otakatikawas!

otakatikawas!

The Missing Link, Pithecanthropus//erectus

|
OLEH: NURUL AKLA
MUSEUM NASIONAL
Salah satu tempat wisata sejarah di Jakarta yang pasti telah dikunjungi oleh seluruh lapisan masyarakat di kota ini adalah Museum Nasional. Karena faktor tempatnya yang strategis juga, saya bersama teman sekelas yang lain sepakat mengunjungi museum tersebut jumat lalu.  Sayang sesampainya disana, museum tersebut sedang terjadi pemadaman lampu, jadi hanya beberapa sektor dari museum yang bisa di telusuri.
Museum Nasional yang lebih dikenal oleh masyarakat awam dengan nama Museum Gajah ini, merupakan museum dengan koleksi terbanyak di Indonesia. Di tahun 2006, jumlah koleksi dari museum ini mencapai 140.000 buah. Menurut sejarah,  gedung ini pada awalnya dibangun karena gedung Societeit de Harmonie yang terletak di jalan Majapahit tidak bisa menampung koleksi-koleksi bersejarah lagi. Maka pada tahun 1862 gedung ini diresmikan oleh Pemerintah Belanda sebagai pusat riset-riset ilmiah Belanda di Indonesia. Baru pada tahun 1868 museum ini dibuka untuk umum.
Saya dan koleksi Museum Nasional
Museum yang terletak di jalan Medan Merdeka Barat ini, mempunyai koleksi diantaranya artefak-artefak dari manusia kerajaan hindu-budha di Indonesia, koleksi arkeologi dan etnografi, manusia keramik, prasejarah, serta era kolonial. Koleksi-koleksi ini terbagi di 2 wilayah, di gedung baru dan gedung lama.
Karena di gedung lama listriknya mati, saya dan lainnya memutuskan untuk ke gedung baru yang dilengkapi dengan genset. Di gedung baru ini terdapat koleksi yang terfokus pada artefak prasejarah dan artefak-artefak manusia kerajaan Hindu-Budha di Indonesia. Tepatnya di lantai dasar, saya menemukan artefak yang menarik perhatian saya, yaitu fosil femur dan tengkorak dari Pithecanthropus erectus. 
Pithecanthropus erectus
Pithecanthropus erectus atau manusia Jawa ini adalah temuan fosil manusia purba yang paling menggemparkan dalam sejarah dunia paleantologi. Tepatnya di tahun 1891 di Trinil, Ngawi, temuan fosil tulang paha (femur) ini menunjukkan bahwa pemiliknya sudah dapat berjalan tegak, sesuai dengan nama latinnya. Eugène Dubois, berhasil menemukan diantaranya, tulang femur, tengkorak, dan beberapa gigi.
Dibandingkan dengan pendahulunya, mereka memiliki postur tubuh yang lebih ramping. Tempurung kepala tidak terlalu menjorok ke belakang. Tonjolan tulang kening sudah mulai berkurang dengan dahi agak sedikit meninggi. Pipi kiri dan kanan tidak lagi maju ke muka secara berlebihan. Pada kelompok manusia purba yang tergolong Homo erectus tipik atau klasik ini, pemungilan tampaknya terjadi pada rahag dan gigi-giginya.
Saya dan fosil Pithecanthropus erectus 
Atribut-atribut itu merupakan ciri dasar manusia dari jenis Homo erectus, spesies manusia yang telah berjalan tegak. Perkembangan orak dan ketegakan postur, adalah dua atribut penting dalam evolusi manusia.
Kehidupan mereka masih sangat tergantung pada sumber-sumber yang tersedia di alam, baik itu tumbuh-tumbuhan maupun hewan-hewan yang ada di sekitarnnya. Mereka berburu dan mengumpulkan makanan. Merkea hidup berpindah-pindah untuk mengikuti pengembaran hewan-hewan buruan, atau untuk mencari sumber makanan di tempat lain. Dalam kesehariannya, mereka sudah mulai dapat membuat alat sederhana dari bebatuan, seperti kapak perimbas (chopper), kapak penetak (chopping tool), atau alat penyerpih (flake). Mereka tampaknya juga sudah mulai mengembangkan tata masyarakat yang sederhana. Kaum lelaki bekerja sama memburu hewan, dan para wanita mengumpulkan tumbuhan atau buah-buahan.
Berdasarkan bentuk fisiknya serta tingkat kemampuan hidupnya yang sudah sedikit lebih maju, Homo erectus tipik ini mungkin merupakan penerus Homo erectus tipik ini mungkin merupakan penerus Homo erectus arkaik dalam sejarah evolusi manusia. Dan bersama pendahulunya itu, mungkin pula mereka adalah keturunan dari kelompok Homo erectus awal yang pertama kali keluar dari Afrika, pada 1,8 juta tahun lalu, kemudian menyebar, menjelajahi berbagai tempat, lalu sampai di Pulau Jawa. Pada saat itu migrasi hominid sangat mungkin terjadi, karena terbentuknya jembatan-jembatan darat selama proses glasiasi, telah menghubungkan beberapa wilayah di muka bumi.
Eugène Dubois
Penemunya, Eugène Dubois, mengganggap Pithecanthropus erectus ini adalah missing link (mata rantai yang hilang) dalam teori evolusi manusia yang dicetuskan oleh Darwin.. Pada akhirnya, teori yang menyebutkan manusia berasal dari keturunan manusia kera dibenarkan adanya ketika fosil tersebut diteliti kembali. Java Man merupakan fase peralihan dari manusia yang masih berbentuk manusia kera ke Homo erectus.
Eugène Dubois sendiri menjadi paleontologist pertama yang mencetus untuk ekpedisi sistematis mengenai prasejarah. Bukan hanya sekedar fosil manusia purba, namun bagaimana mereka hidup dan perkembangan apa saja yang telah terjadi di fase tersebut khususnya untuk Pithecanthropus erectus sendiri. Sebelum ke Indonesia, awalnya ia terinspirasi oleh penemuan fosil Neanderthal baru di Belgia. Ia menghabiskan liburan berburu fosil di sekitar tempat kelahirannya. Di Henkeput, dekat desa Rijckholt, ia menemukan beberapa tengkorak manusia prasejarah di tahun 1881.

Penalaran bahwa asal-usul spesies manusia harus di daerah tropis, pada tahun 1887 ia bergabung dengan tentara Belanda dan ditempatkan di Hindia Belanda (Indonesia). Bersama istri dan putrinya yang baru lahir ia pindah ke koloni untuk mencari missing link dalam evolusi manusia. Antara 1887 dan 1895, Dubois melakukan ekspedisi di lokasi yang berpotensi, seperti di dekat sungai dan di gua-gua. Ekspedisi pertamanya di Indonesia dilakukan di pulau Sumatera, namun ia tidak berhasil menemukan sesuatu yang berarti. Akhirnya ia meninggalkan Sumatra dan beralih ke Pulau Jawa.

Barulah pada tahun 1891, fosil Java Man  ditemukan yang ia sebut sebagai “spesies diantara manusia dan manusia kera”. Ini merupakan spesimen pertama dari homind awal yang ditemukan diluar benua Afrika dan Eropa. Ketika itu, Eugène Dubois tidak berhasil mengumpulkan fosil Pithecanthropus secara utuh melainkan hanya tempurung tengkorak, tulang paha atas dan tiga giginya saja.
The Missing Link


Foto Tengkorak Pithecanthropus erectus
Kemudian pada tahun 1895 Eugène Dubois kembali ke Eropa dan mengelilingi benua kembali untuk meyakinkan para anthropologist bahwa ia menemukan mata rantai yang hilang. Namun tidak semua antropolog awalnya menerima interpretasi Dubois,  sehingga ia menolak orang lain untuk meneliti fosilnya, walaupun akhirnya pada tahun 1923 ia terpaksa menyerahkannya.

Pada tahun 1897, University of Amsterdam menganugerahi Dubois gelar doktor kehormatan dalam botani dan zoologi, dan di tahun 1899 ia bergelar profesor geologi dan tetap berhubungan dengan anatomi, bidang yang ia geluti. Dari 1897 sampai 1928 ia menjadi  penjaga paleontologi, geologi dan mineralogi di Teylers Museum, Harleem, Belanda di mana ia juga menyimpan fosil H. erectus.
Meskipun debat ilmiah perlahan mulai berbalik ke pihaknya sekitar tahun 1920 sampai 1930, ia meninggal pada tahun 1940 karena penyakit hati yang dideritanya. Eugène Dubois kemudian  dimakamkan di Venlo, Belanda.

Foto femur Pithecanthropus erectus
Dan sampai saat ini, belum ditemukan bukti yang jelas bahwa ketiga tulang yang ditemukan oleh Dubois tersebut berasal dari spesies yang sama. Sebuah laporan berisi 342 halaman ditulis pada waktu itu tentang manusia keraguan validitas penemuan tersebut. Meskipun demikian manusia Jawa masih dapat ditemukan di buku-buku pelajaran saat ini. Fosil yang lebih lengkap kemudian ditemukan di desa Sangiran, Jawa Tengah, sekitar 18km ke Utara dari kota Solo. Fosil berupa tempurung tengkorak manusia ini ditemukan oleh Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald, seorang ahli paleoantropologi dari Berlin, pada tahun 1936. Selain fosil, banyak pula penemuan-penemuan lain di situs sangiran ini.
Sampai temuan manusia yang lebih tua lainnya ditemukan di Great Rift Valley, Kenya, temuan Dubois dan von Koenigswald merupakan manusia tertua yang diketahui. Temuan ini juga dijadikan rujukan untuk mendukung teori evolusi Charles Darwin dan Alfred Russel Wallace. Banyak ilmuwan pada saat itu yang juga mengajukan teori bahwa Manusia Jawa mungkin merupakan mata rantai yang hilang antara manusia manusia kera dengan manusia modern saat ini. Saat ini, antropolog bersepakat bahwa leluhur manusia saat ini adalah Homo erectus yang hidup di Afrika (dikenal pula dengan nama Homo ergaster).

Saya dan Nekara

1 comments:

{ ERISON CAESAR } at: December 6, 2013 at 4:28 PM said...

Thanks for sharing :)
materinya sangat membantu..

visit my page : http://erisoncs.student.ipb.ac.id

Post a Comment

 

Design modified by mugimunteng | Basic Design by Dzignine in Collaboration with Trucks, SUV, Kidney Stones