otakatikawas!

otakatikawas!

Aku dan Detasemen 88

|
Sabtu,  21 Mei 2011. Saya bersama teman-teman saya mengunjungi salah satu museum yang terletak di dekat sekolah saya, masih satu kawasan dengan Kebayoran Baru. Museum ini terletak di Jl. Trunojoyo No. 3 Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Museum yang saya kunjungi yaitu Museum Polri. Museum ini terletak bersebelahan dengan Mabes Polri. Memang agak susah masuk ke museum karena jalan masuknya agak sempit. Saya memilih museum ini sebagai tempat studi kunjungan saya karena saya belum pernah ke museum ini. Saya di beri tahu museum ini dari teman saya, beruntung dekat dengan sekolah maka dipilihlah museum ini. Saya bersama teman saya yaitu, Tama, Vitto, dan Rifki bersama-sama ke museum ini. Harga yang dibutuhkan untuk masuk ke museum juga tidak mahal, karena kami tidak mengeluarkan uang sepeser pun alias gratis.Saat memasuki museum ini saya merasa nyaman karena, museum ini berbeda dari museum yang pernah saya kunjungi. Museum ini termasuk modern seperti museum negeri luar. Museum ini dibuat nyaman dengan arsitektur dalam ruanganya.  Sejarah museum ini juga tidak banyak karena museum ini didirikan pada hari Senin tanggal 29 Juni 2009. Sudah hampir 2 tahun berdiri.
                Sebagai tambahan, Polri yaitu Polisi Republik Indonesia, memiliki lambang:

 Makna lambang polri, yaitu:

Lambang Polisi bernama Rastra Sewakottama yang berarti "Polri adalah Abdi Utama dari pada Nusa dan Bangsa." Sebutan itu adalah Brata pertama dari Tri Brata yang diikrarkan sebagai pedoman hidup Polri sejak 1 Juli 1954.

Polri yang tumbuh dan berkembang dari rakyat, untuk rakyat, memang harus berinisiatif dan bertindak sebagai abdi sekaligus pelindung dan pengayom rakyat. Harus jauh dari tindak dan sikap sebagai "penguasa". Ternyata prinsip ini sejalan dengan paham kepolisian di semua Negara yang disebut new modern police philosophy, "Vigilant Quiescant" (kami berjaga sepanjang waktu agar masyarakat tentram).

Prinsip itu diwujudkan dalam bentuk logo dengan rincian makna sbb:

Perisai bermakna pelindung rakyat dan negara.

Tiang dan nyala obor bermakna penegasan tugas Polri, disamping memberi sesuluh atau penerangan juga bermakna penyadaran hati nurani masyarakat agar selalu sadar akan perlunya kondisi kamtibmas yang mantap

Pancaran obor yang berjumlah 17 dengan 8 sudut pancar berlapis 4 tiang dan 5 penyangga bermakna 17 Agustus 1945, hari Proklamasi Kemerdekaaan yang berarti Polri berperan langsung pada proses kemerdekaan dan sekaligus pernyataan bahwa Polri tak pernah lepas dari perjuangan bangsa dan negara.

Tangkai padi dan kapas menggambarkan cita-cita bangsa menuju kehidupan adil dan makmur, sedangkan 29 daun kapas dengan 9 putik dan 45 butir padi merupakan suatu pernyataan tanggal pelantikan Kapolri pertama 29 September 1945 yang dijabat oleh Jenderal Polisi Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo.

3 Bintang di atas logo bermakna Tri Brata adalah pedoman hidup Polri. Sedangkan warna hitam dan kuning adalah warna legendaris Polri.

Warna hitam adalah lambang keabadian dan sikap tenang mantap yang bermakna harapan agar Polri selalu tidak goyah dalam situasi dan kondisi apapun; tenang, memiliki stabilitas nasional yang tinggi dan prima agar dapat selalu berpikir jernih, bersih, dan tepat dalam mengambil keputusan.

DETASEMEN KHUSUS 88 ANTI TEROR

Saya memilih salah satu koleksi yang dimiliki museum, yaitu perlengkapan Detasemen khusus 88 Anti Teror. Perlengkapan ini di pasang pada sebuah patung , tetapi cukup untuk menjelaskan perlengkapan yang di gunakan detasemen ini, seperti helm Kevlar, Vest(rompi anti peluru), Senapan M4, BDU(Battle Dress Uniform/seragam tempur), pistol Glock 17 sebagai side arm/senjata genggam.

Persenjataan detasemen ini tidak hanya kedua senjata yang telah disebutkan tetapi masih ada senjata yang lain yang dimiliki detasemen ini yaitu, Steyr AUG A1 Police sebagai Assault Rifle/senapan serbu. Senapan ini produksi Steyr Austria. Selain itu, ada juga AR-10 sebagai senjata sniper, buatan Amerika, Shotgun Remington 870 untuk breaching/pendobrakan.
Dimulai dengan sejarah terbentuknya detasemen ini, Detasemen Khusus 88 atau Densus 88 adalah satuan khusus Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk penanggulangan teroris di Indonesia. Pasukan khusus berompi merah ini dilatih khusus untuk menangani segala ancaman teror, termasuk teror bom. Beberapa anggota juga merupakan anggota tim Gegana.

Detasemen 88 dirancang sebagai unit antiteroris yang memiliki kemampuan mengatasi gangguan teroris mulai dari ancaman bom hingga penyanderaan. Densus 88 di pusat (Mabes Polri) berkekuatan diperkirakan 400 personel ini terdiri dari ahli investigasi, ahli bahan peledak (penjinak bom), dan unit pemukul yang di dalamnya terdapat ahli penembak jitu. Selain itu masing-masing kepolisian daerah juga memiliki unit anti teror yang disebut Densus 88, beranggotakan 45 - 75 orang, namun dengan fasilitas dan kemampuan yang lebih terbatas. Fungsi Densus 88 Polda adalah memeriksa laporan aktifitas teror di daerah.Melakukan penangkapan kepada personil atau seseorang atau sekelompok orang yang dipastikan merupakan anggota jaringan teroris yang dapat membahayakan keutuhan dan keamanan negara R.I.

Densus 88 adalah salah satu dari unit anti teror di Indonesia, disamping Detasemen C Gegana Brimob, Detasemen Penanggulangan Teror (Dengultor) TNI AD alias Grup 5 Anti Teror, Detasemen 81 Kopasus TNI AD (Kopasus sendiri sebagai pasukan khusus juga memiliki kemampuan anti teror), Detasemen Jalamangkara (Denjaka) Korps Marinir TNI AL, Detasemen Bravo (Denbravo) TNI AU, dan satuan anti-teror BIN.

Satuan ini diresmikan oleh Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Firman Gani pada tanggal 26 Agustus 2004. Detasemen 88 yang awalnya beranggotakan 75 orang ini dipimpin oleh Ajun Komisaris Besar Polisi Tito Karnavian yang pernah mendapat pelatihan di beberapa negara.

Densus 88 dibentuk dengan Skep Kapolri No. 30/VI/2003 tertanggal 20 Juni 2003, untuk melaksanakan Undang-undang No. 15 Tahun 2003 tentang penetapan Perpu No. 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, yaitu dengan kewenangan melakukan penangkapan dengan bukti awal yang dapat berasal dari laporan intelijen manapun, selama 7 x 24 jam (sesuai pasal 26 & 28). Undang-undang tersebut populer di dunia sebagai "Anti Teror Act".
Angka 88 berasal dari kata ATA (Anti Terror Act), yang jika dilafalkan dalam bahasa Inggris berbunyi Ei Ti Ekt. Pelafalan ini kedengaran seperti Eighty Eight (88). Jadi arti angka 88 bukan seperti yang selama ini beredar bahwa 88 adalah representasi dari jumlah korban bom bali terbanyak (88 orang dari Australia), juga bukan pula representasi dari borgol.

Pasukan khusus ini dibiayai oleh pemerintah Amerika Serikat melalui bagian Jasa Keamanan Diplomatik (Diplomatic Security Service) Departemen Luar Negeri AS dan dilatih langsung oleh instruktur dari CIA, FBI, dan U.S. Secret Service. Kebanyakan staf pengajarnya adalah bekas anggota pasukan khusus AS. Informasi yang bersumber dari FEER pada tahun 2003 ini dibantah oleh Kepala Bidang Penerangan Umum (Kabidpenum) Divisi Humas Polri, Kombes Zainuri Lubis, dan Kapolri Jenderal Pol Da’i Bachtiar. Sekalipun demikian, terdapat bantuan signifikan dari pemerintah Amerika Serikat dan Australia dalam pembentukan dan operasional Detasemen Khusus 88. Pasca pembentukan, Densus 88 dilakukan pula kerjasama dengan beberapa negara lain seperti Inggris dan Jerman. Hal ini dilakukan sejalan dengan UU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme pasal 43.



Lambang Detasemen Khusus Anti Teror 88


Profil anggota detasemen ini, menggunakan perlengkapan yang modern dan mayoritas produksi Amerika. Terlihat objek menyandang senapan colt M4, tetapi yang di pajang bukan senapan asli tetapi senapan Airsoftgun. Tetapi cukup untuk memperlihatkan bahwa senapan M4 sebagai persenjataan perorangan standar bagi setiap anggota densus. 
Foto diatas, adalah foto asli saat Densus latihan. Terlihat senjata M4 yang disandang sama dengan foto museum. Untuk senjata sidearms/pistol, detasemen khusus 88 dibekali pistol Glock 17 buatan Austria.

Untuk perlengkapan perlindungan, operator densus menggunakan helmet Kevlar level IIIA dan untuk perlindungan mata, menggunakan Goggle Oakley. Vest(rompi anti peluru)juga dikenakan operator densus guna melindungi bagian tubuh. Bdu yang digunakan adalah 5.11 tactical.
Perlengkapan yang modern dan juga mahal tidak akan menjamin kualitas suatu pasukan. Melainkan skill /kemampuan setiap anggota dan taktik yang strategi yang jitu kunci keberhasilan dari operasi militer. Densus selalu berlatih dan berlatih untuk menghadapi aksi terror yang saat ini makin banyak terjadi. Intelejen yang mengabarkan, Densus yang bertindak. Mereka pun diberikan latihan-latihan pasukan khusus. Memiliki intelektual tinggi, dapat mengatur emosi dalam kondisi apapun dan kejiwaan yang stabil. Latihan rutin, kunci awal kesuksesan dengan berlatih akan menambah kemampuan. Karena sekali tampil, harus berhasil!



http://www.museum.polri.go.id/img/spacer.gif




http://www.museum.polri.go.id/img/spacer.gif


0 comments:

Post a Comment

 

Design modified by mugimunteng | Basic Design by Dzignine in Collaboration with Trucks, SUV, Kidney Stones