otakatikawas!

otakatikawas!

15 tahun dan terus bertambah - sebuah autobiografi

|
∞ - 3 tahun

Cahyo Tri Afianto adalah seorang siswa kelas XI di SMA Labschool Kebayoran.  Kelahirannya di Rumah Sakit Pondok Indah pada tanggal 15 Mei 1995 diikuti oleh bulan purnama pada malam harinya. Dia memiliki ibu yang bernama Fiaty Martiana dan ayah yang bernama Ito Anggraito. Selain itu, Cahyo juga memiliki 2 saudara kandung bernama Aryo Dwipurwo Dumadi dan Pondra Novara Priyono dengan jarak umur sejauh 15 dan 13 tahun. 

Cahyo dilahirkan secara sesar dan memiliki berat 3,2 kg. ketika dilahirkan, dokter mendiagnosa dia terkena sebuah penyakit karena tubuhnya kekuning – kuningan, sehingga harus diinkubasi. Setelah diikubasi selama 7 hari, Cahyo pun dibawa pulang ke rumah orangtuanya yang masih ditinggalinya hingga saat ini dan terletak di Jl. Bendi Raya no. 20, Jakarta Selatan. 

Ketika dilahirkan, Cahyo memiliki 1 orang kakek dan 2 orang nenek, dimana 1 dari neneknya adalah nenek tiri. Kakek dari ayahnya yang bernama Hartono telah meninggal dunia. Sedangkan Hariati, nenek dari ibunya juga sudah meninggaldunia. Nenek dari ayahnya yang bernama Saldiyah pada saat itu berumur 62 tahun. Sementara kakek dari ibunya yang bernama Soejoed Bin Wahjoe berumur 72 dan belum lama menikah dengan istrinya Siti Gumilar pada tahun 1990. Kakaknya yang pertama pada saat itu berumur 15 tahun dan sedang duduk di bangku SMAN 47. Pondra, kakaknya yang kedua, saat itu berumur 13 tahun dan bersekolah di SMPN 161.

Pada tahun 1995, ayahnya yang merupakan seorang pilot, baru saja pindah kerja dari Garuda Indonesia, ke Korean Air, sebuah maskapai di Korea Selatan. Hal tersebut dilakukannya karena keadaan ekonomi bangsa Indonesia sedang lemah. Dikarenakan hal tersebut, kebutuhan Cahyo pun dapat dipenuhi oleh orangtuanya dengan baik. Sementara ibunya pernah bekerja di Pertamina. namun pada tahun 1995 ibunya sudah tidak bekerja lagi.

Di masa kecilnya selain diasuh oleh ibunya, Cahyo juga diasuh oleh mbak yang bernama Irah. Dia sudah bekerja di keluarga tersebut selama 15 tahun, sejak kelahiran anak yang pertama. Mbak Irah sampai saat ini masih bekerja di keluarga tersebut, memasuki tahun ke 30

3 – 4 tahun (KB – TK)

Ketika Cahyo berumur 3 tahun, dia disekolahkan oleh orangtuanya ke KB Kids Sport yang terletak di Pondok Indah. Pada umur 4 tahun, Cahyo bersekolah di TK As-Sakiinah yang berjarak 250m dari rumahnya. Tidak seperti anak pada umurnya yang masuk ke TK A, Cahyo langsung masuk ke TK B dikarenakan hasil tes yang cukup baik. Selain itu, Cahyo juga tidak suka mengikuti pelajaran mengambar, dia bahkan tidak pernah mengikutinya.

5 – 11 tahun (SD)

Cahyo masuk ke bangku sekolah SDN Kebayoran Lama Selatan 01 Pagi (SDN Keb Lam Sel 01 PG) ketika dia berumur 5 tahun. Pada masa tersebut, Cahyo ikut serta dalam beberapa kegiatan, diantaranya pramuka dan lomba – lomba. Cahyo merupakan wakil ketua regu pramuka di sekolahnya. Selain itu, dia juga pernah mengikuti perkemahan dan menjuarai lomba cerdas cermat. Jabatan wakil ketua regu pun kembali dipegang ketika mengikuti perkemahan tersebut. 

Dalam hal kecerdasan, Cahyo pun tidak sembarangan. Dia selalu menempati ranking 1 atau 2 selama 6 tahun bersekolah di SD. Hal tersebut membuatnya tepilih untuk mengikuti beberapa lomba, diantara lomba – lomba tersebut yang pernah diikuti adalah lomba Test Pacu Prestasi yang dilaksanakan oleh Madrasah Tsanawiyah Negeri 3, Jakarta.

Diluar sekolah, Cahyo sering diajak tamasya oleh orang tuanya. Mereka baru membeli sebuah villa di Kota Bunga, Puncak yang biasa mereka kunjungi setiap akhir pekan. Setiap tahun baru, mereka pun mendatangi villa tersebut untuk menyaksikan pesta kembang api yang diadakan di komplek villa tersebut. Selain itu, Cahyo juga beberapa kali diajak ke Korea Selatan. Ketika terjadi kerusuhan Mei ’98, dia dan kedua orangtuanya sedang berada di Korea. Disanalah, dia pertama kali melihat salju. Bukan hanya salju, dia bahkan sempat mengalami suhu -9° C. pada saat itu, jika sedang diluar hotel Cahyo dan orangtuanya berkali – kali masuk ke dalam toko agar tidak kedinginan. Hal lain yang ditemukan olehnya di korea adalah acara anak – anak Teletubies. Dia sangat suka acara tersebut sehingga ketika ditayangkan di Indonesia, dia belum mau mandi jika acara tersebut belum selesai.

Setelah 6 tahun mencari ilmu di SDN Kebayoran Lama Selatan 01 Pagi, Cahyo pun dinyatakan lulus pada tanggal 14 Juni 2006, dengan total nilai tertulis sebesar 78,07 dan praktik 67,05. Sementara itu, Cahyo harus memilih SMP manakah yang akan dia tuju. Ketika Ujian, dia memilih SMPN 11, SMPN 161, dan SMPN 48. Tetapi sebelum itu, Cahyo sudah mengikuti tes masuk di SMP Labschool Kebayoran dan dinyatakan lulus. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Diputuskanlah untuk masuk ke SMP Labschool Kebayoran.

11 – 14 tahun (SMP)

Tahun pertama di kelas 7E dilalui oleh Cahyo dengan mengikuti kegiatan – kegiatan wajib yaitu MOS (Masa Orientasi Siswa), KALAM (Kajian Islam Ramadhan) LDKS (Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa) dan Orientasi. Di Labschool, mereka memiliki kebiasaan untuk memberi nama kelas. Nama VII E pun beberapa kali diganti, mulai dari VIIERATES OF KEBAYORAN, hingga menjadi GREEN 7EA. Peraturan yang dikeluarkan Labschool untuk mengikuti ekskul membuat Cahyo mengikuti ekskul aeromodeling.Ekskul tersebut memiliki seorang pengajar yang bernama Pak Syam. Dia juga merupakan guru aeromodeling teman ayah Cahyo. walaupun Pak Syam memiliki umur yang sudah tua, tetapi dia masih sangat sehat. Dia masih kuat untuk naik turun tangga 3 tingkat, berputar – putar untuk menerbangkan pesawat, dll. Namun karena Cahyo merasa kurang cocok dengan ekskul tersebut, dia hanya mengikutinya selama 1 semester. Pada semester kedua, Cahyo mengambil ekskul gamelan. 

Pada tahun kedua, Cahyo masuk ke kelas 8B, RO8BIN HOOD. Di kelas 8, Labschool hanya memberikan 1 program wajib, yaitu BIMENSI (Bina Mental Siswa). BIMENSI sendiri adalah kegiatan dimana siswa siswi Labschool dilatih oleh TNI, yang pada waktu itu dilakukan oleh Brigif 2 Marinir, Cilandak. Cahyo mengikuti BINTAMA dengan cara mengikuti arus. Dia hanya mengikuti apa perintah para pelatih. Selain itu, tidak ada hal yang menarik bagi Cahyo di kelas 8.

Pada bulan Juni 2008, Cahyo masuk ke kelas 9E (TRI MAS 9ETIR). Di kelas 9, dia mulai belajar memainkan gitar bersama beberapa temannya: adam, kikizas, dan hafiz. Hal yang cukup berkesan hanyalah UAN dan persiapannya. Untuk mempersiapkan siswa – siswi menghadapi UAN, labschool memberikan semacam tambahan pelajaran yang dinamakan paket. Paket tersebut terbagi menjadi 3. Paket 1 membahas pelajaran di kelas 7, paket 2 membahas pelajaran di kelas 8 dan paket 3 membahas pelajaran kelas 9. Tiap tiap paket memiliki try out. Selain itu ada pula try out yang dilakukan oleh pemerintah.

Pada tanggal 27, 28,  29 , dan 30 April 2009, Cahyo mengikuti Ujian Akhir Nasional dan pada bulan Juni di tahun yang sama dinyatakan lulus dari SMP Labschool kebayoran. Cahyo pun akhirnya masuk ke SMA Labschool Kebayoran melalui jalur khusus dan mendapat tawaran untuk mengikuti program akselerasi. Namun dia tidak menerima tawaran tersebut dan masuk ke kelas regular.

14 – 15 tahun (SMA)

Kelas 10 di SMA Labsky dilalui dengan mengikuti Masa Orientasi Siswa dengan bimbingan OSIS Diwakara Balasena. Setelah selesai MOS, cahyo memulai kehidupannya di SMA di kelas XA. Di kelas X, SMA Labsky juga memberikan beberapa program wajib, diantaranya Pilar, Trip Observasi (TO) dan Bintama. Pilar adalah kegiatan pesantren kilat yang dilaksanakan di sekolah dan bekerjasama dengan pesantren Daarut Tauhiid.  Trip Observasi adalah kegiatan dimana siswa – siswi Labsky “belajar” menjadi orang desa dan hidup sederhana. Sedangkan Bintama mirip dengan Bimensi, yaitu pelatihan mental oleh Grup 1 Kopassus Serang.

Pada bulan Juli 2010, Cahyo dan teman – temannya yang termasuk ke dalam tim misi budaya berangkat ke Perancis – lebih tepatnya kota Romans – untuk mengikuti festival kebudayaan. Festival tersebut berlangsung selama 9 hari, dimulai pada tanggal 3 hingga tanggal 11. Di festival tersebut, Cahyo menjadi pemusik yang mengiringi para penari menarikan berbagai tarian, diantaranya Tari Saman, Tari Piring, Tari Salama, Tari Nandak Ganjen, dan Tari Rapai Geleng. Setelah mengikuti festival, mereka mengikuti tur mengelilingi eropa yang meliputi beberapa Negara di antaranya adalah Belgia, Belanda, Jerman, Swiss, dan Italy. Sepulangnya dari Eropa, Cahyo masuk ke kelas XI IPA 1 dimana dia sekarang berada.

Di kelas XI, Cahyo menjadi Panitia untuk beberapa kegiatan sekolah diantaranya Sky Battle, Sky Fest, Skynation, dll. Di luar itu, tidak banyak hal hal yang berkesan bagi Cahyo.

15 tahun -

Di kelas XI, Cahyo berharap untuk memperbaiki nilai – nilai akademiknya. Setelah lulus, dia berenecana untuk bekerja sebagai penerbang, mengikuti jejak ayahnya. Untuk mencapai cita – citanya tersebut, dia harus mengikuti pelatihan dan bersekolah selama kurang lebih 1 tahun untuk mendapatkan lisensi terbang. Setelah itu dia harus belajar lagi selama kurang lebih 1 tahun untuk mendapatkan rating pesawat dan baru bias dibilang bekerja. Seiring dengan bertambahnya jam terbang, Cahyo berharap akan dipromosikan menjadi kapten sehingga secara ekonomi dia tidak akan mengalami masalah.







 






0 comments:

Post a Comment

 

Design modified by mugimunteng | Basic Design by Dzignine in Collaboration with Trucks, SUV, Kidney Stones