute kesehariannya, yang mengesankan adalah dari tahun 2000-2006, kondisi akses menuju Bumi Serpong Damai tidaklah bagus. Terkadang butuh sedikit pengorbanan terhadap kendaraan pribadi, hingga pada waktu itu saat hendak berangkat sekolah, mobil yang biasa digunakan mengalami patah per keong. Sehingga membuat mobil tersebut pincang sehingga tidak layak jalan. Selain kondisi jalan yang mengkhawatirkan, dengan ketatnya durasi perjalanan, membuat Tama serta teman-teman satu jemputan menjadi terlambat di karenakan banjir dimana-mana. Sehingga, membuat akses satu-satunya menuju Bumi Serpong Damai adalah melalui parung. Perlu perjuangan ekstra untuk mencapai sekolah.

1 tahun setelah masuknya Tama di SD Islam Cikal Harapan, BSD, terjadilah sebuah peristiwa bersejarah bagi salah satu negara adidaya, Amerika Serikat. 11 September adalah kenangan buruk bagi New York, jika mengingat peristiwa pengeboman WTC, yang menyebabkan gedung tertinggi di dunia saat itu harus menjadi rata dengan tanah dan banyak orang berguguran.

Di umurnya yang menginjak 8 tahun, atau pada pertengahan tahun 2002, diselenggarakannya sebuah acara dunia yang bertajuk sepak bola, World Cup. Ajang sepak bola bergengsi tak mengenal umur, sehingga membuatnya mulai mendukung negara Brazil di saat itu, walaupun tanpa berbekal pengetahuan yang baik mengenai persepak bola-an, apalagi Brazil, negara yang letaknya di belahan bumi lain.

Petualangannya yang hampir genap 9 tahun, membuat kedua orang tuanya memasukan Tama ke berbagai macam institusi pendidikan non-formal, dari les menggambar, bahasa inggris hingga piano. Bakatnya menggambar ketika kecil, membuat dia mendapat juara 1 lomba menggambar saat duduk di kelas 3 SD. Namun sayang, ketidak tertarikannya pada piano membuat lesnya tidak dapat berjalan semestinya.

Tidak banyak yang menarik di kisah hidup Sekolah Dasarnya. Sejak kecil, Tama adalah seorang yang senang berpergian. Entah itu dengan bersepeda bersama tetangganya, hingga mudik yang selalu ditunggu-tunggu kehadirannya setiap tahun. Kecintaannya terhadap mudik, membuatnya hampir pernah mengunjungi kota-kota di pulau Jawa, dari anyer hingga Banyuwangi. Perjalanan mudik dengan mobil, adalah kesukaannya. Walaupun menurut berbagai orang adalah melelahkan, namun baginya itu adalah sebuah hal unik yang hanya ada di Indonesia sebagai ladang silaturahmi antara perantau dan keluarganya di daerah.

Singkat cerita, Tama lulus dari SD Islam Cikal Harapan dan melanjutkan pendidikannya di SMP Labschool Kebayoran, Jakarta. Lokasi antar keduanya yang cukup jauh, 199 teman baru, merupakan proses berat untuk menjadi bagian di dalamnya. Apalagi mengingat rumahnya yang cukup jauh, sehingga 5.30 menjadi satu-satunya waktu yang tepat untuk berangkat. Jika hanya lebih sekian menit, maka terlambat adalah konsekuensinya.

Tidak semua orang dapat mudah untuk bertahan hidup di lingkungan yang sepenuhnya adalah baru. Kebiasaan baru, teman baru, lingkungan baru, adalah 3 dari banyak hal baru yang dijumpainya saat pertama kali memijakkan kaki di SMP Labschool Kebayoran. Pesimis, itu yang dipikirkannya pertama kali. Semangatnya lalu menutupi semua pemikiran buruknya, sehingga hari pertama Masa Orientasi Siswa dapat berlangsung baik, walaupun disaat teman-teman lainnya sudah botak, yang notabene sebagai syarat, dia belum.

Awal perjalanannya di Sekolah Menengah Pertama, dimulai dengan bersosialisasi dengan lingkungan terdekat, yaitu kelas 7A, dengan nama lain VIIrtuAl. Berkenalan dengan banyak teman baru dari berbagai latar belakang, begitulah kelas dimana dia masuk. Dengan warna-warni di dalamnya, membuat bhineka tunggal ika sangat kental. Petualangan 7A dimulai dengan Studi Lapangan AKTUAL di berbagai tempat menarik di Jakarta dan sekitarnya. Lebih lanjut, Tama, dan teman satu kelompoknya berhasil mendapatkan juara 1 di Ajang Kreatifitas Tim Unjuk Aksi Lapangan.

Tidak berhenti di kelas 7A, tujuan kelas selanjutnya adalah 8B atau ro8Binhood. Disini Tama mulai tertarik dengan organisasi, hal tersebut direalisasikannya dengan mengikuti Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa. Selesai dari LDKS, dia bergabung dalam Majelis Perwakilan Kelas untuk masa jabatan 2007-2008 dengan jabatan pendidikan. Pelantikan MPK dilakukan bertepatan dengan momen peringatan kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus, dengan berlari dari Museum Satria Mandala hingga Labschool Kebayoran. Lari lintas juang namanya, merupakan simbol dari perjuangan pahlawan yang telah gugur. Dari situ, dia belajar bahwa semangat dan perjuangan berada lekat di dalam pribadi jiwa dan raga seorang pahlawan.

Perjuangan hidup di SMP berlanjut kemudian, Bina Mental Siswa (BIMENSI) di Angkatan Laut Republik Indonesia regional Cilandak adalah fase selanjutnya. Pengalaman baru untuk berinteraksi dengan orang-orang dibalik semangat mempertahankan NKRI, membuatnya tertarik untuk bergabung dalam BIMENSI. Lebih lanjut, di Marinir banyak pembelajaran yang dia dapatkan, khususnya terkait dengan jiwa korsa dan pertahanan hidup.

UAN di penghujung tahun ajaran 2008-2009, adalah detik-detik terakhir Tama menapakkan kakinya di lingkungan SMP Labschool Kebayoran. Fase-fase Sekolah Menengah Atas menunggu di depan mata, pilihan berat baginya disaat dihadapkan dengan pilihan masa depan. Antara SMAN 8 Jakarta dengan SMA Labschool Kebayoran.

SMA Labschool Kebayoran menjadi destinasi selanjutnya. Berbekal teman-teman dari Sekolah Menengah Pertama, membuatnya mudah untuk memulai proses-proses sosial. Masa Orientasi Siswa, sebagai pintu gerbang karirnya di SMA. Seperti MOS-MOS biasanya, versi MOS SMA kali ini terasa menarik. Team building menjadi salah satu kegiatan yang menjadi prioritas selama Masa Orientasi Siswa berlangsung.

Petualangan dia selanjutnya setelah Masa Orientasi Siswa adalah Trip Observasi. Desa Pasir Muncang di Purwakarta, Jawa Barat menjadi venue untuk TO 2009. Lokasi di perbukitan, jauh dari kota, jauh dari teknologi, kesan alami, membuat Pasir Muncang nyaman untuk ditinggali selama beberapa hari, diluar dari kepenatan dan kepadatan kota Jakarta.

Trip Observasi pun dapat dikatakan menjadi kegiatan bersejarah bagi angkatan. Pra Trip Observasi dimulai dengan tercetusnya nama angkatan 9, Nawa Drastha Sandyadira, dan terpilihnya 3 ketua angkatan, Nabel, Danto, dan Olaf.

Tidak hanya berhenti di Trip Observasi, di akhir tahun ajaran 2009-2010, BINTAMA menjadi tantangan berikutnya. Setelah Ujian Akhir Semester selesai, setiap siswa di angkatan Nawastra diwajibkan untuk botak menjelang BINTAMA 2011 dilaksanakan di Komando Pasukan Khusus, Serang.

Kecintaannya terhadap organisasi, membuat di awal 2011, Tama bergabung dengan berbagai komunitas/gerakan. The Climate Project Indonesia adalah salah satunya, setelah mengikuti The Climate Project Asia-Pacific Summit di awal Januari, dia menjadi salah satu Presenter TCP di Indonesia. Tidak hanya di masalah lingkungan hidup, pengembangan pemuda menjadi salah satu minatnya. Bergabungnya dia dengan komunitas Look Around dan acara POTENSI 2011, menjadi salah satu pengembangan dirinya dalam berorganisasi.

Mimpi dia dalam jangka waktu dekat adalah dapat lulus dari SMA Labschool Kebayoran dengan nilai memuaskan dan berkuliah di Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung angkatan 2012. Setelah periode kuliah S1, tahun 2016, dia bercita-cita untuk dapat melanjutkan kuliah di bidang Marketing atau Manajemen, sehingga kedepannya, dapat menjadi sosok yang berguna bagi Indonesia, karena menurut ayahnya:

“Indonesia butuh seorang Engineer dengan tingkah laku yang baik, wawasan luas, pengetahuan luas, pola pikir rasional, serta etika yang dapat dibanggakan.” -ayah

Begitulah penggalan kisah hidupnya saat ini. Dengan belajar dan belajar, harapannya adalah menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari. Karena:

“Masa lalu adalah sejarah, hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan esok harus lebih baik dari hari ini.”

[+/-]Baca Lebih Lanjut? Klik Judul Artikel

 

Design modified by mugimunteng | Basic Design by Dzignine in Collaboration with Trucks, SUV, Kidney Stones