otakatikawas!

otakatikawas!

Tugas 4 : Saya dan Negara Myanmar

|


Oleh: Yoga Widyakrisna XI IPA 1



Myanmar




     Republik Persatuan Myanmar (juga dikenal sebagai Birma, disebut "Burma" di dunia Barat) adalah sebuah negara di Asia Tenggara. Negara seluas 680 ribu km² ini telah diperintah oleh pemerintahan militer sejak kudeta tahun 1988. Negara ini adalah negara berkembang dan memiliki populasi lebih dari 50 juta jiwa. Ibu kota negara ini sebelumnya terletak di Yangon sebelum dipindahkan oleh pemerintahan junta militer ke Naypyidaw pada tanggal 7 November 2005.


Letak Myanmar
     
Pada 1988, terjadi gelombang demonstrasi besar menentang pemerintahan junta militer. Gelombang demonstrasi ini berakhir dengan tindak kekerasan yang dilakukan tentara terhadap para demonstran. Lebih dari 3000 orang terbunuh.
Pada pemilu 1990 partai pro-demokrasi pimpinan Aung San Suu Kyi memenangi 82 persen suara namun hasil pemilu ini tidak diakui rezim militer yang berkuasa





Sejarah Terbentuknya Myanmar

     Negara Myanmar (Burman) disatukan oleh dinasti Burman tiga kali selama milenium terakhir. Penyatuan pertama datang dengan dasar dari Dinasti Pagan di 1044 Masehi, yang dianggap sebagai "Golden Age" dalam sejarah Burma. Selama periode inilah Buddhisme Theravada pertama kali muncul di Burma, dan raja-raja Pagan membangun sebuah kota besar dengan ribuan pagoda dan biara-biara sepanjang Sungai Irrawaddy.  
Sungai Irrawaddy


     Dinasti Pagan berlangsung sampai 1287 ketika invasi Mongol menghancurkan kota ini. Setelah itu Penguasa Etnis Shan lah yang mendirikan pusat politik di Ava mengisi kekosongan politik berikutnya untuk waktu yang singkat.
 
Dinasti  Toungoo
Pada abad ke-15, Dinasti Toungoo berhasil dalam menyatukan kembali negara Burman di bawah Aturan Kerajaan Burman. Dinasti ini, yang berlangsung dari 1486 hingga 1752 meninggalkan sedikit warisan budaya, tetapi banyak memperluas kerajaan melalui penaklukan Shans menyebabkan penurunan Toungoo.


     Dinasti Kerjaan Burman yang terakhir, The Konbaung, didirikan tahun 1752 di bawah pemerintahan Raja Alaungpaya. Seperti Raja Toungoo, para penguasa Konbaung berfokus pada peperangan dan penaklukan. Perang yang berjuang dengan Mons etnis, Arkanese, dan dengan bangsa Siam. Dalam periode ini juga terjadi  4 invasi oleh bangsa cina dan 3 perang yang sangat efektif oleh bangsa british
     Myanmar setelah jatuh ke tangan Inggris mengalami tiga kali perang yang
disebut The Three Burmese Wars. Dari sini nasionalisme Myanmar terus bergelora.
Nasionalisme Myanmar timbul di antaranya karena:


a. Kemenangan Jepang dalam perang Jepang-Rusia 1905
b. Nasionalisme di India mempengaruhi timbulnya nasionalisme di Myanmar
c. Adanya perdamaian Versailles yang memperjuangkan hak-hak menentukan
    nasib sendiri bagi bangsa-bangsa yang belum merdeka.


     Pada tahun 1919 muncul gerakan melawan Inggris dengan membentuk
The General Council of Burmese Association (GCBA) yang menjalankan
politik non kooperatif dengan Inggris. Dari sini berkobarlah semangat nasionalisme
Myanmar yang anti Inggris. Gerakan-gerakan nasionalisme Myanmar lainnya
adalah Myochit (Partai Nasionalis), Sinyetha (Partai Rakyat Miskin), dan
Do Bama Asiayone (Kita Bangsa Myanmar) atau Partai Thakin yang menuntut
kemerdekaan bagi Myanmar.






Union Of Burma
     Pada tanggal 4 Januari 1948, bangsa ini menjadi negara yang merdeka, bernama Union of Burma, dengan Sao Shwe Thaik sebagai presiden pertama dan U Nu sebagai Perdana Menteri pertama. Sebuah parlemen bikameral dibentuk, terdiri dari Kamar Deputi dan Kamar bangsa, dan multi-partai pemilu diadakan pada 1951-1952, 1956 dan 1960.

      Pada tahun 1961, U Thant, Perwakilan Tetap untuk PBB dan Sekretaris mantan Perdana Menteri, terpilih Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, ia adalah orang pertama yang non-Barat yang memimpin organisasi internasional dan akan menjalani sebagai Sekretaris Jenderal PBB selama sepuluh tahun. Orang bekerja di PBB ketika dia Sekretaris Jenderal adalah Aung San Suu Kyi, yang kemudian menjadi pemenang Hadiah Nobel Perdamaian 1991.

     Aung San, ayah dari Aung San Suu Kyi, bersama U Nu adalah tokoh utama di balik kemerdekaan dan menjadi pemimpin negara. Akan tetapi, pada tahun 1962, militer yang didominasi etnis Birma mengambil alih kekuasaan negara. Ne Win adalah otak di balik kudeta itu. Cikal bakal junta militer sekarang (disebut sebagai Dewan Negara untuk Perdamaian dan Pembangunan / SPDC) berasal dari kekuasaan Ne Win itu. SPDC sendiri didominasi oleh etnis Birma. Konfigurasi kekuasaan hak pun menjadi tidak berimbang antara etnis Birma yang mendominasi dan etnis non-Birma yang merasa ditindas. Sehingga muncullah perlawanan dari beberapa etnis non-Birma, termasuk etnis Karen, yang mendominasi wilayah pegunungan di utara, yang dikenal sebagai golden triangle (segitiga emas). Birma memilih cara apa pun untuk mencegah hal itu terjadi. Sejak 1960-an, terjadilah diaspora warga Myanmar. Berbagai warga Myanmar dari kelompok etnis kini tinggal di Thailand, Bangladesh, Cina, Laos, dan India. Semua negara ini berbatasan langsung dengan Myanmar. Kemenangan kubu demonstrasi, pimpinan Aung San Suu Kyi pada Pemilu tahun 1990, tak dikehendaki oleh kelompok etnis Birma. Kubu Suu Kyi dan dan etnis non-Birma lainnya merupakan ancaman bagi supremasi etnis Birma. Kemenangan Suu Kyi pun dihadang. Kekuasaan direbut. Beginilah yang terjadi seterusnya dan seterusnya.


Perubahan Nama Myanmar

     Perubahan nama dari Birma menjadi Myanmar dilakukan oleh pemerintahan junta militer pada tanggal 18 Juni 1989. Junta militer mengubah nama Birma menjadi Myanmar agar etnis non-Birma merasa menjadi bagian dari negara. Walaupun begitu, perubahan nama ini tidak sepenuhnya diadopsi oleh dunia internasional.
     Beberapa negara Eropa seperti Inggris dan Irlandia yang tidak mengakui legitimasi kekuasaan junta militer tetap menggunakan "Burma" untuk merujuk kepada negara tersebut.
PBB, yang mengakui hak negara untuk menentukan nama negaranya, menggunakan Myanmar, begitu pula dengan Perancis dan Jerman. Di Jerman, kementerian luar negeri menggunakan Myanmar, tetapi hampir seluruh media Jerman menggunakan "Burma".
Pemerintah AS, yang tidak mengakui legitimasi kekuasaan junta militer tetap menggunakan "Burma" tetapi mayoritas media besar seperti The New York Times, CNN dan Associated Press menggunakan Myanmar. Pemerintah junta juga mengubah nama Rangoon menjadi Yangon. Pada tanggal 7 November 2005, pemerintah membangun ibu kota baru, bernama Naypyidaw

Perubahan Lagu Kebangsaan dan Bendera
Perubahan lagu kebangsaan dan bendera dilakukan pemerintah junta pada tanggal 21 Oktober 2010.

Gelombang Protes 1988

Aksi Protes Masyarakat Myanmar Tahun 1988











     Meski terkenal akan pelanggaran HAM, Myanmar justru memiliki sejarah protes massa yang panjang. Ketika Indonesia bungkam dengan gerakan bawah tanah di era Soeharto, gelombang protes Myanmar justru menguat sejak dimulainya masa pemerintahan militer Jenderal Ne Win. Tahun 1988, gelombang protes massa Myanmar ini melibatkan pelajar, pejabat sipil, pekerja hingga para biksu Budha. Protes hadir saat Ne Win menggunakan tentara bersenjata demi kudeta militer.
     Sejak awal massa Myanmar memang telah menginginkan berakhirnya junta militer ini. . The State Peace and Development Council's (SPDC's) Myanmar mengajukan tuntutan yang populer untuk mereformasi pemerintahan menjadi neo-liberal. Tuntutan reformasi ini terutama berlaku untuk ekonomi, termasuk saat bulan lalu pemerintah Myanmar menarik subsidi BBM.
Protes massa Myanmar memang tak segaduh Amerika yang liberal. Dimana-mana rezim militer masih memegang kendali sosial. Asia Times mencatat, gerakan protes umumnya mulai dalam jumlah kecil dan tersebar. Beberapa bulan terkahir ini misalnya, protes kecil dan damai terus berkelanjutan di ibukota Yangon.
     Namun kemarahan publik ini bisa berubah menjadi efek bola salju dan menjadi gerakan massa besar-besaran. Salah satunya yang terjadi di Pakkoku. Setelah bola salju ini pecah, maka perlahan akan kembali menggumpal. Beberapa hari setelah kejadian Pakkoku, 500 biksu kembali berbaris damai di Yangon, Myanmar. Layaknya biksu, New York Times mencatat gerakan ini malah berdoa untuk kedamaian dan keselamatan setelah peristiwa Pakkoku.
     Gerakan dalam protes bukan hanya terjadi dari satu pihak saja. Pemerintah Myanmar juga menyikapinya dengan Union Solidarity and Development Association (USDA). USDA tercatat kerap bergabung dalam gelombang protes ini. Organisasi propemerintah ini tercatat bahkan ikut terlibat dalam upaya pembunuhan Suu Kyi di tahun 2003. Meski gagal, aksi tersebut memakan korban simpatisan National League for Democracy (NLD) sebagai gantinya. “Anggota kelompok ini (USDA) dilatih khusus untuk mengontrol massa dan mengubah protes menjadi aksi kekerasan” kata seorang Diplomat barat di Yangon pada Asia Times. Dunia Barat mencurigai gerakan ini berada dalam sayap yang sama dengan intelejen Myanmar. Apalagi, setiap aksi protes yang terjadi sangat sulit untuk diliput oleh para jurnalis, termasuk jurnalis internasional. Rekrut anggota juga dicurigai berasal dari para kriminal. Seiring bertambahnya anggota USDA, sekurangnya 600 kriminal juga dilepaskan dari Penjara Yangon. Hingga kini anggota USDA diperkirakan mencapai 2000 orang.
     USDA berfungsi menyaingi kelompok pelajar dan biksu Buddha yang vokal dalam aksi protes. Apalagi secara khusus aktivis Myanmar telah memiliki organisasi protes massanya sendiri. Organisasi 88 Generation Student ini didirikan oleh penyair internasional asal Myanmar Ming Ko Naing dan Ko Ko Gyi. Keduanya mendirikan organisasi ini setelah dibebaskan dari 14 tahun penjara, dan cukup populer di mata masyarakat Myanmar. Meski berlabel pelajar, Generation 88 kerap bekerjasama dengan para pekerja, sipil hingga para biksu Buddha.“Kami percaya tak satupun warga Myanmar yang rela menerima aksi kekerasan politik junta militer” kata salah satu pemimpin Generation 88 Htay Kywe pada Asia Time. Dan dalam setiap protes massa Myanmar hampir bisa dipastikan USDA dan Generasi 88(Generation 88) berperang didalamnya.

Gelombang Protes 2007


Aksi Protes Masyarakat Myanmar Tahun 2007

     Protes dimotori oleh para biksu budha di Myanmar. Pada awalnya para biksu menolak sumbangan makanan dari para jendral penguasa dan keluarganya, penolakan ini menjadi simbol bahwa para biksu tidak lagi mau merestui kelakuan para penguasa militer Myanmar. Aksi demo juga dipicu oleh naiknya harga BBM beberapa ratus persen akibat dicabutnya subsidi. Demo melibatkan ribuan bikshu kemudian meletus diberbagai kota di Myanmar, para warga sipil akhirnya juga banyak yang mengikuti. Pemerintah Junta Militer melakukan aksi kekerasan dalam membubarkan demo-demo besar ini, Pagoda-pagoda disegel, para demonstran ditahan, dan senjata digunakan untuk membubarkan massa. Banyak biksu ditahan, beberapa diyakini disiksa dan meninggal dunia. Sepanjang Gelombang protes terjadi belasan orang diyakini menjadi korban, termasuk seorang reporter berkebangsaan Jepang, Kenji Nagai, yang ditembak oleh tentara dari jarak dekat saat meliput demonstrasi. Kematian warga Jepang ini memicu protes Jepang pada Myanmar dan mengakibatkan dicabutnya beberapa bantuan Jepang kepada Myanmar.

Akar Permasalahan Gelombang Protes

     Etnis Birma, berasal dari Tibet, merupakan etnis mayoritas di Myanmar. Namun, etnis Birma adalah kelompok yang datang belakangan di Myanmar, yang sudah lebih dahulu didiami etnis Shan (Siam dalam bahasa Thai). Etnis Shan pada umumnya menghuni wilayah di sepanjang perbatasan Thailand-Myanmar. Sebelum etnis Birma datang, selain etnis Shan, sudah ada etnis Mon, yang menghuni wilayah selatan, juga dekat perbatasan dengan Thailand.

     Sebagaimana terjadi di banyak negara, di antara tiga etnis utama di Myanmar ini terjadi perang. Satu sama lain silih berganti menjadi penguasa di daerah yang dinamakan Birma, kini Myanmar. Inilah yang terjadi, perebutan kekuasaan, sebelum kedatangan Inggris pada tahun 1885.

     Ada juga etnis lain di Myanmar, yang kemudian turut meramaikan ketegangan politik sebelum penjajahan dan pasca-penjajahan Inggris. Misalnya, ada etnis Rakhine, lebih dekat ke Bangladesh.

     Saat penjajahan, berbagai kelompok etnis ini berjuang untuk mengakhiri penjajahan. Setelah penjajahan berakhir dan merdeka pada tanggal 4 Januari 1948, makin terjadi kontak lebih ramah antara etnis Birma dan semua etnis non-Birma.

Sumber:
http://www.historyofnations.net/asia/burma.html
http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=15109
http://id.wikipedia.org/wiki/Kategori:Suku_bangsa_di_Myanmar
http://luarnegeri.wordpress.com/2007/09/30/myanmar-sejarah-itu-belum-selesai-dicatat/
http://id.wikipedia.org/wiki/Myanmar
http://en.wikipedia.org/wiki/Burma

0 comments:

Post a Comment

 

Design modified by mugimunteng | Basic Design by Dzignine in Collaboration with Trucks, SUV, Kidney Stones