otakatikawas!

otakatikawas!

361 tahun Saltanat Umān

|
Oman :)
Sampai saat ini tidak banyak yang mengenali keberadaan Oman sebagai negara di Timur Tengah, atau bahkan yang lebih umum dikenal dengan nama Sultanate of Oman. Keeksisannya selama 361 tahun di dunia internasional dipengaruhi oleh kestabilitasan kondisi dalam negeri hingga luar negeri, sehingga membuatnya seperti terlihat jarang bersua di kancah Internasional, walaupun berdasarkan realita, Oman berpartisipasi dalam berbagai organisasi internasional, seperti G-77, ILO, Interpol, PBB, UNESCO, WHO, WTO, dan masih banyak lagi.

Kisah perjalanan Oman, dimulai dari periode Pra-sejarah, yaitu 130 ribu tahun yang lalu dimana mendekati akhir jaman es. Beberapa saat sebelum waktu pergantian jaman, lantas terjadilah migrasi dalam jumlah besar dari Afrika menuju Jazirah Arab. Proses migrasi disebabkan oleh iklim Jazirah Arab yang lebih hangat disertai dengan curah hujan lebih tinggi, serta permukaan laut merah yang terus menurun dari hari ke hari, lantas memudahkan terjadinya migrasi dari Afrika Timur hingga Oman. Berbagai situs arkeologi di Yaman dan Oman yang ditemukan, lantas menjadi bukti nyata bahwa peradaban yang masuk ke kedua negara tersebut berasal dari Afrika Timur. Proses migrasi terus terjadi hingga 10 ribu tahun kemudian yang selanjutnya menjadi akhir dari jaman es sesungguhnya, sehingga permukaan laut merah kembali naik, bahkan hingga naik ke daratan.

Oman tidak hanya kehadiran pendatang asal Afrika Timur, sebagian proses migrasi lainnya datang dari wilayah Saudi Arabia yang kemudian ditandai dengan penduduk ber-ciri khas kulit coklat, sedangkan pendatang dari Afrika Timur memiliki kecenderungan untuk berkulit hitam.

Mulai Abad ke-6 SM hingga periode masuknya Islam di Abad ke-7 Masehi, Oman berada dalam kekuasaan Dinasti Achaemenida, Parthia, Sassanid, dan Persia. Pada abad ke-6 SM, Dinasti Achaemenida memiliki kontrol yang kuat atas semenanjung Oman, dan kemudian berkuasa penuh pada pesisir pusat seperti Sohar. Sekitar tahun 250 SM, Dinasti Parthia menaklukan Teluk Persia yang sebelumnya di bawah kendali Dinasti Achaemenida, lantas memperluas pengaruh mereka sampai ke Oman, mendirikan garnisun di Oman untuk membantu mengendalikan rute perdagangan di Teluk Persia. Pada abad ke-3, Dinasti Sasanid berhasil menaklukan Dinasti Parthia, dan kemudian memiliki daerah tersebut sampai munculnya Islam, empat abad kemudian.

Oman mulai mengadopsi Islam pada abad ke-7, yaitu selama masa Nabi Muhammad. Ibadisme kemudian menjadi faham keagamaan yang dominan di Oman pada abad ke-8. Oman saat ini menjadi satu-satunya negara Islam di dunia dengan penduduk mayoritas berfaham Ibadisme.
 
Tapi setelah kedatangan Islam, Oman tetap mendapat intervensi kekuatan asing yang dikendalikan oleh Dinasti Qarmatian pada tahun 931-932 dan kemudian terjadi lagi pada tahun 933-934. Antara tahun 967 dan 1053, Oman merupakan bagian dari pengaruh kekuasaan Buyyids Iran, dan antara tahun 1053 dan 1154, Oman adalah bagian dari kekuasaan Seljuk Agung. Tahun 1154, Dinasti Nabhani menguasai Oman, dan raja-raja Oman Nabhani memerintah sampai tahun 1470.

Muscat, ibukota Oman, pada akhirnya tunduk pada Portugis tanggal 1 April 1515. Pada sekitar tahun 1600, Dinasti Nabhani sementara dikembalikan ke Oman, walaupun terus berlangsung hingga tahun 1624. Perebutan Muscat yang terakhir dari Portugis terjadi pada 1650 setelah kehadiran kolonial di pantai timur laut Oman.

Selama masa pemerintahan Sultan Said bin Sultan Al Said (1806-1856), Oman membudidayakan koloni di Afrika Timur, mendapat keuntungan dari perdagangan budak. Sebagai kekuatan regional di abad ke-19, Oman menjajah wilayah di Pulau Zanzibar (Afrika Timur), wilayah sepanjang pantai Afrika Timur yang dikenal dengan Zanj termasuk Mombasa dan Dar es Salaam, dan di wilayah Gwadar (sekarang Pakistan) di sepanjang pantai Laut Arab. Tetapi ketika Inggris menyatakan perbudakan adalah ilegal di pertengahan abad ke-19, nasib kesultanan menjadi sebaliknya. Ekonomi runtuh sehingga banyak keluarga Oman bermigrasi ke Zanzibar. Populasi Muscat turun dari 55.000 menjadi 8.000 di antara tahun 1850 hingga 1870-an. Sebagian besar harta benda luar negeri disita oleh Inggris, dan Oman pada tahun 1850 merupakan daerah yang terisolasi dan miskin di dunia.

Ketika Sultan Said bin Sultan Al-Busaid meninggal pada tahun 1856, anak-anaknya bertengkar atas suksesi ayahnya. Sebagai hasil dari perjuangan ini, kekaisaran - melalui mediasi Pemerintah Inggris di bawah "Canning Award" - dibagi pada tahun 1861 menjadi dua kerajaan yang terpisah - Zanzibar, dengan dependensi Timur di Afrika, dan Muscat serta Oman. Lantas Zanzibar membayar subsidi tahunan untuk Muscat dan Oman sampai kemerdekaan pada tahun 1964 awal.

Nizwa Fort
Selama akhir abad ke-19 awal abad ke-20, sultan Muscat dihadapi pemberontakan oleh anggota Dinasti Ibadhi yang berada di pedalaman Oman, berpusat di sekitar kota Nizwa, yang ingin secara eksklusif Oman dikuasai oleh pemimpin agama mereka, Imam Oman. Konflik ini telah diselesaikan sementara oleh Perjanjian Seeb, yang memberikan imam mengenai aturan otonom di pedalaman, sementara mengakui kedaulatan sultan di tempat lain.

Konflik berkobar lagi pada tahun 1954, ketika imam baru memimpin pemberontakan 5 tahun sporadis terhadap upaya sultan untuk memperluas kontrol pemerintah ke pedalaman. Para pemberontak dikalahkan pada tahun 1959 dengan bantuan Inggris. Sultan kemudian mengakhiri Perjanjian Seeb dan menghancurkan kantor imam tersebut. Pada awal 1960-an, imam diasingkan ke Arab Saudi dengan memperoleh dukungan dari tuan rumah dan pemerintah Arab lainnya, tapi dukungan ini berakhir pada 1980-an.

Sebuah pemberontakan separatis dimulai pada Provinsi Dhofar di tahun 1964. Dibantu oleh pemerintah komunis dan sisi kiri seperti bekas Yaman Selatan (Rakyat Demokratik Republik Yaman), para pemberontak membentuk Front Liberasi Dhofar, yang kemudian bergabung dengan Marxist-dominated Popular Front for the Liberation of Oman and the Arab Gulf (PFLOAG). Tujuan PFLOAG adalah untuk menggulingkan semua rezim tradisional di Teluk Arab. Pada pertengahan 1974, PFLOAG disingkat namanya menjadi Popular Front for the Liberation of Oman (PFLO) dan memulai sebuah politik ketimbang pendekatan militer untuk mendapatkan kekuasaan di negara-negara Teluk lainnya, dengan terus melaksanakan perang gerilya di Dhofar.

Pada tahun 1970, Sultan Qaboos bin Said Al Said menggulingkan ayahnya, Sa'id bin Taymur, yang kemudian meninggal di pengasingan di London. Al Said telah memerintah sebagai sultan sejak saat itu. Sultan baru kemudian dihadapkan pada pemberontakan di negara oleh golongan-golongan yang merasa terganggu karena penyakit endemik, buta huruf, dan kemiskinan. Salah satu langkah pertama Sultan Qaboos adalah untuk menghapuskan berbagai pembatasan keras yang dilakukan oleh ayahnya, yang kemudian telah menyebabkan ribuan warga Oman meninggalkan negara itu, dan untuk menawarkan amnesti kepada para penentang rezim sebelumnya, lantas banyak dari mereka kembali ke Oman. Sultan Qaboos juga mendirikan struktur pemerintahan modern dan meluncurkan program pembangunan utama untuk meningkatkan fasilitas pendidikan dan kesehatan, membangun infrastruktur modern, dan mengembangkan sumber daya alam di Oman.

Dalam upaya untuk mengekang pemberontakan Dhofar, Sultan Qaboos memperluas serta melengkapi kembali angkatan bersenjata dan turut memberikan amnesti kepada semua pemberontak yang menuntut perang di Dhofar agar menyerahkan diri. Dia memperoleh dukungan militer langsung dari Inggris, Iran, dan Yordania. Pada awal 1975, gerilyawan yang berada pada 50 kilometer persegi (20 mil persegi) di daerah dekat perbatasan Yaman, tidak lama kemudian berhasil dikalahkan. Lebih lanjut, ancaman PFLO berkurang dengan pembentukan hubungan diplomatik pada bulan Oktober 1983 antara Yaman Selatan dan Oman, dan Yaman Selatan kemudian propaganda dan kegiatan melawan Oman berkurang. Pada akhir 1987, Oman membuka kedutaan besar di Aden, Yaman Selatan.

Sejak aksesi pada tahun 1970, Sultan Qaboos telah berhasil menyeimbangkan antara kepentingan suku, daerah, dan etnis dalam penyusunan pemerintahan nasional. Dewan Menteri yang terdiri dari 26 menteri, semuanya langsung diangkat oleh Sultan Qaboos. Majlis Al-Syura atau Dewan Konsultatif memiliki mandate untuk meninjau undang-undang yang berkaitan dengan pembangunan ekonomi dan pelayanan sosial sebelum sistem hukum di Oman benar-benar terbentuk.
 
Pada bulan November 1996, Sultan Qaboos mengumumkan Anggaran Dasar Negara yang pertama, atau lebih dikenal dengan "konstitusi". Hal ini menjamin berbagai hak seperti yang terkandung di dalam Al-Qur’an dan hukum, serta turut melarang menteri kabinet untuk menjadi pemilik perusahaan pemegang saham publik. Mungkin yang paling penting adalah Anggaran Dasar turut memberikan aturan untuk pengaturan suksesi Sultan Qaboos.

Lokasi Oman di Selat Hormuz, yang merupakan pintu masuk ke Teluk, menyebabkan Oman berkaitan erat dengan stabilitas regional serta keamanan, apalagi jika mengingat ketegangan di kawasan teluk bagian utara antara Iran dengan Irak, dan tentu ancaman potensi politik Islam. Selain itu, sejak tahun 1980 Oman dan Amerika Serikat telah terikat dalam suatu perjanjian kerjasama militer, yang telah direvisi dan diperbaharui pada tahun 2000. Oman juga telah lama menjadi anggota aktif dalam upaya untuk mencapai perdamaian Timur Tengah.

Sultan Qaboos's Mosque
Pada bulan September 2000, dari sekitar 100.000 penduduk baik itu pria ataupun wanita, terpilih 83 kandidat termasuk dua perempuan untuk menempati kursi di Majlis Al-Syura. Pada bulan Desember 2000, Sultan Qaboos menunjuk 48-anggota Majlis Al Dowla, atau Dewan Negara, termasuk lima perempuan didalamnya, yang bertindak sebagai majelis tinggi dalam tubuh perwakilan bikameral Oman.

Setelah serangan teroris di Amerika Serikat pada September 2001, Pemerintah Oman di semua tingkat menjanjikan dan memberikan dukungan mengesankan terhadap koalisi pimpinan Amerika dalam melawan terorisme.

Sumber:
1. http://en.wikipedia.org/wiki/History_of_Oman
2. http://en.wikipedia.org/wiki/Oman
3. http://www.historyofnations.net/asia/oman.html
4. http://www.historyworld.net/wrldhis/PlainTextHistories.asp?historyid=ad54
5. http://www.omaninfo.com/oman/history.asp
6. https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/geos/mu.html
7. http://www.omanet.om/english/misc/oman_flag.asp

0 comments:

Post a Comment

 

Design modified by mugimunteng | Basic Design by Dzignine in Collaboration with Trucks, SUV, Kidney Stones