otakatikawas!

otakatikawas!

AYAHNYA EKA DAN KERUSUHAN MEI

|
Tokoh sejarah yang telah saya wawancara kali ini adalah ayah saya sendiri, yang saya anggap sebagai saksi sejarah karena beliau menyaksikan kejadian sejarah yang sangat penting semasa hidupnya. Ayah saya bernama Bambang Suprihatin, lahir di Madiun pada tanggal 8 Juli tahun 1950. Sebagai saksi sejarah, peristiwa yang dialami oleh ayah saya ini adalah kerusuhan bulan mei tahun 1998. Sesungguhnya kerusuhan ini terjadi di berbagai tempat di Indonesia, contohnya adalah Jakarta dan Bandung. Namun karena pada tahun itu ayah saya sedang dinas bekerja di Solo atau Surakarta, maka yang akan saya saya ceritakan adalah kerusuhan yang terjadi di Surakarta. Kejadian ini terjadi pada tahun 1998 yang artinya saya berumur sekitar 4 tahun dan ayah saya berumur sekitar 48 tahun. Ayah saya bercerita cukup panjang mengenai kerusuhan ini.
Kerusuhan ini mungkin menurut ayah terjadi puncaknya sekitar tanggal 13 Mei sampai 15 mei tahun 1998Kerusuhan ini diawali oleh krisis financial yang terjadi di Asia dan dipicu oleh tragedy trisakti di mana empat mahasiswa Universitas Trisakti ditembak dan terbunuh dalam demonstrasi 12 Mei 1998. Pada kerusuhan ini banyak toko-toko dan perusahaan-perusahaan dihancurkan dan diamuk oleh massa, terutama milik warga Indonesia keturunan Tionghoa. Konsentrasi kerusuhan terbesar terjadi di Jakarta, Bandung, dan Surakarta. Terdapat ratusan wanita keturunan Tionghoa yang diperkosa dan mengalami pelecehan seksual dalam kerusuhan tersebut. Sebagian bahkan diperkosa beramai-ramai, dianiaya secara sadis, kemudian dibunuh. Dalam kerusuhan tersebut, banyak warga Indonesia keturunan Tionghoa yang meninggalkan Indonesia. Terutama di Surakarta, pembasmian Tionghoa sangat merajalela, bahkan di jalanan pun setiap mobil disisir oleh massa untuk menangkap dan membasmi para Tionghoa. Kebakaran pun terjadi dimana-mana di daerah Surakarta, kebakaran terjadi pada toko-toko milik para Tionghoa. Amukan massa ini membuat para pemilik toko di kota Surakarta tersebut ketakutan dan menulisi muka toko mereka dengan tulisan "Milik pribumi" atau "Pro-reformasi". Sampai bertahun-tahun berikutnya Pemerintah Indonesia belum mengambil tindakan apapun terhadap nama-nama besar yang dianggap provokator kerusuhan Mei 1998. Bahkan pemerintah mengeluarkan pernyataan berkontradiksi dengan fakta yang sebenarnya yang terjadi dengan mengatakan sama sekali tidak ada pemerkosaan massal terhadap wanita keturunan Tionghoa disebabkan tidak ada bukti-bukti konkret tentang pemerkosaan tersebut. Menurut ayah, hal ini benar-benar menunjukkan ketakutan pemerintah untuk membuka kebenaran dan fakta mengenai kejadian-kejadian yang terjadi selama kerusuhan mei ini berlangung. Namun kata ayah, sebab dan alasan kerusuhan ini masih banyak diliputi ketidakjelasan dan kontroversi sampai hari ini.
Ayah juga bercerita, disaat kerusuhan tersebut sedang terjadi di Surakarta suatu hari ayah sedang dalam perjalanan menuju rumah bersama supir. Namun di tengah jalan terjadi penyisiran terhadap Tionghoa, ayah yang kesal awalnya berusaha sabar. Sampai tiba-tiba seseorang memukul-mukul atap mobil milik ayah. Hal ini otomatis memancing emosi ayah saya sehingga ayah saya langsung keluar mobil dan tanpa pikir panjang memukuli orang tersebut. Lucunya, karena teman-teman orang tersebut mulai datang untuk membalas ayah saya, ayah saya langsung dengan segera berlari meninggalkan mobil dan supir saya. Untungnya supir dan mobil saya kembali dengan selamat, saya juga bingung bagaimana bisa.
Ada juga cerita dari ibu saya dulu. Ibu saya mempunyai seorang teman dekat sewaktu di Surakarta. Teman ibu saya ini bukanlah Tionghoa namun kulitnya sangat putih sehingga seringkali orang-orang mengira teman ibu saya ini adalah seorang Tionghoa. Pada suatu hari ketika sedang berjalan-jalan dengan mengendarai mobil bersama ibu saya, terjadi penyisiran untuk menyisir orang Tionghoa. Ibu dan teman ibu saya ini sudah sangat panik, dan ketika disuruh turun nyaris saja teman ibu saya ini dikira Tionghoa sampai akhirnya teman ibu saya mengeluarkan ktp dan dengan segenap keberanian menjelaskan bahwa dirinya bukanlah Tionghoa.
Ayah saya juga bercerita pada tanggal 14 Mei tahun 1998 terjadi bentrokkan di Surakarta. Ribuan mahasiswa UMS menggelar demo keprihatinan atas tewasnya Mozes dan Tragedi Trisakti. Kekacauan terjadi setelah ada batu melayang ke arah demonstran, disusul terjadi hujan batu. Ribuan demonstran akhirnya berlari mundur ke Kampus UMS. Sementara, lainnya membalas lontaran gas air mata aparat dengan batu. Puncak kemarahan massa terjadi saat insiden aparat menginjak-injak seorang demonstran yang tergeletak tak berdaya di tengah jalan. Massa berteriak mengecam tindakan itu. Sebuah show room dealer resmi mobil bermerk Timor pun sempat menjadi korban. Massa melempari dengan batu hingga seluruh kaca showroom yang tak terlihat ada mobilnya itu sangat berantakan. Showroom Bimantara di timur diler Timor pun sempat jadi sasaran pula. Pelemparan batu meningkat setelah massa lepas dari Perempatan Gendengan. Restoran Akuarius, Kentucky Fried Chicken adalah sasaran pertama pelemparan. Sembari bergerak, massa terus melempari hampir semua pertokoan maupun gedung perkantoran di sepanjang Jalan Slamet Riyadi. Namun, saat itu seingat ayah saya yang beliau lihat di berita belum ada pembakaran. Insiden pembakaran menurut ayah saya meletus kali pertama saat pergerakan massa sampai di sebuah kantor bank, yaitu kantor bank BCA. Sebuah mobil yang diparkir di halaman, dibakar massa. Setelah itu, giliran mobil di Bank Danamon, dan di Bank Indonesia. Massa sempat menyerbu Kantor PT Telkom dan Balaikota. Ketika ribuan orang hendak menyerbu Balaikota. massa mulai terpecah, sebagian menuju kompleks pertokoan Matahari Beteng.
Sementara, massa di depan Balaikota yang telah menyemut hingga puluhan ribu orang itu menuju Jalan Urip Sumoharjo. Massa menyasar Bank Bumi Artha, Bank Buana, bekas Bank Bali.
Berbarengan dengan itu, di sejumlah kawasan Solo lainnya seperti di Nusukan, Gading, Tipes, Jebres, serta hampir seluruh penjuru kota juga meletus aksi serupa. Kerusuhan kian meluas. Massa di hampir seantero kota turun ke jalan melakukan pelemparan dan pembakaran bangunan maupun mobil dan motor. Bahkan juga penjarahan, terutama pada toko-toko Tionghoa. Di Jalan Slamet Riyadi yang semula hanya terjadi pelemparan, berganti pembakaran. Di antaranya Wisma Lippo Bank dan Toko Sami Luwes. Supermarket Matahari Super Ekonomi (SE). Seingat ayah saya, sebuah terminal bus pun sempat menjadi korban pembakaran. Selain itu, Plasa Singosaren berlantai tiga turut pula dihanguskan. Monza Dept Store di sebelahnya, diremuk, juga toko sepatu Bata dan beberapa toko lain. Peristiwa kerusuhan juga terjadi di kawasan Gading dan sekitarnya. Kata ayah saya, keesokan harinya kerusuhan yang serupa masih berlanjut. Plasa Beteng telah dibakar massa. Toserba Ratu Luwes, Luwes Gading, pabrik plastik di Sumber serta puluhan tempat lain dibakar dan dijarah massa. Begitu juga pembakaran terhadap kendaraan roda dua dan empat masih terjadi di beberapa jalan di Surakarta. Kami sekeluarga saat itu berupaya untuk sama sekali tidak keluar rumah, kecuali ada hal yang sangat penting dan darurat. Seingat ayah saya, yang beliau lihat di berita diketahui bahwa kerusuhan selama dua hari itu ternyata telah menelan korban jiwa sekitar 30 orang. Mayat mereka yang telah dalam keadaan hangus diketahui setelah dilakukan bersih-bersih atas puing-puing amuk massa. Akibat banyaknya toko, swalayan, dan tempat usaha lain dirusak massa, akhirnya banyak sekali tenaga kerja yang menganggur dan jumlahnya sangat banyak.
Kata ayah saya, pada akhirnya banyak orang-orang Tionghoa pemilik toko yang akhirnya pasrah dan menyerahkan barang-barang di toko miliknya begitu saja. Kebanyakan dari mereka mau tak mau menyerahkan seluruh barang dagangannya untuk dijarah, karena mereka lebih memilih seperti itu ketimbang toko mereka habis dibakar massa. Saat itu pun bukan hanya orang Tionghoa yang diperiksa oleh massa, namun keturunan-keturunan Tionghoa pun merasakan dampak buruknya.

2 comments:

{ Rahmatika Agustina } at: December 6, 2015 at 4:56 AM said...

Ijin copas buat tugas ya, terimakasih

{ Sangkuriang } at: May 3, 2017 at 2:09 AM said...

Gue si gak tau persis waktu kejadian Mei 98, soalnya waktu itu gue masih kecil dan tinggal di kabupaten Bandung... Di sana situasi adem ayem saat kota" lain bergejolak. Gue si turut prihatin dan ada perasaan marah...untuk peristiwa itu.

Post a Comment

 

Design modified by mugimunteng | Basic Design by Dzignine in Collaboration with Trucks, SUV, Kidney Stones